
"Kau yakin akan segera ke London?" Tanya Heri pada Keisha.
"Hm, aku sudah yakin juga soal itu. Maaf ya? Aku selalu merepotkan kalian," Ucap Keisha tak enak dengan raut wajah cemberutnya.
Heri menghela nafasnya kasar, "Itu kan gunanya kami sebagai teman mu? Begitu pun dengan ku. Aku juga sering merepotkan kalian," Ucap Heri membuat Keisha tersenyum senang.
"Wah Heri ku sudah dewasa!" Ucap Keisha terkekeh geli pada Heri.
"Ck lebay!" Ucap Heri pada Keisha dan Keisha pun tertawa geli mendengar jawaban Heri.
"Kapan?" Tanya Heri.
"Lusa," Jawab Keisha.
"Thalia? Bagaimana dengannya?" Tanya Heri.
"Ku rasa dia akan tetap disini?" Ucap Keisha tak yakin. "Dia mungkin akan menjalani terapi, itu yang aku dengar" Jelas Keisha.
"Keisha menghela nafasnya kasar, "Wahh... hidup ku penuh dengan drama sekali bukan?" Tanya Keisha yang juga meliriknya.
"Kau tahu dari dulu keluarga ku tidak pernah beres, bahkan sekarang Mama ku masuk penjara. Papa ku akan menikah bulan depan, dan aku di kirim ke London."
"Aku ingin hidup seperti orang lain, hidup yang biasa. Aku ingin sekali mempunyai keluarga yang harmonis seperti Keisha, Surya ataupun yang lainnya. Apa itu sangat sulit?" Tanya Keisha.
"Itu bukan penuh dengan drama Kei, itu hanya cobaan untuk kita yang memiliki berantakan seperti ini. Tuhan sedang menguji kesabaran kita untuk menghadapinya, semua ini ada hikmahnya Kei dan kau harus belajar soal itu. Benar, terlalu dini untuk belajar seperti itu dan menjadi dewasa saat belum waktunya. Tapi kita harus bisa," Ujar Heri panjang lebar.
Motto ku saat ini hanya urus hidup mu sendiri, keluarga tak akan selamanya bisa membantu mu dan memberi dukungan apa yang kau inginkan, dan memberi perhatian yang kau inginkan seperti orang lain yang memperhatikan anaknya. Walaupun keluarga itu tempat untung kita pulang, lalu bagaimana kalau dengan keluarga yang berantakan seperti kita ini? Kemana kita harus pulang?" Tanya Keisha
Heri pun menghela nafasnya kasar, "Aku ini adalah kata-kata yang sangat tidak berguna dan hanya untuk menenangkan saja. Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja kalau kau memang lelah pada semuanya. Kau perlu isitrahat, Jika kau ingin menangis, maka menangis lah sepuasnya."
"Lepaskan semua yang ingin kau lakukan, jangan di tahan walaupun itu menentang kemauan orang tua kita. Jika kau ingin, kau harus mencoba untuk mendapatkannya dan juga berusaha akan hal itu," Jelas Heri.
"Terima kasih," Jawab Keisha.
"Menangis lah kalau kau ingin menangis sekarang juga, jangan berpura-pura kuat kalau kau memang sudah tidak sanggup lagi" Ujar Heri hingga membuat mata Keisha berair.
"Hiks... dunia sangat jahat..." Isak Keisha.
...⚡⚡⚡...
"Kenapa kalian pagi-pagi datang bertamu ke rumah saya?" Tanya Rena pada beberapa polisi yang baru saja datang ke rumahnya.
Polisi itu pun itu akhirnya memberikan surat penangkapan atas nama Renabila Radikal, dengan kasus pembunuhan berencana.
"Apa apaan ini?! Aku sama sekali tidak membunuh siapapun!" Gertak Rena membuang surat itu sembarang arah.
"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi," Ucap polisi itu sambil memborgol tangan Rena secara paksa karena Rena memberontak.
"Apa apaan ini!" Gertak Rena.
Dan dengan terpaksa, Rena pun menurut dan masuk ke dalam mobil. Pikiran Rena serasa langsung berputar, apalagi saat melihat suaminya yang hanya memperhatikan dirinya dari balkon kamar Masion.
"Kenapa dia diam saja?!" Gerutu Rena dalam hati dan kini dirinya sedang berada dalam perjalanan ke kantor polisi.
Rena pun langsung teringat, soal beberapa hari yang lalu soal suaminya yang meminta Doni orang kepercayaannya untuk menyelidiki dirinya.
"Apa dia yang melaporkan ku?!" Batinnya kesal.
Sesampai di kantor polisi, Ten langsung bertemu dengan Doni orang kepercayaan suaminya.
"Apa dugaan ku benar? Apa ini soal Celine?" Batin Rena takut.
"Nyonya tidak ada gunanya untuk berbohong," Jawab Doni dan Rena menatap nyalang pada Doni.
"Jinata yang melakukan ini?! Ada apa dengan kalian?!" Tanya Rena kesal.
"maaf Nyonya," Ucap Doni menundukkan kepalanya.
"Kurang ajar!" Bentak Rena meludah.
Doni pun melirik pada salah satu polisi dan mengangukkan kepalanya. Agar memasukkan Rena ke dalam penjara, dengan beberapa bukti yang sudah di kumpulkannya. Dan bukti itu cukup kuat, untuk membuat Rena tidak memiliki alasan keluar dari tempat terkutuk itu.
Setelah Doni sudah memastikan Rena masuk ke dalam jeruji besi, barulah Doni menghubungi Jinata.
"Halo Tuan, semuanya sudah beres" Ucap Doni dan Jinata menghela nafasnya lega.
"Terima kasih atas bantuan mu, segera hubungi media massa" Suruh Jinata lu menutup telepon itu begitu saja.
"Kau harus menerima konsekuensi atas apa yang sudah aku lakukan Rena, aku tidak akan diam hanya karena kau adalah istri ku" Gumam Jinata lega.
Jinata pun mengerakkan jarinya untuk memijit keyboard pada ponselnya dan segera menghubungi cucunya. Jinata hendak memberitahu pada Jaiden, atas apa yang terjadi pada Rena.
"Halo kek?" Jawab Jaiden di telepon.
"Halo Jaiden? Bagaimana kabar mu?" Tanya Jinata basa-basi.
"Aku baik, maaf tidak menelepon Kakek. Bagaimana dengan Kakek dan Nenek?" Tanya Jaiden.
"Kami baik, Jaiden..." Panggil Jinata.
"Ada apa Kek? Ada yang ingin Kakek katakan padaku?" Tanya Jaiden.
"Maafkan Kakek dan Nenek mu," Ujar Jinata.
"Huh? Kenapa Kakek meminta maaf padaku?" Tanya Jaiden binggung.
"Nenek mu Rena" Ucap Jinata tak tahan.
"Nenek? Ada apa Kek? Apa terjadi sesuatu disana?" Tanya Jaiden khawatir.
"Apa kau sayang padanya?" Tanya Jinata tiba-tiba.
"Tentu, Nenek membesarkan ku dengan baik selama ini bersama Kakek" Jelas Jaiden membuat Jinata meneteskan air matanya.
"Dia membunuh Ibu mu, Nenek mu membunuh Celine Jaiden," Jelas Jinata.
"H... huh? A..apa?" Tanya Jaiden gugup.
"Rena sudah berada di penjara sekarang, kau tak perlu khawatirkan itu. Kakek sudah mengurusnya, jangan kembali keisni. Semua akan baik-baik saja, Kakek akan berada di Jepang untuk waktu yang lama."
"Selesaikan pendidikan mu di LA, dan kembalilah keisni untuk megurus bisnis keluarga kitan Kau dan Thalia adalah satu-satunya harapan masa depan Choren groups" Jelas Jinata.
"Kakek..." Lirih Jaiden.
"Maafkan Kakek Jaiden, Kakek akan sering mengunjungi" Ucap Jinata dipotong oleh Jaiden.
"Tidak, itu tidak benar. Aku yang akan sering mengunjungi Kakek di Jepang," Ujar Jaiden.
"Baiklah, itu terserah dengan mu. Terima kasih, maafkan Kakek dan Nenek mu. Kalau begitu Kakek tutup," Ucap Jinata langsung menutup panggilan tersebut.