
Keisha pun berjalan untuk masuk ke dalam pemakaman keluarga Renandra, dan menghampiri makam Juna dan juga Celine yang bersebelahan.
"Sepertinya Kak Jaiden sebelum berangkat kemari dulu ya Tante? Om?" Tanya Keisha sendiri saat dirinyaelihat bunga yang masih segar terletak disana.
Keisha pun duduk di antara kedua kuburan milik Celine dan juga Juna, "Om, Tante, hari ini Keisha mengalami hari yang sangat berat. Keisha tidak tahu, Keisha bisa menghadapinya atau tidak. Keisha sebenarnya capek, Keisha ingin menjadi orang biasa saja. Keisha gak mau haus kehausan kekuasaan seperti Mama," Ucap Keisha.
Keisha pun tertawa miris, "Keisha tidak punya tempat lain untuk Keisha kunjungi selain kesini. Betul ya kata orang kalau kita semakin dewasa, kita akan semakin menutup diri kita dari orang lain saat mendapatkan masalah."
"Oh iya, Om Juna sama Tante Celine pasti udah dengar kan dari Kak Jaiden? Kei yakin, Kak Jaiden pasti cerita soal Thalia tadi. Tante Celine maafin Om Juna ya? Thalia tadi... sepertinya tidak baik Keisha mengatakan itu disini, intinya Thalia sedang tidak baik-baik saja," Jelas Keisha.
"Kak Jaiden jahat, dia gak bilang ke Kei kalau dia akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan study nya. Sekarang Keisha sendiri, Keisha gak punya siapa-siapa lagi untuk tempat bersandar."
"Mama juga udah baru masuk penjara, barusan. Keisha gak bisa bersandar ke Riki, karena Kei merasa seharusnya Kei yang menjadi tempat sandaran Riki. Karena Kei adalah Kakak Riki, Kei juga merasa bersalah sama Riki."
"Gara-gara Kei Mama gak pernah peduli sedikit pun sama kehadiran Riki, Riki beranggapan kalau Mama tidak sayang padanya. Dan di mata mamanya itu hanya ada Kei saja, Kei takut" Ucap Keisha panjang lebar sambil terisak.
"Kei cuma bisa cerita-cerita seperti ini cuma sama Kak Jaiden, karena Kei nyamannya sama Kak Jaiden..." Ucap keisha tak tahan lagi, dan menangis sejadi-jadinya.
Hingga Keisha tersentak, saat dirinya merasakan ada yang menepuk-nepuk pelan punggungnya sambil terisak juga dari belakang. Keisha pun menoleh, dan mendapatkan Riki disana dan juga Jovan yang berada tak jauh dari mereka.
"Riki... bagaimana kau bisa" Ucap Keisha terpotong karena Riki sudah lebih dulu untuk memeluk Kakaknya itu.
"Kak Kei maafkan aku hiks..." Isak Riki memeluk Keisha erat, "Siapa bilang kau harus merasa bersalah pada semua itu huh?? Maafkan aku Kak Kei, aku selalu membuat mu seolah-olah merasa seperti itu. Aku rumah mu, kau berhak bersandar pada ku karena aku keluarga mu."
"Kau tidak perlu merasa bersalah lagi huh? Oke?" Jelas Riki sembari bertanya pada Keisha yang terisak dalam dekapannya.
"Kau memiliki ku disini Kak, kita adalah keluarga. Kita harus menjaga satu sama lain, kau yang terbaik semuanya akan baik-baik saja pada waktu yang tepat. Kau akan tinggal bersama ku lagi dan juga Papa, jangan risaukan soal itu. Oke?" Tanya Riki melepaskan pelukannya dan Keisha pun mengangukkan kepalanya tertunduk.
Jovan pun sedikit menjauh dari kedua Adik Kakak itu, agar keduanya lebih leluasa. Sekaligus Jovan juga ingin menghubungi yang lainnya. Untuk memberitahu teman-temannya kalau mereka sudah menemukan Keisha.
...⚡⚡⚡...
Thalia baru saja membuka kedua matanya, kejadian buruk yang tadi baru saja di alaminya tiba-tiba saja langsung terlintas di pikirannya. Tanpa sadar air mata itu sudah keluar begitu saja, kehormatannya sudah hilang pikirnya.
Bahkan Thalia tidak mengenali siapa pria yang melecehkannya tadi, di rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Thalia berharap, kalau yang di alaminya itu adalah mimpi buruknya.
Thalia takut, Thalia takut kalau dirinya hamil di usia yang muda, ataupun Thalia takut kalau pria itu kembali dan menyakitinya.
"Thalia? Kau sudah bangun? Sayang? Apa yang sakit hm?" Tanya Lia khawatir.
Thalia menggelengkan kepalanya, "Maa... takut... hiks..." Isak Thalia membuat hati Lia tersayat.
"Ma bagaimana kali terjadi hal buruk pada ku? Hiks... Aku masih ingin sekolah Ma... Ma Thalia tadi sedang bermimpi buruk kan?" Isak Thalia.
"Hei sayang, kita akan melakukan yang terbaik untuk mu oke? Kau tenang saja kita akan menangkap dan memenjarakan orang itu sayang, bersabar lah oke? Papa pasti akan mencari sampai dapat, orang yang sudah berani menyentuh putri cantiknya ini"Jelas Lia terisak dan berkahir memeluk putrinya erat.
Sret!
"Thalia? Kau sudah bangun? Ada yang sakit sayang?" Tanya Rafa menghampiri Thalia dan memastikan kondisi putrinya dan Thalia pun menggeleng-gelengkan kepalanya pelan tertunduk.
Rafa menghela nafasnya kasar, "Syukurlah, maafkan Papa ini terjadi padamu. Maafkan Papa tidak menjaga mu dengan baik," Ucap Rafa penuh penyesalan hingga membuat Thalia kembali menangis.
"Hei putri Papa tidak boleh menangis oke? Apapun yang terjadi kau harus kuat untuk menghadapinya, Papa dan yang lainnya akan berusaha untuk mencari siapa pelakunya oke?" Ucap Rafa memeluk erat Thalia dan juga Lia yang terisak.
...⚡⚡⚡...
"Wah aku merasa kasihan sekali pada Kak Thalia, bagaimana kalau dia hamil?" Tanya Sufa sambil menyetir mobil milik Surya.
Surya pun terkekeh pelan, "Tiba-tiba membicarakannya? Aaa iya kau dan Thalia memang sedikit dekat ya," Goda Surya tekekeh pelan.
"Sejujurnya aku juga merasa kasihan padanya, dia cantik. Tapi dia kehilangan segalanya dalam sekejap" Ucap Surya.
"Apa kau percaya karma orang tua pada anaknya?" Tanya Surya dan Sufa pun mengindikkan bahunya tidak tahu.
"Ei tapi aku baru saja mendengar ini, kau baru saja memuji seorang perempuan ya Kak hahaha" Ucap Sufa meggoda Surya.
"Ck, kau menyetir saja yang benar!" Peringat Surya membuat Sufa tekekeh geli.
...⚡⚡⚡...
Jaiden baru saja tiba di LA selama 20 jam lamanya berada di pesawat, rasanya badannya sangat lelah dan pegal dalam waktu yang bersamaan. Karena dirinya ahnya berbaring, dan menonton film yang menarik perhatiannya.
Di bandara, Jaiden sudah di sambut dengan orang kepercayaan keluarga Aldebarano sejak 40 tahun lamanya.
"Sudah lama tidak melihat Tuan muda, selamat datang kembali Tuan muda di tempat kelahiran Tuan muda," Ujar asisten pribadi milik keluarga Aldebarano itu yang selalu di percaya untuk mengurus semua segala urusan keluarga Aldebarano selama di LA.
"Senang bertemu mu dengan mu lagi Emyliana, terima kasih" Sapa Jaiden ramah.
"Tuan muda saya rasa tuan muda perlu mengecek beberapa berita terkait Ibu Shakila Wiliani dan juga Thalia Auriya, ini adalah perintah titipan dari Tuan Jinata pada saya," Jelas Emyliana memberikan Ipad-nya pada Jaiden.