I Am Fine

I Am Fine
Renan dan Celine



PLAK


Bugh!


"apa kau gila Juna?! Papa dan Mama tidak pernah mengajarkan mu untuk menyakiti perempuan! apalagi Celine adalah istri mu, seharusnya kau menjaganya bukan menyakitinya!" Bentak Jinata kesal pada putra semata wayangnya itu.


"Maaf kan aku Pa," Sahut Juna pasrah.


Jinata memijit ujung pangkal hidungnya pusing, karena menghadapi putra semata wayangnya tersebut.


"Bagiamana dengan Tanaro? apa dia sudah mengetahuinya? kau sudah memberitahunya kan?!" Bentak Jinata sekali lagi pada Juna.


Juna pun hanya mengangguk saja untuk merespon Papanya.


"Apa kau tidak berpikir dengan jernih Juna? apa kau sungguh tidak bisa mengigat bagaimana kau dan Celine mengalami kecelakaan? apa kau tidak bisa merasakan kedekatan kalian huh?!" Bentak Rena merasa kecewa pada putranya.


"Ma... maksud Mama?" Tanya Juna binggung.


"Hah sudah lah Rena, jangan bahas itu! anak ini tidak akan mengingat kejadian tersebut. Cepat kau sekarang kembali ke rumah sakit, kami akan menyusul. sempat terjadi sesuatu pada menantu cantik ku itu, kau yang akan ku bunuh Juna!" Ucap Jinata lalu meninggalkan anaknya yang sedang bertekuk lutut di lantai.


"Juna, kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu nak. Jujur Mama dan Papa sangat kecewa dengan mu kali ini" Lirih Rena lalu meninggalkan Juna untuk menyusul Jinata.


...⚡⚡⚡...


Saka merasakan gatal-gatal di sekejur tubuhnya, bagaimana tidak? Saka sudah dua hari ini tidak mandi sama sekali. Bahkan Saka hendak menelepon asistennya untuk membawakannya baju ganti dan perlengkapan lainnya, termasuk laptop.


Karena apapun ceritanya, Saka sudah bertekad untuk menunggu Celine di rumah sakit hingga sadar.


Ceklek


Saka mengalihkan atensinya pada pintu yang baru saja terbuka dan melihat Bram, Kanta dan Tara.


"Astaga Kal, makan ini," Ucap Tara sambil memberikan semangkok bubur, "kau ini sudah seperti monster, berantakan sekali dan bau" Ucap Tara yang memperhatikan Saka yang sudah memiliki lingkar mata hitam pada matanya.


"Juna sudah memberitahu orang tuanya, orang tua Celine juga akan tiba di Indonesia sebentar lagi" Ucap Bram.


"Baguslah, Celine saat ini membutuhkan keluarganya" Sahut Saka.


"Menurut kalian apa yang akan dilakukan Tuan Jinata pada Juna?" Tanya Tara.


"Menghapus Juna dari wasiatnya hahaha" Sahut Kanta asal sambil tertawa.


"Mana bisa, hanya Juna yang dia miliki untuk meneruskan perusahaannya bodoh!" Sahut Bram.


"Ku pikir Nyonya Rena dan ibu Celine merencanakan sesuatu, karena semalam Nyonya Rena meminta ku melakukan sesuatu" Ucap Tara tiba-tiba.


Saka, Bram, dan Kanta pun menatap penasaran pada Tara.


"Maksudmu? apa yang sedang direncanakannya?" Tanya Saka penasaran.


"Secret hehe," Sahut Tara.


"Ah kau tidak seru!" Sahut Kanta.


"Kalau aku mengatakannya pada kalian, apa kalian ingin melihat ku di tendang dari rumah sakit ini hah?!" Tanya Tara.


"Apa ini berkaitan dengan kesehatan Celine?" Tanya Saka.


"Hmm, bagaimana mana ya aku harus menjelaskannya?" Sahut Tara sambil berpikir, "Itu bisa saja berkaitan dengan kesehatan tapi itu tidak terlalu berkaitan erat," Lanjut Tara yang membuat semuanya binggung.


"Ah sudah lah aku tidak paham," Sahut Kanta pasrah.


"Aku tidak habis pikir dengan Lia, sudah tau Juna sudah menikah. Kenapa masih di pertahankan hubungan mereka coba " Ucap Kanta tiba-tiba.


"Uang Kanta, kau ini seperti tidak mengerti saja!" Sahut Tara.


"Ah benar juga ya, aku lupa hahaha" Sahut Kanta terkekeh lagi.


"Saka sebenarnya aku ingin mengetahui ini dari mu, sebagai seorang dokter aku ingin bertanya padamu" Ucap Tara tiba-tiba serius.


"Tentu saja, tanya apa yang ingin kau tanyakan. Aku akan menjawabnya kalau aku tahu jawabannya" Sahut Saka santai.


Sedangkan Bram dan Kanta hanya menyimak saja.


"Apa kau... tahu bagaimana Celine bisa memiliki Claustrophobia?" Tanya Tara hati-hati pada Saka.


Saka mengangguk.


"Tentu saja, aku penasaran" Sahut Kanta.


Flashback on


Hari ini adalah hari Sabtu, dimana setiap Sabtu sore Celine akan selalu pergi keluar dari kediaman keluarganya untuk pergi bermain ke taman komplek di perumahannya.


Celine sengaja pergi pada hari Sabtu di sore hari, Karen Celine ingin bertemu dengan teman lelaki yang Celine sukai.


Apa kalian tahu? itu adalah cinta monyet anak SD, Bahkan Usia Celine baru saja menginjak 6 tahun dan baru saja masuk kelas 1 SD.


Namun Celine tidak mengetahui nama anak laki-laki yang disukainya tersebut, begitupun dengan anak laki-laki tersebut.


Keduanya saling mengenal, namun Celine hanya tahu bahwa anak laki-laki tersebut berasal dari keluarga Renandra. Maka dari itu Celine memanggil anak tersebut dengan Renan.


Sedangkan anak-anak laki itu memanggilnya Alda, karena Celine berasal dari keluarga Aldebarano.


"Aldaaaa!" Panggil anak laki-laki tersebut.


"Hai kak Renann!" Sahut Celine semangat lalu berlari kecil menghampiri anak lelaki tersebut.


"Kau ini kenapa sangat lama sekali? aku sudah menunggu mu dari tadi!" Gerutu Renan kesal pada Celine.


"Maaf ya kak, tadi adikku menangis. Dia tidak membiarkan aku untuk pergi, tadi saja aku pergi dengan diam-diam" Sahut Celine menunduk, karena tidak enak pada Renan.


"Akan aku maafkan, tapi ada syaratnya" Ucap Renan tiba-tiba yang membuat Celine mendongakkan kepalanya pada Renan.


"Apa kak?" Tanya Celine binggung.


"Poppo" Ucap Renan malu-malu hingga membuatnya Celine tertaw geli.


"Hihihihi Cupp" Celine pun mencium pipi Renan.


"Kak Renan ayo kita membeli es krim!" Ajak Celine pada Renan.


"Apa kau membawa uang? aku tidak membawa uang, pinjam kan aku ya?" Sahut Renan.


"Yasudah ayo! aku sedang berbaik hati hari ini, jadi akan ku biarkan" Sahut Celine sambil menarik paksa tangan Renan.


"Kak Renan apa kau memperhatikannya? sepertinya Om Om itu dari tadi mengikuti kita" Bisik Celine pada Renan.


Hah?," Sahut Renan lalu memperhatikan sekitarannya, " aku tidak melihatnya, dimana?" Tanya Renan binggung.


"Loh kok tidak ada?!" Ucap Celine saat melihat kebelakang dan tidak menemukan siapa pun.


"Sudah lah, ayo kita kesana, kau ingin makan es krim kan?" Tanya Renan pada Celine.


"Baiklah, ayo!" Sahut Celine semangat.


Grepp


"ALDAA Mmpttt"


Sekali lagi.


Grep.


Renan dan Celine di culik oleh penjahat yang sedang mengincar anak-anak untuk menjual organ-organ dalam anak-anak tersebut.


"Diam!" Ucap salah satu penculik tersebut.


"Huaaaa Om jahat! Celine mau pulangg huaaa Celine mau pulangg, Kak Renan bangun! Kak Renan hiks Kak Renan!" Tangis Celine pecah saat melihat Renan yang masih pingsan.


PLAK


Penculik itu pun menampar Celine, sehingga membuat Celine tersungkur dan kepalanya terantuk ke atas lantai dan pingsan.


"Heh! kau ini sangat bodoh sekali, kenapa kau menamparnya hingga pingsan? nanti kalau dia mati bagaimana? kita tidak bisa menjual organnya bodoh!" Ucap salah satu penculik itu kesal pada temannya.


"Tenang sajaa, dia tidak akan mati!" Sahut penculik tersebut.


"Terserah mu saja, yausudah ayo kita tinggal dulu. Kita harus dapat 11 anak"


"Yasudah ayo" Sahut penculik tersebut itu.


Kedua penculik tersebut pun meninggalkan Celine dan Renan di dalam ruangan yang sangat gelap dan di kunci dari luar, bahkan tempat tersebut tidak memiliki cahaya untuk masuk.