
"Mau ikut ke kantin bersama kami?" Ajak Keira pada anak baru tersebut.
Anak baru itu pun mendongakkan kepalanya, Thalia sangat terkejut dengan ajakan teman sekelasnya tersebut.
"Apa kau mengajak ku?" Tanya Thalia.
"Hm tentu saja, siapa lagi kalau bukan kau?" Tanya Keira berbalik.
"Baiklah!" Sahut Thalia.
"Ayo!" Ajak Fia menarik tangan Thalia paksa.
"Kau pindahan dari Amerika ya?" Tanya Fia saat menuju ke kantin.
"Iya, Papa aku pindah tugas ke Indonesia" Sahut Thalia ramah.
"Ah begitu ya..." Ucap Keira dan Fia bersamaan.
"Hei siapa itu? Dengan siapa Keira dan Fia berjalan?" Tanya Heri penasaran, saat melihat ketiganya yang baru saja masuk ke dalam kantin.
"Anak baru kelas kami," Sahut Jaiden.
"Ah... anak baru itu dari Amerika ya?" Tanya Sufa menduga-duga.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Jaki.
"Dia cukup populer di sekolahnya, ku dengar dia juga suka merundung anak-anak di sekolahnya dulu" Jelas Sufa.
"What? Lalu kenapa dia berada disini?" Tanya Surya.
"Sstt nanti saja kita bicarakan itu, dia akan bergabung bersama kita!" Ucap Heri.
Sekumpulan anak laki-laki itu pun mengangguk setuju.
"Hai everyone!" Ucap Keira lalu bergabung dengan teman-temannya.
"Hei Kei!" Sapa yang lainnya.
"Kak Kei siapa?" Tanya Riki basa-basi.
"Teman sekelas ku, dia siswa baru Ki" Sahut Keira.
"Oh ya sudah, ayo gabung saja disini" Ajak Surya ramah pada Thalia.
Thalia pun hanya tersenyum canggung, dan ikut dudun bersama Keira dan Fia.
"Hei siapa dia? Kenapa berani sekali bergabung duduk bersama 7 pangeran sekolah kita?!" Gerutu salah satu siswa itu kesal.
"Hei iya, apa dia itu murid baru? Oke aku bisa memaklumi Kiera dan Fia. Lalu anak perempuan itu? Cih!" Kesal temannya.
"Lihat, dia bahkan tidak cocok bergabung dengan 7 pangeran kita dan Keira Fia!"
"Aku sangat iri!"
Begitulah kira-kira ucapan beberapa siswi yang berada di kantin, saat melihat Thalia yang ikut bergabung bersama Jaiden dan yang lainnya.
"Kalian belum memesan makanan ya?!" Protes Keira.
"Kan kami sedang menunggu Tuan Putri kami," Ucap Jaki yang berhasil membuat Keira tersipu malu.
Jaiden dan Surya saling melirik Keira dan Jaki, keduanya pun menertawai Keira yang wajahnya sudah memerah akibat prilaku Jake padanya.
"Ck, kau ini!" Kesal Keira berusaha menutupi rasa malunya.
"Cepat list, aku lapar sekali!" Gerutu Jovan.
"Iya Dedek gemes!" Sahut Fia.
Seketika semua mata langsung tertuju pada Fia, bagaimana tidak. Fia ini biasanya jarang sekali mengeluarkan suaranya, jika ikut bergabung bersama teman-teman lelaki Keira.
"Hei apa sekarang Dia sudah berani bercanda dengan kita? Hahaha lanjutkan Fia, agar kau menjadi asyik!" Seru Surya lalu mencuri pandang pada Keira.
Keira pun menatap tajam pada Surya, karena Keira lah yang mengatakan semalam pada Surya, kalau Fia tidak asyik.
"Aku seperti biasa saja Kak!" Ucap Riki.
"Hei ayo lanjutkan!" Ucap Surya saat melihat kepergian Thalia dan Fia.
"Kau bermuka dua sekali," Sahut Jaiden.
"Ck, kau diam saja! Tidak biasanya banyak bicara," Kesal Surya.
Jaiden pun hanya memutar bola matanya malas, karena tadi Surya sangat sok ramah dengan Thalia. Dan ketika Thalia pergi dari kumpulan mereka, Surya langsung mengajak yang lainnya untuk menceritakan Thalia.
"Ada apa sih?" Tanya Keira yang tidak mengerti.
Apalagi Keira ini adalah tipe orang yang tidak ingin ketinggalan berita sedikit pun, karena dirinya lah gudang dari segala gosip.
"Kak Kei, Thalia anak baru itu! Aku mengenalnya karena sepupu ku satu sekolah dengannya di Amerika, kalian kenal dengan Yuna kan?!" Tanya Sufa bersemangat.
Semuanya pun mengangguk, sambil mendengarkan ucapan Sufa dengan cermat.
"Nah si Yuna ini kan sekolah di Amerika, dan kebetulan satu sekolah dengan Thalia itu! Katanya Thalia itu selalu membuly salah satu anak di sekolahnya. Sehingga dia di keluar kan dari sekolah itu!" Jelas Sufa.
"Kau yakin?" Tanya Keira.
"Tentu saja!" Sahut Sufa.
"Tapi kan yang namanya Keira itu banyak Sufa" Ucap Jaiden tiba-tiba.
"Hei ada apa dengannya? Kenapa jadi tertarik?" Tanya Riki terkekeh.
Karena biasanya Jaiden hanya menyimak saja, jika mereka sedang bergosip seperti ini.
"Aku tidak mungkin salah! Yuna bahkan menunjukkan foto Thalia pada ku, sebenarnya aku sudah tahu kalau Thalia akan pindah ke sekolah kita. Karena Yuna mengatakannya padaku, Thalia dan Yuna cukup dekat. Karena mereka sama sama orang Indonesia," Jelas Sufa panjang lebar.
"Ah begitu ya, tapi dia mengatakan pada ku dan Fia. Kalau dia pindah kesini karena pekerjaan Papanya," Jelas Keira.
Heri pun langsung menoyor kepala Keira gemas, "Ya kau pikir saja Kei! Mana mungkin dia mengatakan yang sebenarnya kalau dia dikeluarkan dari sekolah!" Jelas Heri gemas pada sahabatnya itu.
"Ck, ya jangan menoyor kepala juga lah!" Kesal Keira.
Jaiden pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak heran, saat melihat sikap aneh dari teman-temannya.
"Apa Thalia mengenal Keisha?" Tanya Jaiden.
Karena setahu Jaiden, Yuna sepupu Sufa itu satu sekolah bersama Keisha.
Sufa pun mengindikkan bahunya tidak tahu.
Riki pun melirik Jaiden, "Kak apa kau sudah mendapat pesan dari Kak Kei?" Tanya Riki.
Jaidne pun hanya menggelengkan kepalanya saja.
Tak menunggu lama, setelah mereka bergosip. Akhirnya makanan yang ditunggu pun datang.
Fia pun meletakkan nampan tersebut dan duduk, di susul oleh Thalia. Namun saat Thalia ingin menuju satu langkah lagi untuk duduk ke meja makan mereka.
Tiba-tiba saja ada kaki yang mencengkal kaki Thalia, hingga membuat Thalia jatuh dan makanannya pun tumpah tepat di atas baju dan celana Jaiden.
"Akh!" Teriak Thalia, lalu jatuh dan terduduk di atas lantai. Bahkan beberapa serpihan kaca mengenai lutut dan telapak tangan Thalia.
Sedangkan Jaiden dirinya sudah ditumpahi dengan segelas jus jeruk, dan mie bakso kuah.
"Ah sangat menyebalkan!" Batin Jaiden.
Jaiden pun mendengus kesal dan menatap Thalia dengan tajam, sehingga membuat Thalia ciut saat melihat tatapan menyeramkan yang diberikan oleh Jaiden.
Mata para siswa-siswi di kantin itu pun langsung tertuju pada Thalia yang terjatuh di lantai, dan Jaiden yang pakaiannya sudah kotor akibat ulah Thalia.
Ah tidak, ini bukan ulahnya. Namun salah satu siswi itu dengan sengaja membuat Thalia tersungkur dan mengenai baju Jaiden.
"Jalan pakai mata!" Bentak Jaiden pada Thalia, lalu pergi meninggalkan kantin.
"Jaiden!" Panggil Keira sedikit berteriak.
Jaiden pun membalikkan badannya, " Kalian makan saja! Aku sudah tidak selera!" Sahut Jaiden kesal lalu pergi meninggalkan kantin.