
"Pa apa boleh aku kerumah sakit?" Tanya Thalia di telepon pada Rafa.
"Kau ingin bertemu dengan Jaiden?" Tanya Rafa berbalik.
"Hm, Papa sudah tahu kan? Kak Jaiden kecelakaan setelah mengantar ku pulang 3 hari yang lalu. Apa Papa mengizinkannya?" Tanya Thalia meminta izin.
"Tidak, ini sudah ketiga kalinya kau meminta izin. Aku tidak akan mengizinkannya," Sahut Rafa di telepon.
"Apa ini karena Keisha? Keisha pasti meminta Papa untuk tidak mengizinkan ku untuk bertemu dengan Kak Jaiden kan? Dan bahkan Papa mengirimkan ku supir untuk mengantar jemput ku kemana pun itu, Papa juga" Ucap Thalia terpotong.
"Sudah selesai? Kalau ku bilang tidak boleh, ya tidak boleh. Jangan menjadi anak yang pembangkang Thalia Auriya," Ucap Rafa di telepon dan memutuskan panggilan itu sepihak.
Thalia pun menghentakkan kakinya kesal, Thalia pun berpikir untuk dapat kabur dengan diam-diam dari rumah. Thalia melihat sekeliling rumahnya, namun dirinya pun binggung harus melewati jalan yang mana.
Thalia pun mencoba untuk menghubungi Heri, dan meminta pertolongan dari pria itu.
...Room Chat...
^^^Thalia:^^^
^^^Kau sibuk?^^^
^^^Boleh aku minta tolong padamu?^^^
^^^read^^^
Bingo! Heri langsung membaca pesan Thalia, dan langsung membalas pesan itu.
Heri :
Apa?
^^^Thalia:^^^
^^^Bisa bantu aku untuk kabur dari rumah?^^^
^^^Maksudku, temani aku kerumah sakit^^^
^^^Tapi bantu aku dulu untuk dapat kabur dari rumah^^^
^^^Aku ingin melihat Jaiden^^^
Heri:
Kabur?
Apa kau dikurung?
^^^Thalia:^^^
^^^Nanti akan ku ceritakan^^^
^^^Bisa kau membantu ku terlebih dahulu untuk kabur?^^^
Heri :
Caranya?
^^^Thalia:^^^
^^^Bisa kau datang menjemput ku nanti jam 5 sore?^^^
^^^Untuk membeli perlengkapan kerja kelompok^^^
Heri: Baiklah, aku akan kesana jam 5 sore
^^^Thalia:^^^
^^^Terima kasih banyak Heri^^^
^^^Sungguh aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi^^^
Heri:
Santai saja
Memangnya kau mau mengatakan apa?
^^^Thalia:^^^
^^^Tidak ada kata lain, selain terima kasih^^^
Heri: Haha baiklah, tunggu jam 5 sore
^^^Thalia:^^^
^^^Oke^^^
^^^read^^^
Thalia pun membalas pesan itu, dan meminta Heri untuk langsung masuk kerumahnya saja. Lalu meminta izin kepada pelayan rumahnya, dengan embel-embel untuk membeli perlengkapan kerja kelompok.
Heri pun berhasil, pelayan rumah itu pun mengizinkan Thalia untuk pergi bersama dengan Heri tanpa supir pribadi.Heri sebenarnya sedikit binggung, dengan situasi yang dialami Thalia saat ini.
Setelah keduanya berada di dalam mobil, dan menjauh dari perkarangan rumah milik Thalia. Barulah Heri memberanikan diri, untuk menanyakan soal apa yang menyebabkan Thalia tidak diperbolehkan keluar rumah selain di antar jemput dengan supir pribadinya.
Bukankah itu seperti anak SD? Bahkan Thalia saat ini sudah remaja beranjak dewasa, pikir Heri.
"Ada apa? Kenapa kau meminta ku untuk berbohong?" Tanya Heri pada Tahlia, sembari menatap jalanan.
Thalia mengigit bibirnya risau, antara bimbang harus menceritakannya pada Heri atau tidak. Tapi Thalia sudah memutuskannya, kalau dia akan menceritakannya pada Heri.
"Papa ku menahan ku untuk bertemu dengan Jaiden, dan itu atas permintaan Keisha. Kau tahu kan? Kalau Keisha tidak terima Jaiden dan aku berpacaran," Jelas Thalia.
"Ku rasa Keisha lah dibalik semua ini, aku yakin Keisha yang membuat Papa ku untuk terus menghalangi hubungan ku dengan Jaiden," Lanjut Thalia.
"Kenapa kau langsung mengambil kesimpulan seperti itu? Mungkin bisa saja Papa mu memiliki alasan lain selain Keisha," Sahut Heri.
"Tidak, aku yakin sekali. Pasti ini ada kaitannya dengan Keisha" Jawab Thalia terkekeh pelan, "Apa kau berkata seperti itu karena Keisha adalah teman dekat mu?" Tanya Thalia.
"Bukan, aku mengatakan itu karena aku tak yakin Keisha akan melakukan itu" Sahut Heri.
"Ku kira hanya cinta saja yang buta, ternyata persahabatan juga buta ya?" Gumam Thalia, dan Heri tak mendengar itu begitu jelas.
"Omong-omong terima kasih sudah membantu ku untuk kabur dari rumah, aku bisa bernafas lega setelah keluar dari neraka besar itu" Jelas Thalia kaku menatap ke luar jendela mobil milik Heri.
Setelah 20 menit lamanya di perjalanan, akhirnya Thalia dan Heri pun sampai dirumah sakit. Heri dan Thalia pun berjalan ke ruang VIP, yang berada di rumah sakit tersebut.
"Apa boleh?" Tanya Thalia ingin memutar kenop pintu milik kamar Jaiden.
Heri pun menatap Thalia binggung karena tak mengerti, " Hah maksud mu?" Tanyanya.
"Kau saja yang buka," Pinta Thalia mundur.
"Ck, kau ini kenapa dari tadi merepotkan sekali sih?" Gerutu Heri kesal.
"Maaf," Cicit Thalia tertunduk tak enak.
"It's okey, jangan di masukkan ke hati ucapan ku barusan. Ya sudah ayo masuk," Ajak Heri sembari memutar kenop pintu kamar Jaiden.
Ceklek
"Oh Heri? Tha... Thalia?" Ucap Jaiden.
Sebenarnya Heri dan juga yang lainnya sudah berkunjung tadi, dan sudah pulang beberapa waktu yang lalu. Jaiden pikir barang Heri ada yang tertinggal, seperti ponsel atau sejenisnya.
Hingga menyebabkan pria itu harus kembali lagi, namun Jaiden terkejut saat melihat kehadiran Thalia. Jaiden juga melupakan soal dirinya yang masih mempunyai hubungan spesial dengan Tahlia, yaitu pacaran.
"Jai... Jaiden... Bagaimana bisa?" Ucap Thalia lirih menghampiri Jaiden.
"It's okay, Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja. Aku juga sudah membaik, Maaf aku tak sempat untuk mengabari mu. Lihat tangan kanan ku masih tak bisa di gerakkan, akan sulit mengirim pesan dengan tangan kiri" Jelas Jaiden.
"Tidak apa-apa, yang penting aku baik-baik saja" Jawab Thalia mengusap surai hitam milik Jaiden.
Ku rasa kalian butuh waktu untuk berdua, aku akan ke toilet sebentar" Ucap Heri meninggalkan keduanya.
"Kau datang dengan Heri? Apa Papa mu tahu kau kesini?" Tanya Jaiden.
Lantai Thalia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menunduk, sudah Jaiden tebak. Pasti kekasihnya ini sedang berbohong pada Papanya agar bisa ke rumah sakit, Jaiden cukup mengebal siapa Thalia.
Thalia akan menundukkan kepalanya, jika ada suatu gak yang gadis itu sembunyikan ataupun gadis itu berbohong akan sesuatu.
"Jaiden, seandainya kau tidak mengantar ku pulang.ku rasa ini tidak akan terjadi padamu, maafkan aku" Ucap Thalia tak enak.
"Hei sudah tak apa, lagi pula saat itu aku sedang kelelahan dan tak melihat lampu merah. Sekarang aku sudah baik-baik saja" Jelas Jaiden.
"Baiklah, dengan siapa kau tadi malam? Ada yang menjaga mu? Bukankah Kakek dan Nenekmu sedang berada di luar negeri?" Tanya Thalia.
"Keisha, Om Saka, Uncle Dino, dan juga yang lainnya. Kau tak perlu khawatir, nanti malam juga Heri, Surya dan yang lainnya akan menginap disini menemani ku" Jelas Jaiden.
"A...apa Keisha juga?" Tanya Thalia.
"Tidak, Keisha tidak akan menginap disini" Jelas Jaiden.
"Jaiden," Panggil Thalia
"Hm?" Sahutnya lembut.
"Kau dan Keisha hanya sebatas sahabat saja kan?" Tanya Thalia.
"Hm, seperti kau lihat sekarang" Ucap Jaiden berusaha untuk meyakinkan Thalia, kekasihnya itu.