
Mau makan apa hm?” Tanya Jaiden.
Thalia pun mempoutkan bibirnya, "Apa ya? Aku ingin makan sate. aku belum pernah mencobanya, terakhir kali saat aku TK. Apa kau mau makan di pinggir jalan?" Tanya Thalia.
"Aku oke-oke saja, dulu aku sama Keisha juga sering makan pinggir juga" Ucap Jaiden pada Thalia.
Sepertinya Jaiden sangat merindukan Keisha bukan?
"Jaiden, boleh aku jujur?" Tanya Keisha.
"Hm apa sayang?" Tanya Jaiden lembut.
"Bisa tidak kau tidak membicarakan soal Keisha saat kita sedang bersama? Aku sangat membencinya," Ucap Thalia jujur hingga membuat langkah Jaiden terhenti.
Raut wajah Jaiden yang awalnya cerah pun berubah menjadi dingin dan juga tajam, "Kau tidak menyukai Keisha?" Tanya Jaiden.
"Apa Jaiden tahu sesuatu tentang aku dan Keisha?" Ucap Thalia dalam hati.
"Hm, aku tidak menyukainya. Karena kalian pernah saling menyukai satu sama lain" Ucap Thalia.
"Tahu dari mana aku dan Keisha pernah saling menyukai satu sama lain?" Tanya Jaiden penuh selidik pada Thalia.
"Tidak penting, ayo kita makan! Aku sangat lapar," Ajak Thalia berjalan terlebih dahulu.
Jaiden pun menghela nafasnya kasar, "Kenapa aku bodoh sekali? Aku melupakan apa yang sudah di lakukannya pada Keisha saat di Amerika. Oh ****!" Umpat Jaiden dalam hati.
"Aku semakin yakin, kalau Thalia benar-benar bukan gadis yang polos" Ucap Jaiden menduga-duga dalam hati.
...⚡⚡⚡...
"Kau sudah menunggu lama? Maaf ya hehe," Ucap Keisha yang tak enak dan baru saja menyelesaikan kelas lukisnya.
"Tidak kok Kak, aku dari tadi juga tidak sendirian. Jovan dan Sufa yang menemani ku disini," Jelas Riki.
"Jovan dan Sufa? Lalu dimana mereka sekarang?" Tanya Keisha.
"Tuh!" Tunjuk Riki dengan dagunya pada Keisha.
"Tumben Jovan ikut rumpi sama Sufa," Ucap Keisha terkekeh.
Disana Sufa dan Jovan sedang bergabung dengan beberapa kumpulan anak perempuan, yang juga memakai seragam yang sama dengan mereka.
Siapa lagi kalau bukan Sufa yang memulainya? Itu sudah pasti, Sufa orangnya.
"Biasa, Jovan pasti sedang bosan dengan Yura. Makanya sengaja bergabung untuk menggoda perempuan yang lain," Ujar Riki enteng.
"Ck, semua pria itu sama aja!" Gerutu Keisha kesal. "Ya sudah ayo cepat Ki, aku sudah meminta izin dengan Papa dan Mama" Jelas Keisha sambil bangkit dari duduknya.
Riki sangat kesal, sangat Keisha mengucapkan kata Papa dan Mama di hadapannya.
"Ck, iya iya!" Kesal Riki. "Jovan! Sufa!" Panggil Riki, keduanya pun menoleh.
Riki pun memberi kode pada keduanya, hingga membuat Sufa dan Jovan mengangguk mengerti.
"Hati-hati Kak Kei!" Teriak Suda dan Keisha pun hanya tersenyum dan memberikan tangan jempolnya pada Sufa dan juga Jovan.
"eh itu bukannya Kak Keisha yang mantan Kak Jaiden waktu SMP dulu bukan sih?" Tanya Mona.
"Hah? Pacaran? Kak Kei dan Kak Jaiden tidak pernah pacaran tuh," Ujar Sufa.
"Hah? Masa sih? Tapi Kak Keisha terlihat seperti pacarnya Kak Jaiden bukan sih?" Tanya teman Mona.
"Tidak Kok, Kak Jaiden dan Kak Kei sama sekali tidak pacaran. Hanya kelihatannya saja yang seperti itu," Jelas Jovan.
"Ah masa sih? Kak Keisha itu yang Mama nya model itu bukan sih?" Tanya teman Mona berusha untuk mengorek informasi dari Jovan dan Sufa.
Namun Jovan dan Sufa tidak bodoh soal itu, mereka tahu apa alasan Mona dan temannya bertanya seperti itu.
"Jangan bahas soal itu ya, Kami harus saling menjaga privasi" Ujar Sufa pada temannya.
"Tambahannya, kami tidak akan memberitahu soal apa pun tentang Kak Jaiden dan Kak Kei hehehe" Ucap Jovan cengir kuda.
"Nice!" Ucap Sufa mengancingkan kedua jempol tangannya.
"Eh kau membawa mobil Ki? Tumben, motor mu kemana?" Tanya Keisha.
Ck, Kakak banyak tanya sekali. Sudah ayo masuk!" Suruh Riki malas.
"Kau kenapa sih?! Menyebalkan sekali tahu tidak?!" Gerutu Keisha saat memasuki mobil Riki dengan perasaan kesal.
Blam!
"Jangan di banting pintunya Kak Kei, astaga..." Ucap Riki berusaha sabar walaupun sangat kesal.
"Tidak peduli! Cepat bawa aku ke Masion Nenek!" Pinta Keisha.
"Ck menyebalkan!" Gumam Riki kesal.
Keisha pun menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dengan perasaan yang masih kesal pada Riki. Dan memilih untuk menatap keluar jendela, selama perjalanan menuju Masion pun tidak ada sama sekali pembicaraan antara keduanya.
Riki pun tidak ada niat untuk meminta maaf dengan Keisha, dan begitu pun juga sebaliknya dengan Keisha.
Bagaimana bisa keduanya bisa berada di atmosfer seperti itu? Dan juga berada di dalam satu mobil yang sama? Astaga itu pasti sangat tegang sekali bukan?
Pada saat lampu merah, atensi Keisha langsung menatap kedua pasangan yang masih menggunakan seragam sekolah. Sedang makan dan duduk bersama di depan sana, saling suap-menyuap satu sama lain dan menampilkan gelak tawa terbaik mereka.
Keisha yang awalnya sedang bersandar di kursi mobil, langsung mengajukan tubuhnya untuk melihat jelas siapa kedua pasangan itu. Hingga hal tersebut, membuat Riki juga ikut menoleh pada arah pandang Keisha karena penasaran.
Riki pun meremas setir mobilnya kesal, "Brengsek!" Gumamnya pelan namun bisa di dengar jelas oleh Keisha.
Keisha meremas bajunya, "Kenapa aku jadi seperti ini sih? Aku sudah memutuskannya, aku harus melupakan segalanya soal Kak Jaiden. Aku dan Kak Jaiden hanya masa lalu," Batin Keisha.
Riki yang melihat Kakaknya seperti itu pun, langsung meraih tangan Keisha untuk di genggamannya.
"You have me, just move from him" Ujar Riki tanpa menatap Keisha melainkan jalan.
Lampu merah pun sudah beruah menjadi warna hijau, hingga membuat Riki pun langsung menyelesatkan mobilnya. Agar Keisha tidak lagi melihatnya, melihat kedua pasangan yang sedang bermesra-mesraan itu.
"Ki apa Kak Jaiden tidak memiliki perasaan sedikit pun pada ku?" Tanya Keisha lirih dan hampir saja meloloskan bulir air matanya.
"Kau yang membuat keputusan seperti itu kan Kak Kei?" Tanya Riki saat mengingat keputusan Kakaknya beberapa waktu yang lalu, untuk melupakan Jaiden dari pada merebut kembali Jaiden dari Thalia.
"Tapi... aku" Ucap Keisha dipotong oleh Riki.
"Kak apa kau merasa bersalah pada Thalia? Namun apa Thalia ada perasaan bersalah pada mu?" Tanya Riki yang membuat Keisha terdiam.
Riki pun menghela nafasnya kasar, karena dirinya tak mendapatkan jawaban dari Keisha.
"Kak kau tahu? Sebenarnya Kak Jaiden tidak benar-benar untuk menyukai Kak Thalia," Jelas Riki membuat Keisha terkejut dan sekaligus binggung.