
...Matahari dalam hidupku kini telah datang awan gelap pun perlahan menghilang...
...°°°...
Setelah mempertimbangkan dengan hati-hati akhirnya greysel setuju untuk menemui ridho.
Kebetulan juga memang hari ini greysel ingin pergi ke suatu tempat jadi kenapa tidak sekalian saja.
Kini greysel tengah berdiri di depan gerbang sekolah karena greysel tidak ingin ada yang melihat jadi greysel memutuskan untuk menunggu di sana.
Greysel terus menunggu ridho sampai-sampai kakinya mati rasa saking kelamaan berdiri.
Tin_tinn
Mendengar bunyi klakson greysel spontan menoleh kebelakang dan di sanalah dia, sosok yang sedari tadi ia tunggu.
"Sorry ya lama gw ke kantor guru dulu tadi" jelas ridho
"It's ok" jawab Greysel santai
"Yaudah cepetan naek"
Tanpa pikir panjang greysel naik lagi pula sekolah sudah lumayan sepi jadi greysel tidak khawatir ada yang lihat.
Mereka hanya membutuhkan waktu beberapa menit ke tempat tujuan.
Setelah selesai mereka berdua mampir ke cave terlebih dahulu sebenarnya ini permintaan ridho tapi berhubung greysel belum makan jadi ia setuju saja
'Bosen' satu kata yang mendeskripsikan Susana saat ini, karena dari tadi kami sibuk dengan lamunan masing-masing.
Ridho yang menyadari raut wajah greysel yang menunjukan tanda-tanda kebosanan mulai memutar otak, agar dapat memecahkan suasana yang membosankan ini.
"Gimana kalo kita main kata? Dari pada bosen gak ngapa-ngapain" Usul ridho
Greysel yang kebingungan mengerutkan keningnya "Maksudnya?"
"Emm_ gimana ya, cara jelasin nya?" Ridho jadi ikut bingung juga bagaimana cara menjelaskan nya
"Lo mulai aja dulu nanti kalo gue faham gue lanjutin" ujar Greysel
"Misalnya kaya gini, Lo beri gue satu kata, apa aja"
"Seseorang yang bisa menjadi pelangi dalam hidup sekaligus menjadi badai"
"Ngerti kan? Sekarang giliran gw, pacaran"
greysel mau tak mau memutar otak nya mencari jawaban yang menurut nya masuk akal "suatu keadaan berisi berbagai macam perasaan yang melelahkan" ujar nya lugas
kemudian gilirannya "pacaran" ia mengembalikan pertanyaan itu kepada ridho
"Dua orang yang saling percaya dalam segala keadaan" Sepertinya jawaban yang di berikan ridho secara tidak langsung menyindir gyersel.
"Keluarga" kali ini giliran ridho
Wajah greysel yang awalnya senang berubah sendu, sebenernya ia pun tidak tau bagaimana mendeskripsikan nya.
Ridho yang menyadari hal itu lantas buru-buru ingin menyela " kalo___
"Terkadang bisa menjadi mentari terkadang juga bisa menjadi duri" jawab greysel "kalo Lo?"
"Gw jadi bingung mau jawab apa" ada rasa tidak enak saat bicara seperti itu pada greysel, padahal jelas-jelas dia sendiri yang memberi pertanyaan itu!
"Gak papa jawab aja lagi"
lagipula gak semua keluarga serumit keluarga ku, jadi ya sudahlah.
"Sebagai obat yang mengobati penyakit juga sebagai penyakit tersebut"
Jawaban ridho terlalu ambigu greysel sampai tidak faham apa maksud dari kata-kata nya itu.
"Ah udah lah lupain, udah sore sebaiknya kita pulang sekarang" ujar ridho sambil mengibaskan tangannya
"Iyah"
"Makasih atas waktunya" ujar greysel tidak terlalu kencang
Ridho yang memakai helm plus angin kencang membuat suara greysel tidak dapat di dengar ridho.
...jika ku pertahankan apa akan sejalan dengan pemikiran, jika ya_maka ku lakukan jika tidak mungkin akan ku lepaskan, karena melepaskan lebih sulit dari mempertahankan....
...~fine~...