
"Aku tidak butuh services, thanks" Tolak Heri mentah-mentah dan melepaskan paksa tangan perempuan itu dari bahunya.
Perempuan itu pergi begitu saja setelah di tolak oleh Heri, dan mencibir di belakang sana dengan perasaan yang sangat kesal.
Surya pun hanya tersenyum saja, dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Heri. "Apa kau tak apa minum alkohol sebanyak ini?" Tanya Surya melihat Heri yang sudah menghabiskan beberapa botol alkohol.
"It's okey, aku sangat sedikit beruntung bukan? Aku bebas melakukan apapun itu, asal aku tidak mengusik kehidupan pribadi Ayahku. Tidak ada juga peduli, mau aku berbuat nakal atau pun berzina di luar sana. Ayah juga hanya diam saja hahaha," Kekeh Heri.
"Kau mabuk Heri," Ujar Surya meneguk soft drink miliknya.
"Hehehe aku tidak Surya, aku tidak mabuk. Astaga, aku sangat binggung saat ini. Apa kau tahu? Aku binggung harus bagaimana untuk mengutarakan perasaan ku pada Fia."
"Apa aku harus mengatakannya atau tidak, aku takut. Aku takut jika aku tidak sengaja melakukan tindakan senonoh terhadapnya, lalu meninggalkannya begitu saja."
"Sungguh Surya, aku sangat menyukai Fia. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun padanya tentang perasaan ku," Jelas Heri.
Surya pun menghela nafasnya kasar, "Itu pasti sangat berat dan juga sulit sekali bukan? Kita berdua sama-sama terjebak di zona pertemanan," Ujar Surya terkekeh sembari meratapi nasib.
"Ku rasa Fia akan salah paham pada perasaan ku," Ujar Heri sedih.
"Nyatakan saja perasaan mu, jangan seperti Jaiden" Jelas Surya.
Heri pun mengangukkan kepalanya pasti, "Kau benar. sepertinya aku harus mengatakan bagaimana perasaan ku pada Fia segera, aku tidak ingin menjadi lelaki berengsek. Yang hanya bisa mempermainkan perasaan perempuan," Sahut Heri dengan setengah sadar.
"Kau beruntung Heri, Fia pasti juga menyukai mu" Ucap Surya.
"Apa kau masih menyukai Keisha?" Tanya Heri sadar.
...⚡⚡⚡...
"Hai Tante, ini Keisha. sudah lama ya Keisha tidak berkunjung kesini, mungkin 4 tahun yang lalu?" Ucap Keisha menduga-duga.
"Hai juga Uncle, ini Keisha. Kei yang dulu sering Uncle gendong- gendong ini, sekarang sudah besar. Ohiya, kabar Kei baik kok. Kabar Tante sama Uncle bagaimana disana? Pasti baik-baik saja kan? Uncle dan Tante pasti sudah bahagia disana."
"Kak Jaiden kabarnya juga baik kok, oh iya Kak Jaiden juga sekarang sudah punya pacar. Tante maaf in Kei ya, Kei udah gak bisa lagi jagain Kak Jaiden kayak dulu lagi. Pacarnya Kak Jaiden cantik, baik, Keisha kenal dekat kok sama pacar Kak Jaiden."
"Kita juga udah jadi temen sekarang. Kei kenal pacar Kak Jaiden Pas Kei sekolah di Amerika, kita juga sahabatan. Nek Rena? Kakek Jinata? Sehat kok Uncle, mereka juga rindu sekali sama Uncle dan Tante. Sama seperti Kei, yang merindukan Uncle da Tante."
"Kei akhir-akhir agak kesal sama Mama, Mama belum berubah sama sekali. Kei rindu sama Tante, Kei pengen Videocall bareng Tante lagi. Kei pengen di nyanyiin lagi tidur sama Tante, Kei kangen." Ucap Keisha menahan tangisnya.
"Oh iya Tante, Kei sekarang mengambil kelas lukis loh!" Ucap Keisha sembari mengusap air matanya yang sudah lolos begitu saja dari kedua mata indahnya.
"Tante, Kei mengambil kelas lukis reguler. Ih iya, Kei juga beberapa hari yang lalu berkunjung ke galeri seni punya Tante. Kei senang saat melihat beberapa lukisan Tante di pajang disana."
"Uncle dino dan Tante Rina sengaja mengabadikan lukisan Tante disana, untuk mengenang Tante. Maaf ya Tante, Kei juga meniru lukisan Tante yang berada di galeri seni. Tante gak marah kan?" Ucap Keisha terisak dan mengusap air matanya beberapa kali.
"Oh iya Tante, Uncle, Kak Jaiden udah bilang belum sama Tante dan Uncle? Kak Jaiden akan ikut olimpiade Matematika! Doakan yang terbaik untuk Kak Jaiden ya, supaya Kak Jaiden menang dan bisa ambil beasiswa di Inggris."
"Keira juga ikut olimpiade matematika,
Keira jadi kandidat keduanya. Tapi sepertinya Keira akan mengikuti olimpiade biologi seperti biasanya."
Keisha sudah tak dapat menahan tangisnya lagi, Kisah langsung menangis segugukkan disana dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kebetulan sekali, Jaiden juga berkunjung ke pemakaman. Jaiden benar-benar laki-laki yang pengecut, Jaiden bahkan tak menghampiri Keisha. Jaiden hanya berdiam diri saja, dan hanya mendengarkan ucapan Keisha sedari tadi.
Jaiden hanya berani melihat dari jarah jauh saja, namun masih dpat di dengarnya semua ucapan yang di ucapkan oleh Keisha. Dan Jaiden, tidak ada niat sedikit pun untuk menghampiri Keisha.
Jujur, Jaiden juga tahan melihat Keisha menangis seperti itu. Hatinga merasa tergores, Jaiden benci melihat perempuan yang di sayangnya menangis seperti itu.
Jaiden juga tahu betul, kalau sebenarnya Keisha sedari dulu itu sama sepertinya. Yang selalu kesepian, dan merindukan kasih sayang dan belaian orang tua mereka.
"Kei maafkan aku, maafkan aku menjadi seperti ini" Lirih Jaiden pelan.
"Tante, Uncle... hiks... sebenarnya, Kei bukan anak Papa Bram... Kei binggung. Kei belum berani mengatakan soal ini pada Papa, Kei takut. Kei juga tidak tahu Mama sudah memberitahukan Papa soal ini atau belum, Papa juga tidak pernah menghubungi Keisha."
"Bukankah itu sudah jelas? Sepertinya Papa sudah tahu kan?hiks..." Isaknya lagi.
"Kei selaku berusaha untuk berpikir positif, kalau Papa hanya sibuk saja. Papa juga tidak sempat memberi kabar, Papa tidak juga pernah memberi perhatiannya lagi pada Kei dari hari sebelum-sebelumnya.".
"Papa masih menganggap Kei sebagai anaknya sendiri kan? Masih kan Tante? Uncle? Papa hanya tidak sempat dan sibuk saja kan? Begitu kan?" Ucap Keisha terisak.
"Papa... Papa akan menikah, dan Kei tidak tahu soal ini. Kei malah tahu soal ini dari Riki, hiks... Kei sama Riki hampir saja bertengkar karena ini..." Isaknya.
"Uncle, Tante, Kei tidak akan menangis lagi. Kei adalah gadis yang kuat," Ucap Keisha menghapus air matanya paksa.
"Tante, Uncle, Kei pamit dulu ya? Send love hug gaib untuk Tante dan Uncle" Ujar Keisha lalu meletakkan bunga yang segaja di bawanya ke makam Juna dan Celine.
Jaiden yang melihat pergerakan Keisha bangkit dari duduknya, lantas Jaiden pun langsung tebruru-buru untuk sembunyi. Jaiden rasa, dirinya tidak akan siap untuk ahnaya sekedar berhadapan bersama Keisha.
Belum saatnya, pikir Jaiden.