
"Ayo kita pulang," Ajak Jaiden menarik tangan Thalia untuk bangun dari duduknya. "Apa Nenek mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Jaiden
Hah? Ah Nenek? Tentu saja. Nenek baik sekali, Nenek mengatakan padaku agar hubungan kita tetap langgeng" Ucap Thalia bohong.
Jaiden yang merasa aneh pun mengerutkan keningnya binggung, " Apa mungkin Nenek akan berkata seperti itu?" Batin Jaiden.
...⚡⚡⚡...
Kau baru saja pulang?" Tanya Shakila.
Thalia pun tersentak saat melihat siapa yang berada di rumahnya saat ini, itu adalah Mama tirinya. Shakila yang awalnya sedang membuka buku majalah yang di dapatinya disana pun, bangkit dari duduknya dan menghampiri Thalia.
"Kenapa Tante kemari?" Tanya Thalia tak suka.
"Apa kau baru saja pulang dari kediaman keluarga Renandra?" Tanya Shakila.
"Dari mana dia tahu?" Batin Thalia.
"Iya, kenapa? Apa Tante cemburu karena anak Tante tidak di bawa oleh Jaiden kesana? Atau Tante marah karena Jaiden menjadi pacar ku dan bukan pacar anak Tante?" Tanya Thalia remeh.
"Kau?!" Ucap Shakila menempatkan jari telunjuknya tepat pada wajah Thalia, hingga membuat gadis itu memundurkan kepalanya spontan karena terkejut.
Shakila pun segera menurunkan tangannya, dan memutar bola matanya malas. Shakila pun berbalik badan dan duduk di kursi sofa, yang terdapat di depan matanya.
"Kau menganggap remeh Keisha ya? Seharusnya aku disini yang menganggap mu remeh," Kekeh Shakila. "Apa kau tak tahu bagaimana dekatnya Keisha dengan keluarga Jaiden? Astaga," Ucap Shakila melirik Thalia dari kaki hingga kepala.
"Kau bukan apa-apanya di banding Keisha sayang," Lanjut Shakila remeh.
"Aku tidak peduli kalau Keisha memang dekat dengan keluarga Jaiden, tapi aku sangat merasa kasihan padanya. Karena nyatanya Jaiden hanya menganggap Putri mu sebagai temannya saja, tidak lebih dari itu" Jelas Thalia pada Shakila.
"Ah iya Tante, jangan lupakan ini juga ya? Kalau Nenek dan Kakek Jaiden sudah memberi kami lampu hijau," Bohong Thalia.
Shakila pun sempat terkejut saat mendengar penuturan Thalia barusan, karena dari yang dirinya tahu. Kalau Rena sangat lah pemilih, dalam memilih kan perempuan untuk pasangan anaknya. Dan sudah pasti itu juga berlaku pada Jaiden, pikir Shakila.
Shakila pun tiba-tiba teringat akan sesuatu, "Mau ku beritahu rahasia?" Tanya Shakila pada Thalia, sedangkan Thalia hanya terdiam dan menatap Shakila malas.
"Sebenarnya Mama mu itu adalah mantan kekasih mendiang Ayah Jaiden, dan juga Mama mu itu adalah penyebab Jaiden pisah dengan Ayah kandungnya selama bertahun-tahun. Semenjak Jaiden masih berada di dalam kandungan Ibunya Celine," Jelas Shakila.
"Keluarga Renandra dan Aldebarano ingin melenyapkan Mama mu, maka dari itu Rafa memalsukan indentitas kalian bertiga sampai sekarang hahaha" Kekeh Shakila.
"Ah iya, menurut mu apa yang akan di lakukan Nenek Jaiden saat tahu ternyata kau adalah anaknya Lia? Hahaha ku rasa dia tidak akan menyetujui hubungan kalian, dan bahkan Tante Rena pasti akan melenyapkan mu juga" Jelas Shakila terkekeh.
Thalia pun terdiam, berusaha untuk mencerna semua perkataan Shakila. Beberapa pertanyaan pun timbul di kepalanya, Thalia benar-benar binggung.
Shakila pun melipat kedua tangannya di depan dada, "Disini kau sedikit beruntung Thalia. Karena Papa mu masih memalsukan asal-usul mu dan juga Lia, apa kau membutuhkan bantuan ku? Aku bisa membantu mu untuk memberi tahu soal ini pada Tante Rena," Tawar Shakila.
...⚡⚡⚡...
"Kau sudah makan siang Kak?" Tanya Riki pada Keisha yang sedang fokus dengan iPad miliknya.
Keisha pun mengangukkan kepalanya sebagai jawaban, "Bagaimana dengan mu? Kau sudah makan siang?" Tanya Keisha berbalik.
"Kak Nenek sakit," Ucap Riki.
Keisha pun langsung menoleh cepat pada Riki dan mematikan iPad miliknya, "Nenek? Sakit apa?" Tanya Keisha khawatir.
"Ya sakit begitu, sakit sudah tua. Nenek ingin bertemu dengan mu Kak, kau bahkan tidak mengunjunginya selama kau sudah berada di Indonesia. Nenek juga mengetahui keberadaan mu dan Mama di Indonesia dari Papa," Jelas Riki.
Keisha pun mengulum bibirnya, "Baiklah. Bisa kau mengantar ku kesana? Aku tidak berani jalan ke Masion Nenek," Ucap Keisha.
"Baiklah kalau begitu aku akan libur kelas hari," Ucap Keisha terpotong.
"Tidak, aku tidak akan mengizinkan mu untuk libur kelas lukis hari ini. Aku akan menunggu di cafe depan sekolah nanti, karena aku dan yang lainnya akan berkumpul di caffe depan sekolah nanti."
"Kita akan pergi ke Masion Nenek setelah kau menyelesaikan kelas lukis mu," Ujar Riki panjang lebar.
Yup, Nenek yang di maksud Riki itu adalah Ibu kandung dari Bram Papanya Keisha dan Riki. Hanya tersisa sendiri saja, karena Ayah Bram sudah pergi terlebih dahulu pada Keisha berusia 3 tahun dan sakit gula.
"Tapi," Sela Keisha kembali dipotong oleh Riki.
"Kak kau tidak boleh bolos, kau lupa mimpi mu apa?" Tanya Riki.
"Ck, iya iya! Oh iya Riki mau temani aku lusa?" Tanya Keisha.
"Ck, semenjak kau dan Kak Jaiden renggang. Aku yang selalu menemani mu kemana-mana, ajak yang lain kek" Kesal Riki.
Plak!
Keisha memukul lengan Riki, "Akhh sakit tau Kak Kei!" Kesal Riki.
"Kau tidak ikhlas menemani keluar selama ini?! Iya?!" Gertak Keisha pada Riki.
"Ck, sebenarnya tidaknsih, tapi karena kau Kakakku apa boleh buat. Lagi pula," Ucap Riki dipotong oleh Keisha.
"Nyenyenyenyenye, bikin orang kesal saja! Sana! keluar!" Suruh Keisha.
"Ck, iya iya!" Gerutu Riki kesal lalu keluar dari kelas Keisha.
Setelah Riki keluar dari kelas, Riki sudah melihat di ujung koridor sana Heri dan Surya. Yang sepertinya hendak masuk ke dalam kelas, karena 5 menit lagi, pelajar akan di mulai.
"Oi Riki!" Teriak Surya.
"Oi Kak!" Sahut Riki.
"Sedang apa disini? Keisha ya?" Tanya Heri.
Riki pun mengangguk-anggukan kepalanya mantap, "Ya begitu lah hehe" Ucap Riki cengar-cengir tidak jelas.
Surya dan Heri pun mengangukkan kepalanya mengerti. "Kau aku kelas dulu ya!" Pamit Riki pada Surya dan Heri.
Heri dan Surya pun mengiyakannya.
...⚡⚡⚡...
"Thalia, hey ada apa?" Tanya Jaiden binggung, karena Thalia sedari tadi hanya melamun saja.
"Hah? Ah tidak kok Jai, Kau sudah selesai?" Tanya Thalia.
Jaiden mengangukkan kepalanya, "Sudah ayo pulang!" Ajak Jaiden. "Apa kau mau mampir makan dulu?" Tawar Jaiden sambil menarik tangan Thalia untuk di genggamannya.
Tadi keduanya sedang berada di toko buku, karena Jaiden ingin membeli buku untuk persiapannya mengikuti olimpiade.
"Ayo!" Seru Thalia semangat mengenggam tangan Jaiden.
Jaiden pun tersenyum simpul, "Apa aku mulai nyaman dengannya? Astaga Jaiden. Hilangkan pikiran mu itu!" Ucap Jaiden dalam hati, segera menyadarkan dirinya.