
...'Datangnya penopang di saat ku tumbang'...
...°°°...
Langit yang awalnya cerah kini mulai mendung seolah tau apa yang kurasakan.
Greysel tidak berniat bangun atupun pindah dari sana ia tetap memilih terbaring bahkan saat hujan menimpa ia tetap berada dari tempatnya.
"Esel lelah mah, pah, kenapa kalian tinggal esel sendiri, esel rapuh tanpa kalian langkah esel sekarang pun sudah goyah haruskah esel menyerah?" Gumam greysel sambil menatap langit.
Luka di sudut bibirnya terasa perih saat terkena air hujan tapi lebih perih hatinya.
"Kenapa main hujan di sini?" Tanya seseorang tiba-tiba dengan dodoh nya.
Ni orang buta apa! Siapa juga yang main hujan?
"Suka-suka" tanpa menengok greysel menjawab dengan asal
"Kenapa gk masuk kelas?" Ia kembali bertanya
"Lagi males"
"Mau ngebolos" balas nya lagi
Greysel tidak menjawab ia lebih memilih memejamkan mata karena rasa sakit tengah menyerang kepalanya, bahkan tanah tempat greysel berbaring juga seperti bergoyang.
Tanpa babibu cowo itu menggendong Greysel ala bridal style, greysel tidak membantah atau pun menghindar karena tenaganya sudah tidak tersisa lagi.
"Kenapa diem aja di gituin?" Tanya nya mengacu pada berbuat an Sintia dkk.
Namun greysel tak kunjung menjawab ia hanya memejamkan matanya erat.
"Kamu mau jadi samsak berjalan?" Cowo itu kembali bertanya
"Percuma! aku melawan pun hasilnya akan sama atau mungkin lebih buruk" jawab greysel lirih
Ya jika greysel melawan sekarang maka nanti mama pasti akan memberikan yang lebih dari ini.
"Kenapa?"
"Karena sudah tidak ada penopang" jawab greysel ambigu
Tanpa di duga cowo itu justru menjawab "kalau begitu biarkan aku menjadi penopangmu"
...°°°...
Greysel pulang lebih awal karena kondisinya tidak bisa di bilang baik-baik saja, bagaimana bisa baik hampir setiap hari ia mendapat penyiksaan baik di rumah maupun sekolah.
Greysel berjalan menuju nakas kemudian mengambil gunting
"Kenapa mereka selalu menyakiti ku? kenapa derita ini tiada akhir?
Bukankah jika ada awal maka akan ada akhir tapi kapan! aku sudah lelah"
Gyersel memegang rambutnya erat-erat kemudian mengarahkan gunting yang tadi ia ambil ke arah rambutnya.
Kemudian....
Ckriss_s
(Anggap it suara gunting Lg motong rambut, karna ane tdk tau🙏)
Rambut gyersel yang awalnya panjang pun seketika langsung menjadi pendek sampai sebatas bahu.
Dan seketika pula air matanya jatuh bagaimana pun ia sebenarnya enggan memotong rambutnya karena menurut papa rambutnya sama persis dengan milik mama.
Tapi rambut ini selalu menjadi bahan untuk menyakitinya setiap saat.
"Maaf pah eysel gk nepatin janji semoga papa gk marah" Ucapnya sambil menatap nanar potongan rambut di tangannya.
Tok_tokk
"Neng bibi bawa obat"
Ternyata yang datang bibi aku terlalu bodoh berharap mama yang datang.
"Taruh di situ aja bi"
"Ya Allah neng rambutnya kenapa di potong gitu?" Ujarnya terkejut saat melihat rambutku yang pendek
"Pengen aja bi" jawabku
"Tapi neng cakepan panjang rambutnya"
"Aku suka ko bi kaya gini" jawab ku lagi
Karena tidak mau terus membahas hal ini pun aku langsung meminta bibi untuk keluar
Tuhan tau apa yang terbaik bagiku, tapi haruskah aku merasakan sakit ini?____________
Harusnya aku__?
...~fine~...