
"Tante Joya dan Om Tanaro tahu, soal Thalia adalah darah daging Juna. Thalia adalah bagian keluarga ini yang terasingkan," Jelas Rafa panjang lebar.
"Wah jadi tebakan ku selama ini benar? Kau bermain-main dengan anakku Lia?" Tanya Rena menatap Lia geram.
"Maafkan aku Tante, tidak seharusnya aku seperti itu dengan Kak Juna. Tapi saat itu, kami melakukannya dalam sadar karena kami saling mencinta satu sama lain. Celine sendiri juga tahu, bagiaman hubungan ku dan Kak Juna saat itu," Jelas Lia.
"Lalu?" Tanya Rena membuat Lia dan Rafa saling bertukar tatap binggung.
"Maksud Tante?" Tanya Rafa.
"Apa kalian kesini ingin menjelaskan ini dan mendapatkan sebagian warisan keluarga Renandra untuk Thalia?" Tanya Rena.
"Tidak sama sekali, aku hanya ingin menjelaskan soal keberadaan Thalia. Aku ingin Thalia mendapatkan haknya sebagai anak mendiang Juna, aku butuh pengakuan di publik" Jelas Lia.
"Kau ingin membuat kehormatan keluarga ku bermatakan di mata publik Lia Auriya? Kau ingin saham perusahaan ku anjlok? Tidak, tidak akan ku biarkan."
Katakan, kau mau apa? Uang? Aset?" Tanya Rena secara tidak langsung merendahkan Lia da juga Thalia.
"Lia, ayolah... kau dan Juna bahkan tidak menikah sama sekali. Lalu bagaimana bisa aku mengaku pada publik kalau Thalia adalah anak kandung Juna juga?" Tanya Rena.
"Apa aku harus mengatakan pada reporter dan wartawan untuk menulis berita, tentang kau yang hamil di luar pernikahan dengan anak mendiang keluarga Renandra? Begitu?" Tanya Rena lagi.
"Kalau begitu, aku ingin Tante memperlakukan Thalia sama seperti Tante memperlakukan Jaiden" Ucap Lia.
"Tidak, tidak akan. Tapi aku akan membiayai semua sekolahnya. Bawa dia ke sekolah fashion di luar negeri, dengan begitu akan menerimanya di keluarga ini. Aku akan memberikan haknya seperti warisan, ini sudah keputusan akhir ku. Tidak bisa di ganggu gugat," Ucap Rena final dan hendak bangkit dari duduknya dan meninggalkan Rafa dan juga Lia.
"Tante, sebenarnya penyebab pesawat Tante Joya dan Om Tanaro jatuh itu adalah ku sendiri dan juga Ayah Saka" Ucap Rafa tiba-tiba hingga membuat Rena membalikkan badannya.
"Apa kau bilang?" Tanya Rena takut salah mendengar ucapan yang di lontarkan Rafa barusan.
"Aku da Tuan Leonarka adalah penyebab jatuhnya pesawat itu," Jelas Rafa sekali lagi dan berjalan mendekat pada Rena.
Selangkah demi langkah Rafa pun mendekat pada Rena, dan sakit di kepala Rena pun kambuh.
"Akhh..." Ucap Rena memegangi kepalanya dan tangan kirinya yang bertumpu pada sofa untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.
"Tante..." Ucap Lia panik bangkit dari duduknya.
"Kepala pelayan!" Teriak Rena menggelegar hingga membuat pelayan itu berlari menghampiri Rena.
"Ada apa Nyonya?" Tanya pelayan itu khawatir.
"Bawa aku ke kamar," Ucap Rena dan pelayan itu mengindahkan ucapan majikannya.
"Aku tahu, aku tahu Tante sediri kan yang melapor pada Ibu ku soal hubungan ku dengan Lia?" Tanya Rafa hingga membuat Rena kembali menghentikan langkahnya saat hendak menuju ke dalam kamarnya.
Namun Rena membalikkan badannya, dan tidak bergeming sejenak lalu pergi meninggalkan keduanya begitu saja.
"Ra... Rafa" Oangill Lia hingga membuat Rafa menoleh pada istrinya itu dan menghampiri Lia.
"Menurut mu jika Chika tidak meminta bantuan pada ku saat itu, apa yang akan di lakukan mereka pada kalian huh?" Tanya Rafa tak habis pikir degan jalan pikiran Lia.
"Ku rasa Tante Rena tidak ada kaitannya dengan itu semua Rafa, Tante Rena tidak akan berbuat seperti itu. Ayolah..." Sahut Lia.
"Lia sadar lah!" Ucap Rafa memegangi kedua bahu Lia dan menatap dalam mata istrinya itu.
"Tante Rena bahkan tega membunuh menantunya sendiri sampai terjaga selama bertahun-tahun, dan kau? Apalagi kau memiliki darah daging dari keluarga mereka yang tidak sama sekali di inginkannya," Jelas Rafa.
"Kau yakin soal itu Rafa? Dari mana kau mengetahuinya? Bisa kau beritahu pada ku?" Tanya Jinata tiba-tiba muncul entah dari mana hingga membuat Rafa terkejut setengah mati.
"O... Om Jinata.." Ucap Rafa gugup.
"Om sudah mendengar semua ucapan kalian, dan juga pembicaraan mu dengan istri ku. Om rasa kalian semua harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kalian perbuat kan?" Tanya Jinata.
"Om akan memenjarakannya kalau dia terbukti salah, dan kau juga mengaku soal kecelakaan pesawat yang di alami mendiang Tanaro dan juga Joya" Jelas Jinata.
...⚡⚡⚡...
Sret!
Thalia langsung bersemangat, saat dirinya mendengar suara pintu ruang inapnya terbuka. Tapi setelah Thalia melihat siapa yang masuk, rasa semangat itu langsung hilang begitu saja.
"O... Om siapa? Sepertinya Om salah ruangan?" Ucap Thalia ragu-ragu.
"Aku tidak mungkin salah ruangan, kau tidak ingat pada ku anak manis?" Tanya orang itu lalu menutup pintu dan...
Klek!
Pria itu mengunci pintu kamar inap milik Thalia.
"Aku sedikit bersyukur, kamar ini sangat menjaga privasi sekali bukan? Bahkan tidak ada kaca di pintu itu" Ucap Pria itu menunjukkan pintu masuk tanpa kaca disana.
"Dan satu lagi, ruangan ini kedap suara. Jadi kalau kau teriak pun, tidak akan ada yang mendengarkan mu cantik," Ucap pria itu mencolek dagu Thalia.
Thalia pun mulai takut, dan hendak menekan tombol darurat, tapi tangannya sudah terlebih dahulu di genggam oleh pria itu.
"Kau ingin menekan tombol ini manis hm?" Tanya pria itu lalu merusak tombol darurat tersebut. "Upss... aku tidak sengaja merusaknya. Maafkan aku," Ucap pria itu.
Tahlia sudah ketakutan dan mengeluarkan air matanya, "Om mau apa? Tolong... jangan sentuh aku... aku akan memberikan apapun yang Om mau, asal jangan sentuh aku..." Ucap Thalia ketakutan.
"Ahh sayang sekali, aku sudah mendapatkan banyak apa yang aku ingin kan. Saat ini aku hanya menginginkan mu saja cantik, aku tidak bisa menyia-nyiakan gadis SMA yang masih perawan dan cantik seperti mu ini," Ucap pria itu menarik dagu Thalia lembut dan membuat Thalia menangis ketakutan.
"Hei hei jangan menangis cantik, kita akan bersenang-senang" Ucap pria itu langsung menyambar bibi mungil Thalia.
Jaiden baru saja sampai di rumah sakit, setelah dari pemakaman tadi Jaiden memiliki waktu setidaknya 20 menit tersisa untuk segara menemui Keisha. Lalu setelahnya, Jaiden pun segera terbang menuju luar negeri meninggalkan tanah air.
"Kau gugup ya?" Tanya Dimas terkekeh pelan, saat melihat Jaiden menarik nafasnya dalam sebelum turun dari mobil.