I Am Fine

I Am Fine
148



8 Tahun kemudian.


"Wah aku tidak menyangka kalian akan menikah secepat ini hahahaha" Ucap Heri terkekeh pelan.


"Ck kau saja yang kelamaan, kasihan tuh si Fia! Awas aja ya kalau kau macam-macam padanya!" Peringat Keira pada Heri.


"Ck, aku kan sudah bertobat!" Sahut Heri.


"Iya deh iya!" Jawab Keira.


"Eh kau tidak mengundang Jaiden? Bukan kah kau bertemu dengannya di LA beberapa waktu lalu?" Tanya Heri mengecilkan suaranya.


Keira pun melirik kanan kiri, "Ssstt! Kau berisik sekali! Aku juga tidak sengaja bertemu dengannya, tentu saja aku mengundangnya. Ini akan menjadi suprise, jangan bilang apa siapa-siapa ya! Cukup kau, aku, dan Jaki yang mengetahui ini" Jelas Keira.


Heri pun mengangukkan kepalanya, "Aku harap dia akan datang. dan Keisha bertemu dengannya, lihat betapa kasihannya teman kita yang satu itu" Ucap Heri menunjuk Keisha dengan dagunya.


"Apa boleh buat? Lebih baik begini kan?" Tanya Keira.


"Iya juga sih..." Jawab Heri.


"Sibuk sekali ya Ibu direktur," Goda Surya pada Keisha.


Saat ini mereka semua sedang berkumpul, dan mempersiapkan resepsi untuk pernikahan Jaki dan Keira besok. Dan Keisha sedang mendekor, dan memantau dekorasi untuk tempat resepsi Jaki dan Keira.


"Ck! Kau hanya mengangguk saja, sana! Lebih baik kau pulang saja ke rumah dan menjaga baby!" Suruh Keisha kesal.


"Ck iya iya!" Sahut Surya mengalah dan meninggalkan Keisha.


"Bagaimana? Apa sudah selesai? Seusai kan dengan apa yang kau bayangkan? Ku rasa warnanya juga juga sudah matching, iya kan?" Tanya Dika rekan kerja Keisha.


""Hm i think so... ini sudah bagus," Ucap Keisha sambil memperhatikan setiap sisi ruang resepsi pernikahan Jaki dan Keira besok.


"Keisha sini dulu!" Panggil Fia.


"Huh? Ah... tungu sebentar ya Dika," Pamit Keisha pada Dika rekan kerjanya.


"Oke," Sahut Pria itu.


"Kau cantik, tapi kenapa kau sangat sulit untuk membuka hati mu Keisha?" Batin Dika.


"Apa kau suka pada Kakak ku?" Tanya Riki menghampiri Dika dan melihat Dika yang selalu menatap Kakaknya dengan tatapan yang berbeda.


Tentu saja Riki menyadari itu, karena Riki juga adalah seorang laki-laki. Tatapan yang di berikan Dika bukan lah sebagai teman, tapi rasa kagum dan juga suka.


"Huh? Ah tidak... bagaimana bisa aku menyukai gadis sempurna seperti Keisha, aku tidak pantas untuk mendapatkannya" Jelas Dika.


"Berarti kau menyukainya Kak, aku beri kau lampu hijau!" Ucap Riki terkekeh pelan, dan menepuk bahu Dika pelan. Setelah mengatakan itu, Riki pun langsung meninggalkan Dika dan menuju pada teman-temannya.


"Fia soal makanan bagaimana? Kau sudah atur kan?" Tanya Keisha.


"Aman! Sepertinya semua sudah selsai dan hanya tinggal menunggu resepsinya saja nih" Ucap dia melirik Keira yang wajahnya sudah memerah padam.


"Ck, apaan sih! Kalian nih..." Ucap Keira malu-malu.


"Hei, kau deg-degan tidak?" Tanya Fia


"Ya iyalah, aku bahkan tidak sanggup untuk melihatnya" Tunjuk Keira dengan dagunya pada Jaki.


"Eiii cie cie Keiraaaa" Ledek Keisha pada Keira dan juga Fia ikut serta dalam menggoda Keira.


"Ck, kalian apaan sih....Fia kau kapan menyusul hah hah hahhh?" Ledek Keira berbalik membuat Keisha terkekeh sedangkan Fia mendegus kesal.


"Aku mengunjungi Masion kemarin, Kakek kurang sehat" Ucap Keisha.


"Ah iya kah? Papa ku tidak mengatakan apapun soal Kek Jinata, apa beliau sedang sakit?" Tanya Keira.


"Apa kalian... sama sekali tidak menyimpan nomor Kak Jaiden? Apa Kak Jaiden," Ucap Keisha dipotong oleh Heri.


"Keisha... ayolah..., Jaiden bahkan tidak memikirkan mu. Behenti untuk memikirkannya," Potong Heri yang tiba-tiba saja datang dari belakang Keisha.


Keisha pun mengigit bibir bawahnya, perkataan Heri barusan padanya hampir saja membuat air matanya lolos begitu saja. Namun dengan sebaik mungkin, Keisha hendak Manahan air mata itu.


...⚡⚡⚡...


Hari ini adalah hari H, dimana hari ini adalah hari pelaksanaan Jaki dan juga Keira. Dimana kedua insan itu akan mengucapkan janji suci di hadapan tuhan mereka, dan segera membangun rumah tangga bersama setelah sekian lamanya mereka saling mengenal satu sama lain.


Para hadirin juga sudah turut hadir disana, termasuk kedua orang tua mempelai pria dan wanita. Acaranya akan di mulai 20 menit lagi, dan sedang menunggu beberapa tamu untuk segara duduk. Masih banyak juga yang baru saja datang, dan memasuki hotel tempat resepsi pernikahan keduanya di laksanakan.


"Kau gugup ya?" Tanya Heri menggoda Jaki.


"Ya iyalah! Siapa juga yang tidak gugup! Makanya kau juga menyusul, biar kau merasakan apa yang aku rasakan sekarang!" Jawab Jaki kesal dan menyindir Heri


"Ck, apasih! Iya iya!" Sahut Heri kesal.


Padahal dia sendiri yang menggoda Jaki, malah Heri sendiri yang terlihat kesal.


"Surya apa kau juga gugup seperti ini saat kau menikah?" Tanya Jaki.


Surya pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Kau akan merasa lebih gugup saat acara di mulai nanti," Jawab Surya.


"Astaga... ayolah Kak, kenapa Kakak malah semakin manakut-nakutinya saja hahaha" Ucap Sufa tertawa.


"Hahaha lihat, lihat! Wajahnya pucat!" Ejek Riki.


"Hahaha" Tawa yang lainnya pun.


"Astaga Kak Surya daddyable sekali ya, lihat! Dia bahkan memakai gendongan bayi di depan sambil menggendong raya," Ucap Jovan terkekeh pelan sambil mencubit pipi Raya anak kedua Surya.


"Ck! Jangan cubit pipinya! Nanti dia menangis!" Ucap Surya melapskan tangan Jovan paksa dari pipi gembul anaknya.


"Beri saja anak mu pada istri mu," Goda Heri.


"Dia kelelahan megurus resepsi, biar aku saja. Gantian," Jaab Surya.


"Sepertinya tidak deh Kak, istri mu juga pasti sedang mengginah di ruang mempelai wanita" Ujar Sufa.


Di ruang mempelai wanita.


"AAAAAAAA aku sangat gugup.... astaga, rasanya jantung ku tak bisa berhenti untuk bedegup kencang seperti in i dari kemarin," Ucap Keira lebay pada Keisha, Fia, Yura dan juga Thalia.


Ah iya, Thalia juga sudah cukup dengan mereka dan membantu Keisha untuk mengurus resepsi pernikahan Keira dan Jaki.


"Utututuu jangan nangis heh! Nanti make up mu akan luntur!" Ucap Fia memperingati Keira dan memberi Keira tisu untuk mengelap air matanya.


"Aduh Kak Keira, nanti cantiknya hilang!" Ucap Yura dramatis.


Tok tok tok


Ceklek


"Keira bersiap lah, Papa sebentar lagi akan kemari menjemput mu. Acara akan segera di mulai," Ujar Ibu Keira.


"Semangat Keira! Semoga lancar!" Ucap Keisha.


"Ya sudah, kalau begitu kita keluar dulu ya!" Pamit Fua pada Keira.


Gedung resepsi.


"Oh itu mereka, ayo kita kesana!" Ucap Jaiden sambil menarik tangan seorang gadis yang sedang mengaet tangannya mesra dan manja.