
"Eh?? Itu Tante Shakila kenapa??" Tanya Jaki yang baru saja kembali dari kantin bersama yang lainnya.
"Wah, apa secepat itu??" Tanya Heri.
"Hei tapi polisi masih menyelidikinya, ku rasa bukan karena itu" Ucap Surya melihat Shakila yang di tarik paksa oleh tiga polisi untuk keluar dari rumah sakit.
"Keisha! Hei Keisha! Ayo kesana sekarang!" Ajak Heri mengajak teman-temannya untuk segera menuju ke ruang inap Keisha.
"Ah iya!" Pekik Fia.
Lantas kelimanya pun segera bergegas, setelah kelimanya sampai disana. mereka tidak menemukan Keisha di manapun, hingga membuat mereka kebingungan.
"Astaga, sepertinya kita harus berpencar right?" Saran Fia.
"Hei ayo hubungi yang lainnya, kita tidak akan bisa menghubungi Keisha. Dia meninggalkan ponselnya disana," Tunjuk Keira pada nakas yang berada di samping berangkat milik Keisha.
"Astaga..." Ucap Surya frustasi.
"Ayo kita," Ucap Jaki telrotong saat dirinya mendapatkan telepon dari Riki. "Riki menelepon ku!" Ucap Jaki langsung mengangkat telepon itu dan mengeraskan suara.
"Kak? Kenapa kalian semua susah sekali di hubungi sih?!" Gerutu Riki kesal. "Tidak ada satupun yang menjawab telepon ku! Apa kalian masih bersama Kak Keisha? Kalian sudah melihat berita? Mama ku di tangkap oleh polisi," Ucap Riki panjang lebar.
"Riki kami sudah mendengarnya, kami bahkan melihatnya sendiri di rumah sakit. Dan Keisha sekarang tidak ada di ruang inapnya" Ucap Jaki terpotong.
"What?! Aku akan ke rumah sakit sekarang juga!" Ucap Riki.
"Riki, Riki tenanglah dulu. Tidak baik untuk mu mengendarai motor saat seperti ini, minta Jovan atau Sufa untuk menyupiri mu oke Adik kecil?" Saran Jaki.
"Kami akan mencarinya di daerah rumah sakit, bagaimana kalau kalian bertiga mencari Keisha di tempat yang kiranya sering di kunjungi ya atau mungkin di kunjunginya? Itu akan lebih muda, atau Sufa pergi dengan Surya, dan Kau pergii dengan Jovan?" Tanya Jaki memberi saran.
"Oke deal!" Ucap Riki. "Kami akan menurunkan Sufa di cafe dekat rumah sakit," Ucap Riki.
"Oke aku akan menjemputnya disana, aku pergi dulu!" Pamit Surya langsung pamit pada teman-temannya.
Rafa mencari dimana keberadaan Keisha, Rafa sudah mencari di rumah sakit. Tapi tidak menemukannya, tapi saat Rafa menuju pintu keluar rumah sakit, Rafa melihat Keisha memberhentikan sebuah taksi di depan dan menaiki taksi itu.
"Keisha! Keisha!" Panggil Rafa mengejar taksi itu, tapi taksi itu tak kunjung berhenti.
"Astaga... kemana dia akan pergi dengan keadaan seperti itu" Gumam Rafa pusing sendiri.
Drtt drtt drtt
Rafa pun merogoh saku celananya, karena ponselnya bergetar dan dengan segera Rafa pun mengangkat telepon itu.
"Halo?" Jawab Rafa.
"Nyonya Shakila sudah di tangkap, apa sebaiknya kita ke kantor polisi sekarang?" Tanya asisten Rafa.
"Tidak perlu, kita sudah mempunyai bukti yang kuat. Tidak ada alasan untuk Shakila tidak menusuk di dalam sana, bisa tolong kau lacak di mana keberadaan Keisha? Keisha pergi entah kemana," Ucap Rafa panik dan khawatir.
"Keisha? Baiklah, aku akan mencoba untuk mencarinya" Ucap asisten Rafa dan Rafa pun langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"Mba mau kemana mba?" Tanya supir taksi.
Keisha pun menghapus air matanya, "Pak bisa tolong antar saja ke pemakaman Nusa Renan Indah?" Tanya Keisha.
'Baik mba," Jawab supir taksi itu.
...⚡⚡⚡...
"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?" Tanya Jinata pada asistennya.
"Belum semuanya Tuan, tapi ini lihat lah" Ucap orang kepercayaan Jinata sambil menunjukkan beriita di sebuah iPad miliknya.
Jinata mengedipkan matanya berkali-kali, hingga melepaskan kacamatanya yang bertengger di hidup mancungnya itu.
"Iya Tuan, dari informasi yang saya ketahui dari kepolisian beliau melakukan pemalsuan dokumen hasil tes DNA dan juga membunuh anak kandung Rafa," Jelas orang suruhan Jinata.
"Apa itu anak Lia? Thalia maksud mu? Tapi dia" Ucap Jinata tepotong.
"Rio, anak pertama Rafa dan Lia Tuan" Jawab orang suruhan itu.
"Siapa yang melaporkan ini? Lia?" Tanya Jinata.
"Tidak Tuan, dari yang saya tahu Lia tidak tahu soal ini. Yang melaporkannya adalah Rafa sendiri, dan Rafa memiliki bukti yang cukup kuat untuk itu. Hingga tidak akan dilakukan sidang untuk Shakila, karena dirinya sudah terbukti salah 100%" Jelas Doni.
"Wah berita mengejutkan apa ini? Keisha pasti akan merasa terpukul mendengar ini, apa Bram sudah mengetahui ini?" Tanya Jinata.
"Saya rasa sudah Tuan, karena berita juga sudah di muat di media massa karena Shakila adalah mantan model terkenal tanah air" Jelas Doni.
"Jaiden? Bagaimana dengannya? Berapa lama lagi dia akan sampai?" Tanya Jinata memijit kepalanya pusing.
Doni pun tampak berpikir, "Mungkin Tuan muda akan sampai sekitar 17 jam atau 18 jam lagi?" Ucap Doni tak yakin.
"Baiklah selidik saja Rena, beritahu tahu Jaiden setelah dia sampai disana nanti pada asisten pribadi keluarga Aldebarano" Ucap Jinata.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi" Ucap Doni meninggalkan ruang kerja Jinata.
arena sedang meguping di pintu pun, langsung menarik tempat persembunyian agar Doni tidak melihat keberadaannya.
"Untuk apa Jinata menyelidiki ku? Apa dia tak percaya lagi pada istrnya ini?" Batin Rena tak enak.
...⚡⚡⚡...
"Kalian sudah menemukannya?" Tanya Heri di telepon.
"Belum sama sekali, ku rasa Keisha tahu kita akan mencarinya. Jadi dia tidak akan berada di tempat yang biasa dia kunjungi saat pergi bersama kita," Jelas Surya di telepon.
"Aku pun berpikir begitu, astaga... kemana sih?" Gerutu Heri lelah sendiri mencari Keisha yang tak kunjung didapatinya.
"Kau sudah tanya Riki dan Jovan?" Tanya Surya di telepon.
"Belum, apa bisa kau sambungkan juga telepon ini padanya?" Tanya Heri.
"Oke sebentar," Ucap Surya.
Drtt drtt drtt
"Halo? Kak? Kalian menemukannya?" Tanya Riki.
"Astaga... Kau juga belum?" Tanya Heri.
"Belum, tapi aku merasa kalau Kak Kei pasti sedang berada di pemakaman mendiang Om Juna dan juga Tante Celine. Kami sedang menuju kesana," Jelas Riki.
"Kalau kalian sudah menemukannya, jangan lupa untuk memberi kabar oke? Huh?" Ucap Fia.
"Oke Kak siap!" Ucap Riki lalu memutuskan sambungan telepon.
Keisha baru saja turun dari taksi yang di naikinya tadi, dan membayar ongkos. Keisha menarik nafasnya dalam-dalam, dan melihat pada pakaian yang masih di kenakannya.
Yaitu pakaian rumah sakit.
"Pantas saja, dari tadi orang menatap ku dengan tatapan aneh seperti itu" Gumam Keisha sendiri.
Keisha pun berjalan untuk masuk ke pemakaman milik keluarga Renandra, dan menghampiri makan Juna dan juga Celine yang bersebelahan.
Matanya memanas, saat dirinya mendekati pemakaman Celine dan Juna.