
"Celine!" panggil Juna saat melihat istrinya yang sedang berpelukan dengan Saka, shaabatnya sendiri.
Saka dan Cekine pun otomatis melepaskan pelukan mereka dan melihat Juna yang sudah berdiri di hadapan mereka berdua.
Sama menatap tajam Juna, sungguh rasanya saat ini Saka ingin sekali menghabisi Juna sekarang juga. Namun Saka sadar akan situasi, terlebih lagi Saka ingin menghargai Celine.
"Acaranya sudah dimulai, ayo!" Ajak Juna sambil menarik tangan Celine paksa dan ternyata Saka menahan Celine.
"Aku peringatkan pada mu Juna akhiri hubungan mu dengan Lia atau ceraikan Cena, Cena akan bahagia bersama ku! tidak seperti lelaki brengsek sepertimu!" Ucap Saka kesal pada sahabatnya itu, Juna.
"Sa..Saka..." Lirih Celine.
"Kau tidak berhak mengatur ku! lepaskan tangan istriku!" Sahut Juna, lalu melepaskan paksa tangan Saka yang memegang tangan Celine.
Juna pun membawa Celine dari tempat tersebut dengan perasaan yang kesal dan marah.
"Hapus air mata mu! aku tunggu 5 menit, cepat rapikan wajah mu itu!" Ucap Juna menahan emosinya.
"I..iya kak" Sahut Celine yang berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh.
"Aku sudah tidak dapat menahannya ingin sekali rasanya menyerah. Tapi aku khawatir tentang Ayah, Bunda dan Anakku," Gumam Celine di toilet sambil mengelus perutnya.
...⚡⚡⚡...
Acara baru saja dimulai saat Juna dan Celine baru saja kembali, yang membuat Lia sudah misuh-misuh tidak jelas karena cemburu.
"Kau tunggu disini," Perintah Juna pada Celine dan meninggalkan Celine diantara kerumunan teman-temannya, Bram, Kanta,Saka dan Lia.
Celine menatap Saka dan Saka pun kembali menatap Celine, Saka tersenyum dan mengisyaratkan pada Celine agar tersenyum dan itu berhasil membuat Celine tersenyum. Celine pun mengangguk paham apa yang di isyaratkan oleh sahabatnya itu.
Kanta dan Bram sudah saling menatap.
"Apa Celine baru saja selesai menangis? iya kan?" Bisik Kanta pada Bram.
"Iya aku pun berpikir begitu, fix aku yakin sekali kalau gadis LA yang di maksud Saka itu Celine," Sahut Bram berbisik.
"Wah bagiamana ya kira-kira perasaan Saka saat melihat gadis yang selama ini dikaguminya malah di permainkan oleh teman dekatnya sendiri?" Bisik Kanta sekali lagi pada Bram.
"Ya kau pikir saja sendiri!" Balas Bram berbisik.
"ekhem, permisi mohon perhatiannya. pertama-tama terima kasih kepada mc yang sudah mempersilahkan saya. Baiklah berhubung sekarang sudah menunjukkan pukul 9 malam, saya selalu direktur utama Choren Group akan membuka resmi dan meluncurkan produk baru kami hari ini juga. Diharapkan untuk istri saya tercinta Celinena Aldebarano dan para investor untuk ikut serta dan naik ke atas untung menggunting pita bersama saya" Ucap Juna.
"Cih b*nj*ng*n!" Umpat Saka kesal, yang dapat didengar oleh Celine, Kanta, Bram dan Lia.
"Ada apa dengannya? kenapa terus menggerutu sejak tadi?" Batin Lia.
"Sabar Kal," Ucap Bram berusaha menenangkan temannya.
Semua orang yang turut hadir langsung bertepuk tangan, saat Celine berjalan. Bahkan banyak sekali pujian bagus untuknya, apalagi pakaiannya yang terlihat sangat sopan di mata siapapun.
Ceklek
Pita pun akhirnya terpotong dan produk tersebut resmi diluncurkan malam ini juga, tepatnya setelah pemotongan pita tersebut selesai.
"Ck, seharusnya aku yang disana sekarang bukan kau Celine!" Batin Lia kesal melihat Juna dan Celine yang terlihat mesra di depan umum.
Setelah acara selesai, dapat Juna lihat kalau Saka saat ini sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan tajamnya dan terkesan dingin Dimata siapapun itu.
Juna tanpa pikir panjang langsung saja membawa Celine pergi keluar dari ballroom tersebut.
"Akhh kak Juna sakit...pelan ih!" Protes Celine kesal pada Juna.
Tapi Juna sama sekali tidak menggubrisnya, Juna tetap menarik tangan Celine dengan kasar.
"Juna!" Teriak Saka, namun tetap tidak di ubris oleh Juna.
Karena Juna mendengar panggilan dari Saka, Juna langsung mengendong Celine dengan gayai bridal style. Hingga membuat Celine terkejut dan membelalakkan matanya lebar.
"Kak turunkan aku!" Protes Celine.
"Kanta ayo ikutin mereka, aku takut Saka dan Juna akan berantam!" Ajak Bram menarik paksa Kanta.
Juna sendiri sama sekali tidak perduli, padahal dari tadi Celine terus saja memberontak padanya untuk diturunkan. Namun Juna sama sekali tidak bergeming dan enggan untuk menjawab rengekan dari istrinya tersebut, bahkan kini langkah kakinya semakin cepat.
"Diam Celine!" Bentak Juna pada Celine sehingga membuat Celine seketika ciut dan terdiam dalam sekejap.
Tolong pada siapapun ingatkan pada Juna, bahwa Celine tidak bisa di bentak dan Celine sungguh sangat membutuhkan obat itu sekarang juga.
Lia yang melihat Juna membawa Celine paksa pun mengerutkan dahinya binggung, apalagi Lia melihat bagaimana merah padamnya wajah Saka saat melihat Juna menarik Celine keluar dari ballroom.
Lia pun segera mengikuti jejak Bram dan Kanta secara diam-diam.
Juna memasukkan Celine ke dalam gudang hotel, bahkan gudang tersebut tidak memiliki lampu dan tidak ada celah untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sedangkan Saka kehilangan Juna dan Celine, Sama tidak tahu kemana Juna membawa Celine. Tapi Saka merasa dan sangat yakin kalau Juna pasti tidak jauh dari sekitarannya.
"Cena! Juna!" Panggil Saka.
"Celine aku tidak tahu hubungan apa yang kau miliki dengan Saka, tapi ini sangat keterlaluan. Ini adalah hukuman untuk mu, karena sudah berani memeluk orang lain selain suami mu sendiri. Bahkan Saka adalah teman ku, apa kau tidak sadar diri Celinena Aldebarano? Kau ini sudah memiliki suami, kau adalah seorang istri dan calon ibu dari anakku! terima hukumannmu!" Bentak Juna pada Celine lalu melepaskan tangannya yang di genggam oleh Celine.
"Ti...tidak kak ku mohon... kakak bisa memberi ku hukuman apa pun itu, tapi to..tolong jangan seperti ini..ku mohon..." Ucap Celine sambil menangis dan memohon ketakutan pada Juna.
Bahkan Celine sudah merasakan getaran pada tubuhnya, sungguh Celine sangat membutuhkan obat itu sekarang Juga.
"Lepas!" Bentak Juna sambil mendorong Celine dan meninggalkan Celine di dalam gudang.
Tentu saja Juna mengunci ruangan tersebut dari luar.
"Kak! kak Juna! kak Juna bukain pintunya kak! hiks...kak Juna...." Ucap Celine sambil memukul-mukul pintu lemas.
"Akhh..." Ringis Celine memegang kepalanya dan terjatuh di atas lantai dingin tersebut.
"Juna!" Panggil Saka yang baru saja melihat Juna keluar dari salah satu ruangan di lantai dasar.
Saka pun menghampiri Juna yang diikuti oleh Kanta, Bram, dan Lia.
"Celine kau harus kuat, kau pasti bisa menahannya. Jangan lemah lagi oke?" Ucap Celine sambil memegang kedua lututnya dengan terduduk.
Namun saat ini Celine benar-benar sudah tidak sanggup lagi, badannya bergetar hebat. Bahkan napasnya tercekat, hingga membuat dirinya kesulitan bernapas dan keringat yang terus menerus mengalir di dahinya, bahkan bibirnya pun sudah berubah menjadi warna yang pucat.
Celine tidak menghawatirkan dirinya, yang Celine khawatir kan saat ini adalah calon anaknya. Celine berdoa agar anaknya ini akan baik-baik saja dan akan berjuang bersama dengan dirinya.