
"Bagaimana kabar Kakek? Apa Kakek masih suka mengoleksi lukisan?" Tanya Jaiden.
"Tentu, Kakek sangat menyukainya. Bahkan lukisan mendiang Mommy mu pun, masih Kakek simpan. Semalam teman Kakek bahkan memberi harga tinggi namun Kakek tidak akan pernah menjualnya," Jawab Jinata sembari terkekeh.
Lalu atensi Jinata teralihkan pada Thalia, "Hei siapa gadis yang kau bawa? Kakek kira gadis yang kau kencani selama ini itu adalah Keisha. Karena Nenek mu hanya mengatakan kalau kau akan makan malam bersama kami, dan membawa kekasih mu" Jelas Jinata terkekeh.
"Siapa nama mu?" Tanya Jinata.
"Astaga, apa Keisha memang benar-benar sangat mengenal keluarga ini?" Batin Thalia tak suka.
"Thalia Kek, Nek," Jawab Thalia menampilkan senyum terbaiknya pada Jinata dan juga Rena.
"Wah nama mu secantik wajah mu ya, pantas saja Jaiden jatuh hati padamu" Puji Rena.
"A...aah terima kasih atas pujiannya Nek," Sahut Thalia gugup.
"Bagaimana dengan sekolah mu Jai?" Tanya Jinata sambil mencicipi makan malam mereka.
"Tidak ada yang istimewa, hanya begitu-begitu saja Kek. Jai akan mengikuti olimpiade matematika, seperti tahun sebelum-sebelumnya" Jelas Jaiden.
"Ah begitu? Semangat ya, kau pasti bisa melakukannya.Mau perlu apa-apa atau pun ada apapun sesuatu yang kau inginkan dan butuhkan, kau bisa menghubungi Nenek dan Kakek ya!" Ujar Jinata.
Jaiden pun hanya mengangguk-angguk kepalanya, "Dari siapa bunga itu?" Tanya Jaiden tak asing.
"Keisha," Jawab Rena sembari menatap makanannya.
"Keisha berkunjung kesini?" Tanya Jaiden mengerutkan dahinya binggung.
"Kenapa dari tadi hanya Keisha saja sih yang di bahas?" Gerutu Thalia kesal dalam hati.
"Keisha menginap tadi malam disini, dan berangkat sekolah dari sini. Kei tidur dengan Nenek mu tadi malam, apa kau dan Keisha sedang berantam?" Tanya Jinata pada Jaiden.
Rena pun menyenggol kaki Jinata, agar aku Jinata tidak membahas hal itu di hadapan Thalia.
Jinata yang mengerti maksud istrinya itu pun langsung melirik Thalia, "Thalia bagaimana kalau kau dan Jaiden menginap saja disini? Nanti biar saya atau Rena yang akan menghubungi orang tua mu," Jelas Jinata.
Jinata masih belum tahu, kalau Rafa adalah ayah tiri Thalia.
Rena belum memberitahu Jinata, karena ingin memberi kejutan besar pada suaminya.
"Huh? Ah tidak usah Kek, saya" Ucap Thalia dipotong Jaiden.
"Lain kali saja Kek, besok hari Kamis. Kami sekolah, buku dan seragam tidak ada disini" Potong Jaiden.
Jinata pun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, "Baiklah kalau begitu, ingat janji mu ya Jaiden" Peringat Jinata. " Ayo nikmati dulu makan malam kalian," Lanjut Jinata.
Setelah ke empatnya selesai makan, Jaiden pun pamit sebentar untuk ke kamarnya yang berada di Masion. Karena Jaiden yakin sekali, kalau Keisha dan Neneknya pasti tidur di kamarnya.
Dan benar saja, bahkan wangi farfum Keisha pun masih lengket di kasurnya. Jaiden memperhatikan setiap sudut, dan mendapatkan album foto, album fotonya dulu saat bersama Keisha semenjak dirinya berada di Indonesia.
"Aku sudah lama tidak mengunjungi makam Mommy dan Daddy," Sesalnya.
Jaiden pun membuka album foto itu, dan tercetak senyum di wajahnya saat melihat beberapa foto itu. Keisha bahkan tak berubah sedikit pun, masih tetap manja, cantik, dan juga baik hati.
Dimana Thalia?
Thalia sedang duduk bersama Rena di ruang santai pribadi milik wanita itu.
"Kau sudah lama kenal dengan Jaiden?" Tanya Rena sambil membuka sebuah buku.
"Belum terlalu lama Nek, mungkin sekitar 5 bulan yang lalu" Jawab Thalia.
"Ah berarti hubungan mu dan Jaiden masih baru ya?" Ta ya Rena.
Thalia pun menganggukkan kepala ragu, "Iya Nek" Sahutnya.
"Jaiden tidak pernah berhubungan ataupun berinteraksi dengan seorang gadis selain Keisha, Keira dan juga Fia. Aku sangat terkejut saat mendengar kabar, kalau ternyata cucu ku sedang menjalin kasih dengan mu. Dan bukan antara ketiga gadis itu," Kekeh Rena penuh arti.
Thalia pun hanya bisa tersenyum kikuk, Karana tidak tahu harus mengatakan apa pada Rena. Walaupun disini, dirinya sangat sedikit merasa bangga.
"Bagaimana kabar Rafa? Rafa Adalah ayah tiri mu kan?" Tanya Rena.
Thalia membelalakkan matanya, " Nenek tahu itu?" Tanya Thalia heran.
Karena setahu Thalia, Papanya selama ini menyembunyikan soal dirinya dan juga Mamanya. Bahkan sampai memalsukan informasi indentitas keduanya, dan itu demi kebaikan mereka kata Rafa.
Rena pun tersenyum penuh arti tanpa menatap Thalia, "Tentu aku tahu. Keluarga kami cukup dekat dengan keluarga Sandika, ku dengar Ibu mu adalah istri sirih Rafa benar kan?" Tanya Rena yakin.
Thalia pun menganggukkan kepalanya, dirinya juga bahkan tidak tahu siapa Ibu dan juga Ayah dari Rafa. Thalia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tua Rafa, karena Rafa menyembunyikan keberadaan Thalia dan juga Lia dari orang tuanya.
Namun Thalia tahu, kalau beberapa waktu lalu Ibu Rafa meninggal dunia. Tapi Thalia tidak tahu, apa penyebab Ibu Rafa meninggal dunia.
"Kau pasti tahu Thalia, keluarga ku adalah keluarga terhomat dan terpandang. Menurut mu bagaimana pendapat orang-orang saat mengetahui kalau Jaiden pewaris satu-satunya keluarga ini, ternyata memiliki pasangan hidup yang tidak memiliki silsilah keluarga yang jelas."
"Kau mengerti kan maksud ku?" Tanya Rena.
Thalia pun langsung terdiam, merasa dirinya sudah direndahkan oleh Rena secara tidak langsung.
"Jadi aku harap kalian hanya sebatas berpacaran seperti ini saja, dan tidak sampai untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Aku tahu ini terlalu cepat untuk membahas ini pada anak bawah umur, bahkan kalian pun belum menyelesaikan sekolah kalian."
"Tapi aku harus mengatakan ini sekarang, karena aku harus menyelamatkan keturunan keluarga ku, kehormatan keluarga ku, dan juga reputasi keluarga ku" Ucap Rena lalu bangkit dari duduknya.
"Sebentar lagi Jaiden turun. Tunggu saja disini, jangan berkeliaran" Jelas Rena lalu pergi meninggalkan Thalia sendirian di ruang santai milik Rena.
Ceklek
Baru saja Rena hendak membukakan pintu, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu dan dibuka oleh Jaiden. Jaiden pun sedikit binggung, dengan suasana yang terjadi.
Jaiden melihat Thalia yang sedang tertunduk, pasti Neneknya mengatakan sesuatu pada Thalia pikir Jaiden.
"Oh Jaiden? Kau sudah selesai? Apa yang kau cari?" Tanya Rena basa-basi.
Jaiden yang awalnya melirik Thalia pun mengalihkan perhatiannya pada Rena, "Hanya mengambil album foto Nek" Jawab Jaiden.
Rena pun mengangukkan kepalanya mengerti, "Kalau begitu Nenek tinggal dulu ya. Katakan pada Keisha, kalau Nenek dan Kakek sangat suka sekali cheese cake nya "Ujar Rena, lalu menepuk bahu Jaiden pelan.