
Juna pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Celine kita baru saja bertemu setelah 6 tahun tidak bertemu, Jaiden kita juga masih terlalu kecil. Tapi ku rasa aku tidak mempunyai waktu yang lama untuk berada disisinya, bahkan aku tidak dapat melihatnya tumbuh dengan baik nantinya," Ucap Juna melantur.
"Hei kak, apa yang kau katakan. Jangan berkata seperti itu ku mohon," Ucap Celine khawatir.
"Celine jika nanti aku sudah tiada, jagalah Jaiden anak kita dengan baik oke? Jangan biarkan dia hancur dan merasa dirinya sendiri. Jangan sampai juga terjadi hal buruk padanya oke?" Ucap Juna pada Celine.
Celine semakin panik dan air matanya terus mengalir, "Kak kau ini sedang berbicara apa sih? Jangan melantur tidak jelas," Pinta Celine pada Juna.
Juna pun menghapus air mata Celine, "Jangan menangis, aku tidak suka melihat istri ku menangis. Aku mencintaimu Celine," Ucap Juna lalu membawa Celine kedalam dekapannya.
...⚡⚡⚡...
"Tanaro, ingatan Juna sudah kembali. Aku tidak tahu sampai kapan Juna akan bertahan seperti itu," Ucap Jinata pada Tanaro di telepon.
"Benarkah itu? Lalu bagaimana? Apa tidak ada solusi yang bisa kita lakukan?" Tanya Tanaro khawatir di telepon.
"Entahlah, aku binggung. Tara memperkirakan sekitar satu tahun lagi" Ucap Jinata.
Jinata menghela napasnya kasar dan seperti terlihat pasrah, akan apa yang terjadi kedepannya.
"Kita harus bisa menyembuhkan Juna Jinata bukankah seharusnya kau membiarkan Juna untuk penyembuhan dulu? Ini demi kebaikannya, kau harus mengambil alih perusahaan sementara" Ucap Tanaro menghawatirkan temannya tersebut.
"Entahlah, aku tidak yakin dan aku juga sangat binggung. Aku sangat terjadi hal yang tidak-tidak pada Juna, aku tidak bisa berpikir jernih saat ini," Jelas Jinata.
"Hei jangan berbicara seperti itu, kita harus berusaha walaupun apa yang akan terjadi dikedepannya. Bukankah usaha tidak akan mengkhianati hasil Jinata?" Tanya Tanaro.
...⚡⚡⚡...
Saat ini Celine sedang menemani Jaiden di kantin rumah sakit, karena Jaiden belum makan malam.
"Jaiden, apa kau mau menginap di rumah nenek dan kakek?" Tanya Celine.
"Jai dirumah saja Mom, Jaiden tidak ingin merepotkan Nenek dan Kakek."
"Apa kau yakin? Kau harus sekolah besok Nak" Sahut Celine.
Jaiden mengangguk, "Dirumah ada Bi Sarah Mom," Sahut Jaiden.
"Apa perlu Momy meminta Nenek untuk menemani mu dirumah?" Tanya Celine.
"Terserah Momy saja," Ucap Jaiden.
"Momy apa Dady baik-baik saja? Kapan Dady boleh pulang dari rumah sakit?" Tanya Jaiden.
Celine pun mengusap lembut surau rambut anaknya, "Dady akan baik-baik saja, kau jangan pikirkan itu. Pikirkan saja sekolah mu, besok hari pertama Jaiden sekolah kan? Maafkan Momy dan Dady tidak bisa mengantar Jai ke sekolah besok," Ucap Celine sedih.
"It's Okay Mom, Jaiden sudah besar" Ucap Jaiden sambil tersenyum.
"Astaga, bagaimana anak ku ini tumbuh dengan sangat mandiri seperti ini?" Batin Celine.
...⚡⚡⚡...
"Juna sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dari keluarga mu? Kau kali ini memiliki alasan untuk bertahan Juna, kau harus bertahan demi Celine dan Jaiden. Masih ada waktu jika kau mau menjalani pengobatan sesuai prosedur," Jelas Tara pada Juna di ruang inap Juna.
Juna membasahi bibirnya yang tidak kering, "Apa sudah saatnya? Aku binggung harus menjelaskan apa kepada Mama dan Papa. Oke aku bisa mengelak untuk mengatakannya pada Celine, karena Celine pun baru saja bertemu denganku, begitu pun denganku. Lalu bagaimana dengan Mama dan Papa?" Tanya Juna pada Tara.
Tara menghela napasnya kasar, "Kau hanya memikirkan perasaan mereka untuk sekarang saja bukan? Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan dan keadaan mereka, saat kau telah meninggalkan mereka untuk selamanya Juna?" Tanya Tara.
Juna hening sejenak memikirkan sesuatu.
"Entah lah Tara, aku tidak sanggup mengatakannya. Apa kau mau membantu ku, untuk mengatakan pada Papa dan Mama termasuk Celine?" Mohon Juna pada Tara dengan penuh harap.
"Ya...aku akan memberitahu mereka jika kau mengizinkanku."
"Baiklah, jangan berpikir aneh-aneh dulu. Aku yakin sekali, 1 jam kemudian kau lupa akan yang barusan saja kau katakan padaku."
Mata Juna seketika memanas, rasanya ini sebagai sebuah karma untuknya.
"Tara" Panggil Juna.
"Apa?" Sahut Tara.
"Apa aku bisa meminta bantuan mu?" Tanya Juna.
"Jika aku pergi, perlakukan Jaiden seperti anakmu ya?" Pinta Juna pada Tara.
"Jangan berbicara sembarangan seperti itu, aku keluar" Ucap Tara, lalu keluar dari ruang inap Juna.
Ketika Tara keluar dari ruang inap Juna, Tara mendapati kedua orang tua Juna yang sedang duduk di depan ruang inap tersebut.
"Emm.. Nyonya, Tuan, bisa bicara sebentar di ruangan ku sebentar? Ini tentang kesehatan Juna," Jelas Tara.
"Tentu saja, tapi apa tidak sebaiknya kita menunggu Celine dulu?" Saran Rena.
"Nanti aku akan menyampaikannya" Ucap Tara terputus, karena Celine tiba-tiba muncul bersama dengan Jaiden.
"Itu Celine," Ucap Jinata.
"Ah kalau begitu, mari keruangan ku Tuan, Nyonya Celine. Um Jaiden?" Ucap Tara.
"Sayang, Jaiden temani Dady di dalam ya? Momy, Kakek dan Nenek ingin berbicara dulu bersama Om Tara" Jelas Ceine pada Jaiden.
Jaiden pun mengangguk dan menurut.
Di ruangan Tara.
Tara mengulum bibirnya binggung harus mengatakannya dari sisi mana, karena Tara pun sebenarnya takut salah bicara.
"Ada apa Tara? Kenapa sangat tegang sekali, katakan saja," Ucap Jinata membuka pembicaraan.
Tara menghela napasnya pelan.
"Jadi begini Tuan, Nyonya, Celine. Maaf aku menyembunyikan ini selama 3 tahun terakhir ini," Ucap Tara sambil mengusap rambutnya kebelakang.
Tara pun kembali menatap Celine, Jinata dan Rena secara bergantian, "3 tahun yang lalu, Juna meminta ku untuk menyembunyikannya dari Nyonya dan Tuan," Jelas Tara.
"Maksud mu? Apa yang disembunyikannya dari kami?" Tanya Jinata penasaran.
"Sebenarnya, Juna menderita tumor otak dan sekarang sudah stadium 4."
"A..apa kak Juna?" Tanya Celine terkejut.
"Apa kau bercanda? Kau sedang berbohong kan Tara? Bagaimana bisa huh?!" Bentak Rena pada Tara.
"Rena tenanglah jangan tersulut emosi, Tara adalah seorang dokter," Ucap Jinata berusaha menenangkan Rena.
"3 Tahun yang lalu, Juna di diagnosa menderita tumor otak stadium awal. Juna menolak untuk melakukan pengobatannya yang sudah aku sarankan padanya, karena Juna tidak memiliki waktu untuk itu, dengan alasan pekerjaannya. Aku sudah menasehatinya, tapi Juna terus menolak begitu pun dengan sekarang. Juna masih menolak pengobatan, ku rasa untuk saat ini sangat sulit untuk membantu Juna sembuh." Jelas Tara tertunduk.
"Maafkan aku, aku terlambat memberitahu tentang ini," Ucap Tara menyesal dan enggan menatap ketiganya.
Rena menghela napasnya kasar, "Astaga, Apa yang dipikirkan anak itu? Kenapa susah sekali membuka mulutnya huh?!" Ucap Rena kesal pada Juna.
"Tidak Rena, kita yang salah. Kita tidak memperhatikannya dan tidak peduli padanya, maka dari itu Juna enggan untuk membicarakannya dengan kita," Sahut Jinata.
"Kak Tara, ku mohon lakukanlah sesuatu untuk kak Juna. Kau tidak akan membiarkan Kak Juna begitu saja kan? Ku mohon lakukan apapun yang terbaik untuknya, agar dia kembali pulih Kak..."Lirih Celine sambil menangis.