I Am Fine

I Am Fine
139



"Eh itu Om Rafa," Ucap Fia saat melihat Rafa dan Lia yang sedang berlari di koridor rumah sakit.


"Itu siapa?" Tanya Surya.


"Mama Thalia," Jawab Jaki yang memang pernah melihat Mama Thalia di foto.


"Ahhh itu ya..." Ucap Heri.


"Shakila apa yang terjadi?" Tanya Rafa memegangi bahu Shakila.


"Rafa..." Ucap Shakila terisak.


"Wah Tante Shakila ada bakat untuk menjadi aktris, iya kan?" Tanya Heri berbisik pada teman-temannya.


"Sttt diam, bagaimanapun Tante Shakila Ibu teman kita" Sahut Fia memperingati Heri.


Lantas keempatnya pun mendekat, pada Shakila, dan juga Rafa dan Lia. Dan pada saat itu juga, dokter pun baru saja keluar dari ruang inap milik Keisha dengan beberapa perawat.


Dokter itu menghembuskan nafasnya kasar, dan menundukkan kepalanya sebelum mengatakan apa yang terjadi pada Thalia.


"Maafkan kami Tuan Rafa, kami kalau dalam menjaga keamanan rumah sakit. Luka di pergelangan Thalia tidak papa, tapi..." Jelas dokter itu megantung.


"Cepat katakan apa yang terjadi pada putri ku!" Ucap Rafa dengan suara yang meninggi.


"Rafa tenangkan dirimu..." Ucap Lia memegangi lengan Rafa.


Kami juga tidak menduga hal ini bisa terjadi disini," Jelas dokter itu memberanikan diri untuk menatap Rafa. "Thalia di lecehkan di rumah sakit, kami sudah mengeceknya."


"Di tubuh pasien jika di temukan beberapa bekas kemerahan di tubuhnya, dan kami juga menemukan darah virginity di atas sofa. Thalia di bius, hingga tak sadarkan diri setelah pelaku melakukan tindakan tidak pantas pada putri Bapak."


kami menyesal, atas kelalaian kami" Ucap dokter itu terpotong karena Rafa sudah menarik kerah baju dokter itu telebih dahulu, hingga membuat Dia, Shakila dan Lia berteriak takut.


"Aku sudah membayar mahal rumah sakit ini, dan ini adalah ruang VVIP. Aku tidak mau tahu! Kalian harus bertanggung jawab, atau aku akan memecat semua perawat dan dokter di rumah sakit ini!" Ucap Rafa melepaskan kerah dokter itu.


"Rafa... hiks.. sudah... Thalia... dokter apa kami boleh masuk? Saya ingin melihat kondisi putri saya..." Ucap Lia terisak.


"Silahkan Nyonya," Ucap dokter itu memberikan jalan untuk Lia, setelahnya Lia masuk dokter itu pun kembali menatap mata tajam Rafa yang sedang berapi-api itu.


"Tuan tahu sendiri, kalau di ruang VVIP tidak ada cctv di dalamnya. Karena masalah hak privat, dan juga pribadi lainnya. Kami tidak," Jelas dokter itu lagi terpotong.


"Aku tidak peduli, kau memiliki cctv disana" Ucap Rafa menunuk pada cctv yang terdapat disana.


Shakila tersenyum miring, karena cctv itu sudah di rusak oleh beberapa orang suruhannya. Jangan lupa kalau empat remaja tadi masih berada disana, keempat remaja itu masih memperhatikan Shakila dan mereka pun saling bertukar tatap.


"Sudah pasti, ini pasti ulahnya. Lihat saja gelagaknya," Bisik Heri pada teman-temannya.


"Apa kita perlu bersaksi?" Tanya Surya.


"Apa anak seusia kita bisa bersaksi?" Tanya Fia tidak tahu.


"Ku rasa kau harus belajar hukum dengan orang tua Sufa," Ucap Surya meledek Fia.


"Astaga..." Ucap Lia terisak saat memperhatikan wajah Thalia, dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Lia sensiri pun merasa takut, takut kalau Thalia membuka matanya dan menghadapi kenyataan yang terjadi padanya Lia cemas, takut, khawatir dan juga panik dalam waktu yang bersamaan.


"Lia bagaimana?" Tanya Rafa yang baru saja masuk, di ikuti oleh Shakila di belakangnya.


Sedangkan keempat remaja tadi, mereka tidak ingin mencampuri yang bukan urusan mereka. Dan dengan segera, mereka bergegas pada tujuan mereka, yaitu untuk menjenguk Keisha.


"Thalia belum bangun, Rafa aku... aku takut. Bagaimana nantinya Thalia akan menghadapi semua ini?" Tanya Lia terisak.


Rafa pun langsung membawa Lia ke dalam pelukannya, hingga membuat Shakila menggeram kesal melihat kejadian yang terjadi di hadapannya saat ini.


"Semuanya akan baik-baik saja, kita akan merawatnya. Kita akan menyembuhkan luka dan sakitnya, maaf aku sudah memberi luka terdalam pada putri kecil kita. Dan juga Rio," Ucap Rafa mengusap kepala Lia sayang.


Srett!


"Oh kalian datang bersama? Apa kau menunggu mereka dulu baru kembali kemari? Kau lama sekali," Gerutu Keira kesal pada Jaki yang tak kunjung kembali.


"Huh? Ah... itu," Ucap Jaki menggaruk tengkuk lehernya tidak gatal. "Thalia... bagaimana ya aku mengatakannya?" Tanya Jaki ada Surya, Heri dan Fia dan membantu pada ketiganya untuk membantunya mengatakan sesuatu pada Keira dan Keisha.


"Ck kau lamban," Sela Heri. "Thalia dia di perkosa, polisi sedang menyelidikinya," Ucap Heri santai sambil duduk di sofa yang terdapat di kamar inap Keisha.


"Ma... maksud mu? Di perkosa? Kau... kau tidak bercanda kan?" Tanya Keisha.


"Hedi, kau tidak bercanda kan?!" Tanya Keira.


"Apa aku terlihat sedang berbohong?" Tanya Heri balik pada Keisha dan Keira.


"Aku harus melihatnya, aku harus memastikannya. Aku harus melihat keadaan Thalia, itu tidak benar" Ucap Keisha yang hendak turun dari brangkar, tapi di tahan terlebih dahulu oleh Surya dan juga Heri yang bangkit dari duduknya


"Eh kau diam saja dulu disini, Om Rafa tidak memberi mu izin kesana dulu. Mereka sedang membicarakan soal Thalia disana," Sela Surya berbohong.


"Iya Kei Surya benar, nanti setelah Mama mu dan juga Papa mu kembali dari sana. Kami semua akan menemani mu kesana, iya kan?" Tanya Heri pada yang lainnya dan mereka pun mengangukkan kepalanya setuju.


Keisha pun menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang ragu, namun Fia dan yang lainnya berusaha untuk menyakini Keisha.


"Apa kalian tahu siapa pria itu? Kalian mengenalnya?" Tanya Keira.


Surya pun menggelengkan kepalanya, "Tidak sama sekali. Bahkan katanya, di cctv pun tidak terlihat. Mulus sekali bukan?" Tanya sufysa melirik Keisha yang sedang sibuk dengan pikirannya.


"Namanya juga sudah di rencanakan," Sahut Heri.


Keisha langsung teringat pada ucapan Keira beberapa waktu lalu padanya, kalau Keira mengatakan padanya beberapa waktu yang lalu. Surya dan Heri, melihat mamanya sedang berada di bsrbdan menyewa seorang cabul pria.


"Apa kalian sepemikiran dengan ku?" Tanya Keisha tiba-tiba.


"Kau menuduh Mama mu sendiri?" Tanya Heri yang mengerti kemana arah pembicaraan yang di bicarakan oleh Keisha.


Keisha menghela nafasnya kasar dan menitikkan air matanya, "Hari ini berat ya? aku terlalu banyak berpikir. Bisa tinggalkan aku sebentar? Aku ingin tidur, kepala ku pusing. Rasanya ingin pecah," Ucap Keisha membaringkan dirinya.


mereka pun saling menatap satu sama lain, dan Heri pun mengangukkan kepalanya.