
"Hai...” Sapa Jaki sedikit canggung.
"H...hai masuk," Sahut Keira mempersilahkan Jaki untuk masuk ke dalam, lantas Jaki pun memasuki rumah Keira.
"Om sama Tante sedang tidak dirumah ya?" Tanya Jaki basa-basi.
"Tahu darimana?" Tanya Keira binggung.
"Di garasi tidak ada mobil soalnya," Balas Jaki.
Keira pun mengangguk-angguk kepalanya mengerti, "Papa dirumah sakit dan Mama sedang menjenguk temannya," Ucap Keira.
Hening.
Jaki juga binggung harus mengatakan, dan mulai dari mana untuk membicarakan soal itu dengan Keira. Jaki melihat Keira yang sedang *******-***** jarinya pelan,Jaki berpikir kalau Keira kali ini benar-benar gugup sama seperti dirinya.
Jaki sangat mengenal Keira, Keira akan neremas jarinya seperti itu jika dirinya merasa gugup atau pun takut.
"Um... Keira," Panggil Jaki berusaha untuk menghilangkan rasa canggung diantara keduanya.
"Huh?"
"Soal itu... maaf... aku tidak bisa membalasnya," Ucap Jaki tertunduk tak enak pada Keira.
Keira pun mengulum bibirnya dalam, "it's okey. Aku mengerti, maaf sudah menaruh perasaan pada mu" Jelas Keira tertunduk.
Jaki pun menganggukkan kepalanya, "Kita... masih bisa berteman kan?" Tanya Jaki pada Keira.
"But know your limit Jek" Jelas Keira, dan Jaki pun mengangguk setuju akan hal tersebut.
...⚡⚡⚡...
Hari ini tumben sekali Jaiden datang kesekolah dengan menaiki mobilnya, padahal biasanya Jaiden selalu datang kesekolah menaiki motor kesayangannya.
Di perjalanan menuju sekolah, tak sengaja mata Jaiden menangkap Thalia yang sedang berada di depan sebuah mobil dan sedang berkacak pinggang.
"Ada apa dengan mobilnya?" Batin Jaiden.
Lantas Jaiden pun memutuskan untuk menepikan mobilnya.
"Lalu bagaimana Pak? Aduh aku akan terlambat! Bisa Bapak pesan kan saja aku taksi atau apa gitu?" Rengek Thalia pada Supir pribadinya.
"Iya Nona, saya pikir itu lebih baik. Sebentar ya Nona, saya akan carikan Nona taksi dulu" Jelas Supir pribadi Thalia.
"Kenapa?" Tanya Jaiden menghampiri keduanya.
"Eh?" Ucap Thalia terkejut saat mendapati Jaiden disebelahnya, "Ja... Jaiden? Ah ini... mobil ku bannya kempes" Gerutu Thalia kesal.
"Apa mau berangkat dengan ku saja? Sebentar lagi bel masuk,"Tawar Jaiden sambil melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Boleh kah?" Tanya Thalia, hingga membuat Jaiden mengangguk kepalanya pasti.
"Sebentar ya!" Ucap Thalia lalu menghampiri Supir pribadinya, dan mengatakan kalau dirinya akan berangkat bersama teman sekalasnya saja.
Lantas keduanya pun masuk ke dalam mobil Jaiden, "Maaf ya Jaiden... aku terus saja merepotkan mu," Ucap Thalia merasa tak enak pada Jaiden.
"Santai saja," Sahutnya tanpa menatap Thalia.
Jaiden pun menyalakan mesin mobilnya, dan tentunya menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan sedang. Keduanya saling diam, tidak ada pembicaraan sama sekali.
Hingga keduanya sampai di lingkungan sekolah, Jaiden pun memakirkan mobilnya di parkiran mobil. Setelahnya, kedua siswa itu keluar dari mobil Civic milik Jaiden.
Beberapa pasang mata itu pun banyak sekali yang menatap iri pada Thalia, mereka berpikir bagaimana bisa Thalia dapat mendekati Jaiden.
Bahkan Thalia pergi berangkat bersama ke sekolah bersama Jaiden, astaga.
"Mereka berangkat bersama ya?" Gumam Fia tersenyum kecut, saat melihat keduanya yang baru saja keluar dari mobil.
"Eh Kak Fia," Sapa Riki dan Riki pun mengikuti kemana arah penglihatan dari Kakak kelasnya itu.
"Eh Riki? Tumben kau di parkiran mobil? Kau membawa mobil?" Tanya Fia ramah.
...⚡⚡⚡...
Sudah beberapa bulan ini, Jaiden dan Thalia menjadi sangat dekat. Bahkan, keduanya tak jarang sering menghabiskan waktu mereka bersama.
Contoh kecilnya seperti Jaiden yang datang kerumah Thalia, atau Thalia yang datang kerumah Jaiden. Dan juga Jaiden sering menemani Thalia pergi kemana saja, seperti ke taman, ke Supermarket untuk belanja bulanan, ke Mall dan ke Pantai.
Karena 2 bulan ini Jaiden sering menghabiskan waktu dengan Thalia, Jaiden jadi jarang memiliki waktu untuk berkumpul dengan teman-teman komplotannya.
Kalau di sekolah, Jaiden pasti akan makan siang bersama Thalia. Hanya berdua, Jaiden bahkan tidak pernah mengajak Thalia untuk bergabung makan bersama dengan teman-temannya.
Karena Jaiden takut.
Riki juga sangat sering memperhatikan kedekatan antara Jaiden, dan Thalia beberapa minggu belakangan ini.
"Mereka sudah sedekat itu?" Tanya Riki.
"Pasangan itu ya?" Tunjuk Jaki dengan dagunya, "Kurasa Jaiden sudah mulai menyukai Thalia, dan begitu juga sebaliknya" Jawab Jaki santai.
"Riki, kurasa Jaiden sudah melupakan Kakak mu" Jawab Heri terkekeh pelan.
"Hei hentikan, itu tidak lucu" Sela Keira, karena dirinya takut nantinya akan ada keributan.
Keira tahu betul, Riki sangat menyayangi Kakaknya. Riki tidak akan membiarkan siapapun, untuk menyakiti Keisha apalagi mengatai Kakaknya.
Fia yang merasa penasaran pun membuka suaranya, "Riki mempunyai Kakak perempuan?" Tanya Fia penasaran, karena dirinya tidak pernah melihatnya.
"Hm dia punya, namanya Keisha. Sekarang Keisha tinggal di Amerika, teman rasa pacar Jaiden" Sahut Heri.
Riki hanya mendegus kesal, dirinya tidak dapat mengelakkan atas perkataan Heri barusan. Karena itu memang benar sekali adanya, Kakaknya dan Jaiden memanglah tidak memiliki hubungan yang jelas.
Mereka akan selalu seperti itu, teman tapi rasa pacar.
"Apa dia gadis yang dimaksud Keira? Kalau Jaiden punya seseorang di hatinya, sangat spesial" Batin Fia menduga-duga.
"Thalia, apa kau sudah mencobanya?" Tanya Jaiden.
"Apa? baju kemarin ya? Tentu saja sudah!" Sahut Thalia semangat.
"Bagaimana dengan Papa mu? Sudah baikan dengannya?" Tanya Jaiden.
Iya, Jaiden mengetahui hubungan tidak baik antara Thalia dan Rafa Papa tirinya. Karena Jaiden tak sengaja melihat banyak luka-luka lebam, dan beberapa luka sayatan di tubuh Thalia. Jaiden pun memaksa Tahlia untuk menceritakannya, kenapa hal itu bisa terjadi pada dirinya.
Lantas Thalia pun dengan terpaksa menceritakannya, karena Jaiden terus mendesaknya.
"It's okey, Papa sudah tidak pernah menyiksa ku lagi" Jelas Thalia.
"Baguslah, aku senang mendengarnya" Ucap Jaiden tersenyum hangat pada Thalia.
Setelah makan siang, keduanya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Thalia pun duduk di mejanya, begitu pun dengan Jaiden.
"Apa kau sudah tertarik untuk berpacaran?" Tanya Jaki berbisik.
"Tidak? kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Jaiden berbalik heran.
Jaki pun memicingkan matanya dan menatap curiga pada Jaiden, "Kau yakin? Atau kau belum menjadikannya pacar mu? Kau sudah berniat?" Tanya Jaki berbisik.
"Dar!" Ucap Keira mengejutkan keduanya.
Jaki dan Jaiden menghela nafasnya berat, karena keduanya benar-benar terkejut. Keduanya merasa, kalau mereka sudah seperti tertangkap basah oleh guru karena berbisik-bisik.
"Hehehe ngapain sih? Kenapa bisik-bisik?" Tanya Keira penasaran.
"Jangan penasaran!" Sahut Jaiden.
"Ck, kan hanya ingin tahu saja!" Gerutu Keira, lalu berjalan mendekat pada kedua sahabatnya itu.
"Hei apa kau menyukai Thalia?" Tanya Keira berbisik-bisik.
"Hm," Sahut Jaiden.