
saat ini Jaiden sedang berada di ruang kerja Juna, Jaiden memperhatikan setiap sudut ruang kerja Juna yang berada di sebelah kamar orang tuanya. Jaiden juga memperhatikan foto pernikahan kedua orang tuanya.
Jaiden tanpa sadar pun meneteskan air matanya, Jaiden tidak dapat lagi membendung air matanya. Jaiden pun terduduk di atas lantai dan menangis sejadi-jadinya, Jaiden merasa dirinya sendiri saat ini.
Kebetulan Rena juga melewati ruang kerja dan melihat pintu yang sedikit terbuka, awalnya Rena sangat terkejut saat melihat pintu yang terbuka tersebut, Rena pun hendak membuka menutup pintu tersebut.
Namun, saat Rena ingin memutar kenop pintu tersebut. Tangannya terhenti, karena Rena mendengar suara isakan dari dalam sana. Karena Rena penasaran, Rena pun membuka pelan pintu tersebut sedikit demi sedikit, dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.
Dengan samar-samar Rena melihatnya dan melihat Jaiden yang sedang menangis di dekat meja kerja Juna, Jaiden terduduk di lantai.
Rena rasanya ingin sekali memeluk Jaiden, karena selama beberapa hari ini, Rena melihat Jaiden yang selalu murung dan tidak ceria seperti biasanya.
Rena ingin masuk dan menghampiri Jaiden, namun saat Rena ingin membuka pintu lebih lebar lagi, ada tangan yang sedang menahannya.
Ya, itu adalah Jinata.
"Biarkan Jaiden sendiri dulu, Jaiden butuh waktu untuk menerima segalanya. Usianya masih muda" Jelas Jinata pada Rena.
Dan Rena pun hanya mengangguk pasrah dan menuruti perkataan suaminya tersebut.
...⚡⚡⚡...
Sinar matahari pagi mulai memasuki kamar Jaiden, namun jaiden masih enggan untuk bangun dari tidurnya. Jaiden masih merasa lelah karena menangis tadi malam.
Ah iya, hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah, mulai hari ini Jaiden akan menjadi anak yang tangguh dan kuat. Ini adalah hari dimana hari untuk pertama kalinya Jaiden masuk SMP.
Ceklek
"Tuan muda, ayo bangun. hari ini adalah hari pertama Tuan muda sekolah" Ucap Bi Sarah, selaku asisten rumah tangga di kediaman keluarga Renandra.
Dengan berat hati, Jaiden pun akhirnya membuka kedua bola matanya yang masih berat. Jaiden pun mencari ponselnya dan mengecek ponselnya sebentar, sedangkan Bi Sarah langsung keluar dari kamar Jaiden, saat melihat Tuan mudanya sudah bangun dari tidurnya.
...Room Chat...
...(Pathetic Person)...
Keira :
Hai haii
Good morning all
Jaki :
Morning too
Heri: hm morning
Surya : y morning
Riki : Morning
Sufa :
Jangan kemaruk
Sudah cukup membalas ucapan paginya!
Keisha:
Hei hei hei
Hari ini giliran siapa yang akan menjemput???
Surya :
Aku Kei
Keisha :
Aaa okee, aku tunggu di rumah kak Jaiden ya!
Surya :
Ok!
read
Jaiden seketika membulatkan matanya saat membaca pesan dari Keisha di grup, "Keisha akan kemari, astaga!" Ucap Jaiden buru-buru pergi ke kamar mandi, dan langsung mandi untuk bersiap-siap.
Apa kalian mengetahuinya?
Jaiden sebenarnya sangat malas mendengar omelan Keisha, karena Jaiden yakin sekali. Kalau sebentar lagi Keisha akan memarahinya, karena Jaiden belum bersiap-siap untuk pergi kesekolah.
Bahkan Jaiden baru bangun dari tidurnya.
Sesuai dengan dugaan Jaiden, setelah Jaiden selesai bersiap dan keluar dari kamar mandi. Jaiden sudah melihat Keisha yang sedang duduk dia atas ranjangnya sambil memegang ponselnya.
Hei tenang saja, Jaiden sudah memakai seragamnya. Karena Jaiden yakin sekali, kalau Keisha pasti akan langsung masuk begitu saja ke kamarnya.
Jaiden enggan menjawabnya.
"Ck, tidak punya mulut! Kau ini seperti perempuan, mandi saja lama sekali. Aku saja tidak membutuhkan waktu lama untuk" Ucap Keisha terpotong.
"Berisik, aku tidak ingin mendengar omelan mu! Ini masih pagi Kei!" Ucap Jaiden lalu keluar dari kamarnya.
Keisha mendesis dan mengikuti Jaiden di belakang, sambil mengemut permen cucuk yang di berikan Jaiden padanya.
"Dimana Kakek dan Nenek?" Tanya Keisha saat sampai di dapur.
"Sudah pulang, tidak ingin merepotkan" Sahut Jaiden padat, jelas dan singkat.
"Dingin sekali? Ada apa dengannya?" Batin Keisha binggung.
"Kau sudah sarapan Kei?" Tanya Jaiden.
"Huh? Ah itu...belum, malas" Sahut Keisha enteng.
"Temani aku makan, kau juga makan!" Ucap Jaiden.
"Okey kak!" Sahut Keisha.
...⚡⚡⚡...
"Astaga sangat sulit menjalani masa orientasi sekolah!" Gerutu Keira kesal.
Saat ini keenamnya sedang berada di kantin, keenamnya saat ini sedang mengisi perut mereka yang sudah kosong.
"Astaga Kakak OSIS itu menyebalkan sekali! Enak saja dia menyuruh ku seenaknya, apa dia tidak tahu aku siapa hah?"Kesal Jaki juga.
Pluk
Jaiden pun melempar Jaki dengan gelas Aqua yang baru saja habis ditenguknya, "Hei Jaki, berhenti meninggi!" Ucap Jaiden.
Yang lainnya pun terkekeh melihat raut wajah kesal Jaki.
"Tapi sungguh! Kakak OSIS yang tadi memang benar-benar mengerjai kita semua!" Jelas Surya kesal.
"Kau benar, astaga bagaimana bisa dia menyuruh kita untuk berlari dari aula ke lapangan. Gila sekali! menyebalkan!" Gerutu Keisha.
"Hei sudah sudah, Ayo pesan makanan. Cepat list, biar aku yang memesannya!" Ucap Heri.
"Sepertinya jus jeruk enak, segar!" Sahut Jaki.
"Aku juga mau!" Ucap Keira.
Keira melirik Jaiden, Keira sedang melihat Jaiden yang seperti tidak ada mengeluarkan suara. Awalnya Keira sedikit mengerti atas perubahan sikap dari Jaiden, namun sepertinya Jaiden berubah menjadi anak yang introvert.
Karena biasanya Jaiden lah yang paling heboh dalam memesan makanan, bahkan Jaiden juga banyak bicara tiada hentinya.
Keira melihat adanya tatapan kosong di mata Jaiden, Keira pun memutuskan untuk menyenggol kaki Jaiden, melalui kolong bawah meja kantin.
Agar Jaiden sadar dari lamunannya.
Jaiden pun menatap Keira binggung dan mengangkat alisnya sebelah, namun Keira pura-pura tidak melihat pada Jaiden.
Jaiden pun memutar bola matanya malas dan berlalu menatap Keisha, "Kei kau pesan apa?" Tanya Jaiden.
"Apa hanya Kei saja yang kau tanya Jai?" Tanya Surya.
"Aku samakan saja dengan mu," Ucap Jaiden pada Surya.
"Hai? Keisha Aditya kan?"
"Iya kak? Saya sendiri, ada apa ya Kak?" Tanya Keisha binggung.
"Um...apa aku boleh mendapatkan id line mu?" Tanya Kakak kelas tersebut.
Keisha pun mengerjapkan matanya berkali-kali karena binggung, karena kakak pengurus ini dengan tiba-tiba dan terus terang untuk meminta id linenya.
"Ah boleh Kak," Sahut Keisha.
Saat Keisha ingin memberikan kode QR nya kepada Kakak kelas tersebut, Jaiden langsung mengambil alih ponsel Keisha.
"Kei ini ponsel ku, kenapa bisa ada padamu? Ini ponsel mu," Ucap Jaiden membuat Keisha binggung.
"Hah?" Sahut Keisha binggung, "Ahh iya! Ini ponsel ku, tadi ku titipkan pada Kakak ya" Ucap Keisha yang mengerti maksud Jaiden.
Keisha pun memberikan kode QR id line Jaiden pada Kakak pemgurus OSIS tersebut, sedangkan yang lainnya sedang tertawa diam.
Saat melihat aksi bodoh dari kakak pengurusnya tersebut, setelah Kakak pengurus OSIS tersebut pergi. Keenamnya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Astaga Jai, apa kau setakut itu ya kalau Keisha di chat oleh Pria! Hahahah aduh lucu sekali" Ucap Jaki sambil tertawa.
"Hahaha bodoh sekali, jelas-jelas Keisha menggunakan Case ponsel bewarna pink. Mana mungkin seorang Jaiden pria tangguh menggunakan Case seperti itu aduh, perut ku keram sekali" Ucap Surya terkekeh.