I Am Fine

I Am Fine
122



Tok tok tok


Jaiden mengetok pintu terlebih dahulu, lalu setelahnya Jaiden masuk begitu saja tanpa persetujuan dari Jinata dan Rena karena keduanya sudah menoleh lebih dulu padanya.


"Oh Jaiden?" Ucap Rena, "Ada apa sayang?" Tanya Rena.


"Nek, Kek, Jaiden punya satu permintaan. Tapi apa Nenek dan Kakek akan mengabulkannya?" Tanya Jaiden to the point.


Rena dan Jinata pun beradu tatap binggung, "Tapi apa dulu?" Tanya Jinata.


"Tapi Kakek dan Nenek janji dulu untuk mengabulkannya, Jaiden sangat yakin pasti Kakek dan Nenek akan menyukai ini" Jelas Jaiden.


"Apa ini hal yang baik untuk mu?" Tanya Jinata.


Jaiden pun mengangukkan kepalanya mantap, "Nenek apalagi. Nenek pasti menyukai hal seperti ini," Ucap Jaiden.


"Apa sih? Cepat katakan, apa yang kau inginkan?" Tanya Rena tak sabar dan merasa penasaran.


"Tapi Nenek dan Kakek janji akan mengabulkannya kan?" Tanya Jaiden lagi.


Hingga membuat dua orang paruh baya itu kembali menatap satu sama lain, dan Rena pun mengangukkan kepalanya pada Jinata.


"Baiklah, katakan. Kami akan mengabulkannya, apa yang kau inginkan?" Tanya Jinata.


"Jaiden ingin bertunangan dengan Keisha," Ucap Jaiden. "Secepatnya," Lanjutnya.


Lantas Rena pun melipatkan tangannya di depan dada, dan Jinata menaikkan alisnya sebelah heran pada cucunya itu.


"Hanya itu?" Tanya Jinata, dan Jaiden pun mengangukkan kepalanya mantap.


"Kakek dan Nenek sangat menyukainya kan?" tanya Jaiden lagi.


"Tentu, nenek sangat menyukainya. Tapi apa yang membuat mu menginginkan ini? Kamu butuh alasannya," Ucap Rena bertanya.


"Lalu bagaimana dengan kekasih mu yang kau bawa kesini beberapa waktu yang lalu?" Tanya Jinata.


"Astaga bodoh! Aku melupakan Thalia!" Batin Jaiden.


"Kau sudah putus kan dengannya?" Tanya Rena.


"Jaiden menggeleng kepalanya jujur, "Belum, Jaiden akan segera mengakhiri hubungan Jaiden dengannya Kek, Nek" Jelas Jaiden.


"Baiklah, sekarang kau jawab pertanyaan Nenek dan Kakek. Kenapa kau ingin bertunangan dengan Keisha?" Tanya Jinata .


"Ayolah Kek, Nek. Jaiden yakin Kakek dan Nenek pasti tahu kan, kalau Jaiden sangat menyukai Keisha? Ya sudah pasti karena itu," Jelas Jaiden.


"Tidak ada hal lain kan? Seperti terpaksa? Taruhan?" Tanya Rena.


"Tidak, Jaiden tidak akan melakukan hal kotor seperti itu. Ingat Kek, Nek, Jaiden bukan Daddy di masa muda. Jaiden ya Jaiden, dan Daddy ya Daddy," Jelas Jaiden tegas.


"Baiklah, Kakek dan Nenek akan membicarakan ini dengan Zura dan juga Bram. Ah iya dengan Papa baru Keisha dan Shakila juga," Ucap Jinata.


"Jinata sepertinya kita harus membatalkan penerbangan kita, dan segera menemui mereka jam 7 malam nanti. Sekalian makan malam bersama, bagaimana?" Saran Rena.


"Apa kita harus membahas itu secepat ini?" Tanya Jinata.


...⚡⚡⚡...


"Enghh..." Lebih Thalia yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Lantas Thalia pun membuka matanya pelan, dan seketika matanya terbuka. Thalia langsung membelalakkan matanya lebar, dan terduduk dari tidurnya.


"Aku dimana?" tanya Thalia sendiri, dan berusaha untuk mengingat-ingat kejadian beberapa waktu yang lalu dialaminya.


"Astaga! Aku diculik!" Pekiknya.


Flashback


Thalia tidak tahu saja, kalau ini semua adalah ulah Shakila Mama tirinya. Shakila memang segaja, dan sedang merencanakan sesuatu untuknya.


Shakila memberi supir itu uang untuk tidak menjemput Thalia, dan menutup mulut soal Thalia yang menyuapnya dengan uang.


Tin!


"Ck, lama sekali!" Gerutu Thalia sekali lagi, lalu masuk ke mobil yang biasa digunakan Pak Joni untuk menjemputnya.


Lantas Thalia membuka pintu, dan masuk. Namun Thalia sedikit tersntak, saat semua pintu mobil di kunci dengan bersamaan setelah dirinya masuk.


Thalia panik, dan langsung melihat pada kaca cermin dashboard. Saat mengetahui kalau yang menjemputnya saat ini bukan Pak Joni, Thalia melebarkan matanya terkejut.


"Siapa kau?" Tanya Keisha saat supir itu sudah menjalankan mobilnya.


"Hmppt...." Ucap Thalia saat ada yang menutup mulutnya dari belakang menggunakan sapu tangan yang di olesi, entahlah Thalia sendiri pun tidak tahu.


Dan berakhir, sekarang Thalia berada di hotel.


Flashback off.


Thalia langsung menyibakkan selimutnya, dan bernafas lega saat melihat dirinya masih lengkap mengenakan pakaian sekolah. Nun, ada beberapa ribu pertanyaan yang ada di kepalanya.


Kenapa dia di culik? Dan di bawa ke hotel? Pikir Thalia.


Lantas Thalia pun hendak membuka tas ransel miliknya, dan mencari benda pipih itu di dalam sana. Setelah mendapatkannya, Thalia langsung hendak menghubungi Jaiden.


Namun tidak hadir, karena ternyata ponselnya mati karena kehabisan daya.


"Ck, kenapa harus mati disaat seperti ini sih!" Gerutu Thalia membanting ponselnya ke atas kasur.


Thalia mengusap wajah dan rambutnya kasar, karena pusing.


Lalu Thalia melirik jam dinding, yang terdapat di dalam kamar hotel itu yang sudah menunjukkan pukul 7 malam kurang.


Thalia meringis, dan segera bergegas untuk mengambil tasnya saja. Daripada daripada harus menghubungi Jaiden, lebih baik dirinya untuk segera bergegas untuk meninggalkan hotel dan pulang menggunakan taksi.


"Astaga!" Ucap Thalia terkejut, dan langsung segera bersembunyi di balik salah satu tembok tinggi hotel.


Thalia pun mengintip, "Astaga sedang apa Papa disini?!" Batinnya Thalia antara takut dan kesal.


"Mama Keisha?" Gumamnya lalu matanya kembali melebar saat dirinya melihat Nenek dan Kakek Jaiden yang juga sedang berada disana. Serta dua orang yang tidak dikenalnya, Bram dan Zura, Mamanya Bram.


"Sedang apa mereka disini? Dana kenapa aku harus disini juga sih?!" Ucap Thalia kesal.


"Aduh... ini pintu keluarnya dimana sih?" Gumam Thalia sambil menggaruk kepalanya tak gatal, dan melirik kanan kiri mencari jalan keluar.


Rafa menyadarinya, kalau dirinya sepertinya melihat Thalia abrusan. Lantas Rafa pamit terlebih dahulu pada yang lainnya, untuk menemui seseorang.


Rafa mengajak Shakila untuk ikut bersamanya, untuk memastikan kalau yang di lihatnya tadi Thalia atau bukan.


"Astaga, sepertinya Papa melihat ku!" Ucap Thalia takut, dan hendak kabur. Namun Thalia terlambat, karena tangannya sudah terlebih dahulu di tarik oleh Rafa.


"Sedang apa kau disini? Di hotel? Dengan siapa?" Tanya Rafa menatap Thalia penuh selidik.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, Rafa pun menarik Thalia untuk membawanya ke tempat yang jauh dari kerumunan orang-orang.


"Paa... sakit!" Ucap Thalia saat Rafa menarik Thalia kasar.


"Jawab Papa Thalia, sedang apa kau disini?! Papa memberi mu kebebasan bukan berarti kau bisa keluar masuk hotel seperti ini, kau bermain bersama seorang pria?! Iya?!" Tanya Rafa membentak Thalia yang membuat gadis 17 tahun itu ketakutan.


Thalia pun menggelengkan kepalanya, membuat Rafa frustasi.


"Kau tidak punya mulut?! Kau ingin seperti Mama mu? Yang suka bermain dengan pria kaya saat dia muda?! Iya?!" Bentak Rafa lagi.