I Am Fine

I Am Fine
Rumah Jaiden



Setelah pemakaman selesai, Jaiden lebih memilih untuk mengurung dirinya di kamar. Jinata, Rena dan yang lainnya sangat khawatir mengenai kondisi Jaiden, karena Jaiden sejak tadi malam hingga siang ini belum makan.


"Astaga... bagaimana ini, aku tidak ingin Jaiden jatuh sakit" Ucap Rina khawatir.


"Kei apa kau sudah membujuknya?" Tanya Bram.


"Sudah Pa, Kak Jaiden terus saja menolak. Dia juga barusan mengusir ku," Jawab Keisha.


"Kei apa kau akan menetap di Indonesia? Tetaplah disini bersama Jaiden ya?" Ucap Rina memohon pada Keisha.


"Bram, apa Keisha akan tinggal lebih lama lagi di Indonesia? Keisha juga bisa tinggal disini, temani lah Jaiden. Kau sendiri juga tahu kan Jaiden dan Keisha itu seperti apa? Jaiden hanya memiliki Keisha untuk bertukar cerita, Jaiden akan merasa canggung jika bercerita dengan kami. Karena kami sudah tua," Jelas Rena.


"Aku tidak masalah soal itu Tante, tapi Shakila adalah Ibu dari anak-anak. Apalagi sekarang Keisha adalah hak asuh Shakila dan Rafa, karena beberapa waktu ysng lalu Shakila juga baru saja menikah. Walaupun aku ayah secara biologis Keisha, aku tetap saja tidak dapat mengambil keputusan begitu saja. Aku mengizinkannya, tapi aku akan berdiskusi terlebih dahulu tentang ini bersama Shakila dan Keisha," Jelas Bram.


"Aku ikut, aku akan menjelaskannya pada Mbak Shakila dan suaminya" Jelas Dino.


"Tidak, biar aku saja Dino. Rafa akan menuruti ku, karena aku pernah menjadi mentornya saat dirinya muda dulu. Dan juga aku adalah teman dekat Ayahnya" Ucap Jinata.


"Apa Kakak mu akan tinggal bersama dengan Jaiden??" Tanya Jovan berbisik pada Riki.


"Entahlah, ku rasa begitu. Tapi sepertinya orang tua disini semua sudah gila, membiarkan Kak Jaiden dan Kak Keisha untuk tinggal bersama" Jawab Riki kesal sambil berbisik.


"Wah ini tidak benar, bagaimana bisa?" Balas Jovan berbisik.


"Ck kalian ini bodoh sekali! Maksud Nek Rena itu, mereka tidak tinggal di satu atap yang sama. Tapi Keisha tetap tinggal di Indonesia saja, dan tinggal bersama Om Bram dan Riki!" Jelas Keira gemas pada Jovan dan Riki yang berpikiran negatif.


"Kurasa kau salah tanggap Kei, aku pikir orang-orang tua ini berencana membuat Keisha dan Jaiden tinggal di satu atap yang sama" Jelas Surya berbisik.


"Hei yang benar saja? Itu tidak mungkin, apa. mereka gila?!" Balas Keira berbisik.


"Rina bagaimana dengan keadaan mu? Sudah merasa baikan kan? Jaga kesehatan mu ya, jangan sampai hal buruk terjadi pada calon bayi mu" Ucap Rena.


"Terima kasih Tante, sudah mengawatirkan ku dan calon bayi ku" Jawab Rina tersenyum manis.


Rena pun bangkit dari duduknya, "Aku akan mencoba membujuk Jaiden" Ucap Rena pamit, lalu berjalan menuju kamar Jaiden.


Di lantai dua.


"Maafkan Nenek Jaiden, Nenek hanya melakukan apa yang harus Nenek lakukan" Batin Rena.


Tok tok tok


"Jai? Jaiden, kau di dalam Nak?" Tanya Rena di balik pintu.


Tidak ada jawaban, lantas Rena memilih untuk masuk ke kamar Jaiden. Rena pun memutar kenop pintu kamar Jaiden, Rena menghela nafasnya kasar. Saat melihat Jaiden yang sedang duduk di balkon, sembari melihat foto mendiang orang tuanya.


"Jai..." Panggil Rena lirih.


Jaiden pun mengalihkan perhatiannya pada Rena, dan tanpa Jaiden sadari air matanya jatuh begitu saja. Sungguh hati Rena tergores melihat itu, rasanya hati Rena hancur berkeping-keping.


"Jaiden... apa kau butuh pelukan Nenek?" Tanya Rena merentangkan kedua tangannya, dan meminta Jaiden untuk berhambur memeluknya.


Lantas Jaiden pun mengangukkan kepalanya, dan bberjalan menuju Rena. Lalu memeluk Rena, dan menangis sejadi-jadinya.


...⚡⚡⚡...


Bagaimana dengan sekolah mu Kei?" Tanya Bram.


"it's okey Pa, Kei juga sudah merasa baikan" Jawab Keisha.


"Papa bersyukur soal itu, Papa sangat khawatir saat Mama mu memberitahu Papa soal apa yang terjadi di sekolah mu di Amerika. Apa kaki mu sekarang sudah baik-baik saja?" Tanya Bram khawatir.


Keisha mengetahui kalau Papanya itu sedang memiliki hubungan dengan seorang pengusaha cantik, dan beberapa kali juga kekasih Bram itu sering mengirimkan barang-barang mahal keluaran terbaru pada Keisha.


Riki juga mengetahuinya, dan Riki pun menyetujui hubungan keduanya dan tidak merasa keberatan jika dirinya harus memiliki Ibu baru.


"Baik-baik saja, apa kau sering berkomunikasi dengannya?" Tanya Bram.


Keisha pun terkekeh pelan, "Apa Papa penasaran?" Tanya Keisha.


"Kak Kei!" Teriak Riki dari luar sana.


Riki baru saja pulang dari rumah Jaiden, karena dirinya dan Sufa diminta untuk mengambil motor Jaiden yang ketinggalan di rumah sakit kemarin.


"Riki!" Sahut Keisha, lalu berlari pelan untuk memeluk Adik laki-lakinya itu.


Sungguh Keisha sangat merindukan Adiknya itu, begitupun dengan Riki. Mereka tidak pernah bertemu selain melakukan video call, sebenarnya Riki bisa saja datang ke Amerika bersama Jaiden dan Jaki.


Karena Jaiden dan Jaki setiap ada waktu libur, pasti datang menghampiri Keisha ke Amerika.


Sayangnya, Riki selalu menolak untuk ikut pergi bersama keduanya. Karena Riki tidak mau bertemu dengan Mama nya, yang sudah membuatnya dan meninggalkan dirinya.


"Apa kau akan menetap di Indonesia?!" Tanya Riki semangat.


"Tentu! Aku akan menetap disini! Aku akan menyelesaikan SMA ku disini!" Jelas Keisha.


"Serius?!" Sahut Riki semangat.


"Kau senang aku kembali?" Tanya Keisha terkekeh pelan.


"Tentu!" Jawab Riki.


"Kei, Riki Papa ada urusan di kantor. Kalau ada apa-apa telpon saja ya! Riki Papa ke kantor dulu ya," Pamit Bram.


Kedua Kakak beradik itu pun mengangguk. setelah Bram keluar dari rumah, Riki pun mengajak Keisha untuk duduk di sofa.


"Kak Kei, kau banyak hutang cerita padaku!" Ucap Riki.


"Kau juga ya! Kau memacari Adiknya Surya kan?!" Tanya Keisha memicing matanya curiga.


"Tidak! Itu Jovan! Yura pacaran dengan Jovan, aku hanya membantu Yura dan Jovan saja!" Sela Riki cepat.


"Ah begitu kah? Ku kira kau yang berpacaran dengan Yura, lalu kau suka dengan siapa?" Tanya Keisha menaik-turunkan alisnya.


"Tidak ada, tidak tertarik" Jelas Riki, "Bagaimana kau dengan Kak Jaiden?" Tanya Riki.


"Apa itu benar?" Tanya Keisha.


"Kau tidak menanyakannya padanya?" Tanya Riki balik.


Keisha pun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak sempat menanyakan itu, lagipula waktunya sedang tidak pas. Tidak mungkin kan aku menanyakan soal hubungannya dengan Thalia, disaat Jaiden sedang berduka?" Jelas Keisha sembari bertanya.


"Lalu kau sedang apa disini? Apa kau ingin kalah saing dengan Thalia? Sana temani Kak Jaiden, Thalia sedang dirumah Kak Jaiden" Jelas Riki.


"Huh?"


.


"Thalia sedang di rumah Kak Jaiden, dia sedang menemani Jaiden saat aku mengantar motor Kak Jaiden" Jelas Riki sekali lagi penuh penekanan.


"Ayo! Cepat antar aku kesana!" Pinta Keisha.