I Am Fine

I Am Fine
121



"Aku tidak tahu Kak, tapi ku rasa ini lebih baik untuk mu dan Kak Jaiden bukan? Dan juga Kak Thalia," Jelas Riki.


"Aku rasa Thalia akan membenci ku lagi Ki, aku yakin Thalia pasti tidak mau berteman dengan ku lagi. Jangankan untuk berteman, pasti dia juga tidak ingin melihatku. Aku harus bagaimana? Hiks..." Isak Keisha.


Everything will be okay, you have me" Ucap Riki sambil membawa Keisha ke dalam pelukannya dan mengusap rambut Keisha.


"Keisha? Riki?" Ucap Bram melihat kedua anaknya sedang berada di rumah, dan berpelukan.


"Sesuatu terjadi?" Pikir Bram terkejut, karena mendengar suara isakan tangis Keisha dari dalam rumah saat dirinya baru saja pulang dari kantor.


"Hei sayang? Ada apa? Kenapa? Apa ada yang menyakiti mu hm?" Tanya Bram khawatir sambil memegangi wajah Keisha khawatir.


"Papa hiks..." Ucap Keisha terisak.


"Hm? Kenapa Kei? Ada yang sakit?" Tanya Bram untuk memastikan Keisha baik-baik saja dan tidak terluka barang sedikit pun itu.


Keisha pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Pa... bisa papa jangan bertanya dulu? Hiks... Kei akan semakin menangis kalau Papa bertanya pada Kei..." Isak Keisha pada Bram.


Bram pun menghela nafasnya kasar, dan membawa Keisha ke dalam dekapannya. "Baiklah Papa tidak akan bertanya, sebelum Kei cerita pada Papa. Tenangkan saja diri mu dulu oke?" Ujar Bram dan Keisha pun mengangukkan kepalanya di dalam pelukan Bram.


Setelah beberapa menit, Bram tidak lagi mendengar isakan dari putri kesayangannya itu. Lantas Bram meminta Riki, untuk mengecek apakah Keisha tertidur atau tidak.


"Tidur Pa," Ucap Riki.


"Ya sudah ayo kita bawa ke kamarnya," Ucap Bram mengangkat tubuh Keisha.


Walaupun sudah tua, Bram masih kuat untuk sekedar mengangkat Keisha. Lantas Bram pun mengendong Keisha dengan cara bridal style, dan menaiki satu persatu anak tangga.


"Papa masih kuat kan?" Tanya Riki menggoda Bram.


"Jangan anggap Papa remeh ya!" Sahut Bram.


"Hehehe, soalnya kan Kak Kei berat Pa" Ucap Riki cengar-cengir.


Lalu Bram membawa Keisha ke kamar, kamar lama yang dulu di tempati oleh Keisha saat sebelum Keisha pergi ke Amerika.


"Cepat buka pintunya!" Pinta Bram pada Riki.


Riki pun menurut, dan membukakan pintu kamar Keisha.


Lantas Bram pun meletakkan tubuh Keisha dengan hati-hati, ayo keluar! Jangan ganggu Kakak mu," Ucap Bram pada Riki dan Riki pun menurut.


Lantas keduanya pun turun ke lantai bawah, dan duduk di sofa.


"Kenapa Ki? Kenapa Kakak mu menangis? Kau pasti tahu sesuatu kan?" Tanya Bram dengan tatapan menyelidik anaknya.


"Kalau aku berbohong pasti percuma, Papa tahu kalau aku bohong akan seperti apa" Ucap Riki dalam hati.


"Kak Jaiden mengajak Kak Kei tunangan Pa," Ucapnya santai.


"Hah? Terus? Kenapa nangis? Bukannya harusnya Keisha senang?" Tanya Bram binggung.


"Ck, Papa gak ngerti. Masalah anak muda," Jelas Riki.


"Keisha dan Jaiden sedang berantam?" Tanya Bram lagi.


"Papa udah seperti ibu-ibu saja, banyak tanya. Kalau di bilang berantam tidak sih Pa, hanya saling tidak tegur sapa saja dan saling menghindar."


"Udah deh, percuma Riki jelasin. Papa tidak akan mengerti masalah anak muda zaman sekarang," Jelas Riki santai.


"Ck, kau saja yang menjelaskannya belibet! Jadi bagaimana? Keisha mau?" Tanya Bram lagi dan lagi.


"Ya begitulah, Papa baru pulang kantor ya?" Tanya Riki mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Papa mau menelepon Mama mu dulu. Mau kasih tahu kalau Keisha ada disini," Pamit Bram bangkit dari duduknya.


"Ingat Pa, Papa udah punya calon istri ya!" Teriak Riki memperingatkan Papanya yang menjauh darinya hanya untuk menelepon Mamanya.


"Jangan ngawur ya Riki!" Sahut Bram.


"Halo?" Jawab Shakila.


"Halo? Shakila ini aku Bram, Kesiha ada di rumah. Mungkin dia akan menginap, dia ketiduran" Jelas Bram.


"Ah iya? Kenapa bisa? Apa perlu aku jemput?" Tanya Shakila.


"Jangan, dia menangis tadi" Jelas Bram.


"Menangis?" Tanya Shakila mengerutkan keningnya.


"Hm, Jaiden mengajaknya untuk bertunangan" Jawab Bram.


"Apa?! Jaiden Renandra maksud mu?! Kau serius?!" Tanya Shakila dengan perasaan senang.


"Hm, aku tutup. Keisha akan ku antar besok, biarkan dia menginap disini" Ucap Bram lalu menutup panggilan sepihak.


Nice!" Ucap Shakila semangat.


Lantas Shakila pun buru-buru untuk menelepon orang suruhannya, dan orang suruhannya itu langsung mengangkat telepon dari Shakila.


"Kalo? Hei kau dimana? Kau sudah menjemputnya?" Tanya Shakila.


"Sudah, aku juga sudah membiusnya. Dan sekarang dia sedang berada di hotel bersama ku, ada apa? Aku tinggal melakukan pemanasan lalu bermain dengannya," Ucap Pria itu terkekeh pelan.


"Jangan! Jangan sekarang!" Perintah Shakila.


"Kenapa? Aku sudah di ambang," Ucap pria itu terpotong.


"ku bilang jangan sekarang, ya jangan sekarang! Kau tenang saja, kau akan mendapatkannya! Kita tidak boleh gegabah, sekarang cepat tinggalkan hotel sebelum dia bangun," Ujar Shakila.


"Ah begitu kah? Kalau Nyonya mau begitu, saya akan melakukannya. Tapi saya akan tetap mendapatkannya kan?" Tanya pria itu.


"Tentu, kau pasti akan mendapatkannya" Ucap Shakila tersenyum miring.


"Apa? Siapa yang akan mendapatkan apa?" Tanya Rafa di belakang Shakila.


Shakila pun membelalakkan matanya terkejut, "Huh? Ah ini teman ku. Dia takut untuk tidak mendapatkan tas Gu**i terbaru," Ucap Shakila bohong.


"Sebentar ya, nanti kita sambung" Ucap Shakila mematikan telepon itu sepihak.


"Ah benarkah?" Tanya Rafa kurang percaya. "Teman mu yang mana?" Tanyanya lagi.


"Aera, ya Aera ingin membeli tas Gu**i dan dia takut kehabisan karena itu barang limited edition. Makanya aku mengatakan padanya dia pasti akan mendapatkannya," Ujar Shakila.


"Baiklah, dimana Keisha? Sudah pulang?" Tanya Rafa.


"Keisha masih ingin menginap di rumah Keira, katanya mereka ada tugas kelompok" Ucap Shakila bohong.


"Iyakah?" Tanya Rafa, "Tadi Tante Rena menghubungi ku," Ucap Rafa.


...⚡⚡⚡...


"Oh Tuan Muda?" Ucap pelayan itu terkejut, saat melihat Jaiden yang tiba-tiba datang ke Masion.


Karena biasanya, Jaiden pasti akan memberi tahu orang rumah terlebih dahulu kalau dirinya akan pulang ke Masion. Dan meminta seorang pelayan, untuk membersihkan kamar Daddy nya.


Namun kali ini tidak, tidak ada seorang pun yang tahu kalau Jaiden pulang.


Bahkan tidak ada yang membukakan pintu rumah untuknya, "Nenek dan Kakek sudah berangkat?" Tanya Jaiden.


"Belum Tuan muda, Tuan dan Nyonya akan berangkat ke bandara sekitar 30 menit lagi" Jawab pelayan itu melirik jam dinding.


"Sekarang Kakek dan Nenek dimana?" Tanya Jaiden terlihat buru-buru


"Di balkon atas luar Tuan muda," Jawab pelayan itu lagi.