I Am Fine

I Am Fine
115



Thalia pun menganggukkan kepalanya, "Kenapa kau bertanya?" Tanya Thalia.


"Tidak ada, hanya bertanya saja Kak" Jawab Sufa. "Ah iya Kak, aku dengar dari Riki Kakak juga mengunjungi Masion keluarga Renandra ya?" Tanya Sufa.


"Hm," Balas Thalia singkat.


"Wah kau sangat keren Kak, kau bahkan sudah berkunjung kesana. Lalu bagaimana respon Nenek Rena dan Kakek Jinata, saat Kak Jaiden membawa ku kesana?" Tanya Sufa.


"Apa kita sedekat itu untuk mengatakan hal privasi seperti ini pada mu?" Tanya Thalia.


Sufa pun tersenyum penuh arti, "Kita memang tidak dekat Kak. Tapi kan aku hanya bertanya saja Kak, kau terlalu membawa perasaan" Kekeh Sufa.


"Kau yakin hanya bertanya saja?" Tanya Thalia memastikan.


Sufa pun menaikkan alisnya tak peduli, lalu berbalik kembali menatap lapangar outdoor sekolah mereka yang kelihatan dari atas rooftop.


"Sebenarnya bukan Jaiden yang sengaja membawa ku kesana, tapi Nenek Jaiden sendiri yang meminta Jaiden untuk membawa ku kesana" Jelas Thalia.


"What?! Apa Nek Rena menyetujui hubungan Kak Thalia dan Kak Jaiden?" Tanya Sufa.


"Ah begitu kah? Berarti kau sudah di terima di keluarga mereka," Puji Sufa pada Thalia, agar Thalia lebih terbuka padanya.


Thalia terkekeh,"Tidak. Beliau tidak menerima ku dengan baik, kenapa orang kaya harus bersanding dengan keluarga yang setara dengan mereka dan terhormat seperti mereka?" Tanya Thalia di luar kendalinya.


Thalia tidak tahu saja, kalau Sufa adalah sebuah mulut ember dari mulut ke mulut. Sufa juga sudah mendapatkan beberapa informasi penting, untuk nanti diceritakannya pada Keira, Keisha, dan juga Fia.


"Omong-omong kewarganegaraan mu apa Kak?" Tanya Sufa.


"Amerika," Jawab Thalia jujur. "Kenapa?" Tanyanya.


"Pantas saja," Gumam Sufa namun dapat di dengar oleh Thalia dengan jelas.


"Maksud mu?" Tanya Thalia.


"Ya pantas saja kau tidak tahu soal ini, mau ku beritahu sesuatu?" Tanya Sufa.


Thalia pun mengerutkan alisnya, "Soal apa?" Tanya Thalia.


Sufa pun terkekeh pelan, "Tapi maaf sekali untuk mengatakan ini. Aku akan menjelaskannya, dengan cara yang lebih mudah dan kau dapat memahaminya dengan benar."


"Di kalangan atas seperti yang berada di sekolah ini saja contohnya, yang pembisnis dan pembisnis itu harus bersanding dengan pembisnis. Sedangkan yang bersangkutan dengan dunia politik, harus bersanding juga dengan yang bersangkutan dengan dunia politik."


"Karena hal itu dapat saling menguntungkan kedua belah pihak di kedepannya, mereka tidak akan peduli soal cinta yang sebenarnya. Contohnya seperti cinta pertama, terakhir, dan juga cinta sejati."


"Makanya, kebanyakan orang seperti mereka tidak mau kalau anaknya bersanding degan orang yang tidak jelas asal-usulnya. Apalagi kalau keluarganya tidak bisa saling dimanfaatkan dalam dunia bisnis atau politik, ku rasa itu akan menjadi hubungan yang sulit."


"Kau paham Kak?" Tanya Sufa setelah menjelaskan semuanya panjang lebar.


Thalia mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, "Bukankah itu sangat kejam? Mereka menyiksa anak mereka. Dunia tidak adil. Apa aku dan Kak Jaiden bisa bertahan?" Tanya Thalia lirih dan khawatir soal hubungannya dengan Jaiden.


"Sufa..." Lirih Thalia tak enak. "Kau tak apa?" Tanya Thalia.


Sufa mengindikkan bahunya, "Dari yang aku tahu. Mendiang Ayah Kak Jaiden juga dulu memiliki kekasih saat dirinya sudah menikah, dengan Mama Kak Jaiden. Dan dia sudah berkencan dengan kekasihnya itu, sebelum dia di jodohkan oleh Mama Kak Jaiden" Jelas Sufa.


"Jadi bagaimana menurut mu Kak? Apa kau sudah siap jika Kak Jaiden di jodohkan dengan orang lain? Dengan anak pembisnis yang setimpal dan bisa di manfaatkan oleh kedua belah pihak? Lalu apa kau yakin hubungan mu dan Kak Jaiden akan lebih baik di masa yang akan datang?" Tanya Sufa berusaha untuk menakut-nakuti Thalia.


Sebenarnya Sufa enggan memberi tahu soal masa lalu mendiang Juna dan Celine, namun Sufa harus membuat Thalia untuk berpikir 2 kali untuk berada dan berharap pada Jaiden. Agar Thalia sadar akan posisinya, pikir Sufa.


"Kau membuat ku binggung Sufa," Sahut Thalia menatap Sufa.


...⚡⚡⚡...


"Ra, Keisha terus saja menghindari ku. Aku kemarin melihatnya datang berkunjung ke pemakaman Daddy dan Mommy," Ucap Jaiden merebahkan dirinya di atas kasur Keira.


"Kau ke rumah ku mau curhat ya? Kenapa tidak bawa makanan sih?" Gerutu Keira sambil bertanya.


"Ck, iya ini pesan saja!" Ucap Jaiden memberikan ponselnya pada Keira.


"Hehehe pengertian sekali sahabat ku yang ini!" Pekik Keira semangat mengambil ponsel Jaiden, dan memesan beberapa makanan dan minuman untuk dirinya dan juga Jaiden.


"Kau sebenarnya datang kesini mau curhat, atau kau mau meminta bantuan ku agar kau dan Keisha bisa saling bertemu? Masalah kalian apa sih? Thalia kan?" Tanya Keira yang masih binggung soal apa yang terjadi antara Keisha dan Jaiden.


Jaiden mengindikkan bahunya tidak tahu, hingga membuat Keira kesal setenggah mati. "Apa Jaki sudah cerita pada mu Ra? Soal Mama Thalia?" Tanya Jaiden.


Keira pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Aku sudah tahu soal itu. Tapi apa kau tahu Jaiden? Menurut sudut pandang ku ya, seharusnya kau tidak berbuat seperti itu."


"Thalia sendiri saja tidak tahu apapun, dan itu juga sudah masa lalu yang buruk. Jangan buat kenangan buruk di dirimu," Tunjuk Keira pada Jaiden.


"Thalia, Keisha, dan juga ornag sekitar kalian. Apa luka mu belum sembuh?" Tanya Keira.


"Kau tidak akan mengerti, kau terlahir dan memiliki keluarga Cemara" Ucap Jaiden memejamkan matanya.


"Baiklah, kalau begitu sedari awal kau seharusnya membicarakan ini dulu dengan Keisha. Kau sudah melukai perasaannya, Keisha benar-benar ingin melupakan mu. Dia juga sudah bertekad. Kau kenal Keisha dengan baik kan?" Tanya Keira.


"Apa kau tahu Keira? Kalau aku memberitahu Keisha soal ini, pasti Keisha akan mencegah ku" Jawab Jaiden.


"Ku rasa itu lebih baik, kau benar-benar pria yang brengsek sekarang. Yang hanya bisa mempermainkan perasaan perempuan," Ujar Keira.


Jaiden pun menghela nafasnya kasar, dan tidak menyalahkan semua perkataan Keira. Karena itu benar adanya, Keira bicara soal fakta.


"Sebenarnya, aku binggung, aku juga takut. Aku takut sekali saat setiap kali aku melihat Keisha dan Surya selalu keluar bersama, dan semakin dekat setiap harinya. Surya.... Surya juga mengatakan padaku, kalau dia akan... ya begitu lah kau paham kan?" Tanya Jaiden.


"Apa maksud mu soal Surya yang masih menyukai Keisha?" Tanya Keira.


Jaiden pun mengangukkan kepalanya, "Aku takut soal itu. Bagaimana kalau Keisha benar-benar akan melupakan ku? Dan menyukai Surya?" Tanya Jaiden.