I Am Fine

I Am Fine
147



"Jaiden!" Panggil Rina.


"Kau sudah lihat berita?! Astaga... apa-apaan ini?!" Ucap Rina tak percaya menunjukkan berita itu pada Jaiden.


"Ini tidak benar kan? Tante Rena tidak mungkin melakukan" Ucap Rina terpotong.


"Maaf Tante tapi itu benar, aku tahu soal ini lebih dulu. Tapi sepertinya Kakek baru tahu soal ini baru-baru, aku juga tahu apa yang di lakukan Nenek pada Mommy."


"Maaf tidak memberitahu Tante dan juga yang lainnya soal ini," Ucap Jaiden terisak dan menundukkan kepalanya. Rina yang tidak sanggup melihat itu pun langsung membawa Jaiden ke dalam pelukannya.


Jaiden sudah tahu soal itu dan Jaiden sangat membenci Rena, tapi apa boleh buat. Tidak bisa di pungkiri kalau dirinya juga sangat menyayangi Rena, dan rasanya dirinya tidak akan sanggup melihat Neneknya berada di jeruji besi.


Maka dari itu Jaiden menutup mulutnya soal itu, dan tidak ingin memberitahu siapapun. Namun Jinata sudah mengetahuinya, dan memenjarakan istrinya sendiri.


Padahal, Jaiden berencana untuk pulang ke Indonesia sore ini. Namun di urungkannya, karena Jinata tidak memberinya izin. Dan Jaiden tahu pasti, ini juga demi kebaikannya.


Jaiden juga sudah tahu dari Dino, kalau Keisha akan belajar ke luar negeri tepatnya di London. Dan Thalia akan mengajak pengobatan, dengan seorang psikiater.


Jaiden merasa lega soal pilihan yang sudah di lakukan Keisha, walaupun itu atas paksaan dari Zura Neneknya. Jaiden juga senang, mendengar kabar Thalia yang membaik. Jadi tidak adalan dirinya untuk kembali ke Indonesia pikirnya, dan membatalkan rencananya.


Jaiden akan menetap sementara di LA dan memantapkan dirinya, untuk melanjutkan pendidikannya di tempat kelahirannya. Dan akan kembali ke Indonesia setah dirinya sudah merasa pantas, dan sanggup untuk memimpin bisnis yang sudah di tujukan padanya semenjak dirinya lahir ke dunia ini.


...⚡⚡⚡...


"Fia" Panggil Heri.


"Hm?" Sahut Fia.


"Aku ingin bicara serius padamu," Ucap Heri.


"Ya sudah, katakan saja" Ucap Fia yang sibuk dengan ponselnya.


"Tapi, apa bisa sebentar saja kau menatap ku?" Tanya Heri.


"Ck apasih?" Tanya Fia menutup layar ponselnya dan menatap Heri.


Seketika Fia langsung merasa jantungnya berdegup dengan kencang, entah mengapa rasanya gugup sekali saat dirinya di tatap oleh Heri dan menurutnya tatapan yang Heri tujukan padanya berbeda dari biasanya.


"Kenapa sih? Berhenti menatap ku dengan tatapan seperti itu," Ucap Fia gugup dan mengalihkan perhatiannya.


Heri pun tekekeh geli melihat Fia yang salah tingkah, "Kenapa kau lucu sekali sih?" Ucap Heri gemas mencubit pipi Fia.


"Ck, apasih!" Gerutu Fia kesal melepaskan paksa tangan Heri yang dengan lantangnya memegang wajahnya dan mencubit pipi gembulnya.


Tiba-tiba saja Heri mengamb tangan Fia untuk di genggam ya, hingga jantung Fia rasanya ingin copot karena berdegup dengan cepat.


"Fia terima kasih, kau sudah mengubah hari mu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Seharusnya aku lebih dekat dengan mu sejak dulu, ku rasa aku menyukai mu. Apa kau mau menjadi pacar ku?" Tanya Heri.


...⚡⚡⚡...


Hari ini adalah hari kepergian Keisha ke London, untuk menempuh pendidikan yang diinginkannya. Keisha juga sudah menunggu Shakila bersama Riki beberapa waktu yang lalu dan pamit.


Riki dan Shakila juga sudah berbaikan, Shakila menyesal atas apa yang sudah di lakukannya. Walaupun ada perasaan yang kesal, dan sesal pada Riki. Bagaimana pun Shakila adalah wanita yang sudah mengandungnya selama 9 bulan, dan melahirkannya ke dunia ini.


Keisha masih merasa kesal, marah, benci namun dirinya sayang pada Shakila. Apa boleh buat, sudah terjadi pikinya.


Tok tok tok


Ceklek


"Keisha...." Panggil Thalia di balik pintu kamar Keisha.


Ah iya, hubungan Keisha dengan Rafa cukup baik walaupun terasa canggung pada keduanya. Dan Lia sudah menetap di Indonesia, dan menjadi keluarga yang harmonis bersama Rafa. Rafa juga sudah menceraikan Shakila, dan mensahkan pernikahan bersama Lia dah secara hukum dan agama.


"Maaf, apa hari kau akan berangkat ke London?" Tanya Thalia tiba-tiba.


Keisha pun mengedipkan matanya berkali-kali, dan melihat ke kanan dan ke kiri.


"Kau datang sendiri?" Tanya Keisha dan Thalia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku datang bersama Surya," Jawab Thalia.


"Surya?" Tanya Keisha heran, karena setahunya kedua orang itu tidak dekat bahkan Thalia lebih dekat dengan Sufa dan juga Heri.


"Hmm... dia dibawah, bersama Riki" Jawab Thalia.


"Ayo masuk!" Ucap Keisha menarik Thalia paksa untuk masuk ke dalam kamarnya.


Keisha pun menutup pintu kamarnya, "Aku baru tahu kau dekat dengan Surya" Ucap Keisha basa-basi.


"Tidak, aku tidak dekat dengannya. Aku kemarin meminta bantuannya, untuk menemani ku untuk menemui mu disini" Ujar Thalia.


"Ada apa?" Tanya Keisha.


Thalia pun meremat tas selempanganya, dan menundukkan kepalanya. Thalia sedang mengumpulkan keberaniannya, dan menatap Keisha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kei aku hamil..." Ucap Thalia membuat Keisha membelalakkan matanya tak percaya.


"Apa?!" Pekik Keisha terkejut.


Keisha pun berjalan mendekat pada Thalia, dan menggengam tangan Thalia. "Kau serius? Dengan?" Tanya Keisha panik dan khawatir.


Thalia pun menggelengkan kepalanya ribut, "Aku tidak tahu siapa. Aku rasa aku hamil dengan orang yang sudah meperkosa ku hiks..." Isak Thalia.


"Tidak ada yang tahu soal ini selain kau dan Surya... Kei aku takut... Bagaimana cara aku mengatakannya pada Mama dan Papa?" Tanya Thalia terisak.


Karena Keisha merasa binggung harus merespon seperti apa, lantas Keisha pun memeluk Thalia erat dan mengusap pundak Thalia sayang.


"Apa tidak apa mereka bersama?" Tanya Riki pada Surya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Surya pada Riki


"Aku takut Kak Thalia berbuat buruk pada Kakakku," Jawab Riki takut terjadi sesuatu yang buruk lagi antara keduanya


"Tidak, Thalia hanya ingin... menceritakan sesuatu pada Keisha" Jawab Surya percaya diri.


"Kau yakin Kak?" Tanya Riki dan Surya pun mengangukkan kepalanya.


Surya pun menghela nafasnya kasar, karena Riki terdengar tidak percaya padanya. "Thalia... dia ingin mengatakan sesuatu dan meminta maaf pada Keisha atas perlakuannya," Jelas Surya.


"Aku pikir kita berlu menjaga di depan pintu kamar Kak Keisha bukan sih?" Tanya Riki masih tidak yakin dan berprasangka buruk pada Thalia.


Surya pun mengedipkan matanya berkali-kali, "Kau mau ayam geprek tidak? Aku yang bayar," Tawar Surya.


"Ck, malah bahas yang lain! Ya mau lah!" Jawab Riki.


Surya pun tekekeh pelan, "Mau sekalian minuman?" Tanya Surya.


"Kak sepertinya kita harus duduk di sofa depan kamar Kak Kei tidak sih?" Tanya Riki lagi.