I Am Fine

I Am Fine
Jaki & Keira 2 (Jaiden & Thalia)



Jaiden yang mendengar Jaki menyebut 'Kei' pun langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekat pada Jaki yang berdiri di depan pintu. Betapa terkejutnya Jaiden, saat mendapati Keira disana.


Jaiden dapat menebaknya, kalau Keira sebentar lagi pasti akan menangis. Karena Keira sudah mengigit bibir bawahnya, agar air matanya tidak keluar.


"Kei... Itu bukan seperti" Ucap Jaki terpotong, karena Keira sudah terlebih dahulu berlari meninggalkan Jaki dan Jaiden.


"Keira!" Panggil Jaiden dan Jaki bersamaan.


Tapi Keira tidak memperdulikannya, Keira berlari sepanjang koridor. Hingga Keira tak sengaja menabrak seorang siswa laki-laki.


"Akhh! Astaga!" Kesal anak laki-laki itu, "Loh Kei? Ada apa dengan mu? Kau tak apa?" Tanya Heri saat melihat Keira yang terduduk di lantai karena tak sengaja menabrak dirinya.


Heri pun membungkukkan badannya dan mendapati Keira dengan wajah yang mengeluarkan air mata, Heri pun panik dan khawatir secara bersamaan.


"Hei ada apa dengan mu? Siapa yang membuat mu menangis huh?" Tanya Heri sembari memegang kedua bahu Keira erat.


"Heri hiks..." Isak Keira menatap menatap Heri.


Heri menghela nafasnya, lalu membawa Keira ke dalah satu ruang lab bahasa yang kosong. Kebetulan juga ruangan itu berada di depan mereka saat bertabrakan tadi dan tidak penah dikunci.


"Kei ada apa? Kau kenapa menangis?" Tanya Heri melepaskan pelukannya pada Keira, dan berlaih memegang kedua bahu Keira dengan raut wajah khawatir.


"Kau jangan bertanya dulu... hiks... Nanti aku semakin menangis..." Balas Keira.


Heri pun menghela nafasnya kasar dan lebih memilih untuk memeluk Keira, "Nangis saja sepuasnya Kei, aku rela kalau baju ku basah karena mu" Ucap Heri sambil mengeratkan pelukannya, berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Arghhhh!" Gerutu Jaki magacak rambutnya kasar, karena pusing.


"Maaf, seharusnya aku tidak membahas soal ini disini" Ucap Jaiden yang merasa bersalah, dan tak enak.


"It's okey Jaiden, sebelumnya terima kasih kau sudah memberi saran untukku. Bisa tinggalkan aku sendiri?" Pinta Jaki.


Jaiden pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dan memilih untuk keluar dari tempat mereka biasa berkumpul saat sedang lelah belajar.


Saat Jaiden berjalan di koridor sekolah dekat gudang belakang, Jaiden tak sengaja mendegar ada keributan disana.


Karena Jaiden merasa penasaran, Jaiden pun memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di gedung terbengkalai yang berada di sekolahnya itu.


"Berani sekali kau pulang di antar oleh Jaiden, makan bersama di Mall, dan bermain di Mall bersama Jaiden. Ah bahkan kalian keluar Kota hah?!"


"Jawab! Kau tidak punya mulut ya huh?!" Bentak gadis itu.


Thalia tertawa sinis, "Apa kau iri pada ku? Maka dari itu kau merundung ku seperti ini dan membawa ku belakang sekolah?" Tanya Thalia dengan ekspresi wajahnya yang berubah menjadi tajam.


Cecila dan teman-teman gadis yang membuli Thalia pun tersentak, saat melihat perubahan mimik wajah Thalia yang terlihat polos. Malah semakin terlihat seperti pemberani, dan pembangkang.


"Wah apa ini kepribadian asil mu? Kau bermuka dua ya?!" Tanya Cecila.


"Kau terkejut ya?" Tanya Thalia sinis.


PLAK!


Cecila merasa dirinya diremehkan, lalu Cecila pun menampar pipi Thalia.


"Apa mau lagi? Kau hanya murid baru disini! Jangan berani-berani nya kau mendekati Jaiden, Jaiden hanya milikku!" Ucap Cecil.


"Ah jadi kau mengklaim kalau Jaiden itu milik mu ya? Kau yakin? Sepertinya Jaiden tidak menyukai mu, makanya dia memberi bekal yang kau buat pada ku hahaha" Tawa Thalia.


Bagi Thalia, tamparan yang di berikan Cecil bukanlah apa-apa baginya. Karena Thalia sudah terbiasa mendapati tamparan dari Papa tirinya, bahkan lebih dari itu.


Cecila yang merasa kesal itu pun memilih untuk menjambak rambut Thalia, hingga membuat Thalia berteriak karena kesakitan.


Kali ini Thalia tidak bisa membalas jambakan yang diberikan Cecila padanya, karena kedua tangannya di pegang erat oleh antek-anteknya Cecila.


Merasa cukup melihat keributan yang mengatasnamakan dirinya itu, Jaiden pun memilih untuk menghentikan pertengkaran tidak sehat itu.


Jaiden keluar sembari menepuk-nepuk tangannya, "Wah Cecila Aksara" Panggil Jaiden, hingga membuat Cecila menegang seketika.


Cecila tahu jelas siapa pemilik suara tersebut, siapa lagi kalau bukan lelaki idamannya sejak SMP dulu?


"Ja.. Jaiden..." Ucapnya gugup.


Jaiden menatap tak suka pada Cecila, dan menghela nafasnya kasar. Jaiden pun memilih untuk berjalan pada Thalia, dan memegangi pipi milik Thalia untuk melihat kepala Thalia.


"Kau tak apa?" Tanya Jaiden Khawatir.


Thalia tidak menjawab.


"Cecila kenapa kau berani sekali?" Tanya Jaiden.


"Jai... sudah jangan di perpanjang" Ucap Thalia menarik lengan Jaiden yang hendak berjalan menuju Cecila.


"Kartu peringatan untuk Ayah mu" Ucap Jaiden pada Cecila, lalu membawa Thalia untuk membantunya.


Setelah merasa jauh dari Cecila dan antek-anteknya, Jaiden pun membawa Thalia untuk duduk.


Jaiden menangkup wajah Thalia dan memperhatikan setiap sudut wajah Thalia, Thalia melebarkan matanya terkejut. Karena Jaiden tiba-tiba berperilaku seperti itu padanya, ah tidak bahkan jantungnya berdegup dengan kencang.


"Kau tak apa? Disebalah mana tadi di tamparnya? Maaf kan aku ya? Kau seperti ini karena ku" Ucap Jaiden dengan wajah khawatirnya.


...⚡⚡⚡...


Sudah 3 hari Keira tidak masuk ke sekolah, dan juga Keira tidak ingin bertemu dengan teman-temannya kecuali Surya dan Fia.


Tara dan Naura sempat berpikir, kalau anaknya tersebut tidak mau bersekolah karena dirundung oleh siswa disekolahnya.


Namun setelah Surya menceritakan pada kedua orang tua Keira, Tara dan Naura pun memakluminya. Ternyata putrinya itu sedang putus cinta, ah tenang saja. Surya tidak mengatakannya pada Naura maupun Tara, kalau penyebab Keira seperti itu adalah karena Jaki.


Surya hanya mengatakan pada kedua Orang Tua Keira, kalau Keira sedang putus cinta dan cintanya bertepuk sebelah tangan.


Surya tidak berani untuk mengatakannya, karena takut Keira marah padanya. Apalagi mengingat kedua Orang Tua Keira mengenal Jaki dengan baik.


"Kei makan!" Suruh Naura berteriak dari dapur rumahnya.


"Iya Ma!" Sahut Keira berbalik teriak.


Lantas Keira pun keluar dari kamarnya dengan langkah malas, dan menuju ruang makan. Setelah sampai disana, lantas Keira pun mendaratkan bokongnya di atas kursi yang sudah ditarik oleh pelayan dirumahnya.


"Makan yang banyak, jangan murung terus!" Ucap Naura sambil meletakkan nasi dan lauk pauk, yang disukai Keira ke dalam piring putrinya.


Sedangkan Keira hanya mengangguk pasrah, dan menatap malas pada makanan yang ada di hadapannya.


Tara mendelik tidak suka, saat melihat anak gadisnya itu memperlakukan makanan seperti itu.


"Makan makanan mu Kei! Tidak baik hanya menatap makanan seperti itu, di luar sana masih banyak orang yang tidak bisa makan. Kau harus banyak bersyukur," Jelas Tara.


Lantas Keira mengerutu di dalam hatinya, dan mengambil sendok makan. Lalu menyuapi makanan yang ada di hadapannya, untuk masuk ke dalam perutnya.


Setelah makan, Keira, Tara dan Naura belum bangkit dari duduknya. Karena Keira dan Tara sedang menunggu Naura yang sedang mengupas buah apel untuk mereka.


"Sampai kapan tidak masuk sekolah Kei? Apa sampai kau melupakan cinta sepihak mu itu? Ayolah di luar sana masih banyak laki-laki tampan," Jelas Tara sembari bertanya.


Keira pun terkejut, dari siapa Papa nya tahu soal ini? Papa tidak tahu kalau orang itu Jaki kan? Pikirnya.