
Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.
"Mba saya ingin nelihat kalung yang ini," Tunjuk Jaiden pasa sebuah kalung dengan liontin yang berbentuk love knot.
Liontin love knot itu memiliki makna simpul pada cinta yang tak akan lekang dimakan oleh waktu, lebih spesifiknya liontin itu melambangkan cinta yang abadi.
Lantas pelayan toko perhiasan itu mengambil kalung itu, dan mengeluarkannya dari tempat berkaca itu.
Jaiden pun mengambil alih kalung itu, dan memperhatikan setiap sudut dari kalung itu. Hingga tak sengaja senyum tipis merekah di wajahnya, terbayang di pikirannya pada orang yang akan diberikannya kalung tersebut.
"Saya ambil ini ya Mba, dan yang ini" Ucap Jaiden saat memilih kalung yang berbentuk kupu-kupu bewarna biru.
Kalung dengan liontin kupu-kupu bewarna biru itu, melambangkan kebebasan dan juga mimpi. Liontin kupu-kupu ini juga menggambarkan pemiliknya sebagai orang yang mudah untuk bergaul dengan siapapun, hingga membuat orang yang berada disekitarnya merasa nyaman.
Setelah pelayan toko itu membungkusnya dengan rapi, lalu pelayan itu memberikannya pada Jaiden. Setelahnya, Jaiden pun langsung memberikan kartu kreditnya pada pelayan itu.
Sekaya apa dia? Pikir pelayan itu, karena Jaiden bahkan tidak menanyakan terlebih dahulu berapa harga dari kedua kalung yang dibelinya tadi.
Karena harga kalung itu sangatlah fantastis untuk seorang siswa SMA seusia Jaiden, harga dari kalung berbentuk liontin love knot adalah seharga Rp. 18.455.000. Dan sedangkan harga kalung yang berbentuk liontin kupu-kupu, seharga Rp. 19.877.500.
Bukankah itu sangat gila? Saat kau mengetahui anak yang masih berseragam SMA datang ke toko perhiasan dan membeli perhiasan semahal itu? Pikir pelayan itu lagi.
...⚡⚡⚡...
...Room chat...
Thalia :
*Mengirim pesan suara*
read
Keisha mengerutkan dahinya binggung, saat dirinya mendapatkan pesan aneh dari saudara tirinya itu. Karena sebenarnya mereka tidak pernah bertukar pesan dengan mengirim pesan suara seperti itu, mereka hanya bertukar pesan jika ada suatu hal yang penting saja.
Keduanya tidak pernah akur lagi, setelah kejadian yang mereka alami beberapa waktu lalu.
Isi pesan suara itu :
"Jaiden apa aku boleh bertanya?"
"Anything, mau menanyakan apa?"
"Untuk apa anak ini mengirimkan aku pesan suara seperti ini? Apa dia pikir aku akan cemburu hah?!" Guman Keisha kesal di dalam kamarnya.
"Maaf untuk menanyakan ini, apa hubungan mu dengan Keisha?"
"Teman."
Deg!
Rasanya sakit sekali saat kata 'teman' itu dengan gampangnya keluar dari buah bibir Jaiden.
Segelut pertanyaan pun mulai menghantui pikiran Keisha, bahkan Keisha sudah benar-benar merasa kesal dan tak dapat menahan air matanya.
"Apa Kak Jaiden sudah melupakan janjinya? Dia melupakan perasaan ku padanya? Dia sudah jatuh cinta pada Thalia? Apa aku terlambat datang? Apa aku hanya... teman untuknya? Tidak lebih? Lalu?" Pikir Keisha.
"Lalu bagaimana dengan ku? Hubungan kita apa?"
"Sangat tidak spesial jika aku mengungkapkan perasaan ku di tempat seperti ini dengan mu, mau makan malam bersama nanti?"
"*Jaiden aku tidak membutuhkan hal-hal seperti itu, apa kau akan mengajak ku ke restoran mewah? Aku tidak akan pergi, bagaimana dengan taman yang berada di dekat rumah mu saja?"
"Ya sudah, nanti aku jemput*."
Ting!
...Room Chat...
Thalia :
Bagaimana?
Kau sudah mendengarnya kan?
Ku harap kau tidak perlu lagi berharap lebih pada Jaiden
Aku sudah berhasil membuatnya beralih padaku
Kau datang ya?
Kau tahu kan alamatnya dimana Keisha Sandika?
read
Keisha hanya membaca pesan itu, air matanya tiada hentinya terus mengalir tanpa mengeluarkan isakan tangis.
Ah sangat menyebalkan sekali, pikirnya.
Jangan lupakan soal ini, tentu saja Thalia juga mengedit pesan suara itu. Ada beberapa bagian yang dipotong olehnya, Thalia memang benar-benar seniat itu.
Dengan langkah kaki yang cepat, Keisha langsung menuju rumah Jaiden dan mengambil tas Slingbag nya. Keisha juga masih berpakaian piyama tidur, tidak ada terbesit di pikirannya untuk menganti bajunya.
Tidak punya banyak waktu, untuk menganti baju atau memilih pakaian yang akan di kenakannya.
Sembari berjalan menuju ke garasi mobil, Keisha menghubungi terlebih dahulu. Sudah dua kali Keisha menelepon Adiknya itu, namun panggilan itu tidak terjawab.
Dan untuk yang ketiga kalinya, akhirnya Riki menjawab telepon itu dari Keisha.
"Ada apa-" Ucap Riki terpotong.
"Riki kau dimana?" Tanya Keisha dengan suara paraunya, karena menahan tangisnya.
"Hei Kak Kei? Ada apa dengan mu? Kenapa kau menangis?" Tanya Riki khawatir.
"Cepat katakan kau dimana!" Teriak Keisha di telepon, hingga membuat Riki menjauhkan teleponnya.
"Aku dirumah Kak Surya Kak, ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Riki khawatir dan panik.
"Ayo cepat kerumah Kak Jaiden! Hiks... Riki ku mohon... jangan biarkan Thalia bertemu dengan Jaiden hari ini..." Isak Keisha di telepon.
Ah iya, sekarang Keisha sedang berada di jalan menuju rumah Jaiden. Dirinya lebih memilih untuk meminta supir untuk mengantarkannya, karena dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Tidak baik untuk menyetir mobil, pikirnya.
"I... iya aku akan kesana sekarang," Sahut Riki.
Tut.
Keisha mengakhiri telepon itu sepihak, "Pak cepat!" Pintanya.
"Ada apa Ki?" Tanya Surya.
"Kak Surya sepertinya lain waktu saja, aku ada urusan" Jelas Riki hendak mengambil kunci motornya dan meninggalkan rumah Surya.
"Apa yang terjadi? Ada apa dengan Keisha?" Tanyanya khawatir sembari menahan tangan Riki.
Karena Surya tadi sempat mendengar Riki menyebutkan 'Kak Kei' dan 'Kenapa menangis?', hingga membuat Surya juga ikut khawatir. Apalagi dengan tiba-tiba Riki ingin segera pulang, dan mengatakan ada urusan penting.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya Kak, Kak Kei menangis. Aku pamit kak, aku buru-buru", Jawab Riki melepaskan paksa tangan Surya yang memegangi tangannya.
"Aku ikut," Ucap Surya mengambil kunci motornya.
Di taman.
"Kau sudah menunggu lama?" Tanya Jaiden, saat dirinya baru saja tiba di taman.
Thalia pun menggelengkan kepalanya, tidak lupa juga Thalia memberikan senyum manisnya itu pada Jaiden. Hingga membuat Jaiden tersenyum tipis, saat melihat senyum milik Thalia.
"Ayo duduk disana," Tunjuk Jaiden mengajak Thalia duduk di 2 ayunan yang berada di taman.
Thalia pun menurut, dan mengikuti langkah Jaiden. Dan berakhirlah keduanya duduk di kedua ayunan itu.
"Bi apakah Kak Jaiden dirumah?" Tanya Keisha yang baru saja sampai di rumah Jaiden.
"Loh? Tadi Tuan Muda baru saja keluar Non, apa tidak ketemu di jalan?" Tanya Bi Sarah.
"Su... sudah pergi?" Tanya Keisha pelan.
Bi Sarah pun menganggukkan kepalanya, "Baru saja Non..." Jawabnya.
"Oke makasih Bi, Kei tinggal dulu ya!" Ucap Keisha lalu berlari keluar dari kediaman Renandra.
Keisha berlari secepat mungkin untuk ke taman, "Ah bodoh sekali! Kenapa tadi tidak langsung ke taman saja sih?!" Pikirnya kesal sembari berlari kencang menuju taman.