I Am Fine

I Am Fine
Kantin



Thalia merasakan sakit hati teramat dalam, atas apa yang dilontarkan Keisha kepadanya.


"Jangan katakan apapun pada Jaiden, kalau kau tak ingin aku mengatakan tentang siapa dirimu sebenarnya pada Riki," Jelas Thalia hendak bangun dari duduknya dan meninggalkan Keisha.


"Thalia!" Panggil Keisha sedikit berteriak, hingga membuat langkah Thalia berhenti begitu saja.


"Kau tidak usah khawatirkan hal itu, cepat atau lambat. Aku sendiri yang akan memberitahu pada Riki dan Papa ku soal itu, kau juga tidak usah khawatirkan soal Kak Jaiden. Karena apapun ceritanya, Kak Jaiden akan kembali pada ku. Bukankah teman-teman ku sudah memperingatkan mu untuk tidak menyukai Kak Jaiden?" Jelas Keisha panjang lebar, sembari bertanya.


...⚡⚡⚡...


Sesuai dengan permintaan Keisha kemarin malam, Jaiden hari ini menempati janjinya pada Keisha. Hari ini Jaiden akan berangkat sekolah bersama dengan Keisha, Jaiden juga sudah meminta Heri untuk menjemput Thalia.


Tentu saja untuk mengantikan dirinya, untuk menjemput Thalia. Heri dengan berat hati itu pun harus mengiyakan permintaan Jaiden, karena Heri mendapatkan sebuah imbalan besar dari Jaiden.


"Kei mau Papa antar? Ini hari pertama mu sekolah," Tanya Rafa lembut saat mereka sedang sarapan pagi bersama.


"Kei akan berangkat bersama Kak Jaiden," Jelas Keisha tanpa melirik Rafa sedikit pun.


"Jaiden anak mendiang Juna?" Tanya Shakila.


"Hm, Kei akan berangkat dengannya."


"Jaiden Renandra maksudmu?" Tanya Rafa pada Shakila, dan Shakila pun menganggukkan kepalanya.


"Jam berapa Jaiden akan menjemputmu?" Tanya Shakila.


"Sudah di depan, Kei pamit" Ucap keisha lalu menyalami Rafa dan Shakila bergantian, setelahnya Keisha pergi meninggalkan ruang makan yang berada di pinggir kolam rumahnya.


"Maaf Kak, nunggu lama ya?" Tanya Keisha yang baru saja keluar dari pagar rumahnya.


"Tidak kok, pakai ini" Ucap Jaiden sambil menyodorkan helm pada Keisha.


Lantas Keisha pun mengambil helm itu dan memakainya, "Kak hari ini hari pertama ku sekolah!" Ucap Keisha semangat.


"Hmmm" Jawab Jaiden, lalu menjalankan motornya dengan kecepatan rata-rata.


"Ada apa dengannya?" Tanya Keisha dalam hati.


Sesampai disekolah, keadaan disana ribut dan heboh sekali. Disaat siswa dan sisiwi disana melihat, siapa yang sedang di bonceng oleh Jaiden pagi ini.


Bahkan beberapa alumni yang satu smp yang sama dengan Keisha dan Jaiden, sangat terkejut saat melihat kehadiran gadis itu disekolah mereka.


Dengan seragam yang sama seperti mereka.


"Kemarin masih dengan Thalia bukan? Apa dia siswa baru? Tidak mungkin kan Thalia operasi wajah secepat itu?"


"Wah siapa dia? Cantik sekali! Aku suka fashionnya, apa dia dekat dengan Kak Jaiden?"


"Dia masih sama! Bahkan dengan rambutnya yang berantakan pun dia masih terlihat cantik!"


"Ayo taruhan! Siapa yang akan memang, Thalia atau Keisha!"


"Thalia tidak pernah di bonceng seperti itu oleh Jaiden, mereka selalu naik mobil."


Begitu lah beberapa cibirian yang keluar dari buah bibir warga sekolah itu, saat ketika mereka melihat motor Jaiden yang baru saja masuk ke dalam sekolah hingga mengantarkan Keisha ke ruang Tata Usaha.


"Ra! Jaki!" Panggil Heri pada keduanya.


"Apa?" Tanya Keira.


"Kei akan sekelas dengan ku dan Surya kan?!" Tanya Heri semangat, karena dirinya akan bersuka ria untuk menggoda Keisha.


"Hmm sepertinya begitu, eh? Thalia? Apa kalian berangkat bersama?" Tanya Keira penasaran, saat melihat Thalia yang baru saja turun dari mobil Heri.


"Jaiden meminta ku untuk menjemputnya," Jawab Heri seadanya.


"Girls time! Kau duluan dengan Jaki," Ucap Keira.


"Kau lihat kan Thalia? Ini baru beberapa hari Keisha berada disini, itu bahkan sudah membuat Jaiden untuk menjauh dari mu. Dengan embel-embel Jaiden meminta Heri, untuk menjemput mu" Jelas Keira.


"Lalu?" Tanya Thalia menahan amarahnya kesal pada Keira.


"Berhenti berharap untuk memilikinya, aku tahu apa saja yang sudah kau lakukan pada Keisha. Hentikan perasaan mu pada Jaiden, cepat atau lambat Jaiden akan mengetahuinya" Jelas Keira.


"Apa hak mu untuk meminta ku berhenti menyukai Jaiden?" Ucap Thalia membuat Keira terkejut, karena setahunya Thalia tidak lah seberani yang dikiranya.


Setelah mengatakan kata sarkas itu, lantas Thalia pun pergi meninggalkan Keira begitu saja.


"Keira!" Pekik Fia saat mendapati Keira yang sedang menatapi punggung Thalia yang menjauh sedikit demi sedikit.


"Oi!" Ucap Fia menyenggol bahu Keira.


"Eh? Fia?! Astaga bikin kaget saja!" Ucap Keira terkejut.


"Hehehe maaf, apa kau tahu? Sepertinya aku menyukai Heri hehe" Ucap Fia semangat.


"Ck, semalam Jaiden sekarang Heri" Ucap Keira sembari berjalan menuju kelas bersama dengan Fia.


"Jaiden sudah tidak ada harapan, aku menyerah saat melihat langsung gadis yang selalu kau bicarakan itu" Jelas Fia dengan raut wajah yang sedih.


"Bagus!" Ucap Keira senang.


"Selamat pagi anak-anak!" Ucap Bu Yara saat memasuki ruang kelas 11 IPS 1.


"Hari ini kita kedatangan teman baru dari Amerika, dia asli orang Indonesia. Bicaralah dengan santai, ayo silahkan masuk Nak," Ucap Bu Yara mempersilahkan Keisha untuk masuk ke dalam kelas.


Lantas Keisha pun masuk dengan senyum yang merekah, dan terlihat sangat ramah.


"Bukankah dia yang berangkat bersama dengan Jaiden tadi pagi?" Bisik salah satu siswi pada temannya.


"Hai semuanya, perkenalkan nama ku Keisha Sandika" Jelas Keisha memperkenalkan dirinya.


"Baiklah Keisha, kamu bisa duduk di kursi yang kosong itu ya" Ucap Bu Yara mempersilahkan Keisha untuk duduk di kursi yang ditunjuknya.


"Baik Bu, terima kasih" Ucap Keisha sopan.


"Sandika? Bukankah marga keluarganya Aditya? Riki juga Aditya kan?" Tanya Heri pada Surya.


"Nanti kita tanyakan padanya," Sahut Surya.


Keisha pun melambaikan tangannya pada Surya, dan Heri dengan senang. Lantas, kedua temannya itu pun juga ikut kembali melambaikan tangannya.


Saat jam istirahat berbunyi, Keisha, Heri, dan Surya memutuskan untuk pergi ke kantin bersama.


"Kelas Kak Jaiden, Jaki, Keira dan Fia dimana?" Tanya Keisha.


"Apa kau mau kesana Kei?" Tanya Heri.


"Apa tidak sebaiknya kita pergi ke kantin bersama?" Tanya Keisha.


"Tidak usah, aku yakin sekali kelas mereka sudah keluar terlebih dahulu" Jawab Surya.


"Iya Surya benar Kei, sebaiknya kita langsung ke kantin saja. Apa kau tidak lapar?" Tanya Heri.


"Tentu..." Ucap Keisha pelan sembari memegangi perutnya.


Akhirnya ketiganya pun pergi ke kantin, selama menuju ke kantin. Banyak sekali pasang mata yang memperhatikan ketiganya, ada yang merasa iri dan kagum.


Dan akhirnya, ketiga remaja itu sudah sampai di depan pintu kantin sekolahnya, namun langkah Keisha terhenti begitu saja di depan pintu kantin.


Sehingga membuat Surya dan juga Heri saling menatap, keduanya binggung harus berbuat apa. Keduanya melihat jelas, bagaimana tatapan kesal Keisha itu.


Ah tidak, sepertinya matanya juga memerah.