I Am Fine

I Am Fine
Amerika



Diruang inap Juna, Celine melihat Jaiden yang sedang tertidur di atas brangkar Juna, rasanya perih sekali saat melihat hal tersebut.


Apalagi Celine mengigat, kalau anak dan ayah tersebut baru saja bertemu setelah sekian lama.


Namun lamunan Celine buyar, saat melihat ruang inap Juna yang kembali terbuka dan menampilkan Rena.


"Celine..." Lirih Rena.


"Ma..."


"Biarkan Jaiden Mama bawa pulang kerumah saja ya?" Tanya Rena.


Celine mengangguk, "Iya Ma, maaf merepotkan Mama."


"Hei jangan berbicara seperti itu, Jaiden juga cucu Mama."


Celine pun mengangguk pasrah.


"Jangan terlalu di pikirkan, Juna akan menerima pengobatannya," Ucap Rena menyemagati Celine.


Celine pun hanya mengangguk.


"Kalau begitu Mama bawa Jaiden ya, Ayo angkat cucu ku!" Ucap Rena pada bodyguardnya.


"Besok hari pertama Jaiden sekolah kan? Mama akan tidur di rumah kalian saja ya?" Ucap Rena meminta izin.


"Iya Ma, terima kasih. Maaf ya Ma sudah merepotkan Mama," Ucap Celine tidak enak pada Rena.


"Hei tidak apa-apa, jangan terus-terusan meinta maaf karena merasa merepotkan Mama."


...⚡⚡⚡...


Jaiden ayo bangun, hari ini hari pertama Jaiden sekolah kan?" Tanya Rena sembari menggoyangkan tubuh cucunya tersebut.


"Eunghh Eh? Kenapa Jaiden ada dirumah?" Tanya Jaiden terkejut pada Rena.


Karena seingat Jaiden, tadi malam dirinya tidur bersama Dadynya dan mendengarkan cerita donggeng yang diceritakan oleh Dadynya padanya.


"Nenek yang membawa Jai pulang, kan Jai hari ini sekolah ya sudah ayo siap-siap lalu sarapan!" Ucap Rena pada Jaiden.


Jaiden pun menurut pada Rena dan pergi mandi, lalu setelahnya menggunakan seragamnya yang dibantu oleh Rena.


"Jaiden nanti berangkat sekolah dan pulang sekolah di jemput sama om Bram ya?" Ucap Rena.


Jaiden menggerutkan keningnya binggung, Karana Jaiden tidak mengenal siapa Bram.


"Bram itu temannya Dady, nanti kita akan bertemu dengannya. Tidak apa-apa kan? Nenek memiliki urusan yang harus nenek urus nanti," Ucap Rena pada Jaiden.


Jaiden sungguh merasa tidak enak, Jaiden merasa dirinya ini sangat merepotkan Nenek dan orang-orang yang berada disekitarnya.


"Baik nek," Sahut Jaiden sambil mengunyah sarapan paginya.


Setelah selesai sarapan, Rena pun menemani cucunya Jaiden untuk menunggu Bram di depan kediaman Juna dan Celine.


"Nah itu dia!" Ucap Rena saat melihat mobil Bram yang baru saja tiba di rumah Juna dan Celine.


"Bram Tante titipkan Jaiden ya! Jaiden kamu jangan nakal-nakal ya sayang!" Ucap Rena pada Jaiden.


Jaiden pun hanya mengangguk saja dan menyalami tangan Rena, setelahnya Jaiden berpamittan pada Rena dan menaiki mobil Bram.


Bram pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Hai Jadien mau berkenalan dulu dengan om?" Sapa Bram ramah.


"Hai kak Jaiden!" Sapa seorang anak kecil, yang duduk di samping kursi kemudi di samping Bram.


Jaiden tampak terkejut, "Oh h..hai?" Balas Jaiden ragu.


Bram tekekeh, " Ada apa Jai? Apa kau gugup melihat anak gadis cantik?" Tanya Bram menggoda Jaiden.


"Tidak, aku tidak gugup Om," Sahut Jaiden seadanya.


"Jaiden hanya terkejut saja, Jai pikir kursi di depan kosong," Sahut Jaiden jujur.


"Om apa Jaiden merepotkan Om?" Tanya Jaiden tiba-tiba.


"Huh? Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja tidak, lagi pula kau dan Keisha satu sekolah dan kita juga tinggal di komplek rumah yang sama," Jelas Bram pada Jaiden.


"Apa kak Jaiden juga TK ditempat sekolah ku Pa?" Tanya Keisha.


Bram mengangguk, " Hm kalian satu TK, hanya usia saja yang berbeda jadi kau harus tetap memanggilnya Kakak" Jelas Bram sambil mengelus Surai panjang anaknya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, ahkhirnya Jaiden pun sampai disekolah barunya, Bram membawa Jaiden dan Keisha ke ruang kepala sekolah, Bram juga membantu Jaiden untuk mengisi administrasi.


Jaiden merasa snagat sedih, seharusnya yang melakukan ini adalah Dady dan Momynya. Karena keduanya sudah berjanji untuk mengantarnya dsn mrnemaninya saat kesekolah barunya.


Namun nyatanya tidak, Jaiden harus pergi ke sekolah tanpa diantar oleh kedua orang tuanya. Bahkan Jaiden harus pergi kesekolah dengan orang asing yang harus aja di kenalnya. Walaupun itu teman Dadynya tapi tetap saja, bagi Jaiden Bram adalah orang asing untuknya.


Bram pun mengantar Jaiden dan Keisha ke dalam kelas mereka, "Jaiden nanti pulangnya bersama Keisha ya? dijemput sama supir pribadi om tidak apa-apa kan?" Tanya Bram.


"Baik Om, terima kasih. Maaf merepotkan" Ucap Jaiden.


Bram terkekeh, "Tidak, kau tidak merepotkan Om, ya sudah ya Om pamit dulu!" Ucap Bram.


...⚡⚡⚡...


"Celine bagaimana dengan Jaiden? Apa Jaiden hari ini akan mulai bersekolah? Aku merasa bersalah padanya," Tanya Juna pada Celine.


"Jaiden berangkat bersama Bram Kak, sudah jangan khwatirkan itu Kak, Jaiden aman bersama Bram" Ucap Celine tersenyum pada Juna.


Ceklek


"Mama?" Ucap Celine dan Juna bersamaan.


"Mama, Papa, Ayah dan Bunda sudah mengurus semuanya," Jelas Rena pada Celine.


Juna dan Celine pun saling menukar tatap, dan mengerutkan dahinya binggung. Karena keduanya tidak mengerti dari perkataan Rena.


"Maksud Mama?" Tanya Celine.


"Celine, Tanaro ayahmu sudah mencari dokter di Amerika. Juna juga akan menjalani pengobatan disana. Kau akan ikut dengan Juna, soal Jaiden kau serahkan saja pada Mama" Jelas Rena memaksa.


"Ma tapi Jai," Ucap Celine terpotong.


"Sudah tak apa, kau tenang saja Jaiden akan aman bersama Mama, daripada Jaiden harus ikut pindah ke Amerika" Sahut Rena tak tega saat memikirkan cucunya.


Celine menghela nafasnya pasrah, karena tidak bisa berkata-kata lagi.


"Lalu kapan kita akan berangkat ke Amerika?" Tanya Celine.


"Ma, biarkan aku di rawat di Indonesia saja, aku ingin selalu melihat Jaiden putra ku" Ucap Juna.


" No no no, soal itu kau tidak usah khwatirkan. Mama akan merawatnya dengan baik, Mama juga akan rutin mengirimkan video Jaiden, Video Call dan membawa Jaiden ke Amerika saat libur semester, kau tidak usah khwatirkan tentang itu" Ucap Rena memaksa Juna dan Celine untuk tetap pergi ke Amerika.


...⚡⚡⚡...


"Kak Apa Papa mu sakit?" Tanya Keisha pada Jaiden.


saat ini keduanya sedang menunggu jemputan supir pirbadi Keisha.


"Hm" Sahut Jaiden singkat.


"Apa Papa Kakak Uncle Juna?" Tanya Keisha.


"Kau mengenal Dady ku?" Tanya Jaiden melirik Keisha.


"Wah Uncle Juna sakit? Sakit apa? Apa Uncle dirawat di rumah sakit? Astaga aku harus meminta MAma untuk mengantar ku kerumah sakit, aku ingin melihat uncle ku!" Ucap Keisha panjang lebar.


"Ck, kau berisik sekali dan juga pertanyaan mu sangat banyak!" Geurutu Jaiden kesal.


"Kak, Uncle sakit apa?" Tanya Keisha lagi.


Jaiden mengindikkan bahunya karena Jaiden pun tidak tahu.


"Kenapa tidak tahu?!" Bentak Keisha pada Jaiden.