
"Apa setelah pulang sekolah kalian akan kerumah Jaiden untuk bertemu Keisha?" Tanya Heri.
"Tidak, tadi Jaiden bilang kalau mereka berdua ingin kerumah sakit dulu. Nanti ketemu di Cafe biasa saja," Jelas Jaki.
"Rumah sakit?" Tanya Sufa.
"Keisha mau menjenguk Tante Celine," Jawab Jaki.
"Ck, Kak Kei apa tidak merindukan ku? Kenapa malah mau bertemu dengan Kak Jaiden dulu sih!" Gerutu Riki kesal.
"Wajar lah, Keisha kan mau menjenguk calon Mama mertua" Kekeh Heri.
"Ah iya iya, kau benar sekali" Jawab Keira terkekeh.
"Mama mertua? Mama Jaiden dirumah sakit?" Pikir Fia tidak tahu karena dirinya sendiri tidak pernah tahu soal keluarga Jaiden, selain dia memiliki paman yang bernama Dino, Kakek, dan Neneknya.
"Ck, Jaiden jadi jarang berkumpul dengan kita semenjak dengan Thalia" Jelas Surya.
"Sedang kasmaran, itu hanya sebentar saja. Nanti juga Jaiden akan kembali dengan kita setelah Keisha kembali," Jelas Jaki.
"Ah iya kau benar, kapal karam itu akan segera kembali hahaha" Tawa Heri pecah.
Seperti biasa, Fia hanya menyimak. Tidak mengerti, kemana arah pembicaraan orang-orang kaya ini.
"Oh iya Riki, Keisha masuk IPA atau IPS?" Tanya Surya.
"Sepertinya IPS, bisa jadi Kak Keisha mengambil kelas yang sama dengan Kak Heri dan Kak Surya" Jawab Riki.
"Bagus kalau begitu, ada yang menjaganya nanti" Sahut Jaki.
Fia mendegus kesal saat mendegar ucapan dari teman-temannya Keira, karena mereka semua hanga terus saja menceritakan sosok Keisha Aditya.
Sangat membosankan, pikirnya.
Ting!
Ting!
Ting!
Ting!
Jaiden pun melirik ponsel yang mengeluarkan notifikasi beruntun itu,lantas dengan rasa penasaran Jaiden pun menghentikan aktivitas makannya dan hendak membalas pesan itu.
Siapa lagi kalau bukan dari Keisha?
Thalia hanya melihat saja, Thalia tidak tahu sepenting apa pesan itu. Karena setahunya, Jaiden selalu mengabaikan pesan dari orang lain disaat dia sedang melakukan sesuatu.
Apalagi pesan tidak penting, seperti menanyakannya sedang apa, sudah makan atau belum.
Jaiden tidak menyukainya.
...Room Chat...
Keisha :
Kak boleh aku masuk ke kamar Kakak?
Aku ingin istirahat
Aku tidak mau pulang dan bertemu Mama
Aku lelah sekali melihatnya
^^^Jaiden:^^^
^^^Hm pakai saja^^^
^^^Tidak di kunci^^^
^^^Mandi Kei^^^
^^^Pakai baju yang muat saja, ambil di lemari^^^
Keira:
Siap Tuan Muda hehe
Terima Kasih atas perhatiannya ๐
Maaf merepotkan mu terus
^^^Jaiden:^^^
^^^๐^^^
^^^read^^^
Jaiden pun tertawa kecil melihat pesan yang dikirimkannya Keisha padanya. Lantas hal itu membuat Thalia tertarik, "Ada apa dengannya? Apa yang membuatnya hingga tersenyum seperti itu? Tidak pernahnya?" Pikir Thalia.
"You okey?" Tanya Thalia.
"Huh? Ah aku baik-baik saja, um.... Thalia" Panggil Jaiden.
"Kenapa Jai?" Tanya Thalia.
"Ah tidak ada, ayo makan. Sebentar lagi bel masuk bunyi," Ucap Jaiden.
Thalia pun hanya menganggukkan kepalanya, sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakannya pada Jaiden.
Karena pada biasanya, Jaiden akan banyak berbicara saat mereka sedang makan bersama. Begitupun juga dengan Thalia, yang selalu mengisi jam makan siang mereka dengan beberapa obrolan santai.
Tapi tumben sekali, Jaiden seperti berubah? Pikir Thalia.
...โกโกโก...
"Heri!" Panggil Jaiden di parkiran sekolah.
"Pulang dengan siapa?" Tanya Jaiden mendekat pada Heri.
"Sendiri, kenapa? Mau nebeng dengan ku? Bukankah kau membawa mobil sendiri?" Tanya Heri binggung, karena dirinya melihat dengan jelas tadi pagi.
Kalau Jaiden keluar bersamaan dengan Thalia, dari mobilnya itu.
"Tidak, bukan aku. Bisa kau antarkan Thalia pulang? Aku ada urusan," Tanya Jaiden.
Lantas Heri pun memicingkan matanya menduga-duga pada Jaiden, "Kau ingin cepat-cepat untuk menemui Keisha ya?!" Tanyanya.
"Ya begitulah, minta tolong ya! Antar dia sampai rumah! Sekarang dia lagi piket di kelas. Awas saja kalau kau goda, habis kau dengan ku! Aku cabut!" Ucap Jaiden lalu meninggalkan Heri begitu saja.
Heri pun mendecak kesal, padahal dirinya belum sempat untuk mengatakan pada Jaiden kalau dirinya menyetujuinya atau tidak.
"Ck, dasar! Apa Jaiden akan berubah menjadi pria brengsek?" Gumamnya pelan, lalu memutuskan untuk menuju kelas 11 IPA 1.
"Keira!" Panggil Heri saat melihat Keira yang baru saja turun dari tangga bersama Jaki.
"Ck, mentang-mentang baru jadian. Berdua terus ya!" Ucap Heri
"Daripada kau?" Balas Keira menatap remeh Heri.
"Ck iya iya! Apa kalian melihat Thalia?" Tanya Heri.
"Kau ingin menikung Jaiden ya?" Tanya Keira heboh.
"Ck, enak saja! Kalo ngomong itu di filter duluu woi, Jaiden meminta ku untuk mengantar Thalia. Karena hari ini dia tidak bisa mengantar Thalia pulang," Jelas Heri.
"Oh begitu, dia ada masih di kelas sepertinya. Tumben sekali kau tidak membonceng perempuan hari ini? Karena bawa mobil ya?" Tanya Jaki.
"Motor ku sedang di servis, lagipula apa Thalia bukan anak perempuan?" Tanya Heri kesal.
"Ck udah sana! Kau cepat kesana, sebentar kagi Thalia akan selesi menyapu," Pinta Keira.
Lantas Heri pun langsung bergegas menuju kelas 11 IPA 1, ah pas sekali! Thalia baru saja keluar dari kelasnya dan hendak mengunci pintu kelas 11 IPA 1.
"Thalia!" Panggil Heri.
"Eh Heri?" Ucap Thalia.
"Kenapa?" Tanya Thalia.
"Ayo pulang," Ajak Heri tiba-tiba, hingga membuat Thalia mengedipkan matanya berkali-kali.
"Maksud mu? Aku akan pulang bersama Jaiden," Jelas Thalia
Karena Thalia tidak terlalu dekat dengan Heri, pasti aneh sekali bukan kalau kalian tidak saling mengenal satu smaa lain. Dan hanya tahu sebatas nama saja, dan tiba-tiba mengajak mu pulang bersama?
Bahkan walaupun Heri itu adalah teman dekatnya Jaiden, Thalia tidak pernah berkomunikasi dengan Heri.
"Ck, kau ini! Jaiden tidak bisa mengantar mu pulang, ayo pulang bersama ku saja!" Ajak Heri lagi.
"Tapi Jaiden," Ucap Thalia karena ponselnya baru saja berbunyi, hingga membuat kedua insan itu mengalihkan perhatiannya pada ponsel Thalia yang berada di genggaman gadis itu.
"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu" Ucap Thalia.
"Ha..halo Pa" Jawab Thalia.
"Papa sudah sampai di Indonesia, Mama baru kamu dan Kakak mu tidak ingin tinggal bersama dengan mu. Karena takut sesuatu akan terulang, Mama dan Adik mu juga tidak jadi pulang. Mereka akan menetap. disana sementara, Papa tutup" Ucap Rafa di telepon itu panjang lebar.
Tut!
Rafa mematikan ponsel itu dengan sepihak, lantas Thalia pun hendak menelepon Mamanya. Thalia ingin bertanya pada Mama nya, alasan apa yang membuat Mamanya tidak ikut untuk pindah ke Indonesia bersama Adiknya.
Namun terlambat, ponselnya kembali berbunyi.
"Halo? Jai kamu," Ucap Thalia terpotong.
"Thalia maafkan aku ya? Hari ini kau pulang dengan Heri saja ya? Aku ada urudan yang harus ku urus," Jelas Jaiden di telepon.
"A... ah oke," Sahut Thalia, lalau mematikan sambungan itu.
"Ayo pulang," Ajak Thalia.
Heri dan Thalia pun berjalan bersama menuju parikiran mobil, setelah sampai disana keduanya pun naik.
Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB
"Ah pasti di jalan akan macet sekali!" Gerutu Heri.
"Maaf ya, aku jadi merepotkan mu seperti ini" Ucap Thalia tak enak.
"Santai," Balas Heri, "Aku lapar, apa kau juga? Mau mampir untuk makan dulu sebentar?" Tanya Heri.
"Ayo," Balas Thalia.