I Am Fine

I Am Fine
Kebenaran Jaiden



Celine, Juna Ayo kita berbicara di Privat room. Dino kau bawakan Jaiden juga!" Ucap Tanaro tiba-tiba.


Celine, Juna, dan Dino pun menurut, ketiganya mengikuti Tanaro dari belakang.


"Aku penasaran apa yang akan terjadi kak, apa mereka akan rujuk?" Bisik Rina pada Saka.


"Doakan saja, mereka masih saling mencintai bukan? Walaupun Juna terlambat mengetahui perasaannya pada Celine," Sahut Saka berbisik kepada istrinya.


Setelah sampai di depan ruang privat room, salah satu penjaga pintu tersebut membukakan pintu dan mempersilahkan untuk masuk.


"Nenek, Kakek!" Ucap Jaiden sambil berlari pada Rena dan Jinata.


Jelas sekali Juna binggung, bagaimana bisa anak kecil itu dengan akrabnya, memanggil kedua orang tuanya dengan embel-embel kakek dan nenek.


"Apakah mereka saling kenal?" Pikir Juna.


Bahkan Juna mengernyitkan dahinya dan mengedipkan matanya berkali-kali.


"Hahahaha Juna, apa kau baru saja menangis setelah bertemu dengan Celine?" Ucap Jinata menggoda Juna.


"Hei hentikan, jangan membuatnya malu" Ucap Rena berbisik.


Joya dan Tanaro menahan tawanya dengan senyum, begitupun dengan Dino.


"Sapalah anakmu Juna," Ucap Tanaro.


"Hah?" Tanya Juna binggung menatap Tanaro dan Celine bergantian, sedangkan Celine hanya tertunduk.


Flashback on


Pada saat hari dimana Celine masuk rumah sakit yang pertama kalinya, sebenarnya Rena sudah mengetahuinya dan Rena juga mengetahui kalau Celine sedang mengandung saat itu.


Rena mengetahuinya dari Tara, Tara tidak melapornya pada Rena, karena Rena lah yang selalu mendesak Tara untuk bertemu dengannya.


Dengan berat hati dan penuh pertimbangan, Tara pun harus menuruti permintaan ibu dari temannya tersebut.


"Tara aku tahu bahwa Celine berada di rumah sakit, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa menantu ku baik-baik saja?" Tanya Rena dengan raut wajah khawatir.


"Da..dari siapa Tante tahu tentang ini?" Tanya Tara gugup.


Karena Juna sudah meminta Tara untuk tidak memberitahukannya pada siapapun, kalau Celine sedang dirawat di rumah sakit.


"Aku menyuruh orang untuk menguntit Juna, awalnya aku sangat membenci soal gadis yang selalu ditemui Juna. Aku sangat ingin memecat sekretarisnya itu, tapi aku tak kuasa dan tidak memiliki hak untuk itu. Ayo cepat katakan padaku, bagaimana bisa menantu ku bisa dirawat dirumah sakit?"


"Aku tidak tahu bagaimana bisa Celine berada di rumah sakit Tante, yang aku tahu hanya Celine dilarikan ke UGD dan mendapat luka di kepalanya saat itu. Ku rasa kepala Celine terbentur oleh sesuatu dan keadaanya juga tidak terlalu parah, tapi dari yang aku lihat Lia lah yang membawa Celine kerumah sakit saat itu, baru setelah aku keluar dari UGD aku menemukan Juna juga di luar" Jelas Tara panjang lebar pada Rena.


"Apa Celine dan Lia saling mengenal satu sama lain?" Tanya Rena binggung.


"Aku tidak tahu Lia dan Celine saling mengenal apa tidak, tapi saat itu Celine sedang mengandung anak Juna. Kurasa Juna juga baru mengetahuinya, karena ku lihat dari ekspresinya dia sangat terkejut saat mendengar Celine hamil" Jelas Tara panjang lebar.


"Wah jadi direstoran kemarin mereka menipu ku?!" Batin Rena.


"Ah iya Tante, Celine juga sempat mengamuk tadi malam, aku tidak tahu apa alasannya, ku pikir Celine memiliki gangguan mental yang berat. Karena 2 Minggu yang lalu, aku juga datang kerumah Juna untuk memeriksa Celine. Kata Juna Celine tiba-tiba saja pingsan di dapur dan menurutku Celine sedang mengkonsumsi obat penenang" Jelas Tara lagi panjang lebar pada Rena.


Rena sangat terkejut saat mendengarnya, kalau ternyata menantunya itu mengkonsumsi obat penenang.


"Iya Tante, aku pun terkejut. Apa Celine memiliki gangguan mental?" Tanya Tara hati-hati pada Rena.


"Ya dia memilikinya, Celine menderita claustrophobia sejak usianya 6 tahun, bahkan Celine tidak pernah pergi kesekolah hingga SMP, Celine homeschooling saat itu. Mulai SMA Celine baru mau membuka dirinya dan bergaul dengan dunia luar" Jelas Rena pada Tara


"Tara apa aku bisa meminta tolong padamu Nak?" Ucap Rena sambil mengambil tangan Tara, untuk di genggamnya.


"Tentu saja Tante, aku akan membantu sebisa ku" Sahut Tara.


"Aku tidak tahu kejadian tidak enak apa yang akan terjadi di masa depan, jika kau kembali mendapatkan Celine masuk kerumah sakit saat dia masih mengandung, tolong hubungi aku terlebih dahulu. Ah iya aku juga meminta mu untuk berbohong pada Juna untuk mengatakan Celine keguguran. Aku ingin melihat bagaimana Juna akan bersikap, apa kau bisa membantu ku Tara?" Ucap Rena memohon pada Tara.


"Tentu saja Tante, sebenarnya aku pun juga sudah muak melihat Juna yang selalu dimainkan oleh Lia seperti boneka" Geurutu Tara kesal.


Flashback off


"Ja..Jaiden anakku?' Ucap Juna dengan mata yang berkaca-kaca


"Apa Mama sengaja membuat ku tersiksa seperi ini? Apa Mama tidak memikirkan perasaan ku juga? Bagaimana hancurnya aku selama 6 tahun belakangan ini?" Lirih Juna yang sedang menahan emosinya.


"Kau juga selalu menyakiti putriku, kurasa 6 tahun sudah lebih dari cukup untukmu introspeksi diri. Kau masih beruntung, karena aku memberi mu izin untuk bertemu dnegan Celine dan anakmu" Ucap Tanaro sedikit kesal pada Juna.


Juna seketika ciut, yang dikatakan Tanaro padanya memang lah benar adanya. Tapi bagaimana bisa semua orang yang berada di ruangan ini semua, berusaha untuk menjauhkannya dari Celine termasuk anak kandungnya sendiri.


Bahkan Juna berpikir bahwa, dulu kandungan Celine gugur karenanya. Namun nyatanya tidak, anaknya itu bahkan benar-benar hebat hingga dapat bertahan hingga saat ini.


"A..apa aku boleh memeluk Jaiden?" Tanya Juna gugup.


"Tentu saja, Jai adalah putramu" Ucap Rena yang sedang memangku Jaiden.


Rasanya Celine ingin sekali menangis, Celine tak kuasa menahan tangisnya saat melihat putranya dipeluk oleh Ayah kandungnya.


Bahkan Juna dan Jaiden tidak pernah bertemu sekali pun.


Dino pun membuang mukanya ke asal arah, karena tidak tak tahan menahan tangisnya, begitupun dengan yang lainnya.


...⚡⚡⚡...


"Apa kau senang bertemu dengan Dady hm? Dady sangat menyayangi mu Jai, maafkan Dady ya?" Ucap Juna pada Jaiden yang berada di pangkuannya.


Saat ini Juna, Jaiden dan Cekine sedang beristirahat di salah satu kamar hotel di persepsian pernikahan Rina dan Saka.


Jaiden pun beralih menatap momynya Celine.


"Momy apa sekarang Jaiden memiliki Dady? Jaiden tidak akan di ejek dengan teman-teman Jaiden lagi kan mom?" Tanya Jaiden dengan polos.


"Hei siapa yang berani mengejek anak tampan Dady huh?" Ucap Juna kesal.


Juna pun menghela napasnya kasar, "Jai maafkan Dady ya? Dady tidak pernah melihat mu tumbuh besar" Ucap Juna sedih.


"Kak maafkan aku juga, tidak seharusnya aku menuruti perkataan kedua orang tua kita hingga menjadi seperti ini, lihat lah wajah kakak" Ucap Celine sambil meraih wajah Juna yang mulai tirus.


"Apa kakak baik-baik saja?" Tanya Celine.


"Aku merasa baik-baik saja setelah bertemu denganmu dan Jaiden Celine" Sahut Juna.