
"Kau gugup ya?" Tanya Dimas terkekeh pelan, saat melihat Jaiden menarik nafasnya dalam sebelum turun dari mobil.
"Ck, Om tidak pernah muda ya? Ku rasa Om bahkan tidak mempunyai seseorang yang Om sukai. Maka dari itu Om bahkan melajang sampai sekarang," Ejek Jaiden.
"Ck, kalau kau bukan anak majikan ku, ku rasa aku akan sudah menjait bibir mu itu ya!" ucap Dimas bercanda.
"Hahaha baiklah Om, sebentar ya! Atau Om mau ikut?" Tanya Jaiden sebelum turun dari mobil.
"Aku turun juga, aku akan menunggu di depan pintu. Nanti kau akan lupa waktu kalau aku tidak ada disana," Ucap diams hendak turun dari mobil.
"Oke-oke," Sahut Jaiden.
Keduanya pun segera masuk ke dalam rumah sakit, dan menaiki lift menuju lantai 8.
Ting!
Lift pun terbuka, Dimas dan Jaiden pun berjalan menuju ruang inap Keisha. Karena ruang inap Keisha dan juga Thalia bersebelahan, dan juga ruang inap Thalia di temukan terlebih dahulu baru ruang inap Keisha.
Jaiden pun memberhentikan langkahnya dan menatap pada pintu kamar inap Thalia yang tertutup itu.
"Apa kau ingin menjenguknya?" Tanya Dimas. "Kalau begitu bergegas lah, kau tidak punya banyak waktu. 5 menit disini, 5 menit disana" Jelas Dimas.
"Tidak, aku sudah pamit padanya" Ucap Jaiden lalu berjalan melewati ruang inap Thalia begitu saja.
Sret!
"Oh Jaiden?" Sapa Shakila.
"Halo Tante," Sapa Jaiden ramah dan menyalami tangan Shakila.
"Kak Jaiden?!" Pekik Keisha semangat.
"Hai Kei, kau sudah merasa baikan?" Tanya ajsirn berjalan mendekat pada Keisha dan memberikan bunga itu pada Keisha.
"Hm, sedikit. Bagaimana dengan olimpiade Kakak?" Tanya Keisha.
"Aku menyelesaikannya dengan mudah, tidak terlalu sulit" Jawab Jaiden jujur.
"Ah begitu kah? Bagaimana dengan yang lainnya?" Tanya Keisha.
"Aku keluar terlebih dahulu tanpa mereka," Jawab Jaiden.
"Mama keluar sebentar ya," Ucap Shakila pamit karena ingin membuat keduanya nyaman dan bebas membicarakan apapun tanpa dirinya.
"Oke Ma," Sahut Keisha.
Shakila pun langsung keluar, dan langsung bertemu dengan Dimas yang sedang menunggu di kursi tunggu di depan kamar inap Keisha.
"Astaga kenapa dia duduk disini?" Ucap Shakaila membantin.
"Kau tidak masuk?" Tanya Shakila pada Dimas.
"Huh? Ah tidak usah, aku akan menungg Jaiden disini" Sahut Dimas ramah.
"Ah begitu? Apa tidak membosankan? Mau mengobrol ke kantin bersama ku?" Tawar Shakila.
"Tidak, aku takut Jaiden akan terlambat. Maaf, terima kasih tawarannya" Sahut Dimas sopan.
"Terlambat?" Tanya Shakila mengerutkan keningnya binggung.
"Apa Tuan Jinata dan Nyonya Rena tidak menbeitu tahu apapun soal kepindahan Tuan Muda pada mu tadi pagi?" Tanya Dimas.
Karena setahu Dimas, tadi Jinata dan Renata emnhuat pertemuan keluarga di pagi buta dan sarapan bersama di kediaman Zura untuk membicarakan soal pertunangan Keisha dan juga Jaiden.
"Tidak sama sekali, Tante Rena hanya membicarakan untuk menunda pertunangan keduanya untuk beberapa tahun" Ucap Shakila yakin.
"Ah benarkah? Tuan Muda akan meninggalkan tanah air hari ini. Dan segera menyelesaikan study nya di luar negeri," Jawab Dimas jujur.
"Huh? Tiba-tiba?" Tanya Shakila terkejut.
"Suami mu tidak memberitahu mu soal ini? Ku rasa Rafa sudah mengetahuinya sejak tadi malam," Jelas Dimas membuat Shakila kesal pada Rafa.
"Apa Keisha tahu soal ini?" Tanya Shakila.
"Boleh aku tahu dimana?" Tanya Shakila lagi.
"Maaf, aku tidak bisa memberitahu mu" Sahut Dimas.
"Oh baiklah, maaf banyak bertanya pada mu. Aku pamit ingin membeli minuman ke kantin," Ucap Shakila pamit pada Dimas dan Dimas pun mengangukkan kepalanya.
"Hati-hati," Ujar Dimas.
...Room Chat...
^^^Shakila:^^^
^^^Pastikan untuk keluarkan di dalam^^^
^^^Buat dia hamil anak mu^^^
^^^saat keluar dari sana, pastikan tutup wajah mu dengan masker dan juga topi dengan rapi^^^
^^^agar tidak ada yang mengenali mu^^^
^^^Dimas asisten mendiang Juna, sedang duduk di depan rumah inap Keisha^^^
^^^Jangan pernah menoleh kesana^^^
^^^Read^^^
"Kei," Panggil Jaiden.
"Hm?" Sahut Keisha.
"Mau makan apel?" Tanya Jaiden.
"No, itu cuma Kakak yang suka. Apa Kakak lupa Kei suka apa?" Tanya Keisha.
"Semangka, right? Tapi kau sekarang tidak boleh makan itu, nanti darah mu turun" Ujar Jaiden.
"Iya iya! Ah iya, apa Kakak sudah menjenguknya? Aku baru tahu tadi pagi dari Mama," Tanya Keisha.
"Aku sudah bertemu dengannya tadi malam, sangat bodoh. Aku melukai perasaan Kakak ku sendiri," hCoa Jaiden terkekeh pelan sambil melirik jam tangannya.
"Kei," Panggil Jaiden dan meraih tangan Keisha untuk di genggamnya.
"Mulai hari ini dan seterusnya, kau harus bisa menjaga diri mu oke? Jangan terlalu dekat dengan pria sebelum kau tahu siapa dia, dan jangan lupa selalu makan tepat waktu. Jangan sering menggunakan crop top, hilangkan kebiasaan buruk mu. Aku akan marah pada mu jika aku melihatnya," Jelas Jaiden panjang lebar.
"Kau bidadari tercantik yang di kirim tuhan pada ku," ucap Jaiden mengusap pipi Keisha sayang.
"Jaga dirimu baik-baik oke? Huh?" Ucap Jaiden membuat Keisha binggung.
"Aku pasti menjaga diri ku dengan baik seperti yang Kakak katakan tadi, tapi aku akan selalu merasa terjaga jika aku selalu berada di samping Kakak" Ucap Keisha semakin membuat Jaiden merasa bersalah dan tidak ingin meninggalkan Keisha.
"Walaupun aku tidak berada di samping mu, kau harus bisa menjaga diri mu mulai sekarang oke?" Ujar Jaiden.
"Ck kenapa Kakak mengatakan ini seolah-olah ingin pergi jauh? Kakak tidak akan meninggalkan ku kan?!" Tanya Keisha tak senang.
Jaiden pun tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu," Jawab Jaiden.
"Tapi kau janji dulu, untuk tidak lupa menjaga diri mu sendiri. Janga. pernah merasa sendiri, kau punya Jaki, Keira, Fia, Heri, Surya dan juga yang lainnya untuk saling berbagi cerita oke? Mereka dapat membantu mu, mereka juga dapat memberi saran terbaik menurut pandangan mereka," Jelas Jaiden.
"Kak Jaiden... Kakak akan meninggalkan ku?" Tanya Keisha lagi dengan air mata yang sudah menetes.
"Hei tidak, kenapa kau malah berpikir seperti itu?" Tanya Jaiden sembari meghapus air mata Keisha.
"Tentu saja tidak, karena aku selalu ada di hati mu. Dan kau juga akan selalu berada disini," Ucap Jaiden menunjukkan letak hatinya dengan menggunakan tangan Keisha hingga membuat keduanya beradu tatap.
Cup!
Keisha mencium bibir Jaiden, dan
Sret!
"Tuan muda, Oh maaf" Ucap Dimas membalikkan badannya. "Tuan Muda, kita tidak punya banyak waktu," Ucap Dimas lalu kembali menutup pintu itu dan Jaiden dan Keisha pun terkekeh pelan karena malu.