
"Selamat atas pertunangan mu dengan Jaiden, aku senang mendengarnya. Ku harap kau bahagia dengannya," Ucap Surya engan menatap Keisha.
Keisha pun terkekeh pelan, "Hei ayolah. Aku dan Kak Jaiden tidak menikah. Kenapa kau mengatakannya seolah-olah aku akan segera menikah dengannya?" Tanya Keisha terkekeh geli.
"Terima kasih," Lanjut Keisha. "Kau tahu? Di satu sisi aku masih sangat bersalah pada Thalia, ku rasa hubungan ku dengannya memang tidak akan pernah membaik. Kami akan selalu seperti ini."
"Aku merasa menyesal pada Thalia, karena aku sudah berjanji padanya untuk melupakan Kak Jaiden. Tapi di satu sisi aku sangat senang, karena ternyata Kak Jaiden masih menyukai ku. Tapi... ah entahlah, bagaimana dengan mu?" Tanya Keisha.
"Aku bahagia, kalau orang aku sukai itu juga turut bahagia Keisha," Ucap Surya menatap mata Keisha dalam.
Keisha pun juga menatap Surya, hingga membuat Keisha diam seribu bahasa. "Boleh aku memeluk mu sebentar saja?" Tanya Surya.
"Tentu saja, kau bahkan selalu memelukku saat aku rapuh. Ayo sini!" Ucap Keisha merentangkan tangannya mempersilahkan Surya untuk masuk ke dalam pelukannya.
Surya pun tersenyum, dan menghambur ke pelukan Keisha.
"Maaf kan aku, aku tidak bisa membalas perasaan mu. Terima kasih, terima kasih untuk semuanya. Kau selalu ada untukku, kau sahabat yang terbaik yang ku miliki. Surya terima kasih," Ucap Keisha pada Surya dan Surya pun tersenyum tipis saat mendegar kata terkahir yang di ucapkan oleh Keisha.
Sahabat, tidak lebih.
"Hm, terima kasih juga, kalau Jaiden menyakiti mu aku siap 24/7 untuk menghajarnya" Jelas Surya dan Keisha pun mengangukkan kepalanya.
Srettt!
Jaiden baru saja menarik Keisha dari pelukan Surya, hingga membuat pelukan keduanya terlepas begitu saja. Keisha dan Surya pun sangat terkejut akan hal itu, dan keduanya panik saat melihat Jaiden datang dengan wajah yang memerah.
"Kak Jaiden..." Ucap Keisha terkejut saat Jaiden mengenggam tangannya erat.
"Surya maaf," Ucap Jaiden lalu pergi menarik Keisha untuk pergi dari rooftop itu.
Surya pun hanya bisa menatap keduanya pergi meninggalkannya disana.
"Kak Jaiden sakit!" Ucap Keisha menghempas tangan Jaiden, hingga membuat genggaman Jaiden terlepas.
"Maaf Kei..." Ucap Jaiden saat melihat Keisha memegangi tangannya sakit.
"Aku cemburu, aku tidak tahan melihat kau dan Surya berpelukan seperti itu" Ucap Jaiden tertunduk menyesali perbuatannya.
"Apa aku boleh membenci Kakak sebentar saja? Jangan berlebihan," Sahut Keisha lalu pergi meninggalkan Jaiden.
...⚡⚡⚡...
Thalia membuka matanya dengan perlahan, dirinya tahu pasti dimana dirinya berada saat ini. Sudah jelas ini rumah sakit, pikirnya.
Mata Thalia langsung berair, dirinya menangis sengugukan. Hingga membuat Rafa yang tertidur di sofa pun, menyadarinya kalau Thalia sudah bangun dan sedang menangis.
Rafa pun langsung menghampiri Thalia, "Hei sayang ada apa? Kenapa menangis? Ada yang sakit hm?" Tanya Rafa menghapus air mata Thalia dan mengusap kepala Thalia sayang.
Thalia tak bergeming, dan terus mengeluarkan air matanya. Hingga membuat Rafa sedikit panik, dengan segara Rafa langsung menekan tombol darurat yang berada di samping brangkar milik Thalia.
Dan masuk lah seorang dokter, dan beberapa perawat yang masuk ke dalam ruang inap Thalia. Dokter itu pun langsung memeriksa kondisi Thalia, hingga berakhir dengan mengangukkan kepalanya mengerti.
"Pasien sudah lebih baik dari sebelumnya, nanti kalau Bapak memiliki waktu luang. Segera temui saya di ruangan kerja saya, saya ingin membahas tentang kesehatan putri Bapak. Kalau begitu saya pamit dulu," Ucap dokter itu hingga menbuat Rafa bernapas lega.
"Syukurlah, baiklah terima kasih dokter. Sebentar lagi saja akan menyusul," Ucap Rafa tenang.
"Papa tidak akan membiarkan mu sendiri disini," Sahut Rafa.
"Papa tidak sayang pada Thalia dan Rio, Papa hanya sayang pada Keisha" Ucap Thalia tiba-tiba dan enggan untuk menatap Rafa.
Rafa pun langsung menarik wajah Thalia, untuk di genggamnya.
"Hei sayang maaf Papa ya? Papa sangat menyayangi mu, cepatlah sembuh hm? Kita akan menjemput Mama mu bersama di Amerika nanti oke?" Ucap Rafa berusaha untuk menenangkan anaknya.
"Papa tidak sedang berbohong kan?" Tanya Thalia.
Rafa pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak sayang. Papa tidak bohong sama sekali pada mu," Jawab Rafa
Thalia pun meneteskan air matanya lagi, karena perasaan bahagia yang sangat membuncah.
...⚡⚡⚡...
"Keira, aku dan Kak Jaiden akan bertunangan. Setelah olimpiade di laksanakan," Ucap Keisha menatap platfon kamar Keira.
"Sudah tahu deluan Kei," Ucap Keira santai sambil menatap ponselnya.
Keisha pun langsung menoleh pada Keira, "Kau sudah tahu?" Tanya Keisha heran. "Ah pasti dari Riki kan?" Tebak Keisha
"Yup, dia membuat grup hehe. Ah iya, bagaimana dengan Thalia? dia tidak sekolah tadi" Tanya Keira.
"Thalia tidak sekolah?" Tanya Keisha.
Keira pun mengangukkan kepalanya, "Keterangan absennya sakit. Apa kau sepemikiran dengan ku?" Tanya Keira.
"Hei tidak mungkin, tapi bisa jadi sih? Tapi masa iya sih?" Tanya Keisha tak yakin.
"Who know," Ucap Keira mengindikkan bahunya tidak tahu, "Bagaimana bisa kau dan Kak Jaiden tunangan?? Aku pena6, ayo ceritakan!" Tagih Keira.
Lantas Keisha pun menceritakan pada Keira bagiamana bisa dirinya berakhir bertunangan dengan Jaiden, dan Keira dapat menyimpulkan kalau keduanya bertunangan karena Thalia.
Dan menurut Keira, Keisha sepertinya terpaksa untuk melakukan itu.
"Wah jadi ini ceritanya kau mau tunangan dengan Jaiden karena Thalia? Wah apa kau sesayang itu pada sahabat mu itu?" Tanya Keira sedikit cemburu pada Thalia.
"Ra, bukan seperti itu. Ayolah, aku hanya merasa bersalah padanya. Kau tahu kan? Aku sudah merebut kebahagiannya, bahkan karena aku Thalia sekaluu di siksa oleh Papa secara mental dan fisik. Aku yakin, kau pasti tidak tahu kan?" Tanya Keisha.
"Soal?" Tanya Keira.
"Alasan kenapa Thhalai selalu memakai kaos kain panjang atau pun blazer saat di sekolah," Jawab Keisha.
Keira pun menggelengkan kepalanya tidak tahu, dan menunggu jawaban dari Keisha.
"Itu semua karena selfharm yang dia lakukan di tangannya, dan Papa tidak tahu soal itu" Ucap Keisha memejamkan matanya.
...⚡⚡⚡...
"Maaf Pak, untuk mengatakan ini. Saya rasa Thalia membutuhkan seorang psikiater ataupun psikolog. Mungkin Bapak sendiri belum menyadari soal ini, karena Bapak adalah seorang laki-laki. Saya mendapati beberapa luka goresan pada tubuh Thalia."
"Menurut saya itu adalah tindakan selfharm, hal ini terjadi karena putri Bapak tertekan akan sesuatu dan melukai dirinya sendiri secara terang-terangan atau diam-diam, tanpa berpikir karena sudah berada di ambang stress, depresi dan frustasi" Jelas dokter itu panjang lebar.