I Am Fine

I Am Fine
Mati lampu



"Junaa, kenapa baru datang sih?!" Kesal Lia saat Juna terlambat datang ke apartemennya.


"Maaf sayang, kau kan tahu tadi aku makan malam bersama Papa dan Mama," Sahut Juna.


""Apa istri mu juga ikut?" Tanya Lia tidak suka.


Juna mengangguk, "Kau tenang saja Lia, sebentar lagi kau yang akan pergi untuk makan malam dengan keluarga ku. Tunggu lah sebentar lagi, ini semua hanya tentang waktu oke?" Jelas Juna, sambil mengecup singkat pucuk rambut kekasihnya.


"Hm baiklah, aku merindukan mu. Sangat sangat merindukanmu!" Ucap Lia sambil memeluk Juna manja.


"Me too, kau sudah makan hm?" Tanya Juna pada Lia.


Lia pun menggelengkan kepalanya sambil memanyunkan bibirnya, hingga membuat Juna sangat gemas melihat Lia yang suka bermanja-manja dengannya.


"Kenapa belum makan hm? yasudah kalo begitu ayo kita makan sekarang oke?" ucap Juna yang masih setia memeluk Lia dengan erat.


Bahkan Juna berjalan dengan enggan untuk melepaskan pelukannya pada Lia.


"Kenapa menunggu ku dulu sih? apa kau tidak kasian dengan perut mu yang sudah berteriak untuk diberi makan?" Tanya Juna sambil mengusap perut rata Lia lembut.


"Sayang aku kan sudah katakan padamu, aku mau makan kalau aku makan malam bersama mu malam ini," Sahut Lia enteng.


"Baiklah baiklah tuan putriku, ayo kita makan sekarang," Sahut Juna.


Setelah makan malam selesai, keduanya pun menonton tv dengan posisi cudling satu sama lain.


"Jun kau tak ingin menginap saja? sudah lama sekali kau tidak menginap di apartemen ku," Gerutu Lia.


"Maaf sayang, aku tidak bisa" Ucap Juna.


Lia mengerucutkan bibirnya, yang membuat Juna benar-benar gemas terhadap gadis yang berada di pelukannya saat ini.


Juna terkekeh lalu mengecup seklias bibir mungil Lia.


"Maaf ya?" Ucap Juna sekali lagi.


"Hm" Balas Lia cuek.


...⚡⚡⚡...


"Astaga kak Juna kemana sih?! Ini sudah jam 11 malam kenapa belum pulang juga? apa kak Juna akan menginap di rumah Lia? aduh kenapa kau ini sangat bodoh sekali sih Celine? astaga Kau ini kenapa si harus menunggu suami mu yang jelas-jelas menduakanmu?" Gerutu Celine pada dirinya sendiri.


Ceklek


"Astaga!" Pekik Celine terkejut.


Kalian pasti berpikir bahwa Juna sudah pulang bukan? tidak, itu salah besar. Nyatanya, tiba-tiba saja lampu padam dan Celine hanya sendirian saja dirumah. Celine tidak dapat berada di ruang gelap, karena dia menderita claustrophobia.


"Ma..mati lampu?" Gumam Celine.


Celine berpikir dia akan sembuh total, bahkan kedua orang tuanya berpikir bahwa Celine memang sudah benar-benar sembuh saat ini. Namun nyatanya tidak, bahkan Celine sering sekali kambuh disaat-saat seperti ini.


Celine terduduk jatuh di lantai dan menekuk kedua kakinya, dengan badannya yang masih bergemetaran di depan pintu utamanya rumahnya.


"Ce..Celine tenang saja oke? kau harus bisa mengontrol dirimu mulai sekarang," Gumam Celine.


Celine bergemetaran, matanya mulai memanas, nafasnya tercekat yang membuatnya semakin takut dan sesak napas. Badan Celine bergemetaran dan berakhilah Celine menekuk kedua lututnya dan bersandar di pojok dinding.


Napas Celine tak teratur dan Celine sudah mulai tidak bisa untuk mengontrol dirinya saat ini.


Ceklek


Suara pintu utama pun terbuka, yang menandakan ada seseorang yang baru saja masuk ke rumahnya.


"Mati lampu?" Gumam Juna saat memasuki rumahnya yang gelap gulita.


Juna pun berjalan masuk ke dalam rumahnya dan menghidupkan senter melalui ponsel genggamnya.


Celine melihat cahaya yang membuatnya terasa sedikit lebih baik dan mendapatkan Juna yang saat ini sedang berdiri dengan tatapan binggung pada Celine.


"Ada apa dengannya? kenapa seperti itu?" Batin Juna.


"Cena?" Ucap Juna.


Celine dengan sekuat tenaganya, bangun dari duduknya dan berlari pada Juna. Tentu saja Celine langsung memeluk Juna erat karena takut, hingga membuat Juna terkejut dengan prilaku Celine yang tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.


Celine menangis dalam pelukan Juna, tapi Juna masih enggan untuk membalas pelukan Celine. Bahkan Celine mempererat pelukannya pada Juna.


"Eh?"


"Kak hiks..Celine takut..." Sahut Celine.


Ceklek


Lampu yang padam tadi pun akhirnya hidup.


"Lepaskan, lampunya sudah hidup. Jangan seperti anak-anak, dasar manja!" Ucap Juna sambil melepas paksa Celine yang sedang memeluknya.


Celine terdiam kaku menatap kepergian Juna dan sedang menahan tangisnya.


Sepertinya selama sebulan terakhir pernikahannya dengan Juna, Celine tidak pernah libur dalam sehari untuk menangis bukan?


Cenggeng sekali.


"Kau sangat bodoh Celine," Batin Celine.


...⚡⚡⚡...


Pukul 6 pagi Celine baru saja terbangun dari tidurnya dan beralih pada meja riasnya, rasanya sulit sekali untuk bernapas bahkan badannya bergemetaran karena takut.


Celine pun meminum obat yang selalu di kosumsinya saat traumanya kambuh. Apa kalian mengetahui obat apa yang selalu dikonsumsinya?


Itu adalah obat penenang.


Celine sudah mengonsumsinya sejak orang tuanya percaya, bahwa dia sudah sembuh dari traumanya. Namun obat itulah yang membuat orang tua Celine percaya, bahwa anaknya sudah baik-baik saja.


Nyatanya sama sekali tidak, bahkan kedua orang tuanya tidak tahu. Kalau Celine mengkonsumsi obat penenang tersebut.


Celine pun duduk di meja riasnya, dia memperhatikan setiap sudut wajahnya. Tanpa sadar Celine melamun entah memikirkan kan apa dan menjatuhkan air matanya tanpa sadar juga.


Entah kenapa saat ini hari Celine merasa badan dan kepalanya sangat ngilu dan juga Celine sangat lelah.


Juna yang sudah rapi dengan pakaian kantornya memperhatikan rumahnya, Juna tidak menemukan Celine. Padahal biasanya Celine jam segini pasti berkeliaran di dapur atau ruang tv untuk menonton acara kesukaannya.


Namun Juna sama sekali tidak melihat tanda-tanda akan keberadaan istrinya tersebut. Juna pun mengindikkan bahunya tida peduli dan berjalan ke dapur, untuk mengambil sebotol air di kulkas.


Celine pun akhirnya keluar dari kamarnya dengan wajah yang lumayan pucat, Celine menuruni anak tangga satu persatu dengan memegang erat pinggiran tangga.


Celine melihat Juna yang sedang duduk di meja makan, sambil memainkankan ponselnya dan sebotol air mineral di atas meja.


"Kakak belum berangkat?" Tanya Celine pada Juna.


"Aku akan pergi ke kantor sekarang, omong-omong baru kali ini ku lihat kau bangun sangat lama," Ucap Juna yang masih sibuk dengan layar ponselnya.


"Baiklah hati-hati," Ucap Celine lalu berjalan ke dapur, karena enggan menjawab ucapan Juna saat mengatakan bahwa baru kali ini dia bangun lama.


Juna pun bangkit dari duduknya, "Aku pergi" Ucap Juna.


Celine pun mengambil gelas untuk minum sambil berpikir "Tumben sekali berpamitan," Batinnya.


Tiba-tiba saja kepala Celine rasanya sangat ngilu dan pusing, Celine meletakkan gelas yang berada di tangannya di atas meja. Celine memegang kepalanya sakit dengan kedua tangannya hingga pandangannya memburam dan gelap.


Brakhh


Celine pingsan.


Juna mendengar suara tersebut langsung membalikkan badannya, hingga mendapatkan Celine yang sudah tak sadarkan diri di atas lantai.


"Celine?!" Pekik Juna terkejut.