I Am Fine

I Am Fine
Ambigu?



Surya memicingkan matanya curiga pada Jaiden, "Ei sedang apa kau dan Thalia di rooftop hm?" Tanya Surya menaik-turunkan alisnya.


"Ck, apa sih?! Berhenti menatap ku seperti itu! Ngapain juga kalian disini?" Tanya Jaiden mengalihkan pembicaraan.


"Hanya ingin menghampiri mu saja" Sahut Surya santai, lalu ikut duduk di sebelah Jaiden.


"Hah ngapain?" Tanya Jaiden.


"Ya kau pikir saja, aku dan Surya sangat kaget tadi. Saat melihat mu sedang mengendong seorang gadis, ku pikir tadi itu Keira. Astaga it's legend Jaiden it's legend, wah!" Ucap Heri tak percaya.


"Kak Heri?!"


"Astaga, sepertinya aku harus pergi dulu bye!" Ucap Heri langsung lari untuk melarikan diri.


"Kak Heri! Kau mau kemana?! Tanggung jawab hei!" Teriak anak perempuan itu menyusul Heri untuk mengejarnya.


"Tanggung jawab?" Tanya Jaiden melirik Surya meminta penjelasan.


"Apa jangan-jangan..." Ucap Surya menduga-duga.


"Ck, jangan mengada-ada! Kalau iya pun Heri tak akan sebodoh itu melakukannya! Dia pasti menggunakan pengaman!" Sela Jaiden.


"Loh Kak Jaiden dan Kak Surya sedang apa disini? Siapa yang sakit?" Tanya Riki yang kebetulan saja lewat di depan UKS.


"Ah ini Jaiden," Ucap Surya terpotong.


"Surya tadi cari minyak angin, perutnya sakit" Sahut Jaiden santai.


"Lah apa apaan?" Batin Surya menatap Jaiden heran dan ingin memakan Jaiden hidup-hidup saat itu juga.


"Astaga seperti perempuan saja! Ya sudah Riki pamit ya, mau masuk" Ucap Riki.


"Oke bye!" Ucap Jaiden.


"Belajar yang benar!" Ucap surya.


"Ck, seperti kau belajar yang benar saja" Ejek Jaiden.


Setelah kepergian Riki, Surya pun langsung menyenggol lengan Jaiden.


"Kenapa kau berbohong padanya? Karena dia Adik Keisha, dan kau tak ingin dia memberitahu pada Kei?" Tanya Surya.


Jaiden pun hanya mengindikkan bahunya saja, lalu pergi meninggalkan Surya. Hingga membuat Surya mendengus kesal pada Jaiden.


"Hei mau kemana?!" Tanya Surya.


"Ke kelas ku!" Balas Jaiden sambil berteriak.


...⚡⚡⚡...


"Eh Keira? sudah lama ya tidak main ke rumah," Ucap Haura Mama Jaki.


Keira pun menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, "Hehe iya tante, Jaki nya ada?" Tanya Keira.


"Ada kok, Jaki di kamarnya. Masuk aja Kei, Tante mau ke kantor dulu ya!" Ucap Haura ramah pada Keira.


"Oke Tante, hati-hati di jalan ya Tan..." Sahut Keira.


"Iya makasih ya, nanti Kei makan malam disini saja ya Kei. Nanti Tante yang meminta izin pada Papa dan Mama mu" Ucap Haura.


"Iya Tante..." Sahut Keira.


Keira pun langsung masuk ke dalam rumah Jaki, setelah Haura pergi dari hadapannya.


Keira melangkahkan kakinya satu demi persatu, untuk masuk ke dalam rumah Jaki. Keira langsung saja berjalan ke kamarnya Jaki, awalnya Keira ingin masuk begitu saja ke dalam kamar Jaki.


Namun Keira mengingat, kalau mereka saat ini bukan lah anak kecil lagi. Dan alangkah baiknya, Keira pun mengetuk pintu kamar Jaki.


Tok tok tok!


Tidak ada jawaban.


Tok tok tok!


"Masuk aja!" Teriak Jaki dari dalam kamarnya.


Keira pun memutar kenop pintu kamar Jaki, dan mendapati Jaki yang sedang bermain game di ponselnya.


"Eh?" Ucap Jaki terkejut saat melihat Keira, karena pikirnya tadi itu adalah Mama nya atau Asisten rumah tangganya.


"Kei? Ada apa?" Tanya Jaki.


Keira menggelengkan kepalanya dan ikut duduk disebelah Jaki, "Aku bosan... aku bosan di rumah" Ucap Keira.


Jaki pun hanya mengangguk-angguk kepalanya saja, dan kembali melanjutkan permainan gamenya di ponsel.


"Ck, malah makin membosankan melihat mu bermain ini terus-terusan!" Ucap Keira lalu mengambil paksa ponsel Jaki.


"Hei Kei! Astaga jangan! sedikit lagi aku menang, ayo cepat kembalikan!" Protes Jaki kesal pada Keira.


Tapi Keira tidak memberikannya, bahkan Keira menyimpan ponsel Jaki di belakangnya.


"Kei kembalikan!" Kesal Jaki.


"Tidak! Aku kesini bukan untuk melihat mu bermain game!" Balas Keira.


"Ck, ayo berikan padaku!" Pinta Jaki sembari mencoba mengambil alih ponselnya yang berada di tangan Keira.


Keduanya pun berakhir dengan saling kejar-kejaran di dalam kamar Jaki yang luas itu, "Hahahaha ambil saja kalau bisa wleee!" Ejek Keira pada Jaki.


"Ck, awas saja ya kau Kei!" Ucap Jaki kesal.


Keira pun semakin menyembunyikan ponsel Jaki, di saat Jaki berusaha untuk mendapatkan ponselnya.


Dan


Brakh!


Keduanya pun terjatuh di atas kasur Jaki, dengan posisi yang sangat ambigu jika di lihat. Dimana Jaki berada di atas Keira, dan Keira berada di bawahnya.


Keira juga dapat merasakan dengan jelas deru nafas Jaki yang ngos-ngosan, karena lelah mengejar dirinya. Bahkan jarak keduanya sangat dekat, hidung Jaki dan Keira juga tidak sengaja saling bersentuhan satu sama lain.


"Cantik" Gumam Jaki yang dapat terdengar jelas di kuping Keira, hingga membuat wajah Keira menjadi merah padam karena salah tingkah pada Jaki.


Namun atensi keduanya teralihkan, saat pintu kamar Jaki yang terbuka tiba-tiba.


Ceklek


"Ups... Maaf, lanjutkan" Ucap Jaiden lalu menutup kembali pintu kamar Jaki pelan-pelan.


"Astaga... kenapa aku malah keluar?? Seharunya aku marah, Jaki berbuat seperti itu pada Keira!" Monolog Jaiden sendiri.


Lantas Jaiden pun berbalik badan lagi dan membuka pintu kamar Jaki, "Hei!" Teriak Jaiden pada keduanya.


Keira dan Jaki pun ditatap dengan perasaan curiga oleh Jaiden, Keira dan Jaki juga merasa canggung. Jaiden menyadarinya.


Keira dan Jaki sedikit bersyukur kalau yang melihat posisi mereka yang ambigu tadi itu bukan Sufa, Surya atau pun Heri. Karena kalau ketiga semprul itu yang melihatnya, sudah di pastikan mulutnya akan ember kemana-mana.


Dan berita yang tidak ada, bisa di ada-adakan ketiga manusia itu.


Berbeda dengan Jaiden, jika tidak di tanyai. Jaiden tidak akan menjawabnya,walaupun begitu harus waspada dengan Jaiden.


"Jek sedang apa kau tadi dengan Keira? Apa kau tidak tahu batasan berteman?" Tanya Jaiden menyindir Jaki.


Karena Jaiden berpikir, kalau Jaki sedang memanfaatkan perasaan Keira padanya.


"Apa Jaiden tahu aku menyukai Jaki? Apa itu terlihat jelas?" Batin Keira.


Jaiden sengaja mengatakan itu pada Jaki, karena Jaiden hendak menyadarkan Jaki. Jaiden ingat sekali dengan perkataan Jaki beberapa waktu yang lalu, kalau Jaki hanya menganggap Keira seperti adiknya saja tidak lebih dari itu.


Bukankah seharusnya Jaki tahu batasannya dengan orang yang di anggapnya seperti Adiknya sendiri? Pikir Jaiden.


"Tidak, itu tidak seperti yang kau pikirkan" Jelas Jaki.


"Iya Jaki benar Jai, tadi Jaki mau mengambil ponselnya. Karena aku merebutnya, aku kesal dia bermain game dan mengabaikan ku" Jelas Keira.


Jaiden pun memicingkan matanya, "Ah benarkah?" Tanya Jaiden menatap keduanya bergantian.


"Iya benar!" Ucap Keira dengan nada yang sedikit meninggi.


Jaiden pun melipat kedua tangannya di depan dadanya, "Baik lah aku percaya, lain kali kalau ingin berbuat seperti itu. Kunci dulu kamarnya" Ucap Jaiden terkekeh.


"Ish kan aku sudah bilang, itu tadi tidak sengaja!" Kesal Keira pada Jaiden.


"Hahaha iya iya Kei... "Kekeh Jaiden.