
Keira menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, "Jadi berhubung besok sudah pada sibuk untuk persiapan olimpiade. Dan setelah olimpiade Jaiden juga akan langsung berangkat ke luar negeri, bagaimana kalau malam ini menghabiskan waktu bersama di rumah sakit? Saran Keira.
"Ayo ayo saja," Sahut Surya yang sudah akur dengan Jaiden, dan seperti tidak terjadi apapun pada keduanya tadi malam.
"Iya ayo Kak," Sahut Sufa dan Jovan.
...⚡⚡⚡...
Kepala mu masih sakit tidak Kei?" Tanya Heri dan Keisha pun menggelengkan kepalanya.
"Bagus deh, kalau ada apa-apa bilang ga Kei!" Seru Jaki.
Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang inap Keisha, seusak mereka pulang sekolah mereka langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Keisha. Dan jam 9 malam mereka akan pulang, karena harus belajar untuk persiapan olimpiade besok.
"Wah tidak terasa kita 2 bulan lagu sudah kelas 12 ya," Ucap Keira.
"Dan kau belum dewasa dan selalu bertingkah seperti anak-anak!" Ledek Surya pada Keira.
"Ngaca ya!" Peringat Keira tak terima dikata seperti anak-anak oleh Surya.
"Hmm tapi sepertinya Kak Surya lebih dewasa tidak sih? Dari pada Kak Keira?" Ledek Riki.
"Riki! dukung saja aku kenapa sih?!" Gerutu Keira kesal dan membuat semuanya pun tertawa.
"Kak Kei bisa makan fasfood gak?" Tanya Jovan.
"Bisa kok, kau ingin memesan makanan ya?" Tanya Keisha semangat.
Jovan pun melirik Jaiden, "Bisa tidak Kak?" Tanya Jovan pada Jaiden. Takut kalau Keisha berbohong, Karana Jaiden yang berada di rumah sakit dari kemarin malam.
"Kata dokter boleh boleh saja kok, tidak ada pantangan makanan ataupun minuman. Cuma saran aku jangan minum yang soda-soda aja ya," Jawab Jaiden.
"Oke list! Aku yang traktir hari ini!" Ucap Jovan hingga membuat semuanya berseru semangat.
"Pizza! Hamburger!' Ucap Rafa semangat.
"Oh Lia?" Sapa Rena.
"Tante..." Ucap Lia terkejut dan takut, diri ya tidak menduga akan bertemu dengan Rena di rumah sakit dengan cara seperti ini.
Rena baru saja menjenguk Keisha, dan pamit untuk pulang setelah kedatangan teman-teman Jaiden untuk tidak menganggu quality time mereka. Apalagi mengigat kalah besok, Jaiden akan segera berangkat ke luar negeri.
"Lama tidak bertemu," Sapa Rena menatap Lia datar.
"Tante baru saja mengunjungi Keisha?" Tanya Rafa yang datang bersamaan bersama Lia.
"Rafa, Tante rasa Tante perlu bicara dengan istri sirih mu ini. Dia harus menjelaskan sesuatu pada Tante, Tante menunggu mu dan istri mu ini di Masion" Jelas Rena pada Rafa.
Rena pun berjalan mendekat pada Lia, "Kau masih ingat jalannya kan?" Tanya Rena lalu pergi begitu saja meninggalkan Lia dan Rafa.
Kaki Lia melemas saat kepergian Rena dari pandangannya,hingga Rafa membantu Lia untuk berdiri dan mengajak Lia untuk duduk di kursi tunggu yang terdapat di lorong rumah sakit itu.
Lia menarik nafasnya dalam-dalam berkali-kali, "Rafa aku takut.Bagaimana kalau Tante Rena melakukan sesuatu yang buruk pada Thalia? Hanya Thalia yang aku miliki, aku tidak ingin kehilangan anakku lagi..." Ucap Lia.
Lia pun menganggukkan kepalanya ragu-ragu, "Ayo kita harus melihat keadaan Thalia" Ajak Rafa bangkit dari duduknya dan Lia pun menurut.
Saat di perpotongan koridor,ia dan Rafa pun tidak sengaja bertemu dengan Shakila yang sepertinya hendak pulang.
"Oh kau sudah sampai Lia?" Sapa Shakila terdengar sinis dan menatap tidak suka pada Lia yang sedang mengandeng tangan Rafa.
"Hm," Jawab Lia bedehem.
"Rafa aku akan ke kantin, teman-temannya Keisha sedang mejenguk disana. Mereka juga sepertinya akan menginap disini malam ini," Jelas Shakila pamit dan Rafa pun menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menyusul," Ucap Rafa lalu berjalan melewati Shakila bersama Lia hingga membuat Shakila mengertakkan giginya, dan segera menuju ke kantin rumah sakit.
Sesampai di kantin rumah sakit, Shakila teringat akan ucapan yang di ucapkan suaminya tadi pagi. Shakila pun berpikir, bagaimana kalau nanti hasil tesnya keluar pikirnya.
Lalu bagaimana dengan nasibnya dan Keisha? Tidak mungkin dia akan kembali dengan Bram, bisnis keluarganya juga sudah hancur pikir Shakila sambil mengigit kukunya.
Lantas Shakila pun langsung mengotak-atik ponselnya, dan hendak memindahkan beberapa uangnya dan aset yang diberikan Rafa padanya ke rekening yang tidak di ketahui Rafa.
Kamar inap Thalia.
"Kau bicaralah dengannya, aku akan menyusul Shakila di kantin bawah rumah sakit" Ucap Rafa dan Lia pun mengangukkan kepalanya mengerti.
Lia pun berjalan pelan mendekat pada Thalia, dan mengusap rambut anaknya yang sedang tertidur itu dengan perasaan sayang. Lia tak kuasa menahan air matanya saat melihat kondisi putrinya saat ini, hingga air matanya pun sudah keluar begitu saja.
"Maaf kan Mama ya sayang? Karena Mama kau menjadi seperti ini," Ucap Lia sembari menghapus air matanya.
Thalia yang merasa tangan kanannya sedang di genggam oleh seseorang pun, membuka matanya perlahan dan ketika dirinya melihat siapa orang yang berada di hadapannya. Mata Thalia langsung membola, dan segera ingin memeluk wanita yang sedang berada di hadapannya saat ini.
"Mama..." Panggil Thalia bangkit dari tidurnya dan terduduk, lalu memeluk Lia dengan perasaan rindu teramat rindu.
"Mama Thalia takut.... Thalia takut.... Thalia sudah melukai keisha, Thalia takut...." Ucap Thalia berkali-kali sama seperti beberapa bulan yang lalu saat dirinya juga melukai eksuag hingga membuat kaki Keisha patah.
"Mama disini sayang, tidak ada yang perlu kau takut kan... Mama disini oke? Hm?" Ucap Lia mengusap lembut punggung putrinya, berusaha untuk menenangkan putrinya.
"Ma... sebentar" Ucap Thalia melepaskan pelukan Lia, hingga membuat Lia binggung.
"Kenapa sayang?" Tanya Lia.
"Mama... apa Papa sudah memberitahu Mama?" Tanya Thalia.
"Soal?" Tanya Lia.
"Ayah kandung ku," Jawab Thalia, hingga membuat Lia membuang wajahnya asal.
"Jadi itu benar?" tanya Thalia yang berusaha tidak percaya akan fakta sebenarnya, kalau Jaiden sebenarnya adalah adiknya.
"Maaf Mama terlambat memberi tahu mu soal ini," Ucap Lia menarik tangan Thalia untuk di genggamnya.
"Hingga membuat mu berantakan seperti ini, kau dan Jaiden memang tidak bisa bersama Thalia. Kau dan Jaiden adalah saudara kandung, kalian berdua adalah darah daging mendiang Juna" Jelas Lia pada Thalia dan merasa bersalah karena baru memberitahu Thalia.