I Am Fine

I Am Fine
Meninggal Dunia



Drtt drtt drtt


"Halo Ayah?" Ucap Rafa di balik telepon.


"Cepat kembali ke masion! Sekarang juga!" Ucap Ayah Rafa di balik telepon, lalu mematikan telepon itu sepihak.


Dengan segera Rafa pun menuju ke tempat kediaman orang tuanya berada, selama perjalanan menuju ke tempat orang tuanya. Rafa pun berpikir, "Ayah marah pada ku? Kesalahan apa lagi yang ku buat?" Batin Pria itu.


Selama 20 menit dii perjalanan, akhirnya Rafa pun tiba di masion milik keluarga Sandika. Rafa pun memakirkan mobilnya asal, di depan pintu rumahnya.


Tempat dimana, dirinya tempati sedari dirinya dalam kandungan ibunya, hingga dirinya memutuskan untuk membangun bisnisnya sendiri.


Dan sekarang, bisnis keluarganya di pimpin oleh Adiknya sendiri.


"Tuan besar sudah menunggu di dalam ruang milik Ayahnya, saat dirinya sedang menuju kesana Rafa tak sengaja berpapasan dengan Adik semata wayangnya.


"Ku rasa kau akan dalam masalah Kak, semangat!" Ucap Adiknya itu menggoda Kakaknya, lalu pergi meninggalkan Rafa dengan tatapan malas.


"Ck, seharusnya kau cepat menikah! Perawan tua!" Teriak Rafa pada Adiknya.


"Control your mouth!" Balas Adiknya teriak, sambil mengacungkan jari tengah pada Rafa.


Setelah Rafa sampai di depan pintu ruangan Ayahnya, Rafa pun mengetuk pintu ruangan itu. "Masuk!" Sahut Ayah Rafa dari dalam.


Rafa pun membuka pintu ruangan itu, dan melihat Ayah dan Ibunya yang sudah duduk di atas sofa. Dan sepertinya ada sesuatu hal penting, yang ingin dibicarakan keduanya padanya.


"Jelaskan!" Ucap Ayah Rafa melempar foto-foto Lia, Thalia dan juga anaknya bersama Lia yaitu Rio.


Rafa tersentak, namun dirinya berusaha untuk tidak terintimidasi oleh kedua orang tuanya. "Maksud Papa? Aku tidak mengenal mereka. Wanita ini bukankah mantan kekasih mendiang Kak Juna?" Ucap Rafa mengambil foto Lia.


"Tidak ada gunanya kau bersandiwara Rafa Sandika, jelaskan pada Ayah dan Ibu" Pinta Ibu Rafa berusaha untuk tetap tenang, karena dirinya pun takut jika sakit jantungnya tiba-tiba kambuh.


"Kau tak ingin jujur Rafa Sandika? Kau bisa saja ku hancurkan dalam sekali tendangan sekarang juga," Jelas Ayah Rafa, lalu kembali melempar foto-foto di atas meja.


Rafa tersentak, bagaimana bisa Ayah nya menemukan foto-foto ini. Setahunya foto-foto tersebut hanya ada dirumah, di Amerika tentunya.


"Apa itu belum cukup untuk kau menjelaskan semuanya Rafa?" Ucap Ibunya lalu kembali melemparkan sebuah struk pembelian yang dikeluarkan untuk Lia, Thalia, dan Rio selama beberapa tahun terakhir ini.


Rafa mengusap wajahnya kasar, "Oke baiklah. Aku akan menjelaskannya," Ucap Rafa lalu menatap Ibunya teduh. "Ibu tolong tenangkan diri Ibu dulu, aku tak ingin" Ucap Rafa terpotong.


PLAK


"Bagaimana aku bisa tenang hah?! Anakku diam-diam sudah memiliki istri dah juga anak selama beberapa tahun ini?! Hah Rafa?!" Bentak Ibu Rafa pada anaknya.


"Tidak Bu, aku hanya" Ucap Rafa kembali terpotong.


"Berapa banyak hal yang kau sembunyikan dari Ibu dan Ayah?! Bahkan kau bisa-bisanya memiliki anak di luar nikah dan sekarang usianya sudah 17 tahun?! Bahkan kau baru menikah dengan wanita itu setelah anak mu sudah berumur 17 tahun?! Kau gila?! Kau akhh jantungku..." Ucap Ibu Rafa memegang dadanya sakit.


"Bu? Ibu? Ibu tak apa?! Pelayan! Cepat panggilkan ambulan!" Teriak Rafa.


"Astaga, sayang!" Ucap Ayah Rafa.


Adik Rafa yang sedang di dalam kamar pun, langsung berlari menghampiri ruang kerja Ayahnya saat mendengar Rafa berteriak.


"Chika Ibu dan Ayah sudah mengetahuinya, cepat panggilkan ambulan!" Pinta Rafa.


Tok tok tok tok


"Keisha! Buka pintunya! Nenek masuk rumah sakit!" Teriak Shakila mengetuk pintu kamar Keisha brutal.


"Ck, berisik sekali sih!" Gerutu Keisha lalu berjalan menuju pintu kamarnya.


Ceklek


"Ayo cepat! Kita kerumah sakit sekarang!" Ucap Shakila langsung menarik anaknya yang masih menggunakan piyama tidur, untuk segera bergegas ke kerumah sakit bersamanya.


"Hah? Apa sih Ma? Sakit..." Ucap Keisha berusaha melepaskan tangan Mamanya yang menariknya paksa untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Nenek mu! nenek masuk rumah sakit, ayo kita cepat kesana!" Ajak Shakila, Keisha pun memutar bola matanya malas dan hendak berbalik untuk masuk ke dalam rumah.


"Keisha cepat! Atau kartu mu Mama blokir semua!" Ancam Shakila.


Keisha pun menghela nafasnya kasar, dan dengan berat hati masuk ke dalam mobil dan menuruti perintah Shakila.


"Ingat, nanti disana kau harus pura-pura menangis! Cari perhatian disana, buat kau menjadi bagian keluarga mereka" Ucap Shakila pada Keisha.


"Ma Kei capek," Ucap gadis itu.


"Tidak ada kata capek Keisha, Mama melakukan ini juga untuk mu! Mama tidak mau tahu ya, apapun ceritanya kau nanti harus menangis setiba disana. Jangan sia-siakan kesempatan ini Kei, kau itu harus menjadi satu-satunya pewaris dari Rafa Sandika, bukan Rio ataupun anak tirinya itu. Kau mengerti?" Jelas Shakila sembari bertanya.


Keisha tak memperdulikan ucapan Mamanya, Keisha lebih memilih untuk menahan tangisnya dan menatap kosong pada jalanan di depannya.


"Kau?! Kau kenapa ceroboh sekali Kak?! Astaga kenapa bisa sampai ketahuan? Bagiaman dengan Ibu? Ayah? apa yang akan kita lakukan sekarang hah?" Ucap Chika tak habis pikir dengan Kakaknya, Rafa.


Masih ingat dengan Chika? Ya Chika adalah teman dekat Lia. Bahkan Chika sendiri lah yang mengenalkan Lia pada Kakaknya, hingga keduanya pun memutuskan untuk diam-diam menikah tanpa sepengetahuan kedua orang tua Rafa.


"Chika aku pun juga tak tahu, darimana Ayah dan Ibu mendapat foto-foto itu! Akhh brengsek!" Ucap Rafa kesal menyepak tembok disampingnya.


Saat ini kedua Kakak beradik itu sedang cekcok di koridor, yang sepi dan jauh dari unit gawat darurat.


"Lalu bagaimana sekarang? Aku takut terjadi hal yang buruk ada Ibu Kak... Ayolah" ucap Chika yang sudah tak dapat membendung air matanya lagi.


Rafa yang tak sanggup melihat Adiknya itu menangis pun, membawa Adiknya ke dalam pelukannya. "Maafkan aku Chika, maafkan aku."


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rafa khawatir, menghampiri dokter dan juga perawatan yang baru saja keluar.


"Maafkan kami Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tuhan berkehendak lain, pasien tak bisa kami selamatkan."


Tangis pun langsung pecah, bersamaan dengan datangnya Shakila dan juga Keisha disana. Chika menatap tajam pada Shakila, entah mengapa Chika selalu merasa kesal saat melihat Shakila.


Seperti yang direncanakan oleh Shakila, sebelum masuk Shakila memaksa Keisha untuk menangis dan mengeluarkan air matanya.


Hingga kini keduanya pun menjadi bersandiwara, dan ikut menangis.


"Apa aku semunafik ini sekarang?" Batin Keisha dalam hati.