I Am Fine

I Am Fine
131



Keiaha mengedipkan matanya berkali-kali, dirinya baru saja bangun dari tidurnya. Saat Keisha pertama kali membuka matanya, Keisha sudah melihat Jaiden yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Apa Kak Jaiden menginap disini tadi malam?" Batin Keisha.


"Kak Jaiden..." Panggil Keisha lemas hingga membuat Jaiden melirik pada sang pemilik suara.


Jaiden pun melebarkan matanya senang, dan segera menghampiri Keisha dengan perasaan yang luar biasa khawatir.


"Keisha kau sudar sadar? Kau tak apa? Ada yang sakit? Sebentar, aku akan memanggil dokter dulu," Ucap Jaiden.


Keisha pun menahan tangan Jaiden, "Ada apa? Ada yang sakit?" Tanya Jaiden sekali lagi sambil meraih tangan Keisha dan mengusap pipi Keisha sayang.


Keisha pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku baik-baik saja karena Kakak disini menjaga ku. Apa Kakak menginap disini?" Tanya Keisha.


Jaiden pun mengangukkan kepalanya, "Kau tunggu disini sebentar ya? Aku panggil dokter dulu. kau harus di periksa setelah sadar," Ucap Jaiden dan Keisha pun menganguk setuju dan membiarkan Jaiden untuk memanggil dokter ataupun perawat untuknya.


Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, kini Jaiden sudah kembali bersama dengan seorang dokter dan juga 2 orang perawat.


Dokter itu memeriksa Keisha, dan memberi beberapa pertanyaan pada Keisha. Setelah merasa cukup dokter itu pun menoleh pada Jaiden.


"Pasien sudah lebih baik, bisa tolong hubungi keluarganya untuk menemui ku segera?" Tanya dokter itu pada Jaiden.


Jaiden pun mengangukkan kepalanya sopan, "Aku akan segera memberitahu keluarganya" Ucap Jaiden dan dokter itu pun keluar.


Sret!


Pintu rumah sakit pun terbuka, dan menampilkan Tara dan juga Keira.


"Oh dokter Tara?" Sapa dokter yang menangani Keisha.


'Oh ya? Kamu?" Tanya Tara yang memang tidak mengenal dokter yang menyapanya pagi ini.


"Keisha?! Astaga kau sudah sadar??" Tanya Keira menghampiri Keisha.


"Kau sudah merasa baikan?" Tanya Keira dan Keisha pun mengangguk-anggukan kepalanya.


"Aku sudah merasa baikan sekarang, kau kenapa tidak berangkat ke sekolah?" Tanya Keisha.


"Aku akan berangkat dengan Jaiden, Papa ku akan menjaga mu" Jawab Keira.


Setelah Tara berbincang sebentar dengan dokter yang menangani Keisha, Tara pun menghampiri Keisha.


"Bagaimana? Kepala mu sakit? Pusing atau semacamnya? Tanya Tara berjalan menghampiri Keisha.


Keisha menggelengkan kepalanya tak yakin, "Hanya sedikit sakit Om" Jawab Keisha.


"Baguslah kalau begitu, kalian? Tunggu apalagi? Udah jam berapa ini, sana pergi sekolah" Usir Tara pada Jaiden dan Keira dan keduanya pun menurut.


"Kei aku sekolah dulu ya, nanti sepulang sekolah aku kembali kesini" Ujar Jaiden dan Keisha pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Aku juga!" Seru Keira. "Bersama yang lainnya hehe," Lanjut Keira.


Keduanya pun langsung bergegas menuju sekolah saat keduanya hendak membuka pintu. Pintu itu sudah di buka terlebih dahulu oleh Bram, "Astaga Keisha!" Ucap Bram menghampiri Keisha.


"Ayo!" Bisik Keira menarik Jaiden paksa.


"Apa yang terjadi huh? Astaga Lala baru tahu tadi pagi, Riki sudah menelepon Papa tadu malam. Tapi ponsel Papa mati, apa yang terjadi sayang hm? Kenapa bisa jadi seperti ini?" Tanya Bram khawatir.


"Pa... Kei tidak papa, jangan khawatir. Iya kan Om Tara?" tanya Keisha tersenyum ramah pada Tara seperti tidak terjadi sesuatu padanya tadi malam.


Di mobil.


"Keira, aku dan Keisha akan membatalkan pertunangan kami. Aku akan segera ke luar negeri, dan menyelesaikan studi ku disana" Ucap Jaiden membuat Keira terkejut.


"Apa?! Kau serius?!" Tanya Keira heboh.


"Hm... setelah olimpiade, apa nanti malam sebaiknya kita semua lebih baik berkumpul di rumah sakit saja? DNA mengabiskan waktu bersama dengan yang lainnya?" Tanya Jaiden.


"Kau akan pindah kemana?" Tanya Keira.


"Rahasia," Ucap Jaiden melirik Keira yang juga meliriknya lalu Jaiden pun tersenyum sejenak dan mengalihkan perhatiannya ke depan.


"Tidak asik!" Gerutu Keira. "Keira baru saja kembali dari Amerika, dan kenapa kalian harus pergi bergantian seperti ini sih?" kesal Keira.


"Takdir tuhan berkata lain Ra, maaf" Ucap ajaiden.


...⚡⚡⚡...


Semenjak Shakila di antar oleh Rafa ke rumah sakit sejak tadi, Shakila terus saja mondar-mandir di depan pintu kamar ruang inap Keisha. Antara ingin, masuk dan tidak.


Shakila tahu betul siapa yang sedang berada di dalam sana, Tara dan juga Bram mantan suaminya. Akan terasa canggung tapi menurutnya Bram dan tata pasti sedang menunggu kehadirannya.


"Ku rasa mantan istri mu itu belum berubah ya?" Ucap Tata melirik Keisha dengan dagunya yang sedang tertidur lelap.


"Aku pikir juga begitu," Jawab Bram.


Drtt drtt drtt


Shakila pun melirik pada ponselnya yang bergetar, dan memilih untuk mencari tempat sepi yang jauh dari kerumunan orang banyak.


Setelah merasa cukup jauh, Shakila pun menelepon kembali orang yang baru saja meneleponnya barusan. Karena panggilan itu terputus, sebelum Shakila mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo?" Ucap Shakila.


"..."


"Kau sudah siap? 3 hari lagi Thalia akan keluar dari rumah sakit, bagaimana dengan besok?" Tanya Shakila berbisik di teleponnya.


"..."


"Kau tidak bisa? Ah oke! Lusa? Deal!" Sahut Shakila semangat.


"..."


"Oke kalau begitu aku tutup, aku sedang berada di rumah sakit saat ini. Kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan semuanya dengan rapi" Ucap Shakila di telepon sambil tersenyum miring


Lantas Shakila pun memutuskan panggilan tersebut, dan berjalan menuju kamar inap Keisha dengan perasaan yang senang. Shakila menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum dirinya menggeser pintu kamar inap milik Keisha.


Sret!


"Oh Shakila? Lama tidak bertemu ya?" Sapa Tara ramah.


"Oh i...iya, hai Tara" Sapa Shakila.


"Kalian sudah lama disini?" Tanya Shakila basa-basi.


...⚡⚡⚡...


Di kantin sekolah.


"Aku akan pindah setelah menyelesaikan olimpiade, aku dan Keisha juga akan berakhir. Jaga Keisha, jangan biarkan Keisha berkencan ataupun dekat dengan pria seperti ku. Jangan juga katakan apapun padanya, soal kepergian ku dulu padanya."


"Aku akan menyelesaikan study ku di sana, dan kembali setelah menyelesaikannya. Maaf," Ucap Jaiden dan berakhir menundukkan kepalanya setelah berbicara panjang lebar pada teman-temannya.


"Kau sudah melakukan yang terbaik Kak, kami menghargai keputusan mu" Ucap Riki memengangi bahu Jaiden.


"Lalu kau akan meninggalkan Kakak ku?" Tanya Riki.


dia pun menyenggol kaki Riki dari bawah, untuk tidak memperburuk keadaan.


"Itu lebih baik, aku akan membuat Kak Kei melupakan mu Kak. Terima kasih, Kak Kei tidak akan menangisi pria seperti mu lagi mulai sekarang. Kak Kei pasti akan sangat bahagia tanpa mu, iya kan?" Tanya Riki yakin dan Jaiden pun mengangguk kepalanya setuju, membenarkan ucapan Riki barusan padanya.