I Am Fine

I Am Fine
Ke Luar Kota



Hari ini adalah hari dimana Jaiden, Jaki, Keira, Fia dan Thalia akan melakukan observasi lapangan ke tempat peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Kuno.


Kelima remaja itu memutuskan untuk menginap di Apertemen Jaiden yang berada tidak jauh dari Candi Borobudur. Kelima remaja itu berangkat dengan menaiki mobil Alphard milik Jaiden, tentu saja dengan supir pribadi milik keluarganya.


Jaiden dan Jaki duduk di kursi belakang supir, sedangkan Thalia, Fia, dan Keira duduk di kursi paling belakang.


"Apa kalian sudah makan siang semua?" Tanya Keira.


"Sudah, kau sudah Kei?" Tanya Jaki berbalik pada Keira.


"Aku sudah," Jawab Thalia dan Fia bersamaan.


"Aku juga sudah," Balas Jaiden.


"Aku belum hehehe..." Ucap Keira dengan cengiran khasnya.


"Kenapa belum makan siang? Mau berhenti sebentar ke M*d?" Tanya Jaki.


"Jangan biasakan pergi jauh dengan perut kosong Kei," Jelas Jaiden.


"Aaaa Jaiden perhatian sekali," Batin Fia.


"Atau kau ingin mampir ke supermarket sebentar?" Tanya Jaki lagi.


"Um... ke supermarket saja deh, sepertinya aku ingin membeli snack, beberapa roti dan juga minuman" Jelas Keira.


"Oke, Pak kita ke supermarket sebentar ya" Pinta Jaiden pada supir pribadinya itu.


"Baik Tuan Muda."


Kelima remaja itu baru saja berangkat setelah pulang sekolah, pada hari sabtu kelimanya pulang pada pukul 2 siang. Dan setelah itu baru lah mereka berangkat pada pukul 3 siang, maka dari itu Keira tidak makan siang terlebih dahulu.


Karena tidak sempat.


"Apa kalian tidak turun?" Tanya Keira saat mereka baru saja tiba di depan supermarket.


"Aku tidak," Sahut Jaiden.


"Aku ikut Kei!" Ucap Fia.


"Aku juga," Balas Jaki.


"Thalia kau?" Tanya Keira pada Thalia yang sedari tadi hanya diam saja.


Lantas Thalia pun menggelengkan kepalanya, "Tidak Kei, kalian saja" Sahutnya.


"Oke baiklah, kau ingin menitip sesuatu?" Tanya Keira pada Jaiden.


Jaiden mendegus kesal, tahu apa maksud sahabat kecilnya itu. Lantas Jaiden pun mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan kartu kredit miliknya.


"Kei pakai ini, beli cemilan yang banyak. Kau tau kan makanan apa yang aku suka dan tidak ku suka," Ucap Jaiden sambil memberikan kartu kreditnya pada Keira.


"Oke Tuan Muda!" Balas Keira senang, karena dirinya tidak perlu mengeluarkan uang jajannya.


Keira pun menutup pintu mobil Jaiden dan berlalu masuk ke dalam supermarket, bersama Fia dan Jaki.


Keira tertawa pelan, "Apa kau cemburu?" Tanya Fia menggoda Fia.


"Cemburu apanya?" Tanya Fia binggung.


"Thalia dan Jaiden tinggal di mobil berdua," Kekeh Keira.


"Eh? Fia menyukai Jaiden ya ternyata?" Tanya Jaki terkekeh.


"Mana ada! Keira mengada-ada, aku tidak menyukainya!" Ucap Fia berbohong.


"Ah benarkah Fia?" Balas Keira menggoda Fia.


"Hahaha, Fia sepertinya kalau bersama Jaiden. Kau jangan terlalu banyak berharap padanya, dia hanya menganggap mu teman tidak lebih dari itu" Ucap Jaki menusuk dan pergi jalan terlebih dahulu dari keduanya.


Sedangkan di mobil, Thalia hanya diam saja. Begitu pula dengan Jaiden, keduanya sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.


Hingga atensi keduanya beralih saat pintu mobil kembali terbuka, yang menampilkan Keira, dan Fia. Ah iya, Jaki juga di belakang kedua gadis itu.


"Astaga Kei, kau yakin akan memakan ini semua?" Tanya Jaiden takjub saat melihat jajanan yang bawa oleh Keira, Fia, dan Jaki.


Karena Keira membawa 4 kantong plastik besar, dan Fia membawa 4 kantong plastik besar juga. Sedangkan Jaki membawa satu kotak minuman dan satu plastik yang juga berisi berbagai jenis minuman yang beragam rasanya.


"Ck, kau tenang saja Jai. Ini akan habis, sekalian juga untuk besok dan perjalanan pulang nanti. Kalian tidak ingin kan Tuan Putri kalian ini kelaparan?" Tanya Keira.


Fia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kei cepat masuk! Ini berat sekali!" Ucap Jaki di belakang sana.


"Eh iya hehehe" Ucap Keira lalu masuk ke dalam mobil.


"Astaga Kei, ini mau dibuat kemana? Tidak muat," Gerutu Jaiden.


"Kalo tidak letakkan di kursi depan samping supir saja Jai," Saran Fia


"Ah iya disitu saja nih!" Ucap Kiera sambil memberikan makanannya pada Jaiden, agar Jaiden meletakkannya di samping supir.


"Astaga merepotkan sekali!" Gerutu Jaiden.


Supir Jaiden pun sedikit tersentak, saat melihat palastik makanan yang di oper di kursi sebelahnya. Thalia juga tak kalah terkejutnya, bagaimana bisa Keira menghabiskan makanan dan minuman sebanyak itu? Pikirnya.


"Kei kita hanya 1 malam saja disana," Jelas Jaiden.


"Ck, kau cerewet sekali hari ini. Nih, makasih" Ucap Keira protes sambil memberikan kartu kredit yang digunakannya untuk membeli makanan dan minuman tadi.


"Hei Jaiden apa kau lupa ya? Keira itu kalau dibawa pergi-pergi jauh seperti ini, makanannya segaban. Dia tidak akan bisa berhenti makan, lihat saja nanti. Aku yakin sekali, sebentar lagi dia akan meminta membeli makanan yang lain" Jelas Jaki.


"Ah iya kau benar sekali Jaki, saat study tour juga begitu. Makanya dia memilih untuk naik mobil pribadi daripada bus!" Sahut Fia.


Karena Keira saat itu memaksa Fia untuk ikut bersamanya, dan tentu saja satu mobil dengannya. Karena pada saat itu, mobil Keira di bawa oleh Heri yang juga ditumpangi oleh Jaki, Jaiden, dan Surya.


"Ah iya kau benar! Heri bahkan lelah sekali karena selalu berhenti untuk membeli makanannya" Jelas Jaiden.


"Ck, stop! Kalian juga ikut makan ya!" Ucap Keira yang tak terima di ejek oleh teman-temannya.


...⚡⚡⚡...


Selama 7 jam perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kelima remaja itu baru saja tiba di apartemen milik Jaiden pada pukul 11 malam.


Karena sudah merasa lelah dan besok pun mereka harus bangun pagi, untuk pergi ke tempat yang meteka tuju sebenarnya, yaitu Candi Borobudur.


Kelima remaja itu pun memutuskan untuk tidur, dan beristirahat. Jaiden berada di kamar yang sama dengan Jaki, sedangkan Keira, Fia, dan Thalia berada di satu kamar yang sama.


Keira dan Fia sudah berada di alam mimpinya, sedangkan Thalia masih sibuk dengan ponselnya. Dan perlu kalian ketahui, kalau Thalia tidak akan bisa tisur dengan lampu yang mati.


Maka dari itu Thalia tidak bisa menutup matanya, Thalia akan merasa sesak jika menutup matanya saat lampu mati.


Apa ada yang sama seperti Thalia?


Pukul 00.51


Thalia merasa haus, tapi Thalia tidak berani untuk mengambil minuman sendirian. Thalia ingin membangunkan Keira atau Fia, namun sepertinya kedua gadis remaja itu sangat terlelap dalam tidurnya.


Rasanya tidak tega untuk membangunkannya. Jadi Thalia pun akhirnya memutuskan untuk keluar sendiri dari kamar yang ditempatinya untuk mengambil air putih.


Thalia sedikit terkejut, karena saat dirinya keluar dari kamar. Lampu tiba-tiba saja menyala, padahal itu adalah lampu otomatis. Thalia pun mengelus-elus dadanya lega.


Thalia jalan mengendap-endap dan pelan-pelan, karena takut membangunkan yang lainnya.


Thalia berjalan menuju dapur, dan ingin mengambil minuman dingin. Lantas Thalia pun membuka kulkas dua pintu itu, namun Thalia tidak menemukan apapun di dalam kulkas itu.


Tiba-tiba saja Thalia merasa merinding, entah mengapa bahkan gorden jendela yang terdapat di dekat pintu masuk dapur itu berkobar-kobar seperti di tiup oleh angin.


padahal dapat Thalia pastikan kalau jendela itu terutup dengan rapat, lantas dari manakah angin itu berasal? Pikirnya.