
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membelanya? Jelas-jelas dirinya salah!" Bentak Thalia pada sekertaris Papa tirinya itu.
"Wah apa dia memiliki kepribadian ganda?" Batin Jaiden saat mendengar Thalia membentak.
"Kau selalu saja membuat masalah! Cecil, anak yang bertengkar dengan mu itu! Ayahnya teman bisnis Papa mu Thalia! Ayolah, kau sampai kapan terus-menerus ingin membuat masalah?! Apa kau tidak lelah selalu di siksa oleh Tuan Besar?!" Bentak Elsa.
"Cukup kemarin saja kau dihabisi oleh Papa mu Thalia, kau pikir apa yang akan di lakukannya kalau dia masih berada di Indonesia huh?! Ku rasa kau akan di gantung hidup-hidup olehnya!" Bentak Elsa pada Thalia, lalu pergi meninggalkan Thalia sendirian.
Thalia pun berjongkok di lantai dan mulai menangis sejadi-jadinya, Thalia sangat membenci semuanya, Thalia sangat muak, Thalia juga sempat untuk berpikiran untuk mengakhiri hidupnya begitu saja.
Namun Thalia sayang pada Mama nya, Thalia tidak ingin Mama nya menderita sendiri. Kalau dirinya tidak ada nanti, pasti Papa tirinya itu gemar sekali menyiksa Mama nya.
Thalia merutuki semua kesalahannya, seandainya dirinya tidak mencari tahu soal perselingkuhan Papanya. Mungkin Thalia tidak mungkin akan menjadi seperti ini, Thalia pasti akan hidup bahagia dan di sayang oleh Papa tirinya itu.
Walaupun itu dalam kebohongan.
"Hiks... Thalia benci Papa..." Isak Thalia menutupi wajahnya.
Jaiden mendengar semua racauan menyebalkan yang keluar dari mulut gadis itu, dan Jaiden juga mendengar jelas perdebatan antara Thalia dan sekretaris Papa nya itu.
Jaiden akhirnya memutuskan untuk menghampiri Thalia, Jaiden pun berdiri di depan Thalia yang sedang berjongkok.
Jaiden menatap ke bawah, melihat Thalia yang sedang menangis. Thalia yang menyadari ada seseorang yang sedang berdiri di hadapannya pun, mendongakkan kepalanya.
"Kau terlihat jelek kalau menangis, hentikan itu!" Ucap Jaiden sambil memberikan sapu tangan pada Thalia.
Thalia pun mengambil sapu tangan tersebut, dan berdiri dengan wajah yang tertunduk "Maaf," Ucap Thalia.
"kau tidak membuat kesalahan pada ku, kenapa kau meminta maaf?" Tanya Jaiden.
Thalia pun hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Jaiden menghela nafasnya kasar.
"Seharusnya aku yang minta maaf pada mu. Karena aku, kau jadi bertengkar dengan Cecil. Kalian bertengkar karena bekal kan?" Tanya Jaiden, lalu menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Maaf ya?" Lanjut Jaiden terlihat tulus.
Thalia pun hanya menggangukkan kepalanya, dan masih tertunduk.
"Kau pemalu ya?" Tanya Jaiden tiba-tiba.
"Menggemaskan," Batin Jaiden.
"Huh?"
Jaiden pun menggelengkan kepalanya, "Mau ke atas?" Tawar Jaiden.
"Hah?" Ucap Thalia binggung.
Jaiden pun menarik paksa tangan Thalia, untuk naik ke atas rooftop sekolahnya. Thalia mengedipkan matanya berkali-kali, dan bodohnya Thalia pasrah saja saat Jaiden mrnariknya ke atas.
"Ja... Jaiden" Ucap Thalia saat melihat tangan Jaiden yang masih menggenggam tangannya.
"Ah iya maaf," Balas Jaiden lalu melepaskan genggamannya pada tangan Thalia.
"Teriak," Pinta Jaiden.
"Hah? Apa maksud mu kau meminta ku untuk berteriak disini?" Tanya Thalia heran.
"Hm, tidak akan ada yang mendengarnya. Teriak lah sepuasnya, aku akan memakai ini," Ucap Jaiden menunjukkan Airpods nya pada Thalia, "Aku tidak akan menguping" Lanjutnya.
"Kau yakin?" Tanya Thalia.
"Apanya?" Tanya Jaiden berbalik pada Thalia.
"Kau yakin tidak akan ada yang mendengar ku jika berteriak disini?" Tanya Thalia.
Jaiden terkekeh pelan, dan saat itu juga Thalia merasa kalau Jaiden ini mrmang benar-benar tampan. Bahkan dirinya baru kali ini melihat Jaiden tertawa lepas, dan menampilkan senyum manisnya itu.
Sangat tampan, manis, dan lucu di waktu yang bersamaan.
Tuk!
Jaiden pun mengetuk kepala Thalia pelan, "Hei pakai otak mu itu untuk berpikir. Menurut mu apa mereka akan mendengarnya? Disini jauh dari kelas, hanya dekat dengan ruang BK, perpustakaan dan Lab" Ucap Jaiden terkekeh.
"oke" Balas Jaiden, lalu dirinya pun pergi untuk duduk di pojok dan menyumpali kupingnya dengan 2 Airpods nya.
Setelah Thalia memastikan Jaiden memakai Airpods, Thalia pun mengulum bibirnya dan berjalan ke ujung.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Papa jahat! Papa berubah! Thalia benci Papa! Thalia benci Papa yang selalu kasar dan menyiksa Thalia dan Mama! Pokoknya Thalia benci sama Papa!" Teriak Thalia.
Jaiden berbohong soal Airpods nya yang menyala, Jaiden bahkan tidak memutar musiknya sama sekali. Jaiden hanya menyumpali kupingnya saja dengan Airpods itu, dan tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Alhasil, Jaiden mendengar semua ucapan yang keluar dari dua buah bibir Thalia.
"Apa dia siksa? Di pukuli maksudnya? Papanya psikopat?" Batin Jaiden menduga-duga.
Brakh!
Betapa terkejutnya Jaiden, saat melihat Thalia yang tiba-tiba saja jatuh pingsan dan tergeletak begitu saja di lantai rooftop.
"Thalia?!" Teriak Jaiden, lalu buru-buru menghampiri Thalia.
"Astaga kenapa jadi pingsan sih?! merepotkan sekali!" Gerutu Jaiden kesal, lalu mengendong Thalia dengan bridal style untuk membawa Thalia ke UKS sekolahnya.
"Hei siapa itu?"
"Kak Jaiden sedang mengendong siapa?"
"Astaga aku iri sekali!"
”Bukankah itu Thalia anak baru yang bertengkar dengan Cecil tadi?!"
"Itu siswa baru yang duduk bersama 7 prince di kantin semalam!"
Begitu lah kira-kira hebohnya sepanjang koridor, saat melihat Jaiden berlari-lari sambil menggendong Thalia. Dengan wajah yang panik dan khawatir.
"Wah siapa itu?" Tanya Surya saat melihat Jaiden yang melewati kelasnya begitu saja, sambil menggendong seorang gadis.
"Hei apa itu Keira?!" Pekik Heri.
"Hah? tidak! Keira tidak mungkin pingsan, dia gadis baja!" Sahut Surya.
"Ck, ayo kita susul saja!" Ajak Heri pada Surya.
Di ruang UKS
"Ada apa dengannya?" Tanya penjaga UKS.
"Tidak tahu bu, tadi Thalia tiba-tiba saja pingsan" Jelas Jaiden.
"Ya sudah, Jaiden tunggu di luar saja dulu ya" Saran penjaga UKS tersebut
Jaiden pun mengangguk setuju dan keluar dari ruang UKS tersebut, saat Jaiden hendak keluar dari ruang UKS. Jaiden mendapati kedua temannya, Surya dan Heri.
Kedua temannya itu sedang berdiri di depan pintu UKS, yang juga sepertinya hendak memutar kenop pintu itu.
"Eh?" Ucap Jaiden sedikit terkejut, begitu melihat keduanya temannya itu.
Surya langsung memegang jidat Jaiden, sehingga membuat Jaiden mengerutkan dahinya binggung dan mundur beberapa langkah.
Bahkan Heri memutar-mutar badan Jaiden, "Kau benaran Jaiden kan? Kau sedang tidak kesurupan kan?" Tanya Heri.
"Kalian ini apa apaan sih?!" Gerutu Jaiden kesal.
"Hei siapa gadis itu? Aku terkejut sekali melihatnya tadi, kau kenapa tumben sekali peduli pada perempuan akhir-akhir ini?" Tanya Heri penasaran.
"Thalia, dia tiba-tiba pingsan di rooftop. Tidak mungkin kan aku membiarkannya pingsan disana?" Sahut Jaiden kesal, lalu duduk di salah satu kursi yang terdapat di depan ruang UKS.
"Thalia? Anak baru itu ya?!" Tanya Heri.
"Hm" Jawab Jaiden singkat.
Surya memicingkan matanya curiga pada Jaiden, "Ei sedang apa kau dan Thalia di rooftop hm?" Tanya Surya menaik-turunkan alisnya.