
Namun setelah api itu mulai mereda, Jaiden pun kembali terlihat sedang meringkuk di atas aspal tersebut. Bahkan terlihat ada beberapa luka goresan, yang terdapat di wajah milik Jaiden.
Tepat waktu sekali, ambulan baru saja tiba. Dengan langkah cepat petugas kesehatan itu untuk membantu Jaiden dan membawa Jaiden untuk masuk ke dalam ambulan, dan secepatnya untuk di larikan ke rumah sakit.
Jaiden tidak pingsan sama sekali, dirinya masih sadar. Hanya saja Jaiden merasa dirinya lemas, bahkan sampai sekarang Jaiden masih menggenggam ponselnya.
"Password nya 121516, tolong hubungi kontak di ponsel ku yang namanya Sekretaris Papa" Ucap Jaiden lemas.
"Baik," Ucap salah satu petugas kesehatan itu. Lalu mengambil ponsel milik Jaiden, dan menghubungi orang yang dimaksud Jaiden.
"Tadi password nya berapa?" Tanya petugas itu pada temannya.
"Astaga?? Bagaimana aku bisa tahu?" Ucap temannya itu.
Jaiden pun memutar matanya lemas dan pusing, "12... 15... 16..." Ucap Jaiden lemas, namun dirinya memaksakan diri untuk mengeluarkan suaranya.
Ponsel tersebut pun terbuka, dengan gerakan jari yang cekatan. Petugas itu pun langsung menelepon orang yang diminta Jaiden, Dimas.
"Halo Tuan Muda?" Sahut Dimas di seberang sana.
"Selamat malam Pak, apakah ini benar saudara terdekat dari saudara pemilik ponsel ini?" Tanya petugas kesehatan itu basa-basi.
"Ya? Ada apa ya? Apa Tuan Muda meninggalkan ponselnya disuatu tempat?" Tanya Dimas binggung, karena setahunya Jaiden tidak akan seceroboh itu. Untuk meletakkan ponselnya asal, atau meninggalkan ponselnya di sembarang tempat.
Contohnya saja seperti tadi, Jaiden tetap berusaha untuk mengambil ponselnya di dalam mobilnya yang hendak terbakar. Padahal Jaiden juga punya cukup banyak uang, untuk membeli ponse yang baru.
Bahkan Jaiden masih sanggup untuk membeli ratusan ponsel, jika dia mau.
"Tidak Pak, pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan beruntun saat menerobos lampu merah tadi Pak. Silahkan" Ucap petugas itu terpotong oleh Dimas.
"Tolong bawakan dia kerumah sakit utama Choren Group" Pinta Dimas tegas namun khawatir.
"Huh? Ah iya baik, kalau begitu kami akan segara membawanya ke rumah sakit utama Choren Group" Ucap petugas itu, lalu menjauhkan ponselnya dari kupingnya.
Petugas itu pun meinta supir untuk kembali berputar balik, untuk menuju rumah sakit Choren Group yang baru saja mereka lewati.
"Baiklah terima kasih, aku akan segera menyusul kesana!" Jelas Dimas lalu mematikan sambungan telepon.
Saat hendak Dimas menuju rumah sakit, Dimas pun menghubungi keluarga terdekat Jaiden seperti Jinata, Rena, Dino dan juga Rina.
"Jinata... apa yang harus kita lakukan? Aku ingin pulang, aku takut terjadi sesuatu padanya" Ucap Rena panik dan khawatir.
"Kau pulang lah terlebih dahulu, aku akan menyusul besok. Besok adalah pertemuan penting kita Rena, tidak mungkin di tunda lagi" Jelas Jinata tak kalah khawatir.
"Aku setuju, ayo cepat antar aku sekarang juga ke bandara" Pinta Rena pada orang kepercayaannya.
"Baik Nyonya," Ucap orang itu.
Sesampai Ambulan di rumah sakit utama Choren Group, beberapa orang lumayan terkejut saat ambulan dari rumah sakit lain yang datang ke rumah sakit itu.
Keterkejutan mereka semakin bertambah, saat para keryawan medis disana mengetahui siapa pasien yang dilarikan ke rumah sakit Choren Group.
Satu-satunya pewaris utama dari keluarga Renandra, Choren Group.
Dengan gerakan cepat, dan tentu saja tak kalah panik. Perawat beserta petugas kesehatan itu langsung melarikan Jaiden yang sudah tak sadarkan diri untuk masuk ke UGD.
Saat Jaiden baru saja masuk UGD, Dimas pun baru saja tiba dan memakirkan mobilnya di asal tempat. Dan masuk begitu saja ke rumah sakit, tanpa mematikan mesin mobilnya terlebih dahulu.
...⚡⚡⚡...
"Telah terjadi kecelakaan beruntun di wilayah xxxx, salah satu mobil Civic mewah milik penerus satu-satunya dari Choren Group. Baru saja menerobos lampu merah baru saja pada pukul 20.09 WIB," Jelas reporter itu di dalam sebuah tv lebar milik keluarga Sandika.
"Huh? Cho..Choren Group? Civic?" Ucap Keisha terkejut.
"Kecelakaan beruntun ini menyebabkan mobil mewah tersebut terbakar hangus, dan 3 mobil lainnya mengalami kerusakan di depan mobil dan belakang mobil. Tidak ada korban jiwa yang meninggal dalam kecelakaan ini, korban hanya mengalami luka ringan"
"Sedangkan pelaku atau dalang dari kecelakaan beruntun ini, mengalami luka yang cukup berat. Dan sudah di larikan ke rumah sakit yang terdekat," Jelas Reporter tersebut.
"Mau Mama antar kesana Kei?" Tawar Shakila khawatir, saat melihat berita tersebut.
Drtt drtt drtt
Ponsel Keisha berbunyi, hingga keduanya mengalihkan perhatiannya pada ponse milik Keisha.
"Nenek Rena," Ucap Keisha.
"Jawab Kei," Sahut Shakila.
"Ha... halo Nek?" Balas Keisha yang sudah mulai terisak.
"Kau sudah dengan kabarnya? Bisa tolong kau susul Jaiden ke rumah sakit? Nenek sedang dalam perjalanan, Nenek sedang di Jepang" Jelas Rena di telepon.
"Tentu Nek, aku akan kesana sekarang!" Ucap Keisha di telepon lalu mengambil kunci mobilnya dan mematikan sambungan telepon.
"Kei biar Mama antar, tidak baik" Ucap Shakila terpotong.
"Tidak perlu Ma, jangan beri perhatian berlebihan pada Kei. Kei merasa bersalah pada Riki," Ucap Keisha lalu pergi begitu saja meninggalkan Shakila yang sibuk dengan pikirannya.
Drtt drtt drtt
Sesampai di mobil, ponsel milik Keisha kembali berdering.
Saat melihat siapa yang meneleponnya, Keisha pun dengan cepat untuk mengangkat telepon tersebut.
"Surya?! Kau dimana? Bisa katakan pada orang tua mu untuk memberhentikan berita yang ditayangkan di televisi dan media massa lainnya?" Tanya Keisha.
"H... huh? Ah iya kau sudah tau? Baguslah, Om Dimas tadi sudah menghubungi keluarga ku. Berita itu akan lenyap, tidak akan ada reporter yang berani mempublishkannya" Jelas Surya.
"Aku dan yang lainnya akan segera menuju rumah sakit, kau dimana?" Tanya Surya.
"Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, mari nanti kita bertemu disana saja" Ucap Keisha lalu mematikan sambungan telepon tersebut sepihak.
...⚡⚡⚡...
Sudah 1 jam lamanya mereka menunggu di depan ruang UGD , namun tidak ada tanda-tanda dokter keluar dari dalam sana. Sungguh mereka semua sangat khawatir, khawatir akan terjadi hal-hal buruk pada Jaiden.
Disana sudah ada Dimas, Dino, Keisha, Saka, Keira, Jali, Heri, Surya, Jovan dan juga Riki.
"Apa tidak sebaiknya Keisha dan Keira pulang saja? Kalian juga, ini sudah pukul 11 malam. Kalian harus pergi sekolah besok, datang lah besok setelah pulang sekolah. Om akan beri kabar baik nanti pada salah satu dari kalian," Jelaa Saka.