I Am Fine

I Am Fine
145



"Kei... Keisha.... Jaiden tidak benar-benar pergi kan?" Tanya Thalia dengan suara bergetar.


He is gone, he leave me and you" Jawab Keisha.


"Kei... ini tidak benar kan? Kau tidak melakukan pertunangan itu karena aku kan?" Tanya Thalia.


"Maaf," Jawab Keisha menundukkan kepalanya terisak.


"Apa aku terlambat kalau aku meminta bantuan mu untuk kembali menjadi sahabat ku Kei?" Tanya Thalia menitikkan air matanya.


"Maaf Thalia, ku rasa kita memang seharusnya tidak beteman" Ujar Keisha menatap Thalia. "Kita tidak cocok sama sekali untuk berteman, ku rasa pertemanan kita sampai disini saja."


"Maaf karena aku mengatakan ini di saat kondisi ku yang seperti ini, dan terima kasih atas semuanya ya. Aku akan pindah ke London bersama Riki," Jelas Keisha bangkit dari duduknya dan meninggalkan Thalia.


"Keisha tunggu!" Ucap Thalia hendak bangun dari brangkar ya, namun Keisha sudah lebih dahulu untuk meminta bodyguard yang berjaga di depan ruang Thalia untuk menahan Thalia agar tidak mengejarnya.


Keisha pun berlari sepanjang koridor, dan berhenti setelah dirinya merasa sudah jauh dari ruang inap Thalia.


"Kau sudah melakukan hal yang benar Keisha, kau harus kuat!" Ucap Keisha menyemangati dirinya sendiri.


...⚡⚡⚡...


"Tuan saya sudah menyelidikinya," Ucap Doni menunjukkan beberapa dokumen yang di sudah di rangkumnya.


"Jelaskan saja, aku akan mendengarkannya" zucao Kiabta yang memang malas untuk membaca beberapa tumpukan dokumen yang di berikan oleh Doni barusan.


Doni pun menghembuskan nafasnya, sebelum dirinya. menjelaskan apa yang dilakukan Renata di belakang suaminya selama ini.


"Nyonya Rena sama sekali tidak ada hubungannya soal rencana mendiang Tuan dan Nyonya Aldebarano. Tapi..." Ucap Doni menggantung.


"Tapi apa?" Tanya Jinata.


"Mendiang Celine seharusnya sudah bangun setelah 3 hari dirinya koma pada saat itu, tapi Nyonya Rena meminta seseorang dokter. untuk memaksa dokter itu untuk terus memberikan keterangan dan riwayat palsu soal kondisi mendiang Celine, dan membius beliau."


"Nyonya Rena membunuhnya, Mendiang Nona Celine tidak meninggal karena penyakit. Tapi murni di bunuh oleh Nyonya Rena sendiri, dan mengakhiri hidup mendiang Celine" Jelas Doni panjang lebar.


"Benar dugaan ku, kematian Celine pasti ada hubungannya dengan Rena. Aku tahu, kenapa Jaiden meburutp diri pada Rena setelah kepergian Celine," Ujar Jinata.


"Bagaimana menurut mu? Apa aku harus melaporkan istri tercinta ku itu ke polisi seperti yang di lakukan Rafa? Atau aku harus menghukumnya, dan mengasingkannya beberapa tahun agar dia, ah tidak. Sebaiknya aku menghubungi polisi," ucap Jinata.


"Apa buktinya sudah kuat? Aku tidak ingin ada proses di pengadilan, Rena pantas untuk masuk penjara. Buat semua bisnis gelap yang kita lakukan dengan keluarga Aldebarano atas nama Rena dan juga mendiang Aldebarano, dan buat seolah-olah ketiga orang itu menandatangani surat itu sendiri tanpa sepengetahuan ku. Kita juga harus bersiap dengan Dino, Rina dan juga Saka," Jelas Jinata


"Jangan libatkan satupun dari keluarga Aldebarano, cari kambing hitamnya" Ucap Jinata bangkit dari duduknya dan meninggalkan Doni di ruang kerjanya.


"Wah kenapa aku jadi pusing memikirkannya?" Guman Doni.


...⚡⚡⚡...


"Thalia kau tidak apa?" Tanya Surya melihat gelagat Thalia yang sedang oleng saat berjalan di koridor seolah.


Iya hari ini Thalia sudah mulai masuk sekolah, dan sejak rencana kepindahan Keisha ke London Thalia mulai dekat dengan teman-teman Keisha dan berteman baik dengan mereka. Rena juga sudah memberikan hak Thalia, sebagai bagian dari keluarga Renandra.


"Huh? Ah tidak papa" Jawab Thalia berlalu meninggalkan Surya dan berjalan telebih dahulu.


Surya pun mengerutkan keningnya, namun secara mungkin surysa bergerak lebih cepat untuk membantu Thalia yang sedang berdiri dan hampir saja ambruk.


"Thalia, apa kau yakin kau tak apa?" Tanya sufysa khawatir dan Thalia pun menggelengkan kepalanya.


Lantas Surya pun membantu Thalia jalan, dan mengantar gadis itu ke UKS. Namun saat keduanya baru saja di depan pintu UKS, tiba-tiba Thalia membuat Surya terkejut. Karena Thalia baru saja menerobos masuk ke UKS, dan bergegas masuk ke dalam toilet yang berada di dalam sana.


"Huek... huekkkk... huekkkk...."


"Ada apa dengannya?" Tanya dokter penjaga UKS.


Surya pun menggaruk tengkuk lehernya tidak tahu, "Saya rasa dia kurang enak badan Bu, atau mungkin masuk angin?" Jawab Surya tak yakin.


"Ya sudah sebentar, saya mau mengambil minyak angin dulu" Pamit dokter itu.


Surya pun menghampiri Thalia dan menunggunya di depan toilet, "Thalia kau sungguh tak apa?" Tanya Surya.


Thalia pun membalikkan badannya, "Surya ku rasa aku kurang enak badan. Perut ku tak enak, aku tidak sarapan tadi pagi" Jawab Thalia benar adanya.


"Ah... begitu ya... aku berpikir seperti itu juga, mau ku izinkan ke kelas mu? Aku bisa meminta Jaki untuk mengatakan pada guru yang akan masuk di kelas kalian," Ucap Surya.


Thalia pun mengangukkan kepalanya, "Maaf jadi merepotkan mu" Ucap Thalia tak enak.


"Santai saja, ayo aku bantu kau ke brangkar. Berbaringlah disana dan minum obat, aku akan ke kantin untuk membeli beberapa makanan, kau mau apa?" Tanya Surya.


"Tidak usah, aku tidak" Ucap Thalia terpotong.


"Ku rasa kau butuh bubur, kau belum sarapan kan? Tunggu disini," Ucap Surya langsung keluar dari UKS dan segera bergegas ke UKS.


"Apa dia pacar mu?" Tanya dokter itu terkekeh geli.


"Tidak Bu," Jawab Thalia jujur.


"Ah iya kah? Kau belum sarapan?" Tanya dokter itu. "Kau yakin soal itu? Ku rasa bukan karena kau belum makan dan masuk angin," Jawab dokter itu setelah memeriksa keadaan Thalia.


"Kapan kau terakhir datang bulan?" Tanya dokter itu membuat Thalia takut dan tersentak.


"Oi Surya!" Panggil Keira.


"Eh? Tumben kalian makan di kantin pagi-pagi?" Tanya Surya menyapa Keira dan Jaki yang sedang sarapan pagi di kantin sekolah.


"Aku dan Jaki ingin mencoba sarapan di sekolah, apa kau juga?" Tanya Keira.


"Tidak, aku ingin membeli bubur untuk Thalia" Ucap Surya lalu pergi begitu saja meninggalkan keduanya dengan tatapan bertanya-tanya.


'Thalia?" Ucap Keira dan Jaki bersamaan dengan saling tatap.


"Hei ayolah, ku rasa teman kita itu tidak terlalu dekat dengan Thalia untuk membeli bubur" Ujar Jaki.


"Sama, aku pun juga berpikir begitu. Walaupun beberapa waktu ini kita lumayan sering sih mengajak Thalia untuk bergabung dengan kita, mungkin karena itu" Ucap Keira berpikir positif.


"Aku pun berpikir seperti itu," Ucap Jaki.


Setelah membeli bubur untuk Thalia, Surya pun kembali ke UKS dan membawa sebungkus bubur dan juga air putih untuk Thalia.


Ceklek


"Bagaimana Bu?" Tanya Surya.


"Surya apa kau pernah berbuat yang tidak-tidak dengan perempuan?" Tanya dokter itu langsung, Karana dirinya memang menganal Surya dan keluarga Surya cukup dekat dengan baik.