I Am Fine

I Am Fine
Liburan ke Puncak



"Wah Juna!" sapa Bram.


"Eh kalian?" Ucap Juna terkejut saat melihat teman-teman dekatnya berada di rumahnya.


"Kami datang untung menyambut mu! selamat kembali ke Indonesia!" Ucap Tara.


"Terima kasih Pak Dokter, mari kita masuk!" Ajak Juna.


Mereka pun masuk ke dalam rumah mewah bernuasa perpaduan antara warna coklat dan putih.


"Jaiden kau pasti senang sekali bukan?" Tanya Bram berbisik pada Jaiden.


"Tentu saja Om!" Sahut Jaiden berbisik.


"Baguslah, Om senang mendengarnya" Sahut Bram tersenyum pada Jaiden.


"Bagaimana? Apa kau sudah merasa baikkan? Kau tidak akan menyesali keputusan mu yang kali ini kan?" Tanya Tara pada Juna.


Juna pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Hm aku tidak menyesalinya, terima kasih kau telah memberi ku nasehat dan berakhir untuk menerima pengobatan. Kau Dokter terbaik!" Sahut Juna.


Jinata dan Rena pun memutuskan untuk meninggalkan ruang keluarga tersebut, karena keduanya tidak ingin menganggu pembicaraan mereka. Sepertinya akan terasa canggung jika mereka ikut bergabung, karena tidak sesuai dengan usia mereka.


"Juna aku sangat bangga pada Jaiden dan Jaki, Jaiden mendapat nilai UN tertinggi dan Jaki di peringkat keduanya, Astaga aku sangat bangga pada Anakku. Padahal Jaki sangat suka bermain-main, tidak ku sangka. Ayo kita rayakan bersama-sama!" Jelas Kanta.


"Juna kan baru saja pulang dan sembuh, bagaimana kalau kita merayakannya jangan memakan bahan-bahan makanan yang mengandung zat kimia,m Kita lakukan saja seperti di pendesaan sepertinya seru!" Saran Naura.


"Wah pas sekali! Sepertinya ke puncak tidak buruk!" Sahut Haura.


"Aku ikut saja," Sahut Celine sambil tersenyum ramah.


...⚡⚡⚡...


"Jaiden!" Panggil Celine.


"Iya mom! Sebentar!" Sahut Jaiden.


Celine menghela napasnya kasar dan memutar bola matanya malas, "Astaga kenapa lama sekali!" Geurutu Celine kesal.


"Sabar, mungkin ada yang ketinggalan" Ucap Juna membela putranya.


"Ck, Jaiden tidak jauh beda dengan mu Kak sangat lamban!" Kesal Celine.


"Enak saja!" Sahut Juna tak terima.


"Ayo Mom Dad! Maaf lama tadi Jaiden kehilangan Airpods" Ucap Jaiden cengar-cengir.


"Baiklah ayo cepat, yang lain sudah menunggu kita" Sahut Celine.


setelah berjam-jam dalam perjalanan, ketiga keluarga tersebut akhirnya sudah sampai ketempat tujuan dengan selamat.


"Hah cuacanya segar sekali," Ucap Keisha sambil merentangkan tangannya dan tidak sengaja tangan Keisha mengenai wajah Jaki.


"Astaga Kei, please your tangan!" Ucap Jaki kesal.


"Apa?" Tanya Keisha sewot pada Jaki.


"Jangan berantam, Keisha tidak sengaja" Bela Jaiden pada Keisha.


Keisha pun tersenyum senang dan menjulurkan lidahnya pada Jaki, karena Keisha merasa dirinya dibela oleh pahlawannya, Jaiden.


Jaki memutar bola matanya malas, "Yayaya tuan muda!" Sahut Jaki kesal.


"Hahaha Jaki Jaki," Tawa Keira sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa Jaiden dan Keisha memang sedekat itu?" Tanya Juna pada Kanta.


"Hm, dari yang aku perhatikan, Jaiden lebih sering menghabiskan waktu bersama Keisha dan Riki dari pada Jaki," Jelas Kanta.


"Sungguh?" Tanya Celine.


Kanta mengangguk, "Tentu saja, kurasa itu karena rumah mu dan Bram satu komplek. Maka dari itu mereka lebih sering bermain bersama," Sahut Kanta.


Celine dan Juna puun hanya mengangguk saja


"Hei Jaiden sangat mandiri, dia juga sangat pintar. Anakmu definisi perfect hahaha" Ucap Tara terkekeh.


"Iya kau benar, aku juga selalu memperhatikannya saat Jaiden dan yang lainnya sedang berkumpul dirumah. Dan Jaiden juga sangat sopan," Sahut Haura.


"Hei sudah lah jangan pikirkan itu, kita disini untuk bersenang-senang bukan? Jangan pikirkan hal itu, mari kita bersenang-senang tanpa Bram dan Saka hahaha" Sahut Kanta diakhiri dengan gelak tawanya.


Sehingga yang lain pun ikut tertawa, saat mendengar ucapan Kanta.


"Kei, Riki kenapa Papa dan Mama mu tidak ikut?" Tanya Keira.


Jaiden pun melirik Keisha dan Riki seperti binggung harus menjawab bagaimana, atas pertanyaan dari Keira.


"Sedang sibuk mungkin," Sahut Jaiden hingga membuat Riki dan Keisha menatap Jaiden dengan ucapan terima kasih.


"Oh begitu ya?" Sahut Keira.


Jaiden, Keira, Keisha, dan Jaki satu angkatan, namun Usia Keisha dan Keira lebih muda satu tahun dari usia Jaki dan Jaiden.


Saat ini keempatnya baru saja lulus sekolah dasar, dan akan melanjutkan pendidikannya di SMP yang sama.


"Jai apa kau sudah mendaftar?" Tanya Jaki pada Jaiden.


"Tentu saja, aku mendaftar kemarin bersama Keisha, bagaimana dengan mu?" Tanya Jaiden pada Jaki.


"Astaga kalian ini tidak bosan ya terus pergi bersama kemana-mana?" Tanya Keira.


"Tidak!" Sahut keduanya bersamaan.


Riki memutar bola matanya malas, "Kalian enak sekali, pasti bertemu. Kalau aku harus menunggu satu tahun lagi baru bisa menyusul kalian di SMP" Sahut Riki kesal.


"Hahaha yang sabar ya adik bungsu," Ucap Jaki meledek Riki.


"Hei kau kan punya Jovan dan Sufa!" Sahut Keisha.


"Apa Bram dan Kila sedang ribut lagi?" Tanya Naura pada Celine dan Haura.


"Sepertinya begitu, kurasa itu masalah pekerjaan. Tapi dari yang ku dengar kalau Kila menduakan Bram," Sahut Haura


"Sungguh?" Tanya Celine tak percaya.


"Entahlah, aku kurang dekat dengan Shakila. Dia tidak menerima kita sebagai temannya, circlenya tidak cocok dengan kita," Sahut Haura terkekeh.


"Kau benar, dia menyukai kebebasan. Berbeda dengan kita yang suka berdiam dirumah" Kekeh Naura.


"Juna?!" Teriak Kanta, "Astaga Tara cepat kesini! Hidung Juna mengeluarkan darah!" Ucap Kanta Panik seketika.


Sedangkan Juna sedang menahan darah tersebut dengan tangannya, agar tidak keluar lebih banyak dari hidungnya.


Wajah Juna juga pucat karena takut, Juna takut hal yang ditakutkannya itu akan datang hari ini. Celine dan Jaiden pun dengan cekatannya menghampiri Juna, karena keduanya benar-benar panik dan khawatir.


"Astaga kak Juna!" Ucap Celine.


"Om cepat panggilkan ambulan!" Ucap Jaiden panik.


"Ah iya sebentar, biar aku yang meneleponnya!" Ucap Haura tak kalah panik.


"Astaga Juna Kau pendarahan, bertahan lah sebentar lagi!" Ucap Tara khawatir sambil menahan darah Juna yang keluar.


"Dady? Are you okay? Dad?" Panggil Jaiden.


Juna pun hanya menatap Jaiden, Juna meraih pipi putranya dan memegang erat tangan Celine.


"Maafkan Dady Jaiden, Celine maafkan aku. Semuanya, maafkan aku. Jaga Jaiden dan Celine untukku ya" Ucap Juna.


Seluruh orang yang berada di vila tersebut pun panik dan kalut seketika, terutama Celine dan Jaiden yang berusaha menyadarkan Juna yang sudah tak sadarkan diri dan tak kunjung bangun.


Sedangkan Tara yang berusaha mempompa Juna dengan seadanya saja.


"Astaga kenapa ambulannya lama sekali datang?!" Gerutu Celine kesal.


"Mom apa sebaiknya kita membawa Dady saja kerumah sakit dengan mobil? Kita bisa saja nanti bertemu di jalan dengan ambulan, untuk menghemat waktu!" Saran Jaiden.


"Ah iya Jaiden benar, ayo Kanta bawa Juna ke mobil!" Ucap Tara pada Kanta.


"Haura, Naura kalian disini saja ya bersama anak-anak. Biarkan Jaiden saja yang ikut" Saran Tara.


Keduanya pun menurut.