I Am Fine

I Am Fine
Anak Juna atau Saka?



"Astaga Juna, apa kau tidak bosan hanya menatap layar laptop dan kertas?" Tanya Bram, yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Juna.


"Aku tidak memiliki kegiatan lain selain menatap layar laptop dan kertas yang ada di atas meja kerja ku," Sahut Juna tanpa melirik Bram.


Bram pun duduk di sofa yang terdapat di ruangan Juna.


"Apa Lia tidak bekerja disini lagi? kalian benar-benar putus ya ternyata?" Tanya Bram.


"Menurutmu?" Sahut Juna.


"Entahlah, apa kau sudah membaca grup chat?" Tanya Bram.


Juna melirik Bram sejenak lalu kembali pada laptopnya.


"Tidak sempat, memangnya ada apa?" Tanya Juna yang mulai penasaran.


"Saka akan menikah," Sahut Bram yang membuat Juna seketika membeku dan memberhentikan aktivitasnya.


"Ah sungguh? dengan siapa?" Tanya Juna.


"Dengan seorang gadis di LA, orang tuanya menjodohkannya dengan anak dari keluarga Aldebarano," Sahut Bram.


Juna pun berpikir sejenak.


"Em itu mungkin..." Ucap Bram terhenti.


"Celine maksud mu?" Tanya Juna santai.


Bram mengangguk.


"Apa kau tidak akan datang? Saka mengundang kita semua, kau harus bisa mulai merelakannya Juna," Sahut Bram.


"Hm aku akan datang, bagaimana bisa aku tidak menghadiri pernikahan teman sekaligus mantan istri ku?" Ucap Juna sambil tersenyum getir.


Bram pun mengganguk, dia tahu bahwa Juna baru menyadari perasaanya setelah Celine benar-benar pergi dari sisinya dan dunianya.


Walupun sebenarnya Juna beberapa kali sering meminta mencari tahu informasi pada Bram, untuk menanyakan pada Saka bagaimana keadaan Celine sekarang. Namun Saka bungkam, bahkan tidak ingin memberitahu keadaan Celine yang sebenarnya.


"Bram bisa kau tinggalkan aku sebentar? aku ingin sendirian" Ucap Juna.


"Baiklah kontrol dirimu, ini sudah 6 tahun kau harus bisa melupakannya Juna," Ucap Bram lalu meninggalkan Juna sendiri.


Setelah kepergian Bram dari kantornya, Juna menundukkan kepalanya dan menangis karena menyesal.


...⚡⚡⚡...


"Bagaimana bisa kau mengenal gadis itu Dino?" Tanya Joya lembut pada putranya.


Joya mendatangi putra kesayangannya itu ke dalam kamarnya, Joya melihat Dino sedang murung di pinggir kasurnya seperti sedang memikirkan sesuatu.


Sudah pasti Joya dapat menebak, kalau anaknya itu sedang memikirkan gadis yang diusirnya dari rumahnya tadi siang.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di Jakarta Bun, saat membuka resmi galeri seni kak Cena saat itu Bun" Sahut Dino tertunduk.


"Berarti kau sudah mengenalnya selama 6 tahun terakhir ini?" Tanya Joya.


Dino pun mengangguk.


"Lalu sejak kapan kau mulai dekat dengannya dan berkencan?" Tanya Joya.


"2 bulan belakangan ini Bunda," Sahut Dino.


"Apa kau akan marah pada Bunda, jika Bunda meminta mu untuk meninggalkannya?" Tanya Joya.


Dino menggelengkan kepalanya, "Tidak seharusnya aku berkencan dengan gadis seperti itu, maafkan aku Bunda" Ucap Dino yang masih tertunduk.


"Tatap Bunda Dino" Ucap Joya.


Dino pun menatap Bundanya.


"Apa kau mau mengabulkan permintaan Bunda sayang?" Tanya Joya pada putranya.


"Apapun itu Bun, aku akan berusaha untuk mengabulkan permintaan Bunda selagi aku mampu," Sahut Dino.


"Tinggalkan gadis itu, kau bisa kan melakukannya?"


Dino mengangguk pasti, "Aku pasti akan meninggalkannya, bukankah keluarga lebih penting daripada dirinya?" Ucap Dino.


"Anakku sudah dewasa ternyata" Ucap Joya sambil membawa Dino ke dalam pelukannya.


...⚡⚡⚡...


"Kenapa kak Juna tidak mau menikahi Lia? Bukankah kak Juna sangat mencintai Lia?" Batin Celine.


"Kukira kak Juna dan Lia mungkin sudah menikah dan memiliki anak 6 tahun belakangan ini" Gumam Celine.


"Momyy" Panggil Jaiden yang membuyarkan lamunan seorang Celine Aldebarano.


"Oh Jai? Kenapa belum tidur?" Tanya Celine pada anaknya.


"Mommy tadi kenapa marah sama Uncle?" Tanya Jaiden.


Celine tersenyum "Karena Uncle Dino buat kesalahan, oh iya tadi Jai di jemput Uncle Dino sama Tante yang tadi ya?"


Jaiden mengangguk mantap, " Iya Mom, tadi Jai dijemput Uncle Dino sama Aunty cantik. Aunty yang tadi membelikan Jai es krim" Ucap Jaiden semangat.


"Dasar, pencari perhatian" Batin Celine.


"Mommy cokkie yang mommy janjikan ke Jai mana?" Tanya Jaiden.


Celine terkekeh "Jai tidak bisa tidur karena cokienya belum masuk ke dalam perut Jai ya hm?" Ucap Celine sambil menyentuh pipi Jaiden.


"Ya sudah ayo kita ke dapur, cokie nya momy simpan di atas meja dapur" Ucap Celine sambil bangun dari duduknya.


"Tidak, mommy saja yang mengambil. Jai lelah berjalan kaki ke dapur, sangat jauh. Kenapa sih kakek mempunyai rumah sebesar ini?" Gerutu Jaiden kesal.


Celine terkekeh melihat perilaku anak semata wayangnya itu, sangat menggemaskan.


"Yasudah Jaiden tunggu disini dulu ya, biar mommy ambilkan dulu"


"Oke Mommy!" Seru Jaiden semangat.


Saat Celine hendak membuka pintu kamarnya, Celine mendapati Saka yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya dan hendak mengetuk pintu kamarnya.


"Eh kak Saka? ada apa?" Tanya Celine.


"Apa Jaiden di dalam Cena?" tanya Saka berbalik.


Celine mengangguk, " Iya kak Jaiden di dalam" Sahut Celine.


"Boleh aku masuk?" Tanya Saka.


Celine mengangguk, " Em kak" Panggil Celine.


"Ya? kenapa?"


"Apa kau... tahu bagaimana kabar Kak Juna?" Tanya Celine agak ragu-ragu pada Saka.


"Lupakan Juna, jangan pikirkan lagi tentangnya Celine" Ucap Saka penuh penekanan.


Celine pun mengulum bibirnya dan menahan air matanya, "Baiklah" Sahut Celine.


"Daddy!" Panggil Jaiden pada Saka.


...⚡⚡⚡...


"Bagaimana Lia? Apa kau sudah pergi ke massion keluarganya? Ku dengar-dengar dia juga memiliki masion di Kota Bandung" Ucap Chika.


"Aish sangat menyebalkan, Apa kau tahu Chika? Ternyata pria itu adalah adik kandung Celine!" Gerutu Lia kesal.


"Apa?! Kau serius? Kau bertemu dengannya tadi?" tanya Chika.


"Ya tentu saja! Aku tadi pergi ke masion keluarganya, tapi aku diusir oleh Ibu Dino karena Celine. Astaga sungguh memalukan dan menyebalkan sekali!" Gerutu Lia kesal.


"Kenapa kau tidak menggunakan kesempatan emas ini Lia?"


"Maksudmu?" Tanya Lia binggung.


"Ikat dia dengan berita kehamilan mu 6 tahun yang lalu, bukankah kau pernah tidur bersamanya 6 tahun yang lalu?" Sahut Chika.


Lia tersenyum jahat, "Kau benar, ada baiknya aku menggunakan kesempatan ini" Ucap Lia lalu tertawa bersama Chika.


"Saat kau sudah menjadi Nyonya Aldebarano, jangan lupakan jasa ku ini ya!" Sahut Chika.


"Tentu saja! mana bisa aku melupakan jasa temanku, yang sudah memberi ku ide cemerlang ini hahaha" Ucap Lia sambil tertawa.


"Lalu bagaimana? Apa kau akan kembali ke Indonesia?" Tanya Chika.


"Tidak, aku akan tinggal beberapa hari lagi disini" Sahut Lia.


"Hei Lia apa kau tahu?" Tanya Chika.


"Apa? aku tidak tahu kalau kau tidak memberitahu ku, cepat katakan jangan membuat ku penasaran!"


"Hahaha iya iya aku akan memberitahu mu, kau sungguh tidak melihat berita hari ini ya?"


Lia menggelengkan kepalanya, "Memangnya ada apa sih?" Tanya Lia penasaran.


"Ku dengar keluarga Aldebarano dan Keluarga Leonarka akan melangsungkan pernikahan anak mereka Minggu depan" Ucap Chika.


"Hah? Apa pentingnya berita ini? Ck, sangat tidak penting!" Ucap Lia.


Tuk


Chika memukul kepala Lia.


"Hei! Kenapa memukul kepala ku?!" Protes Lia.


"Apa kau bodoh? atau kau memang tidak tahu ya?"


Lia menggerutkan keningnya binggung, "Maksud mu Chika?"


Chika memutar kedua bola mata malas, "Aku hanya menebak saya kalau Celine yang akan menikah dengan Saka, karena hanya Saka anak satu-satunya di keluarga Leonarka. Bukankah itu sudah pasti saat kau melihat hubungan baik antara Celine dan Saka? tidak mungkin Saka menikah dengan adik perempuan Celine bukan?" Tanya Chika.


Wah apa ini sungguhan Chika? Berita ini resmi?" Tanya Lia yang mulai tertarik.


Chika mengangguk pasti, " Tentu saja, mana ada orang yang berani membuat berita palsu tentang pernikahan seperti ini" Sahut Chika.


"Wah sulit dipercaya, hei Chika apa kau tahu? Tadi aku menjemput keponakan Dino dan memanggil Celine dengan sebutan mommy" Ucap Lia.


"Apa Celine memiliki anak? menurut mu berapa usianya?" Tanya Chika.


"Mungkin 5 atau 6 tahun? karena tadi aku ikut menjemputnya di sekolah" Sahut Lia.


"Astaga, apa itu anak Juna? Bukankah kata mu dulu kalau Celine sedang mengandung anak Juna?" Tanya Chika.


"Eii itu tidak mungkin, Celine keguguran saat itu atau itu anaknya bersama Saka?" Ucap Lia menduga-duga.


"Hei mana mungkin mereka selama itu melangsungkan pernikahan mereka 5 atau 6 kemudian setelah memiliki anak! Kau ini ada-ada saja, tapi bisa jadi sih" Sahut Chika.