I Am Fine

I Am Fine
Juna bertemu Celine



"Mommy?" Ucap Haura menatap Celine binggung.


"Jaiden kenapa? Uncle Dino mana? Bukannya tadi bersama dengannya?" Tanya Celine pada Jaiden anaknya.


"Jai disuruh Uncle Dino mencari momy tadi," Sahut Jaiden.


"Maksud mu Uncle Dino mencari momy?" Tanya Celine.


Jaiden mengangguk, "Katanya Uncle Dino mau bicara dengan Momy"


"Benarkah? lalu dimana dia?" Tanya Celine.


"Di ballroom mom," Sahut Jaiden.


"Celine anakmu?" Tanya Haura penasaran.


Celine terdiam sejenak, lalu membasahi bibirnya karena binggung harus mengatakan apa kepada Haura.


"Iya, Jaiden anakku," Sahut Celine tersenyum ramah.


"Kau menikah lagi?" Tanya Haura.


"Huh? Em... nanti saja ya kita bahas, aku mau menemui Dino dulu," Sahut Celine.


"Baiklah, aku juga akan menemui Kanta. Nanti kita ngobrol santai lagi ya!" Ucap Haura.


Celine pun mengangguk dan tersenyum ramah pada Haura.


"Saka kau hampir saja menipu ku," Ucap Juna saat menghampiri kedua pasangan tersebut di atas pelaminan.


Saka terkekeh, "Apa kau berpikir aku akan menikahi mantan istri mu Juna?" Tanya Saka sambil tertawa.


"Hei Saka, bukan hanya Juna. Bahkan kami semua hampir tertipu!" Sahut Bram kesal.


"Hai Rina selamat atas pernikahan mu, lama tidak bertemu!" Ucap Juna.


"Ck, menyebalkan! Karena kau datang sebagai teman suami ku, akan ku perlakukan kau dengan baik kak" Sahut Rina yang terlihat kesal pada Juna.


"Hei, jangan berbicara seperti itu, dia lebih tua dari mu oke?" Sahut Saka sambil mengelus pucuk rambut Rina lembut.


Saka memang sengaja untuk tidak memberitahu teman-temannya, tentang gadis yang akan dinikahinya. Karena Saka dapat menebak kalau teman-teman ini pasti berpikiran kalau dia akan menikahi Celine, padahal nyatanya tidak.


"Apa kau melihat ekpresi tegang dan lesu Juna tadi?" Ucap Joya terkekeh pada Rena.


"Aku melihatnya, dia pasti berpikir kalau itu Celine," Sahut Rena terkekeh.


"Hei apa kalian tahu? sebelum Juna ke LA, aku sempat bertanya padanya soal pernikahan Saka. Bahkan Juna menggurung dirinya di dalam kamarnya" Sahut Jinata.


"Apa dia memang benar-benar menyesali perbuatannya pada putri ku Jinata?" Tanya Tanaro.


"Entahlah, 6 tahun belakangan ini ku rasa Juna sangat tidak beraturan, bahkan Juna sering masuk rumah sakit karena merasakan sakit di kepalanya dan menderita mag. Semalam dia juga mengatakan padaku kalau dia tidak ingin untuk menikah lagi" Ucap Jinata khawatir dengan keadaan putra semata wayangnya.


"Ada apa dengan kepala Juna?" Tanya Joya.


"Kurasa sedikit demi sedikit Juna ingin mulai mengingatnya, ini salahku karena aku mengungkit kejadian masa lampau. Hingga Juna memaksakan dirinya mengingat masa lalunya dulu" Ucap Jinata merasa bersalah pada anaknya.


"Apa dia sudah mengingatnya?" Tanya Tanaro.


"Entahlah, kurasa dia tidak semudah itu untuk mengigat kejadian yang sudah terjadi 25 tahun lebih" Sahut Rena.


"Aku turut prihatin dan khawatir melihat kondisi Juna" Sahut Tanaro.


"Wajahnya juga sangat tirus" Sahut Joya.


"Bagaimana dengan Celine? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Jinata.


"Dia baik-baik saja, anaknya pun begitu" Sahut Tanaro.


"Astaga aku sudah sangat merindukan Jaiden" Sahut Jinata.


"Kau mencari ku Dino?" Tanya Celine menghampiri adiknya, Dino.


"Kau tidak ingin bertemu dengannya kak? Bukankah kau sangat merindukannya?" Tanya Dino pada Celine.


Celine membuang mukanya ke asal arah.


"Apa kau tidak ingin memberitahunya tentang keberadaan Jaiden? Apa kau berencana akan membuat Jaiden akan terus seperti itu?"


"Entahlah, aku binggung" Sahut Celine yang masih enggan menatap Celine.


Dino menghela napasnya kasar, lalu meraih tangan Celine untuk digenggamnya.


"Temuilah dia kak, bukankah ini sudah waktunya? Apa 6 tahun tidak cukup untuk mu? Kau tidak kasihan ya dengannya? Aku dengar-dengar 5 tahun terakhir ini dia sering masuk rumah sakit dan pipinya juga semakin tirus" Jelas Dino.


"Aku dan Jaiden bertemu dengannya tadi" Ucap Dino yang membuat Celine menatap Dino tajam.


"Astaga, kenapa kau membawa Jaiden bertemu dengan Kak Juna?!" Bentak Celine pelan.


"Kak, kau sudah menjadi seorang Ibu, sekarang bukan saatnya kau memikirkan perasaanmu. Pikirkan juga masa depan mu dan anakmu, jangan terus seperti ini" Ucap Dino berusaha menasehati kakaknya.


"Aku tidak tahu" Ucap Celine sambil melepaskan genggaman Dino.


Celine pun berbalik badan, namun Celine membeku dan terdiam. Karena saat berbalik tidak sengaja matanya bertemu dengan Juna, yang berada di hadapannya.


Mungkin jaraknya sekitar 3 meter?


Tanpa sadar Juna meneteskan air matanya, Juna tak kuasa menahan rindunya pada Celine.


Pertahanan Juna sudah runtuh.


Celine masih mematung dan enggan pergi dari tempatnya tersebut, keduanya hanya saling menatap seakan waktu berhenti seketika.


"Momy!" Panggil Jaiden membuat lamunan keduanya runtuh.


Seketika Juna menegang, karena mendengar ada seorang anak kecil yang memanggil Celine dengan sebutan Momy.


"Apa sungguh Celine sudah menikah lagi? Aku pikir anak itu adalah anak Dino, bukan Celine" Batin Juna.


"Jaiden? pelan-pelan sayang jangan berlari" Sahut Celine.


"Celine..." Lirih Juna.


Celine pun menatap Juna dan mengulum bibirnya, "Hai, lama tidak bertemu" Sapa Celine.


Juna tersenyum, "Maafkan aku, maaf aku baru sempat mengatakannya" Ucap Juna tertunduk.


"Ya, aku sudah memaafkankan mu Kak" Sahut Celine.


Dino hanya melihat saja, begitu pun dengan teman-teman Juna. Kedua orang tua Celine dan Juna pun hanya menatap dari jauh saja.


"Kau...sudah menikah lagi?" Tanya Juna hati-hati lalu menatap Jaiden sekilas.


Celine tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Kak boleh aku memelukmu?" Tanya Celine hingga membuat Juna sangat terkejut.


"Huh?" Ucap Juna dengan menaikkan alisnya sebelah.


"Ah tidak lupakan" Sahut Celine.


Tanpa babibubebo dan pikir panjang, Juna langsung saja memeluk Celine dan tidak peduli dengan orang-orang yang sedang memperhatikan mereka.


"Celine maafkan aku, aku menyesalinya. Aku sangat sangat merindukan mu sungguh, aku sangat menyesal. Aku tidak tahu kau menderita claustrophobia saat itu" Ucap Juna sambil menangis dengan memeluk Celine sangat erat.


Celine pun menahan tangisnya, "Kak aku sudah memaafkanmu, aku juga sangat merindukanmu" Sahut Celine, lalu memeluk Juna dengan sangat erat.


"Aish astaga Jaiden..." Bisik Dino.


Dino menarik Jaiden untuk tetap bersamanya dan meminta Jaiden untuk tidak mengeluarkan suara dulu.


"Uncle siapa pria itu? Kenapa berani sekali memeluk momy ku?!" Gerutu Jaiden kesal.


Dino pun hanya mengidikkan keduanya bahunya, karena enggan menjawab pertanyaan dari keponakannya itu.


Celine pun memaksa Juna untuk melepaskan pekukan mereka, karena malu sedang di kerumanan tamu undangan.


Juna menunuduk sambil terisak dan enggan untuk menatap Celine.


Celine meraih wajah tirus Juna, "Kak apa kau sekarang menangis? Dimana wajah tegas dan datar mu itu sekarang hm?" Tanya Celine sambil menghapus air mata Juna.


Juna menggeleng, "Aku rapuh tanpa mu Celine" Sahut Juna.


"Mommy! Kenapa berpelukan degan Uncle ini?!" Protes Jaiden kesal yang sudah tak tahan lagi menahan rasa penasarannya.


Ah, Celine sampai lupa kalau tadi Jaiden putranya menghampirinya sambil berlari-larian.


"Jai? Astaga maafkan mommy ya?"


"Aku akan memaafkan mommy, asalkan mommy memberitahu ku siapa pria ini?! Kenapa berani sekali memeluk mommy ku?!" Protes Jaiden.


"Astaga ada apa dengannya?" Batin Juna.


"Astaga Jaiden kau ini" Batin Dino.


"Celine, Juna Ayo kita berbicara di Privat room. Dino kau bawakan Jaiden juga!" Ucap Tanaro tiba-tiba.