I Am Fine

I Am Fine
Gara-gara Bekal



"Cecil! astaga apa kau tahu? Ternyata bekal mu yang kau berikan pada Jaiden, sedang di makan sama siswa baru IPA 1!" Ucap salah satu teman Cecil Clara.


"Hah? Apa kau bilang? Bekal yang ku berikan pada Jaiden?" Tanya Cecil sedikit kesal.


"Iya! kau lihat saja di kelas Jaiden, dia sedang memakan bekal mu!" Ucap Clara pada Cecil.


Cecil yang sedang mengerjakan tugasnya itu pun langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan cepat untuk menuju kelas 11 IPA 1.


Cecil melihatnya, benar sekali. Bekal yang diberikannya tadi pagi pada Jaiden, sedang dicicipi oleh siswa baru, Thalia.


Di kelas 11 IPA 1 hanya ada beberapa siswa disana, sekitar 5 orang termasuk Thalia sendiri. Keempat siswa yang berada di kelas itu tersentak saat melihat Cecila yang kelihatan marah sekali.


Cecil masuk begitu saja, dan tidak meminta izin kepada yang lainnya. Thalia yang merasa di perhatikan oleh Cecil pun mendongakkan kepalanya, dan mendapati Cecil yang sedang berjalan menuju ke arahnya dengan raut wajah yang kesal.


Dugh!


Cecil memukul meja Thalia kasar, hingga membuat Thalia sedikit tersentak.


"Hei kenapa kau berani sekali memakan bekal yang ku buatkan untuk Jaiden?!" Bentak Cecil sembari mengambil tempat bekal itu, dan membuangnya ke sembarang arah.


Thalia mengedipkan matanya berkali-kali, antara terkejut dan binggung. Karena bekal itu memang didapatkannya dari Jaiden, Thalia pikir itu memang milik Jaiden.


"A... aku tidak tahu kalau itu kau yang memberikannya pada Jaiden," Jelas Thalia sedikit gugup.


Cecil tertawa sinis, "Jaiden hanya milikku!" Kesal Cecil lalu menjambak rambut Thalia kasar.


"Akh lepas!" Teriak Thalia memberontak pada Cecila.


Keira dan Fia baru saja masuk ke dalam kelas dan melihat ada keributan di kelas mereka, dan betapa terkejutnya kedua gadis itu saat melihat Cecila dan Thalia yang saling menjambak satu sama lain.


"Astaga, kalian kenapa hanya diam saja sih? Kenapa tidak di pisahkan?!" Ucap Keira kesal pada teman-temannya yang hanya melihat keributan itu.


Keira hendak memisahkan keduanya, namun apalah daya. Keira sudah terlambat, karena guru BK sudah datang terlebih dahulu.


Salah satu siswa anggota OSIS yang kebetulan lewat di depan kelas 11 IPA 1, dirinya melihat ada keributan disana. Lantas dirinya pun melaporkan kejadian itu, hingga berakhir lah Guru BK sekarang sedang berada di kelaa 11 IPA 1.


"Hentikan!" Teriak guru BK itu sambil membawa kayu rotan di tangannya.


PLAK!


PLAK!


Guru itu memukul bokong Thalia dan Cecila, agar keduanya berhenti. Lantas kedua gadis itu meringis kesakitan, dan memegangi bokongnya yang sakit.


"Sekarang ikut bersama saya ke ruang BK!" Perintah Bu Atika setelah memukul keduanya.


Thalia dan Cecil pun pasrah, dan mengikuti Bu Atika untuk menuju ke ruang BK.


Jaiden dan Jaki yang baru saja masuk ke dalam kelas pun nampaknya lumayan terkejut, saat melihat Bu Atika yang baru saja keluar dari kelasnya.


Ditambah keduanya semakin binggung saat melihat Cecila dan Thalia dengan rambut singanya, keluar dari kelas dan mengikuti Bu Atika dari bekalang.


"Apa mereka berantam? Ah aku melewatkannya!" Ucap Jaki.


"Iya tadi Cecil datang ke kelas, lalu marah-marah dan melempar bekal Thalia" Jelas siswi yang satu kelas dengan mereka.


"Apa Cecil marah karena bekalnya ku berikan pada Thalia?" Batin Jaiden.


"Ah begitu ya?" Balas Jaiden santai.


Keira menatap temannya itu gemas, "Hanya begitu saja reaksi mu?! Kenapa kau tidak membantunya untuk menjelaskan pada Bu Atika? Ini kan bukan kesalahan Thalia," Saran Keira.


"Oke, aku akan melakukannya. Sampai kan kepada guru yang masuk nanti, kalau aku sedang di ruang BK ya!" Ucap Jaiden, lalu pergi meninggalkan kelasnya.


"Hei Jaiden! Kau mau kemana?! Itu bukan ke ruang BK!" Teriak Keira.


"Dia akan bolos ke rooftop," Jelas Jaki lalu mendorong Keira paksa untuk masuk ke dalam kelas.


"Hei tidak! Jaiden tidak boleh bolos!" Ucap Keira memberontak.


"Sudah biarkan saja!" Ucap Jaki memaksa Keira untuk masuk ke dalam kelas.


Keira pun pasrah saat dirinya di dorong paksa oleh Jaki, ah tidak. sebenarnya, Keira sangat malu dan salah tingkah.


"Hei Kei kenapa wajah mu memerah seperti itu?" Goda Fia pada Keira.


...⚡⚡⚡...


"Kenapa kalian bisa bertengkar?!" Tanya Bu Atika dan Cecil setelah sampai di ruang BK.


"Dia yang menjambak rambut saya terlebih dahulu Bu!" Cicit Cecil.


"Tidak Bu, dia bohong! dia yang datang ke kelas saya dan menjambak saya!" Sahut Thalia tak terima.


"Kenapa kau jadi menyalakan ku?!" Bentak Cecil pada Thalia.


"Kan memang benar, jelas-jelas kau datang marah-marah ke kelas ku. Dan kau melempar bekal makanan, lalu kau menjambak rambut ku. Karena kau tidak terima bekal yang kau berikan pada Jaiden malah di makan oleh ku, iya kan?!" Jelas Thalia degan nada bicara yang meninggi.


"Tidak kau bohong! Tidak benar bu, dia berbohong!" Balas Cecil.


Guru BK itu pun menghela nafasnya kasar, "Orang Tua kalian sudah terlanjur saya panggil, buat permohonan maaf satu sama lain dengan materai 10.000 ribu!" Ucap Bu Atika.


"Tidak, Papa tidak boleh tahu kalau aku membuat masalah lagi disekolah" Batin Thalia takut sendiri.


"Bu apa Ibu memanggil Papa ku?" Tanya Thalia terlihat ragu.


"Tentu saja! Ayo cepat keluar! Dan buat permohonan. Kedua Orang Tua kalian sudah menunggu di luar!" Ucap Bu Atika menyuruh Cecil dan Thalia agar keluar dari ruang BK.


Thalia pun hanya dapat menghela nafasnya kasar, dan pasrah akan apa yang terjadi padanya nanti dirumah.


Thalia dan Cecil pun keluar dari ruang BK, Thalia mendapati sektretaris Papanya. Oke kali ini Thalia merasa bersyukur, karena tidak akan bertemu dengan Rafa di sekolah. Thalia berasumsi, kalau Papanya itu pasti sudah kembali ke Amerika.


"Maaf kan atas kesalahan Nona Muda kami Tuan," Ucap sekretaris Papanya itu, Elsa.


"Kenapa jadi minta maaf?! Aku tidak salah! Dia yang menjambak ku terlebih dahulu, dan marah-marah ke kelas ku!" Bentak Thalia pada sekretaris Papanya itu.


Elsa pun menarik paksa Thalia untuk ke tempat sepi, tepat di bawah anak tangga menuju rooftop dimana Jaiden berada. Dan kebetulan sekali, Jaiden baru saja hendak turun.


Namun langkahnya terhenti, karena dirinya mendengarkan adanya keributan di bawah sana dan dirinya pun mengintip.


Jaiden pun akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu anak tangga tersebut, entah apa yang membuat Jaiden menjadi tertarik seperti itu.