I Am Fine

I Am Fine
Sembuh



"Kau tahu perasaan ku Celine," Ucap Juna dingin pada Celine, lalu Juna menarik tangannya dan pergi meninggalkan Celine di ruang pasien tersebut sendirian.


"Apa sepenting itu Lia di hidup mu?" Gumam Celine sambil terisak.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA" Teriak Celine lalu mengobrak-abrik seluruh isi ruangan tersebut.


Celine membuang semua barang yang berada di dekatnya, bahkan Celine mencabut infus yang terpasang di tangannya dan meleparkannya ke asal arah.


Mulai dari selimut, bantal, infus, buah yang berada di atas meja, bahkan vas bunga pun di buang oleh Celine ke asal arah.


Saat ini Celine sedang mengamuk, sambil menangis dan melempar barang-barang yang berada di sekitarnya tiada henti.


Perawat yang mendengar dari salah kamar Celine pun langsung memasuki ruang VIP tersebut, dan betapa terkejutnya perawat tersebut mendapati Celine yang sedang mengamuk.


"Hentikan Nyonya!" Ucap perawat itu sambil mencegah tangan Celine dan tangan perawat itu berusaha untuk memencet tombol darurat.


"Aaaaaa lepaskan! lepaskan aku!" Teriak Celine memberontak, hingga membuat perawat itu kewalahan untuk menahan Celine.


"Astaga bagaimana ini?!" Tanya salah satu perawat yang baru saja masuk.


Brukh


Celine tiba-tiba jatuh pingsan.


"Astaga! Nyonya?!" Pekik perawat tersebut terkejut.


"Cepat panggil dokter Tara!" Teriak salah satu perawat tersebut panik.


Tara memijit pangkal hidungnya pusing, karena tidak dpaat menghubungi sahabatnya tersebut. Terlebih lagi Tara sangat binggung pada keadaan Celine yang tiba-tiba saja mengamuk tidak jelas barusan.


Tara bahkan terkejut, saat melihat ruang pasien Celine yang sangat berantakan.


Tara sungguh tak mengerti apa yang sedang berada di pikiran temannya itu selain Lia, apa Tara sekarang harus menghubungi orang tua sahabatnya itu saja? Ah tidak bisa, Juna sudah memintanya untuk tidak mengatakan apa pun pada kedua orang tuanya.


Terlintas di pikiran Tara untuk menghubungi Lia, kekasih sahabatnya itu.


"Ada apa?!" Jawab Lia ketus pada Tara saat menajwab telepon.


"Ck, apa Juna sedang bersama mu?" Tanya Tara.


"Tentu saja, kenapa memangnya?"


"Cepat berikan ponsel mu padanya!"


"Ck, tidak mau!"


"Lia berikan ponsel mu padanya, selagi aku masih berbaik hati, atau aku akan melaporkannya kepada orang tuanya!" Bentak Tara di telepon emosi.


"Ck, kau menyebalkan! tunggu sebentar!"


"Halo? ada apa Tara?" Tanya Juna di telepon.


"Apa kau sudah gila Juna?!," Ucap Juna berteriak di telepon, "Kenapa kau meninggalkannya sendirian?! Celine mengamuk! cepat kemari, atau orang tua mu yang akan ku minta kemari!" Lanjut Tara kesal pada Juna.


"Apa? Celine mengamuk? baiklah aku akan kesana."


Tut


Juna langsung menutup telepon Tara dan mengambil kunci mobilnya, serta Jasnya yang tersamping di atas sofa apartemen Lia.


"Hei mau kemana? apa kau akan meninggalkan ku?" Tanya Lia pada Juna.


"Lia aku akan kerumah sakit," Sahut Juna.


"Apa sekarang Celine lebih penting dari padaku?!" Ucap Lia kesal pada Juna.


"Lia mengerti lah, Celine saat ini sedang mengandung dan mengamuk di rumah sakit," Ucap Juna khawatir pada istrinya.


"A...apa? hamil? A...apa itu anakmu?" Tanya Lia gugup.


"Lia..." Lirih Juna.


"Kau melakukannya dengan Celine? kenapa kau ini sangat tega akhir-akhir pada ku hah?! kau sudah berjanji pada ku Juna, kau tidak akan menyentuhnya! namun apa?!" Ucap Lia berteriak pada Juna.


"Lia sungguh, jangan berbicara tentang itu dulu oke?!" Bentak Juna pada Lia.


"Maaf, aku harus pergi" Ucap Juna kesal, lalu pergi meninggalkan aprtemen Lia.


"Juna! Juna! kembali, Junaaaaaaaaaaaaaa!" Teriak Lia.


"Lihat saja kau Celine!" Gumam Lia.


...⚡⚡⚡...


Cahaya sinar matahari mulai masuk kedalam ruangan Celine, hingga membuat Celine perlahan terusik dan membuka matanya. Celine sangat terkejut saat melihat Juna yang tertidur di sebelahnya dengan terduduk.


Mata Celine kembali memanas saat melihat Juna, entah kenapa rasanya sangat perih. Namun perutnya terasa sangat sakit, hingga membuatnya meringis kesakitan.


Juna pun terbangun dari tidurnya karena mendengar ringisan dari Celine.


"Celine? kau tak apa? apa yang sakit? sebentar ya aku panggil Tara," Ucap Juna panik.


"Akhh..." Ringis Celine sekali lagi, hingga membuat Juna semakin panik.


"Tara! dimana dokter Tara?! cepat panggilkan!" Ucap Juna panik di depan pintu ruangan Celine.


Tara pun langsung berlari dan masuk ke dalam ruangan Celine.


"Kau tunggu saja disini!" Ucap Tara pada Juna agar menunggu di luar saja.


...⚡⚡⚡...


"Bagaimana hubungan mu dengan Juna?" tanya Chika sahabat dekat Lia.


"Ya begitu, sudah 3 hari ini aku belum bertemu dengannya. Bahkan dia tidak ke kantor dan juga tidak membalas pesan ku," Sahut Lia dengan raut wajah yang kesal.


"Apa sebaiknya kau berhenti saja dengan Juna?" Ucap Chika.


"maksudmu?" Tanya Lia.


"Begini Lia, aku bukan ingin melarangmu dan sok tau. Tapi kau tahu kan kalau Juna itu sudah menikah, dia sudah memiliki istri Lia. Apa kau tidak takut?" Tanya Chika.


"Apa yang perlu ku takutkan, Juna sangat mencintai ku," Sahut Lia santai.


"Apa kau yakin? Tuhan itu maha membalikkan perasaan Lia, bahkan Juna sudah 3 hari tidak memberi kabar pada mu. Menurutmu apa saja yang dilakukannya dengan Celine? bahkan Celine saat ini sedang mengandung anaknya," Jelas Chika pada Lia.


"Lalu aku harus apa Chika?! apa aku juga harus mengandung anak Juna? akan ku pikirkan, sepertinya boleh juga," Ucap Lia tertawa penuh arti seolah dia akan melakukannya.


Chika menghela napasnya kasar saat mendengar ide gila dari temannya tersebut.


"Bukan Lia, bukan itu maksud ku. Kau tau kan bagaimana orang tua Juna? apa kau pikir mereka diam saja jika hal itu terjadi? kau bisa saja di buang ke laut, apalagi orang tua Celine tahu kau mengandung anak Juna. Sudah ku pastikan kau di jadikan makanan hiu kesayangan


Tuan Tanaro Aldebarano," Jelas Chika berusaha untuk menyadarkan sahabatnya.


Lia memutar bola matanya malas, "Astaga Chika itu tidak akan terjadi. Celine lah yang salah disini, kenapa dia harus hadir diantara aku dan kak Juna," Gerutu Lia kesal.


"Terserah mu saja," Ucap Chika pasrah.


...⚡⚡⚡...


Sudah 3 hari Juna merawat Celine dirumah sakit dan tidak pergi bekerja sama sekali, Celine juga sudah membaik. Bahkan hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang kerumah.


Bagaimanapun Juna sangat merasa bersalah pada Celine, karena saat ini Celine sedang mengandung anaknya.


Ah iya, Bi Sarah juga selalu mengunjungi rumah sakit selama 3 hari belakangan ini. Karena Juna meminta Bi Sarah untuk membuatkan Celine makanan sehat untuk ibu hamil.


Celine tidak menyukai makanan rumah sakit, maka dari itu Juna meminta Bi Sarah memasakkan Celine makanan sehat.


"Kau ingin sesuatu?" Tanya Juna pada Celine.


Celine pun menggelengkan kepalanya.


"Kak?" Panggil Celine.


"Hm?" Sahut Juna.


"Kau...menerima anak ini kan?" Ucap Celine menunduk sambil mengelus perutnya yang masih rata.