
"Berani sekalii kau menumpahi pakaian sekolah anak dari Keluarga Renandra hah?!" Bentak Rafa pada Thalia.
"Pa... maaf... ampun Pa" Ucap Thalia sambil menangis dan memohon pada Rafa.
"Tidak! Kau akan Papa hukum!" Ucap Rafa lalu menyeret Thalia secara paksa.
Namun kegiatannya itu terhenti, karena ponsel Rafa baru saja berdering. Rafa pun mendorong kasar Thalia hingga tersungkur di atas lantai, Rafa pun meraih ponsel genggamnya yang berada di dalam kantong sakunya.
"..."
"Iya sayang, aku akan menempatinya ya! Kau tenang saja oke?" Balas Rafa di telepon.
"..."
"Iya, kau tunggu lah sebentar"
"..."
"Hm aku tutup ya! I love you..." Ucap Rafa lalu mengakhiri telepon tersebut.
Rafa pun berjalan mendekati Thalia, "Kau berruntung hari ini! Lain kali jangan permalukan aku! Menjijikan!" Ucap Rafa pergi meninggalkan Thalia anak tirinya tersebut.
Thalia pun menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan itu, Thalia mengetahuinya. Kalau Papa tirinya itu sedang menjalin kasih dengan seorang wanita.
Dan itulah yang membuat Thalia membuly anak dari wanita selingkuhan Papanya tersebut, kebetulan keduanya juga berada di sekolah yang sama saat itu.
Awalnya Thalia, Yuna dan anak dari selingkuhan Papanya itu berteman dengan baik. Ketiganya cukup akrab dan berada di kelas yang sama, dan juga kebetulan ketiganya ini berasal dari negara yang sama.
Namun persahabatan itu pupus saat keduanya mengetahui, kalau teryata Papa dari Thalia ini selingkuh dengan Mama dari temannya.
Dari situlah Thalia memulai aksinya, untuk menyakiti temannya itu. Sebagaimana Papa tirinya menyakiti Mama dan dirinya, baik secara langsung dan tidak langsung.
Bahkan Papa tirinya itu berubah drastis, saat Thalia menceritakan pada Mamanya kalau Papanya itu memiliki hubungan gelap dengan wanita lain.
Karena sebelum Thalia menceritakan hubungan gelap Papanya, Rafa adalah seorang Ayah yang penyayang pada keluarganya.
Rafa juga membuat keluarganya dan Thalimerasa aman di dekatnya, karena Rafa selalu memperlakukan Thalia sepeti anak kandungnya sendiri.
Namun sekarang sudah tidak, Rafa sudah berubah menjadi seorang pemimpin keluarga yang kasar. Rafa juga suka memukul serta menyiksa Thalia dan Mamanya.
Kecuali Adik perempuan Thalia, yaitu anak kandung Rafa dari rahim Mama Thalia.
Saat ini, Mama dan Adik perempuannya sedang berada di Amerika.
Hanya dirinya saja lah yang di asingkan ke Indonesia oleh Rafa, walaupun terkadang Rafa juga sering berada di Indonesia karena urusan perkerjaan. Dan Rafa akan kembali ke Amerika lagi setelah urusannya selesai.
...⚡⚡⚡...
"Jaiden!" Panggil Raka.
Jaiden pun menoleh sumber suara dan mendapati Raka, "Ada apa?" Tanya Jaiden.
"Nanti malam kau akan datang kan?" Tanya Raka.
"Kali ini apa?" Tanya Jaiden.
"Vila Edward di Bandung," Sahut Jaka.
"Tidak tertarik, kau ajak yang lain saja" Ucap Jaiden lalu pergi meninggalkan Raka begitu saja.
"Hei apa katanya?" Tanya Heri sambil merangkul pundak Jaiden.
"Balapan, taruhannya Vila Edward di Bandung" Sahut Jaiden sambil melepaskan tangan Heri dari pundaknya, karena berat.
Heri pun hanya menjawab dengan ber oh ria saja.
"Kau kenapa ke area anak IPA?" Tanya Jaiden binggung, karena Heri adalah anak IPS.
"Hehe aku hanya ingin mengantar teman ku saja!" Sahut Heri dengan cengiran kudanya.
Heri pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Ketahuan ya? Hahaha um... Fia, temannya Keira" Jawab Heri jujur.
"Kau menyukainya?" Tanya Jaiden, "Sebaiknya jangan kalau kau hanya untuk bermain-main saja, lebih baik kau bersama Karin saja jika ingin bermain" Sahut Jaiden menggoda Heri.
PLAK
Heri pun memukul kepala Jaiden, karena dirinya merasa kesal.
"Hei!" Pekik Jaiden.
"Mulut mu itu di filter, ah aku malas berdebat" Ucap Heri lalu berjalan lebih dahulu dari Jaiden.
Jaiden pun hanya mendegus kesal saja, lalu berjalan menuju kelasnya.
Sepanjang koridor menuju kelasnya, Jaiden selalu menjadi pusat perhatian dari kalangan siswa maupun siswi disekolahnya.
Hal itu tentu saja karena ketampanannya, ah iya jangan lupakan juga kalau Jaiden ini adalah satu-satunya pewaris di keluarga Renandra.
Hingga tak jarang banyak gadis-gadis yang mendekatinya, karena uang.
"Jaiden!" Panggil salah satu siswi tersebut.
Jaiden pun hanya menatap datar, karena gadis itu sudah tepat dan berdiri di hadapannya. Jadi mau tidak mau, Jaiden pun terpaksa berhenti untuk berjalan.
"Ini" Ucap Gadis itu tertunduk, sambil memberikan Jaiden sebuah kotak bekal untuk makan siang.
Jaiden pun berpikir dan menatap bekal tersebut, Jaiden berpikir kalau makanan itu tidak di ambil olehnya. Pasti itu sangat memalukan untuk gadis ini, karena dirinya dan Cecila sedang menjadi pusat perhatian banyak orang.
Jaiden pun terpaksa untuk mengambil bekal tersebut, "Hm makasih," Ucap Jaiden lalu pergi meninggalkan gadis itu begitu saja.
Gadis itu bernama Cecila Widytriama, Cecila adalah salah satu penggemar berat Jaiden disekolah. Bahkan Cecil sering menghabiskan waktunya untuk mengikuti Jaiden kemanapun, dan mencari tahu tentang kehidupan pribadi Jaiden.
"Aaaaaaaaaaa!" Ucap Cecil berteriak senang.
Karena baru kali ini Jaiden mau menerima bekal darinya, Jaiden selalu saja menolak apa pun itu yang di berikan Cecil pada Jaiden.
Entah apa yang merasuki Jaiden hingga mengambil bekal dari gadis itu.
Jaiden pun masuk ke dalam kelasnya, "Untuk mu" Ucap Jaiden lalu memberikan bekal tersebut ke asal orang, yang bahkan Jaiden sendiri pun tidak tahu siapa orang itu.
Karena Jaiden hanya menatap lurus kedepan.
Dan Boom!
Apa kalian mengetahuinya? Jaiden memberikan bekal itu pada Thalia.
Jelas sekali, Thalia sangat terkejut terutama siswa-siswi yang berada di dalam kelas. Ah iya, bahkan Keira, Jaki, dan Fia terlihat sangat binggung.
Tak jarang juga, teman-teman sekelasnya juga berbisik-bisik tentang Thalia. Karena mereka merasa iri pada Thalia, terutama Fia.
"Hei ada apa dengan mu?" Tanya Jaki binggung pada Jaiden.
Keira pun ikut menyusul ke meja Jaiden, diikuti oleh Fia karena dirinya merasa penasaran dengan sikap pujaan hatinya barusan pada siswi baru itu.
"Apanya?" Tanya Jaiden berbalik.
"Kau memberikannya bekal mu? Dan kau juga tumben sekali membawa bekal? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Keira penasaran sambil berbisik.
Biasa lah, Keira akan banyak bertanya. Karena perihal ini akan di jadikannya bahan gosipnya nanti. Keira juga akan berkelana ke kelas lain untuk menyebarkan gosip yang menurutnya perlu di gosipkannya, kecuali itu yang menyangkut hal pribadi teman-temannya.
Itulah Keira, Kiera tidak akan memberik informasi pada orang lain tentang kehidupan pribadi teman-temannya. Karena itu menurutnya adalah privasi, bahkan Keira juga tidak memberitahu Fia informasi yang di tanyakan Fia tentang Jaiden.
Oke selesai sampai disini untuk bercerita tentang Keira, lanjut ke Jaiden.
Jaiden pun mencari kepada siapa dirinya memberikan bekal yang di berikan oleh Cecila tadi. Karena dirinya hanya memberikan bekal ke asal orang saja, yang berada di depan pintu.
"Memangnya aku beri kepada siapa tadi? Aku tidak melihatnya?" Tanya Jaiden.