I Am Fine

I Am Fine
117



"Keisha," Batin Jaiden.


Keisha pun hanya bisa menurut saja pada Thalia, karena dirinya juga memiliki gengsi dan juga memiliki harga diri yang tinggi. Maka Keisha pun dengan tepaksa, untuk ikut makan malam bersama dengan Thalia dan Jaiden.


"Hai, sudah lama?" Tanya Thalia menarik kursi yang berada di sebelah Jaiden.


"Tdak, barusan. Aku baru saja sampai," Jawab Jaiden, namun pandangannya tak lepas dari Keisha dan mencuri-curi pandang pada Keisha.


"Kalian belanja bersama?" Tanya Jaiden yang masih heran.


Thalia pun menganguk semangat, "Hmm aku dah Keisha belanja bersama. Ayo Kei, kau mau pesan apa?" Tanya Thalia.


Keisha pun melirik pada Jaiden, lalu pada Thalia dan memaksakan diri untuk memberikan senyuman terbaiknya. Dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tentu saja Jaiden dapat mengetahui itu.


Jaiden mengenal Keisha sejak lama, jadi Jaiden tau semua artti senyum yang Keisha berikan pada ornag di sekelilingnya dan juga sekitarnya.


Dan sekarang? Jaiden dapat merasakan itu, kalau senyum Keisha saat ini sangat terlihat seperti di paksakan dan sedang berpura-pura menikmati waktu bersamanya dan juga Thalia.


Namun, nyatanya tidak sama sekali.


Setelah ketiganya memilih menu makanan dan minuman, suasana pun menjadi sedikit canggung dan hening.


"Kau bohong Keisha, kau belum melupakan Jaiden. Kau bahkan hampir saja melarikan diri tadi," Ucap Thalia dalam hati.


"Aku ke toilet sebentar ya," Pamit Thalia.


Thalia pun bergegas menuju toilet, dan meninggalkan keduanya. Yaitu Jaiden dan juga Keisha, berada di satu meja makan yang sama.


Keisha pun merasa waktu seperti berhenti seketika, sungguh ini pertama kalinya dirinya berada di atmosfer seperti ini bersama Jaiden.


Apalagi keduanya tidak pernah bertegur sapa, hingga hampir sebulan lebih lamanya.


"Bagaimana kabar mu?" Tanya Jaiden.


"Baik, Kakak sendiri?" Tanya Keisha berbalik.


"Not good without you" Sahut Jaiden menatap Keisha dalam.


"Tapi sepertinya, Kakak terlihat baik-baik saja bersama Thalia. jJadi aku bisa mengambil kesimpulan, kalau Kakak baik-baik saja sekarang" Ucap Keisha.


Jaiden pun hanya tersenyum tipis, "Tidak juga. Karena bagaimanapun kondisi kita, bukankah hanya diri kita sendiri yang mengetahuinya?" Tanya Jaiden.


"Tidak salah 100%, aku hanya mengatakan pendapat ku saja" Jawab Keisha.


"Kau sudah berbaikan dengannya?" Tanya Jaiden.


Keisha tahu pasti kemana pembicaraan ini, yang Jaiden maksud pasti hubungannya dengan Thalia. Namun, seingat Keisha dirinya tidak pernah menceritakan apapun soal Thalia pada Jaiden.


Maksudnya, Keisha sama sekali tidak pernah menceritakan pada Jaiden bagaimana rumitnya persahabatannya dengan Thalia. Keisha hanya menceritakan pada Jaiden, kalau Thalia adalah saudara tirinya.


Lalu bagaimana bisa Jaiden menyimpulkan kalau dirinya dan Thalia sudah berbaikan? Apa Kak Jaiden tahu sesuatu? Pikir Keisha.


"Aku sudah tahu, aku sedikit lumayan kecewa saat mendengarnya dari orang lain" Ujar Jaiden yang mengerti isi pikiran Keisha.


"Huh?" Tanya Keisha.


Jaiden pun melirik ke bangku yang di duduki oleh Thalia tadi, dan melihat tas Thalia yang sedikit terbuka dan di tinggalkan oleh sang pemilik.


Jaiden hendak menutupnya, namun dirinya binggung. Karena tas Thalia mengeluarkan cahaya dari dalam sana, lantas dengan perasaan yang penasaran.


Jaiden pun membuka tas Thalia itu sedikit, dan mendapatkan sebuah ponsel dengan layar yang menyala. Ponsel itu saat ini sedang menyambung telepon dengan telepon lainnya.


Maksudnya, telepon itu sedang dalam mode panggilan.


"Buat apa dia menyadap pembicaraan ku dengan Keisha? Pasti dia sudah merencanakan ini," Batin Jaiden.


"Tidak ada Kei, lain kali saja" Ucap Jaiden.


"Hah?" Tanya Keisha semakin binggung.


...Room Chat...


Thalia menguping pembicaraan kita lewat telepon


Bahas kapan-kapan saja


Read


Keisha pun membelalakkan matanya tak percaya, "Bagiamana bisa Thalia melakukan ini? Apa dia tak percaya pada ku? Kalau aku sudah melupakan Kak Jaiden?" Tanya Keisha dalam hati.


"Ah iya, nyatanya aku memang belum melupakan Kak Jaiden sedikit pun" Lanjut Keisha dalam hati.


"Maaf lama," Ucap Thalia yang baru datang dari toilet.


"Kau lama sekali di kamar mandi," Ucap Keisha menyindir Thalia.


Jaiden yang mendegar ucapan itu pun, langsung menyenggol kaki Keisha dari bawah.


...⚡⚡⚡...


"Keisha?" Tanya Heri heran saat melihat temannya sedang berada di bar yang selalu di kunjunginya setiap malam itu.


"Oh damn ****!" Umpat Heri saat melihat Keisha sudah menghabiskan 3 botol alkohol.


Lantas dengan langkah cepat dan terburu-buru, Heri pun langsung menghampiri Keisha dan menarik paksa minuman yang berada di tangan sahabatnya itu.


"Hei Keisha! Astaga, apa yang kau lakukan bodoh?!" Gerutu Heri kesal pada Keisha setelah menarik botol itu paksa.


"Huh? Ah.... Heri?" Tanya Keisha yang sudah mabuk berat.


Keisha pun tertawa seperti orang mabuk, "Hehehe kenapa kau mengambilnya?! Sini kembalikan pada ku!" Pinta Keisha berusaha untuk meraih botol yang di ambil Heri tadi darinya.


"Tidak akan, sedang apa kau disini hah? Kau gila?" Tanya Heri.


"Yaa! Aku gila? Kenapa? Hiks..." Ucap Keisha yang tiba-tiba saja menangis, hingga membuat Heri khawatir dan panik.


"Hei hei, Keisha maafkan aku. Ada apa pada mu hm?" Tanya Heri lembut.


"Aku gila Heri aku gila!" Teriak Keisha hingga beberapa perhatian orang disana menatap keduanya.


"Ck, kita bicara di mobil saja ayo!" Ajak Heri.


Heri pun menarik paksa Keisha, dan membawa Keisha ke dalam mobilnya.


"Kei ada apa dengan mu?" Tanya Heri.


"Hiks... Heri.... Kenapa Kak Jaiden sangat sulit untuk di lupakan?" Ucap Keisha frustasi.


Heri pun menghela nafasnya kasar, "Kei ayolah..." Lirihnya.


"Kau tahu? Aku bahkan tadi makan malam bersama Kak Jaiden dan juga Thalia, Hahahaha aku bahkan melihat Thalia yang terus memaksa Kak Jaiden, agar mau di suapi olehnya hahaha," Tawa Keisha.


"Lucu sekali, mereka tadi bermesraan di depan ku. Bisanya aku hanya bisa melihat itu dari jarak jauh iya kan? Tapi tadi?! Aku bahkan melihatnya hanya dengan jarak 30 cm."


"Aku hiks... Heri .. aku tidak tahan..." Ucap Keisha yang sudah tak sanggup dan sadar atas apa yang di ucapkan ya barusan.


Heri pun menghela nafasnya kasar, dan membawa Keisha ke dalam dekapannya.


"Kau bisa Kei, kau pasti bisa" Ucap Heri menenangkan Keisha.


...⚡⚡⚡...


Sinar matahari perlahan masuk, karena jam pun sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Keisha yang merasa terganggu akan hal tersebut pun mengeliat dari tidurnya.


Keisha masih enggan untuk membuka matanya, dan berusaha untuk mencari dimana keberadaan ponselnya. Yang mana, biasanya ponsel itu selalu di letakkan ya di atas kasur disampingnya.


Namun Keisha tak menemukannya sama sekali, hingga membuat Keisha mau tidak mau untuk membuka matanya.


Seketika matanya langsung membola, saat dirinya menyadari dirinya sedang tidak berada di kamarnya. Keisha tersentak, dan langsung bangkit dan terduduk dari tidurnya di atas kasur itu.


"Dimana aku?! Di hotel?!" Pekik Keisha terkejut.