
"Tuan muda, Oh maaf" Ucap Dimas membalikkan badannya. "Tuan Muda, kita tidak punya banyak waktu," Ucap Dimas lalu kembali menutup pintu itu dan Jaiden dan Keisha pun terkekeh pelan karena malu.
"Kei aku tidak punya banyak waktu, Nenek memanggil ku. Kau tahu dengan jelas kan kalau Nenek tidak suka di bantah?" Jelas Jaiden pada Keisha dan Keisha pun mengangguk malu.
Jaiden pun terkekeh pelan, "Kau malum?" Tanya Jaiden terkekeh melihat ekspresi Keisha.
"Ck, sana pergi" Ucap Keisha membuang wajahnya malu.
"Aku akan pergi setelah aku memeluk mu," Ucap Jaiden lalu memeluk Keisha erat.
"Aku akan merindukan wangi ini," Ucap Jaiden dalam mati saat dirinya memeluk Keisha.
Keisha pun untuk segera melepaskan pelukan mereka, "Nenek sudah menunggu Kakak. Sana!" Usir Keisha.
"Kau mengusir ku hm?" Tanya Jaiden menangkyp wajah Keisha.
Cup!
"Aku mencarinya, aku pergi ya bye!" Ucap Jaiden lalu berlari keluar.
"Ck, aaaa malu sekali!" Gerutu Keisha malu.
"Sudah?" Tanya Dimas.
"Ayo Om, udah" Ajak Jaiden dan Dimas pun mencibir dan Jaiden pun melihatnya.
"Om iri ya! Makanya punya pacar! Tapi seharusnya istri sih kalau melihat umur Om," Ucap Jaiden terkekeh pelan menggoda Dimas.
Hingga perhatian keduanya teralihkan, saat pintu kamar inap Thalia tiba-tiba terbuka. Dan keluar lah seorang pria berbadan tegap dari dalam sana, lengkap dengan topi dan juga maskernya.
"Kau tidak ingin pamit pada Kakak mu dulu?" Tanya Dimas.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk pamit kedua kalinya, aku sudah melakukannya kemarin Om. Ayo Om!" Ajak Jaiden.
Lantas keduanya pun pergi meninggalkan rumah sakit, dan segera bergegas menuju bandara. Jaiden juga menganti pakainnya di bandara, daripada dirinya harus kembali lagi ke rumah hanya untuk mengantikan pakaiannya.
Agar lebih menghemat waktu, pikirnya.
Sebenarnya Jaiden bukan tidak mau untuk bertemu Thalia, hanya saja rasa bersalahnya pada Thalia tidak dapat hilang. Dan Jaiden juga masih menolak, soal kenyataan kalau Thalia adalah saudara kandungnya beda Ibu.
Apalagi, Ibu Thalia adalah penyebab hancurnya rumah tangga orang tuanya.
...⚡⚡⚡...
"Kau mengirim Jaiden keluar negeri tanpa menanyakan pendapat terlebih dahulu pada ku?" Hingga aku baru saja tahu sendiri saat dirinya pamit pada ku?" Tanya Jinata pada Rena.
"Itu keputusan Jaiden sendiri, bukan kemauan ku Jinata. Jaiden meminta pada ku untuk mengirimkannya kesana. Dan dia berencana akan menyelesaikan study nya disana, dan aku mengabulkan permintaannya" Jawab Rena.
"Kau sengaja kan tidak memberitahu ku soal ini? Kenapa kau tidak memberitahu ku dan aku malah tahu dari Jaiden?" Tanya Jinata.
"Kenapa hal ini pun kau permasalahkan? Apa yang kau takutkan? Kita juga akan sering ke LA dan menjenguknya disana, ayolah Jinata! Aku sedang merasa pusing sekarang, apa hal sekecil ini pun harus kau perdebatkan?" Tanya Rena emosi.
Jinata pun mengangukkan kepalanya mengerti, "Kau menerima begitu saja saat Jaiden ingin pergi kesana? Kau ingin melepas tanggung jawab mu pada Jaiden? Kau tidak menyesal dan merasa bersalah pada Celine?" Tanya Jinata.
"Apa yang kau pikirkan? Astaga! Kau membuat kepala ku semakin pusing saja!" Ucap Rena bangkit dari duduknya dan keluar meninggalkan kamarnya dan juga Jinata.
Sepeninggal Rena meninggalkan kamar, Jinata pun hendak mengambil ponselnya dan menghubungi orag kepercayaannya tanpa sepengetahuan istrinya.
"Halo Tuan?" Jawab orang itu.
"Bisa kau selidiki istri ku? Apa yang di lakukan ya beberapa tahun ini, selidik juga tentang rumah sakit mendiang Celine. Dan juga Tanaro, Joya orang tua Celine" Ucap Jinata di balik telepon dan mengecilkan suaranya agar Rena tidak mendengar ucapan suaminya.
...⚡⚡⚡...
Sret!
"Hei Keisha!" Panggil Keira semangat saat dirinya baru saja masuk ruang inap kamar Keisha bersama dengan Jaki.
"Oh? Hai! Keira! Jaki! Bagaimana dengan olimpiade kalian? Sulit tidak?" Tanya Keisha setelah memeluk ekdusnya dengan bergantian.
"Ck, jangan lebay... lebih susah soal ku beb. Orang jalan saja di hitung berapa kali dia gerak, astaga..." Gerutu Jaki membuat kedua gadis itu tekekeh pelan.
"Hahaha tapi syukur deh, yang penting kalian bisa menjawabnya. Yang lain mana? Kak Jaiden baru saja pulang dari sini," Ucap Keisha membuat Jaki dan Keira bertukar tatap.
"Kenapa?" Tanya Keisha binggung melihat keduanya.
Keira dan Jaki pun langsung mencegir kuda, dan menggeleng-gelengkan kepalanya bersamaan hingga membuat Keisha mengerutkan keningnya binggung.
"Kalian menyembunyikan sesuatu dari ku?" Tanya Keisha dengan tatapan menyelidik.
"Huh? Ah tidak kok Kei hehe" Jawab Keira senyum-senyum.
"Iya Kei tidak papa hehe, sudah lama belum? Kami tidak berpapasan dengannya tadi dibawah" Tanya Jaki.
"Hm, mungkin sekitar 20 menit yang lalu?" Tebak Keisha tak yakin hingga membuat Jaki dan Keira menghela nafasnya lega bersamaan.
"Kenapa sih?" Tanya Keisha heran melihat kedua temannya yang terlihat sangat mencurigakan.
"Huh? Tidak papa kok Kei, oh iya tadi Heri mengirim pesan pada ku. Kayanya dia akan segera datang kesini bersama Surya dan juga Fia, katanya sih lagi menunggu Surya selesai dulu" Jelas Keira mengalihkan pembicaraan.
"Kalian menyembunyikan sesuatu dari ku kan? Iya kan?" Tanya Keisha yakin.
Jaki dan Keira pun saling berada tatapx dan Jaki pun mengangukkan kepalanya.
"Kau yakin?" Tanya Keira.
Dan Jaki pun merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya, menunjukkan isi chatnya dengan Jaiden pada Keira saja.
...Room Chat...
...Bye see you...
...Jaide telah menambahkan Keira, Jaki, Heri, Surya, Jovan, Riki, Sufa, dan Fia....
Jaiden :
Aku 5 menit lagi take off
Jaga Keisha, Keira, Fia, baik baik ya!
Bye all!
See you next time...
I Will comeback
...Jaiden meninggalkan grup...
"Ponsel ku mati, aku belum lihat" Ucap Keira melirik ponsel Jaiden yang menampilkan isi chat grup.
Sret!
Keira dan Jaki pun tersentak, saat Keisha tiba-tiba saja merebut ponsel Jaki dari tangan Jaki. Mata Keisha seketika membola, saat melihat apa isi dari pesan itu.
Keisha menelan ludahnya kasar, lalu menatap kedua temannya itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kalian menyembunyikan ini dari ku? Kak Jaiden akan kemana? Kak Jaiden bilang pada ku, kalau tadi dia hany di panggil Nek Rena untuk ke Masion. Tapi... ini apa? Take off? See you? Apa? Maksudnya apa? Kenapa kalian diam saja?!" Tanya Keisha dengan nada bicara yang meninggi karena takut.
"Kei maaf, tapi ini titipan dari Jaiden" Ucap Keira memberikan surat yang dititipkan Jaiden padanya.
Tadi pagi, Jaiden menghampiri Keira. dan memberikan Keira sebuah dua surat yang beramplop berwarna ping untuk Keisha dan warna merah untuk Thalia.
Jaiden menitipkan kedua surat itu pada Keira, dan memberikan surat itu pada kedua gadis itu setelah Jaiden sudah meninggalkan tanah air.
Keisha mengamb surat itu dengan ragu-ragu, dan membukanya dengan tangan yang bergetar karena menahan Isak tangisnya. Keisha menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dirinya membuka surat itu, dan membacanya.