
Brakh!
"Astaga!" Pekik Heri.
"Loh Keisha ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Heri khawatir saat mendapati Keisha dalam keadaan seperti itu.
Iya, tadi Keisha berlari untuk menghindari pertanyaan beruntun dari Surya. Hingga Keisha tak sengaja, menabrak seseorang yang baru saja keluar dari salah satu koridor sekolah.
Heri yang sedang menuju parkiran mobil, dan Keisha berasal dari arah yang berlawanan. Dan tentu saja Heri tidak sendiri, dirinya bersama dengan Fia.
"Hah...hah... As...astaga... Kei kau tak apa kan?" Tanya Surya yang ngos-ngosan berlari untuk mengejar Keisha yang lari untuk menghindarinya.
"Kau ya yang membuat Keisha menangis?!" Gertak Heri pada Surya.
"Eh?! Tidak! Jangan pandai-pandaian!" Ucap Surya mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Kei ada apa?" Tanya Fia.
Keisha pun yanya menggelengkan kepalanya, "Kalian ada yang membawa motor?" Tanya Keisha.
"Aku tidak Kei," Jawab Heri.
"Aku bisa bertukaran dengan Jovan dan Yura jika kau mau," Ucap Surya, "Jovan!" Panggil Surya saat melihat Jovan yang baru saja turun dari lantai dua dan hendak menuju parkiran kendaraan bermotor.
Jovan pun menoleh, "Ayo kita kesana sebentar," Ajak Jovan pada Yura pacarnya, dan Yura pun menurut saja. Apalagi disana dirinya juga melihat Kakaknya juga, Surya.
"Eh Kak Kei ada apa?" Tanya Jovan khawatir.
"Eh Kak Kei? Kenapa Kak?" Tanya Yura juga.
""Jangan bertanya dulu aku kenapa... nanti aku semakin menangis hiks...." Isak Keisha.
"A...aah... oke oke Kak," Jawab Jovan lalu melirik Surya. "Ada apa Kak?" Tanya Jovan.
"Mana kunci motor mu? Ini ambil!" Ucap Surya melempar kunci mobil miliknya pada Jovan.
"Ah oke!" Ucap Jovan mengerti situasi, lalu menangkap kunci mobil milik Surya tadi.
"Nih Kak," Ucap Jovan memberi kunci motornya pada Surya.
"Aku pinjam dulu, nanti aku antar" Ucap Surya lalu menarik Keisha dari sana menuju parkiran kendaraan bermotor.
...⚡⚡⚡...
"Keisha," Panggil Rafa saat melihat Keisha yang baru saja kembali dari sekolahnya.
"Papa dengar kau hampir pingsan tadi, dan kau juga masih meminum obat itu apa benar?" Tanya Rafa pada Keisha, sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Namun Keisha tak sengaja menjawab, "Kei? Ada apa dengan mu? kenapa mata mu merah sekali? Kau baru saja menangis?" Tanya Rafa khawatir sembari memegangi kedua bahu putri satu-satunya itu.
"Pa, apa Papa dapat mengabulkan permintaan ku kali ini?" Tanya Keisha lirih pada Rafa, hingga membuat hati Rafa tergores.
Saat dirinya, melihat anak semata wayangnya perempuan itu menangis.
"Hei ada apa?" Tanya Rafa khawatir, "Anything for your dear," Ucap Rafa menatap lekat putrinya itu.
"Pa... apa Papa bisa untuk menjauhkan Thalia dari Kak Jaiden ku? Papa tahu kan? Kalau Thalia sedang dekat dengan Kak Jaiden? Pa ayolah... Thalia merebut Kak Jaiden dariku, Thalia membenciku karena aku sudah mencuri kasih sayang Papa darinya padaku," Jelas Keisha terisak.
"Huh? Apa saja yang dikatakan Thalia pada mu hm?" Tanya Rafa khawatir.
"Tanya saja pada anak tiri Papa itu," Jawab Keisha lantang, lalu pergi untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Thalia," Gumam Rafa pelan sambil mengertakkan gigi gerahamnya.
Lalu Rafa pun hendak menghampiri anak tirinya itu, karena Rafa yakin pasti ini ada kaitannya dengan Thalia. Penyebab anak gadisnya sepulang sekolah, menangis.
Di kediaman Rafa Sandika, tempat Thalia tinggal.
"Thalia!" Panggil Rafa keras, hingga membuat kepala pelayan rumah menghampiri Rafa.
"Ada apa Tuan? Nona Thalia belum pulang Tuan," Jelas pelayan itu apa adanya.
Lantas tanpa sadar Rafa pun melirik jam tangannya spontan, "Ini sudah lewat dari jam pulang sekolah. Kenapa belum pulang jam segini hah?!" Tanya Rafa dengan rahang yang sudah mengeras.
"Apa dia ada kelas tambahan? Les? Atau bahkan semacamnya?!" Gerutu Rafa kesal.
Namun kekesalan Rafa langsung mereda, saat dirinya mendengar ada suara deru mobil yang baru saja tiba di rumahnya.
Lantas Rafa pun menuju pintu utama rumahnya, dan mendapati Thalia yang baru saja turun dari mobil bersamaan dengan Jaiden.
"Hebat sekali ya? Baru pulang?" Ucap Rafa sambil melipat tangannya di depan dada.
"Sore Om, maaf" Ucap Jaiden terpotong oleh Rafa.
"Mulai besok kau akan pulang dan pergi kemanapun itu akan di antar oleh supir, tidak ada penolakan" Ucap Rafa lalu langsung pergi melangkahkan kakinya untuk menuju mobilnya.
Namun baru 2 langkah, Rafa pun kembali berbalik pada kedua remaja itu.
"Ah iya satu lagi, jangan izinkan seorang pira masuk ke dalam rumah tanpa ada izinku Thalia Auriya" Jelas Rafa penuh penekanan.
Setelah Rafa mengatakan itu, Rafa pun pergi begitu saja dan masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah lamanya itu.
"Ja... Jaiden maafkan ucapan Papa ku barusan padamu" Ucap Thalia tak enak hati pada Jaiden.
"Its okey Thalia, itu tandanya Papa mu masih sayang padamu dan juga perhatian padamu" Jelas Jaiden sembari tersenyum manis pada Thalia.
"Jaiden..." Panggilnya.
"Hm?" Sahut Jaiden.
"Bisakah kita kembali bersama?" Tanya Thalia.
...⚡⚡⚡...
Selama perjalanan pulang dari rumah Thalia, Jaiden tiada hentinya memikirkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Thalia.
Jaiden merasa dirinya sedang dilema antara dirinya itu sebenarnya menyukai Keisha, atau Thalia.
Ditambah lagi, Jaiden merasa kesal pada Keisha. Bisa-bisanya Keisha menyembunyikan segalanya darinya, tentang apa saja yang telah terjadi padanya hingga hilang kabar selama 3 bulan.
Jaiden melamun, hingga kesadarannya pun hilang saat mengemudi. Jaiden tak sengaja, melewati lampu jalan merah.
Brakhhh!
Mobil Jaiden ditabrak oleh mobil lainnya, hingga mengakibatkan kecelakaan beruntun.
Tidak parah, hanya saja mobil Jaiden rusak di bagian belakangnya dan juga Jaiden tidak mengalami luka yang berat.
"Ah sial!" Umpatnya disaat mobilnya terserat ke pinggir jalan.
Jaiden pun melirik ke luar, dimana mobil yang menabrak mobilnya tadi. Jaiden akui, kalau dirinya memang salah.
Karena sudah menerebos jalan di saat lampu merah, hingga mengakibatkan kecelakaan beruntun.
Tok tok tok
"Kau tak apa?" Tanya seseorang di baliik kaca mobil Jaiden.
Lantas Jaiden pun memilih untuk membuka pintu mobilnya, "Akhh..." Ringisnya.
"Kau tak apa?" Tanya orang itu lagi.
Jaiden pun menggeleng kepalanya, karena dirinya tak sanggup untuk bicara lagi.
Syukurlah, tidak ada korban jiwa. Mereka baik-baik saja. Hanya saja mobilnya rusak parah di bagian depan dan belakang, aku juga sudah menghubungi ambulan dan... polisi..." Jelas orang itu.
Jaiden pun mengangukkan kepalanya, "Astaga ponsel ku!" Ucap Jaiden berhenti berjalan, dan melirik mobil miliknya.
"Apa kau mau mengambilnya? Biar aku saja, kau berjalan saja susah" Ucap orang itu.
Jaiden pun sontak menggelengkan kepalanya ribut, "Tidak, biar aku saja!" Ucap Jaiden lalu berjalan tertatih menuju mobilnya.
"Eh?! Tunggu!" Ucap orang itu menahan lemgan Jaiden, "Sepertinya itu akan meledak!" Pekiknya mengajak Jaiden dan orang-orang yang berada disekitar sana untuk menjauh.
Karena mobil milik Jaiden, tertabrak dan penyok berat di bagian tempat mengisi bahan bakar itu.
"Lepaskan! Aku harus menghubungi keluargaku sekarang juga!" Ucap Jaiden melepaskan paksa lengannya yang di genggam orang itu.
"Apa kau sudah gila?! Kau bisa menghubungi mereka nanti, kau bisa membeli ponsel baru!" Ucap orang itu.
Jaiden tak memperdulikan itu, dan tetap berjalan tertatih untuk menuju mobilnya.
Sesampai di mobil, Jaiden pun merogoh dashboard Mobilnya. Dan Bingo!
Jaiden mendapatkannya.
Dengan gerakan cepat dan tertatih, Jaiden pun berjalan menjauh dari mobil itu. Karena mobil miliknya sudah mulai terbakar, di bagian belakang.
1 meter
2 meter
3 meter
4 meter
5 meter
6 meter
7 meter
8 meter
9 meter
10 meter
Dan
Duar!
Mobil itu pun sudah meledak, hingga membuat orang orang-orang yang berada disana berteriak ketakutan dan menjauh dari mobil itu.
Jaiden pun sudah tidak kelihatan lagi, karena api tersebut sudah menyebar luas di jalanan.
"Astaga! Apa dia terjebak disana?!" Ucap orang-orang didana panik, dan mencari dimana keberadaan Jaiden.